NovelToon NovelToon
Melarikan Diri dari Sang Mafia

Melarikan Diri dari Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Hamil di luar nikah / Tamat
Popularitas:2
Nilai: 5
Nama Author: Meche

Di siang hari, Arkana Baswara adalah pengusaha paling terhormat di kota, sosok tampan berkuasa yang diperebutkan setiap wanita. Namun ketika malam turun, ia berubah menjadi Sang Iblis: penguasa dunia hitam yang paling ditakuti, seorang pria yang tak pernah mengizinkan siapa pun menyentuh hatinya.

Salsabila hanyalah gadis penjual bunga miskin dengan satu mimpi sederhana: menjadi dokter dan mengangkat keluarganya dari kesulitan. Sampai satu malam kelam mengubah seluruh hidupnya, dan meninggalkan sebuah rahasia yang harus ia jaga dengan nyawanya.

Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Kini sang mafia menemukan apa yang selama ini disembunyikan darinya, dan ia tak akan melepaskannya begitu saja. "Kau dan dia adalah milikku," katanya. Tapi Salsabila punya satu tekad: melarikan diri, sejauh apa pun, berapa kali pun.

Namun bagaimana caranya kabur dari seorang pria yang menguasai seluruh kota? Bagaimana caranya membenci pria yang perlahan meruntuhkan setiap tembok di hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 — Lokasi

"Sialan, apa yang terjadi?" geram Arkana.

"Bro, kau harus tenang, kita lihat dulu apa yang terjadi," kata Rendra.

"Akan kubunuh mereka satu per satu dengan tanganku sendiri."

"Bantu aku cari air untuk disiram ke mereka biar mereka bangun."

Arkana mondar-mandir, sepucuk pistol di tangan. Ia sangat murka karena putrinya tak ada di tempat seharusnya.

Ia telah mempercayakan keselamatan putrinya pada segerombolan orang tolol.

"Dengan satu tembakan akan kubangunkan mereka satu per satu."

"Hei, kau harus mengendalikan diri. Kau tidak boleh gila semudah itu. Kalau kau mau menemukan mereka, kau harus tenang," kata Rendra.

"Baru saja kita menangkap orang yang berkeliaran di sekitar gudang, dan lihat, sekarang terjadi ini? Menurutmu ini kebetulan? Aku ngeri membayangkan musuh itu telah membawa mereka."

"Jangan pikirkan itu, lebih baik bantu aku membangunkan orang-orang ini," kata Rendra.

Arkana mencari-cari sampai menemukan beberapa ember, lalu mulai menyiramkan air ke tubuh anak buahnya. Sedikit demi sedikit mereka mulai sadar.

Arkana mencengkeram leher kepala keamanan, ingin membunuhnya. Pria itu basah kuyup tergeletak di lantai sementara Arkana mencekiknya kuat-kuat.

"Katakan di mana putriku."

"Tuan, si kecil tadi ada di sana, dia lemas dan tidak mau makan," kata pengawal itu.

"Katakan kenapa kalian semua tertidur."

Ujung dingin pistol Arkana menekan pelipis sang pengawal.

"Nyonya menyuruh saya membeli banyak makanan untuk si kecil, dia memesan banyak hidangan. Lalu kami dengar si kecil bilang tidak enak badan dan tidak mau makan apa pun. Tuan, Nyonya bilang membuang makanan itu dosa, dan dengan sopan meminta kami menghabiskannya, jadi kami semua makan, meski si Nomor 2 tidak ikut makan."

"Di mana posisi si Nomor 2?"

"Tuan, dia ada di pintu masuk rumah sakit..."

"Di pintu masuk tidak ada siapa-siapa. Kalian punya cara untuk menghubunginya?" tanya Rendra.

"Mereka semua dilengkapi chip pelacak," kata Arkana.

"Di mana pria itu berada, di situ pasti ada si kecil."

