NovelToon NovelToon
Jerat Sang Mafia

Jerat Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Duda / Pernikahan kedua / Selingkuh / Crazy Rich/Konglomerat / Menikah dengan Kerabat Mantan / Tamat
Popularitas:543
Nilai: 5
Nama Author: SilvinaTracy

Valentina Sierra punya segalanya: keluarga terpandang, kekasih idaman, dan kursi di Harvard yang menanti. Sampai satu malam mengubah segalanya. Ia terbangun di ranjang asing, pakaian robek, seprai bernoda darah—dan di sisinya berbaring Dorian Cervantes, pria paling ditakuti sekaligus paling dibencinya. Duda dingin berdarah dingin, seorang pengusaha yang menyimpan rahasia jauh lebih gelap dari yang bisa dibayangkan siapa pun.

Dijual oleh keluarganya sendiri atas nama "kehormatan", Valentina dipaksa menikahi sang iblis. Yang tak ia sadari: malam itu bukan kebetulan. Itu sebuah jebakan—dan ia hanyalah satu bidak dalam permainan yang jauh lebih besar, permainan yang berakar pada rahasia kelam tentang jati dirinya yang sebenarnya.

Terperangkap di dunia penuh topeng, senjata, dan pengkhianatan, Valentina harus belajar bertahan. Belajar menembak. Belajar membalas. Dan yang paling berbahaya dari semuanya—belajar bahwa benci dan cinta hanya dipisahkan satu garis tipis.

Dari kebencian menjadi hasrat, dari korban menjadi pemburu. Ketika seluruh kebenaran akhirnya terkuak, siapa yang akan berlutut, dan siapa yang akan menarik pelatuknya lebih dulu?

Sebuah kisah romansa gelap tentang pernikahan paksa, dendam yang membara, dan cinta yang tumbuh di tempat paling mustahil. Untuk pembaca dewasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilvinaTracy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: PLASTIK

VALENTINA SIERRA

Kilian bertekad membuat hidupku sengsara dan memperlakukanku sebagai jalang, cewek matre, dan segala julukan yang terlintas di benaknya. Aku paham selisih usiaku dengannya lebih kecil daripada dengan ayahnya sendiri, tetapi kalau aku bisa pergi dan melupakan babak hidupku yang satu ini, dengan senang hati akan kulakukan.

"Valentina, ayo, kamu juga Kilian." Kami baru selesai makan, dan saat kami beranjak, Dorian mengubah rencana kami.

"Kita mau ke mana?" tanyaku.

"Seolah aku sudi memberitahumu. Kau bahkan tak mengenalnya. Kau tak lebih dari cewek matre. Aku pamit dulu, Papa." Kilian meninggalkanku dengan mulut menganga.

"Setiap hari sejak kita menikah memang berat, tetapi sejak putramu datang, malah semakin berat. Aku mau ganti baju," kataku dengan lelah.

"Pakai yang nyaman," katanya sambil menatap ponselnya, lalu ikut masuk bersamaku dan berganti pakaian di kamar seolah aku tak ada di sana.

"Kenapa kau tak mau bilang kita mau ke mana?" Ia hampir selesai berpakaian, dan aku menatapnya dengan mata menyipit.

"Karena kalau kuberitahu, kamu akan ribut, menolak, jadi lebih baik aku menghindari semua itu. Sudah siap?" Ia menatapku dengan jengkel.

"Sudah, tapi aku tak mau pergi." Aku tetap diam, tanpa niat beranjak.

"Kamu pergi sendiri atau kubawa paksa." Ia mendekat dengan tatapan yang menurutku menakutkan.

"Aku berubah pikiran, dengan senang hati aku ikut." Aku tersenyum palsu lalu berjalan mendahului.

Kilian sudah berdiri menunggu kami, menatapku dengan sinis.

Kami keluar dengan pengawal, dan Dorian membawa sepucuk senjata di pinggangnya serta satu lagi di laci dasbor. Aku takut membayangkan apa yang bisa terjadi jika salah satu benda itu meletus. Kurasakan jantungku berdebar tak karuan.

"Apa benda-benda itu perlu? Aku takut," kataku ngeri, wajahku lebih pucat daripada seprai.

