Ceisya hacker jenius dan ahli bela diri mati konyol gara-gara emosi membaca novel dark romance The Alpha’s Obsession. Takdir gila melempar jiwanya bertransmigrasi ke dalam tubuh figuran cupu bernasib paling sial mati menjadi tumbal sahabatnya sendiri, Belva.
Namun, Ceisya yang sekarang menolak mati! Dengan otak cerdas dan kemampuan, Ceisya membalikkan keadaan. Ia melumpuhkan para pembunuh bayaran di tengah hutan salju, dan mulai membalas permainan licik Belva serta ancaman Bianca satu per satu.
Tetapi, Aksi Cesiya di atas salju memicu insting predator sang Alpha. Fenrir Volkov—Raja Serigala paling kejam, dingin, dan ditakuti di seluruh Kerajaan Valesia mendadak mengklaim Ceisya sebagai tawanan pribadinya, menyeretnya ke dalam kamar sang Raja, dan menguncinya dalam lingkar obsesi yang teramat posesif.
Di tengah intrik berdarah istana dan jeratan sang Raja Serigala, bisakah Ceisya merebut kebebasannya atau ia justru akan menyerahkan dirinya utuh menjadi milik Sang Alpha sepenuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pangeran Berdarah dan Lidah Sang Figuran
Dentang lonceng darurat Kerajaan Valesia bergemuruh hebat membelah kegelapan malam yang dingin. Suara lolongan ratusan serigala dari Klan Reinhardt memecah kesunyian, bersahut-sahutan di sepanjang pelataran utama kastil. Di bawah hamparan salju yang turun semakin lebat, ratusan pengawal berzirah perak dan jajaran tetua berjubah hitam telah melingkari tangga sayap utara dengan obor menyala di tangan masing-masing.
Di barisan paling depan, Bianca Reinhardt berdiri dengan kepala terangkat tinggi, matanya membara oleh rasa dendam. Di sampingnya, tiga Tetua Agung klan berwajah keras menggenggam tongkat besi kerajaan, siap menjatuhkan hukuman atas nama hukum adat Valesia.
"Keluarkan pelayan sihir itu!" teriak salah satu Tetua Agung, suaranya menggelegar menggunakan dorongan aura serigala. "Dia telah menyesatkan Sang Alpha King dan menghina kehormatan calon Permaisuri!"
Buset dah, rame amat di luar. Dikira ada sembako murah apa sampai bawa pasukan se-RT gini?! Batin Ceisya merutuki keributan di luar saat ia melangkah di koridor utama bersama Fenrir.
Fenrir tidak mengucapkan sepatah kata pun. Namun, jemari tangan besarnya mencengkeram pinggang ramping Ceisya dengan begitu erat, mengunci gadis itu tepat di sisinya. Aura pembunuh yang memancar dari tubuh sang Raja Serigala begitu pekat hingga membuat lantai batu marmer yang mereka pijaki menyebarkan retakan-retakan halus di setiap langkahnya.
Klek...
Pintu gerbang utama sayap utara terbuka lebar. Fenrir melangkah keluar ke pelataran bersalju, merengkuh Ceisya di dalam dekapannya di hadapan ratusan pasang mata yang menatap mereka dengan penuh kebencian.
"Fenrir!" Bianca menunjuk Ceisya dengan jari gemetar. "Serahkan gadis murahan itu pada Dewan Tetua untuk dieksekusi malam ini juga! Dia menggunakan sihir terlarang untuk memikatmu hingga kau memberinya scent-mark!"
Seorang komandan pengawal Reinhardt berbadan raksasa maju melangkah dengan pedang terhunus, bermaksud merebut Ceisya secara lumbal. "Atas nama hukum klan, serahkan gadis itu—"
SRAK!
Bahkan sebelum komandan itu sempat menyelesaikan kalimatnya atau mengayunkan pedangnya, gerakan Fenrir tidak sanggup ditangkap oleh mata telanjang. Dalam waktu kurang dari satu milidetik, Fenrir telah berpindah tempat, tangan kanannya menancap menembus zirah besi sang komandan dan mencengkeram lehernya hingga tubuh raksasa itu terangkat ke udara.
CRASH!
Tanpa sedikit pun keraguan, Fenrir mematahkan leher sang komandan dan melemparkan mayatnya ke tumpukan salju di depan kaki Bianca. Darah segar menyembur, membasahi gaun mewah Bianca dan membuat seluruh pasukan Reinhardt mundur tiga langkah dengan wajah pucat pasi akibat teror murni.
"Siapa lagi yang berani menyebut nama tawanan pribadiku dengan kata dieksekusi?" bisik Fenrir dingin. Iris mata merahnya menyala pekat bagaikan lahar vulkanik. "Akan kupastikan seluruh keluarganya menyusul orang ini ke neraka sebelum fajar bersitimbun."
Seluruh pelataran membisu seketika. Tekanan aura Alpha King tingkat tertinggi meremukkan lutut para pengawal hingga sebagian besar dari mereka jatuh berlutut memuntahkan darah.
Waduh, gila... Langsung dibantai dalam satu detik dong! Batin Ceisya terperangah melihat kebrutalan Fenrir, walau pinggangnya masih diikat kencang oleh lengan kekar sang Alpha. Cowok ini kalau di dunua nyata pasti udah langganan dapet surat peringatan dari Komnas HAM. Brutalnya gak ngotak, tapi... Lumayan keren sih.
Melihat kepanikan melanda pasukannya, Tetua Agung Klan Reinhardt yang paling tua mengetukkan tongkat besinya ke tanah, mencoba mempertahankan wibawanya. "Yang Mulia Alpha! Anda tidak bisa melanggar hukum adat Valesia demi seorang pelayan rendah tanpa trah! Dia tidak memiliki status aristokrat untuk berdiri di samping Anda!"
