Reynand, CEO dingin yang anti-cinta, terpaksa menikahi asisten pribadinya, Aira, demi meredam skandal kantor.
Bagi Reynand, pernikahan ini hanyalah kontrak sementara. Namun, keteguhan hati Aira perlahan meruntuhkan pertahanan sang CEO.
Saat intrik dan masa lalu mengancam, sanggupkah Reynand mengakui perasaannya sebelum kehilangan wanita yang telah menjerat hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22: Tekanan Dewan Komisaris
Suasana di dalam ruang rapat utama lantai empat puluh tiga Aristha Tower terasa begitu menekan. Pendingin udara yang berembus pelan tidak mampu mencairkan atmosfer dingin dan tegang di antara belasan orang berjas rapi yang duduk melingkari meja jati panjang tersebut.
Para komisaris senior—pria-pria paruh baya yang telah puluhan tahun menanamkan modal di Aristha Group—duduk dengan raut wajah kaku. Di ujung meja, Reynand Aristha duduk menempati kursi utama sebagai CEO. Aura dominan dan intimidatif memancar kuat dari tubuh tegapnya. Di sisi kirinya, Nyonya Rosalinda duduk anggun, sementara Aira berada di sisi kanan Reynand dengan tumpukan berkas analisis risiko yang tertata rapi di hadapannya.
"Tuan CEO," buka Komisaris Hendra, pria berambut perak yang dikenal paling vokal dan dekat dengan faksi lama. Ia meletakkan tabletnya di meja dengan ketukan pelan. "Kami semua menghargai pencapaian Aristha Group di bawah kepemimpinan Anda. Namun, pernyataan Vancorp Asia di media internasional pagi ini telah menimbulkan keraguan serius di pasar ekuitas."
Reynand menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulit, menatap Komisaris Hendra dengan pandangan tajam membeku. "Keraguan yang diciptakan oleh manipulasi media, Komisaris Hendra. Apakah dewan komisaris Aristha Group kini begitu mudah tergoyahkan hanya oleh pernyataan sepihak dari pihak asing?"
"Ini bukan sekadar pernyataan sepihak, Reynand!" potong Komisaris Hendra dengan intonasi yang sedikit meninggi. "Ini menyangkut kredibilitas pengawasan dokumen! Kami menyukai Nona Aira secara pribadi, tetapi menempatkan seseorang yang belum memiliki rekam jejak eksekutif di posisi krusial verifikasi logistik triliunan rupiah adalah celah yang dimanfaatkan Clarissa Vance untuk menekan harga saham kita!"
Suasana ruangan mendadak hening. Beberapa komisaris lain tampak mengangguk pelan, menyetujui poin yang disampaikan Hendra.
Aira merasakan jantungnya berdegup lebih kencang. Ia bisa merasakan tatapan skeptis dari beberapa pasang mata tua di ruangan itu. Namun, Aira menolak untuk menunduk atau menunjukkan kelemahannya. Mengingat semua latihan, bimbingan, dan kepercayaan yang diberikan Reynand serta Nyonya Rosalinda padanya, Aira menarik napas panjang dan menegakkan bahunya.
Sebelum Reynand sempat mengeluarkan kata-kata tajamnya untuk membela sang calon istri, Aira terlebih dahulu mengulurkan tangannya, menyentuh pelan lengan kemeja Reynand—sebuah isyarat lembut bahwa ia ingin menghadapi situasi ini sendiri.
Reynand menoleh menatap Aira. Pria itu mengatupkan bibirnya rapat-rahat, lalu memberi anggukan kecil, memberikan panggung sepenuhnya pada wanita yang dicintainya.
Aira berdiri anggun dari kursinya. Jemari lentiknya membuka lembar demi lembar berkas presentasi di hadapannya.
"Selamat pagi, Bapak dan Ibu Anggota Dewan Komisaris yang saya hormati," suara Aira mengalun jernih, tenang, dan dipenuhi rasa percaya diri yang tidak dipaksakan. "Saya sangat memahami kekhawatiran Anda semua terkait stabilitas harga saham dan persepsi publik atas kredibilitas manajemen Aristha Group."
Aira menyalakan layar proyektor utama di depan ruangan, menampilkan grafik perbandingan efisiensi operasional dan analisis arus kas tiga bulan terakhir.
"Namun, izinkan saya menunjukkan data konkret," lanjut Aira, menatap satu per satu anggota komisaris. "Sejak saya dipercaya memverifikasi aliran dokumen di divisi logistik, kita berhasil memangkas biaya kebocoran administrasi sebesar belas persen—sebuah angka kerugian yang sebelumnya terbiarkan selama hampir dua tahun di bawah pengawasan manajer lama."
Para komisaris terpaku menatap angka-angka presisi yang ditampilkan di layar proyektor.
"Pihak Vancorp Asia yang dipimpin oleh Nona Clarissa Vance," sambung Aira dengan nada bicara yang amat diplomatis namun menohok, "menyerang posisi saya bukan karena kekurangan kualifikasi data, melainkan karena verifikasi ketat yang saya lakukan telah menghalangi draf adendum Vancorp yang mencoba memasukkan klausul akuisisi tersembunyi. Jika saya meloloskan dokumen tersebut tanpa pemeriksaan detail, saat inilah Aristha Group yang akan kehilangan kendali atas pelabuhan logistik."
Nyonya Rosalinda tersenyum tipis nan bangga menyaksikan calon menantunya berbicara dengan begitu cerdas dan lugas di hadapan para komisaris senior.
Komisaris Hendra terdiam, tidak mampu membantah argumen berorientasi data yang disajikan Aira secara sempurna.
Reynand mengetukkan jemarinya di meja, lalu berdiri tegak di samping Aira. Pandangan matanya yang dingin mengunci seluruh ruangan.
"Dewan Komisaris yang terhormat," ujar Reynand dengan suara baritonnya yang berat dan berwibawa. "Aira Anindita telah menyelamatkan perusahaan ini dari jebakan akuisisi terselubung Vancorp. Jika ada di antara Anda sekalian yang masih mempertanyakan keberadaan Aira di sisiku... maka Anda juga sedang mempertanyakan keputusan dan kepemimpinanku sebagai CEO Aristha Group."
Pernyataan mutlak dari Reynand itu menjadi titik balik yang mengunci mulut semua anggota dewan. Tidak ada lagi yang berani bersuara atau meragukan posisi Aira.