"Pengamannya terpasang, kamu tak lihat? Papaku bertanggung jawab dan tak akan membahayakan kita, bahkan dirinya sendiri." Nada bicaranya menunjukkan betapa jengkelnya ia dan betapa aku membuatnya kesal.

"Aku tidak suka senjata, Kilian," kataku.

"Itu demi keselamatan. Perampok takkan bertanya apakah mereka boleh merampokmu atau apakah kamu takut pada mereka, mereka akan langsung menembakmu. Papa, apa tak ada wanita yang lebih cerdas untuk kaujadikan istri?"

"Cukup, kalian berdua! Aku menikahi Valentina, hormati itu." Keduanya saling berpandangan, lalu terdiam.

Kilian membenciku, setiap hari tampaknya makin membenciku, dan kurasa ia takkan menerimaku dalam waktu dekat.

Kami tiba di suatu tempat di pinggiran kota. Tempat itu tak tampak menyenangkan sama sekali, tetapi Kilian tahu apa yang akan terjadi, sebab ia tersenyum, pertama kalinya aku melihatnya berbuat begitu.

Dorian membawaku ke sebuah area yang sama sekali tak kusukai. Ada sasaran-sasaran yang bergerak, senjata, dan penutup telinga.

"Aku akan menunggu di mobil." Aku hendak pergi, tetapi ia menahanku lalu berdiri menghadangku.

"Kamu akan belajar menggunakan salah satu dari ini dan juga belajar membela diri kalau ada bahaya. Tak perlu berterima kasih." Nada bicara dan raut wajahnya tak memberiku peluang untuk membantah.

"Aku memang tak berniat berterima kasih." Aku melipat tangan di dada dengan kesal.

Dorian menunjukkan caranya. Ia ahli soal senjata, sementara aku takut menyentuhnya dan gemetar. Aku merasa semua ini tak perlu; para pengawal itulah yang bertugas melindungi kami, buat apa aku belajar?

Ia mengajariku caranya, dan aku memusatkan perhatian pada apa yang diperintahkannya. Kupatri pandanganku pada sasaran-sasaran itu lalu kutarik pelatuknya. Tembakan pertama mengenai perut sasaran yang bergerak, yang kedua mengenai dada.

"Kukira kamu akan payah dalam hal ini," katanya.

"Terima kasih atas pujiannya," balasku.

"Terus berlatih, sepertinya kamu berbakat." Ia menunjukkan bagaimana ia tak pernah meleset, selalu tepat di kepala dan jantung.

Hanya butuh beberapa kali tembakan lagi bagiku untuk tak lagi meleset, dan ia menatapku takjub. Harus kuakui, tempat ini memang tak indah, tetapi aku menyukai kegiatan ini. Aku merasakan adrenalin yang menggebu dan itu memacuku untuk melampaui diriku sendiri. Lagi pula, ia guru yang baik.

Beberapa saat kemudian kami meninggalkan tempat itu dan kembali ke rumahnya, mendapati seorang wanita duduk menyilangkan kaki, jelas bukan sedang menungguku.

Rambutnya hitam dan kulitnya cokelat langsat, mengenakan gaun cantik yang membalut sosok dengan aset-aset menawan, tetapi hasil operasi. Dari ujung kepala sampai ujung kaki tak ada yang alami; ia benar-benar boneka plastik.

"Samira, sedang apa kamu di sini?" Sudah pasti mereka sepasang kekasih, jelas sekali.

"Aku datang menemuimu, sayang, kau tak tahu betapa aku merindukanmu." Wanita itu mencium bibir Dorian.

"Jangan datang ke sini," tukas Dorian menatapnya dengan geram.

"Tak akan kau perkenalkan kami, sayang?" Ia menatapku dengan angkuh; sudah pasti ia tahu betul siapa aku.

"Ini Valentina, istriku. Ini Samira, seseorang yang punya masa lalu denganku." Dorian memutar bola matanya.

"Bocah ini istrimu? Umurnya berapa? Dua belas atau lima belas tahun?"

"Aku memang terlihat lebih muda, sungguh menyanjung, Nyonya. Anda pasti berusia empat puluh tahun dan penuh hasil operasi. Sungguh suatu kehormatan berkenalan dengan Anda." Kutinggalkan mereka di sana lalu masuk ke kamar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!