Arkana menghantam kepala pria itu dengan pistolnya. Ia ingin membunuhnya dengan tangannya sendiri, tapi tak ada waktu untuk hal semacam itu. Kini yang ada di kepalanya hanya keselamatan si kecil yang masih lemah setelah operasi. Ia datang dengan jas terbaiknya yang berwarna biru tua, dan dalam waktu singkat jas itu sudah tergeletak entah di mana di rumah sakit. Untuk pertama kalinya, amarahnya berubah menjadi kekhawatiran.

Sudah pasti bocah kecil itu adalah kelemahannya.

Arkana keluar bersama Rendra mencari pengawal yang hilang. Ada yang aneh sedang terjadi, dan ia akan mencari tahu. Ia tak punya pilihan selain mencari Galih, sebab dialah tangan kanannya, dan tak ada yang lebih tahu cara melacak anak buah selain dia.

"Ayo ke klub dan kirim pesan ke Galih. Dia pasti tahu cara melacak pria itu."

"Oke, langsung kukerjakan," kata Rendra.

Rendra mengurus pemanggilan Galih ke klub, dan Galih tak lama muncul. Sesuatu yang sangat gawat pasti sedang terjadi hingga bosnya menariknya keluar dari perusahaan di jam kerja dan memanggilnya ke klub di siang hari.

Setengah jam kemudian, di sebuah ruang privat, ketiga pria itu duduk untuk mulai bicara.

"Bos, ada apa sampai memanggil saya ke tempat ini di siang hari?" tanya Galih.

"Akan kukatakan terus terang. Seminggu lalu saat kau memberitahuku tentang gadis penjual bunga itu, aku memutuskan mencarinya sendiri. Anak di rumah sakit itu putriku. Selama ini aku terus bersamanya. Dini hari tadi Salsabila, ibu si kecil, membius tim keamananku dan kabur dari sana. Satu pengawal hilang, dan mengenal anak buahku, dia pasti sedang membuntutinya. Aku ingin kau melacaknya sekarang juga."

"Biar saya masuk ke laptop dan mencari lokasinya. Katakan, Bos ingin melakukan apa?" tanya Galih.

"Suruh dia membawakan si kecil padaku."

"Lalu ibunya?"

"Dia pengkhianat dan tukang manipulasi. Kalau kau mau, lempar saja dia ke hiu."

"Tuan, Anda yakin?"

"Sudah dapat lokasinya belum? Jangan cerewet."

"Bos, sinyal orang kita ada di perbatasan. Sepertinya Nona itu ingin menyeberang ke luar negeri?"

"Kau yakin?"

"Lebih dari yakin. Apa perintah Bos?"

"Kumpulkan pasukan besar, kita akan ke lokasi sinyal itu."

"Menurutku kau harus tenang. Kita tidak bisa menarik semua orang dari jalanan dan membawa mereka. Ada wilayah luas yang harus kita jaga, atau kita akan membiarkan musuh masuk," kata Rendra.

"Memangnya aku minta pendapatmu? Di sini yang berlaku hanya perintahku."

Ketiga pria yang berdebat saling berhadapan itu punya sudut pandang berbeda.

Rendra ingin menjaga apa yang telah mereka rebut dengan susah payah, sementara Galih merasa bersalah atas seluruh kerugian yang ditimbulkannya pada si anak dan ibunya. Arkana hanya dipenuhi amarah, sebab Salsabila telah menunjukkan sisi manis dan lembutnya, dan ternyata semua itu bohong belaka. Perempuan itu tak lain hanyalah seorang manipulator.

Galih berkeringat karena cemas, sebab ia tahu Arkana sanggup membunuh gadis itu, dan semua ini bermula karena kesalahannya.

Rendra hidup di dunianya sendiri dan tetap tenang. Sementara berdebat dengan sahabatnya, ia cukup menyesap wiskinya.

Arkana berkeringat dari setiap pori tubuhnya dan wajahnya merah oleh murka. Belum pernah seumur hidup ada yang mempermainkannya seperti yang dilakukan Salsabila, dan selama ia marah, perempuan itu akan membayar dengan harga mahal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!