Di saat Fenrir baru saja hendak menyebarkan aura pembunuhnya lagi untuk meratakan para tetua, Ceisya mendadak menepuk pelan lengan Fenrir yang ada di pinggangnya.
"Tahan sebentar, Mas Serigala," bisik Ceisya santai, yang membuat Fenrir meliriknya dengan alis terangkat heran.
Ceisya melangkah satu senti ke depan—masih dalam lingkar dekapan Fenrir—lalu menatap lurus ke arah Tetua Agung dengan sepasang mata cokelatnya yang jernih dan penuh binar ejekan.
"Tetua yang terhormat," suara Ceisya mengudara bening, memecah ketegangan di udara. "Anda bilang saya melanggar hukum adat karena tidak punya trah aristokrat? Boleh saya tanya, pasal hukum adat nomor berapa di Kerajaan Valesia yang melarang seorang Alpha King memilih tawanan pribadinya sendiri?"
Tetua Agung itu melotot terkejut. "K-Kau... gadis pelayan tak tahu diri! Keberadaanmu menghina Lady Bianca yang berdarah murni!"
Ceisya tertawa pelan—sebuah tawa manis yang terdengar sangat santai dan meremehkan.
"Berdarah murni?" cibir Ceisya sambil mencerocos dengan nada tajamnya. "Kalau Lady Bianca berdarah murni dan sehebat itu, kenapa tunangannya sendiri malah lebih milih ngurung saya di kamar utamanya daripada nemuin beliau? Kenapa pasukan elit klan Anda yang dibangga-banggakan ini malah tumbang cuma gara-gara dipelototi sama Yang Mulia Alpha?!"
"Kau... kau...!" Bianca berteriak histeris, wajah mewahnya memerah padam menahan malu dan amarah di depan ratusan pasang mata pengawalnya.
"Logika Anda aneh banget, Tetua," lanjut Ceisya tanpa henti, memanfaatkan kepintaran otak hacker-nya untuk menyudutkan hukum klan. "Anda sibuk ngomongin hukum adat dan kehormatan klan, tapi Anda bawa ratusan pengawal bersenjata mengepung kamar pribadi Raja di tengah malam. Bukankah tindakan Anda dan Lady Bianca ini yang justru disebut pemberontakan dan pengkhianatan terhadap takhta Valesia?!"
SKAKMAT!
Kata pemberontakan dan pengkhianatan meluncur dengan begitu cerdas dari mulut Ceisya, membuat ketiga Tetua Agung seketika membeku dengan bibir terkatup rapat. Mereka tidak menyangka bahwa seorang pelayan cupu yang mereka anggap mudah ditindas ini memiliki lidah setajam silet dan pemahaman hukum istana yang begitu sempurna!
Di belakang Ceisya, sudut bibir Fenrir terangkat lebar. Sebuah senyuman bangga dan puitis mengukir wajah tampan sang Raja Serigala. Pria itu menyusupkan wajahnya di leher Ceisya, menghirup aroma manis gadis itu di hadapan seluruh musuhnya, merasa semakin terobsesi setengah mati pada wanita liar di dalam dekapannya ini.
Lidah yang luar biasa memikat... Kau benar-benar diciptakan untuk berdiri di sampingku, Ceisya, batin Fenrir penuh kegilaan posesif.
Tetua Agung yang menyadari tuduhan pengkhianatan itu bisa menghancurkan klan mereka akhirnya mengepalkan tangannya murka. "Gadis iblis berlidah racun! Pengawal! Abaikan perintah Alpha, bunuh gadis itu—"
Belum sempat para pengawal bergerak, dari arah barisan belakang tempat bersembunyi, Belva Vespera mendadak berlari keluar dengan gaun yang agak berantakan, wajahnya pucat dan tubuhnya masih gemetar akibat racunnya sendiri.
Belva berlutut di tengah salju di depan Fenrir sambil menangis histeris dengan wajah paling polos yang ia miliki: "Yang Mulia Alpha! Ampuni saya... Ceisya adalah sahabat saya! Saya tahu dia bersalah, tapi tolong jangan bunuh Tetua klan demi Ceisya! Saya rela mengisap kembali racun sihir yang ada di tubuh Ceisya agar Anda sadar kembali dari pengaruhnya!"
Tindakan Belva yang pura-pura mengorbankan diri itu mendadak membuat para Tetua dan pengawal kembali terprovokasi, sementara Ceisya yang melihat akting murahan Belva hanya bisa menyunggingkan senyum paling savage. Wah, Uler satu ini beneran gak kapaok-kapok kena racun sendiri. Mau main akting korban lagi di depan publik? Ayo gilas sampai ke akar-akarnya!
saran sedikit Bisa gak kalo gaya Bahasanya Ceisya dirubah lebih Elegan tnpa bawa' istilah kehidupan yg lalu, lebih swag lebih tajem, lebih pintar dn berani ngelawan terutama kalo sama Fenrir jgn terlalu nurutlahh biar fenrir yang ngejar tapi Ceisya kyak gak peduli gitu ada hargadirinya
dan tokohnya tangguh gak menye menye
Seru banget apalagi nnti kalo sudah masuk konflik ditunggu kakak kelanjutanya rajin update yaa
Alurnya Tipe aku bangett
Jangan buat mudah untuk fenrir mendapatkan Ceisya yaa kak buat fenrir gedebak gedebuk dulu sampek kecintaan sama Ceisya 😄😄
aku suka Alurnya🥰🥰🥰
karya baru sepertinya Seru
lanjut thor😊