NovelToon NovelToon
Gawat Jendral, Istri Gendutmu Ternyata Badas!

Gawat Jendral, Istri Gendutmu Ternyata Badas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:47.3k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Pernikahan ini hanya ikatan di atas kertas. Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu.”

Duka membeku di hati Arjuna. Sejak kepergian istri tercintanya, jenderal muda yang disegani itu mengubur rapat hatinya untuk siapa pun. Namun, sebuah wasiat terakhir memaksanya menikahi Arunika, perempuan yang sama sekali tak pernah ia bayangkan menjadi pendamping hidupnya.

Di mata Arjuna, Arunika hanyalah wanita bertubuh gemuk, sederhana dan tak pantas berjalan di sisinya. Ia menerima pernikahan itu semata demi menghormati pesan terakhir mendiang istrinya dan memberikan seorang ibu bagi putra kecil mereka.

Saat Arunika perlahan menaklukkan hati putra kecilnya, sang Jenderal pun mulai goyah.

​Bisakah Arjuna mempertahankan dinding esnya ketika wanita yang ia remehkan justru menjadi satu-satunya alasan jantungnya berdetak kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 9

Pak Surya sang sopir berdiri serba salah di dekat pintu. Keringat dingin mulai membasahi dahinya yang keriput.

"Nyonya, saya ini hanya seorang pekerja yang menjalankan perintah atasan," ujarnya kikuk.

Arunika mengangguk pelan penuh pengertian. "Aku tahu, Pak."

Tatapannya kemudian beralih tajam pada Damar yang sudah berdiri angkuh dengan tas sekolah mahal di pundaknya.

"Mulai hari ini, Pak Surya resmi bertugas mengantar Nakula ke sekolah."

Damar langsung melotot kaget. "Hah?!" Ia menunjuk dirinya sendiri tak percaya. "Terus aku bagaimana?!"

Arunika tersenyum tipis tanpa beban. "Kau naik ojek."

Suasana ruang makan seketika jatuh dalam keheningan total.

Damar menunjuk hidungnya sendiri dengan gemetar. "Aku?"

"Iya, kau."

"Naik ojek online?"

"Betul sekali, Bocah."

Damar langsung menghentakkan kakinya ke lantai marmer dengan kesal. "Aku tidak mau! Ogah banget!"

Arunika mengangkat bahunya santai. "Nakula juga selama bertahun-tahun tidak mau merasakannya."

"Tapi kan dia tetap harus menjalaninya!" elak Damar ngegas.

"Lalu dari mana letak perbedaannya?" tanya Arunika balik melotot.

"Dari... dari..." Damar mendadak gelagapan sendiri, kehabisan kata-kata logis.

Arunika menyahut dengan nada santai namun menohok. "Kalian itu sama-sama anak kecil. Sama-sama berstatus pelajar sekolah. Sama-sama punya dua kaki yang sehat. Kalau Nakula bisa bertahan naik ojek, harusnya kau sebagai anak kesayangan juga bisa mencobanya."

Damar yang terpojok langsung menoleh panik pada sang ibu. "Ma! Lihat tuh!"

Wina yang sejak tadi menahan amarah di ubun-ubun akhirnya meledak. Ia membanting sendoknya dan berdiri. "Arunika! Jangan keterlaluan ya kau!"

"Apa lagi, Kakak Ipar?" tanya Arunika tenang.

"Damar itu anak kandungku! Jangan samakan dia dengan anak pembawa sial itu!"

Arunika mengangguk-angguk sabar. "Benar, Damar anakmu. Tapi Nakula juga anakku sekarang."

Wina langsung tercekat, lidahnya kelu sesaat. "Kau kan baru sehari menjadi ibu sambungnya! Jangan sok berkuasa!"

"Dan durasi sehari itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku tahu mana orang dewasa yang benar dan mana parasit berkedok keluarga."

Ratna ikut bangkit dari kursinya, wajah tuanya memerah padam.

"Rumah ini punya aturan mutlak dan hierarki!"

"Kalau memang ada aturan tertulis di rumah ini, silakan tunjukkan padaku bagian mana yang menyatakan anak kandung seorang Jenderal bintang dua wajib berangkat sekolah naik ojek, sementara keponakannya bebas memakai fasilitas mobil mewah keluarga," sahut Arunika tersenyum miring.

Ratna terdiam membeku, tak bisa mendebat argumen telak itu.

Arunika kembali menoleh pada Pak Surya yang masih kebingungan. "Pak Surya."

"Iya, Nyonya?"

"Hari ini, antar Nakula dengan mobil."

Pak Surya tampak panik melirik Wina. "Tapi, nyonya Wina sebelumnya sudah mengeluarkan perintah mutlak agar saya mengantar tuan muda Damar."

Arunika mengangguk tenang. "Lalu, siapa sebenarnya yang membayarkan gaji bulanan Bapak di rumah ini?"

Pak Surya menelan ludah dengan susah payah. "Tuan Besar Arjuna..."

"Nah, pintar," potong Arunika tersenyum manis. "Kalau begitu, mulai sekarang jalankan perintah mutlak dari istri sah tuan Arjuna."

Pak Surya langsung membungkuk hormat. "Baik, Nyonya. Laksanakan."

Wina memekik histeris. "Pak Surya! Jangan berani-berani kau ikuti perintah wanita itu!"

Namun pria paruh baya tersebut hanya bisa tersenyum canggung serba salah.

"Maafkan saya, Nyonya Wina..."

Damar merengek kesal. "Pokoknya aku tidak mau naik ojek! Panas, bau asap knalpot, dan helmnya pasti bau apek!"

Arunika mendekati bocah manja itu, lalu berucap dengan nada jenaka yang menyebalkan, "Loh, kenapa harus takut? Katanya ojek itu kendaraan merakyat. Biar kau tahu bagaimana rasanya jadi Nakula."

Damar memonyongkan bibirnya sebal. "Aku tetap tidak mau!"

Arunika kembali menoleh ke arah sopir. "Pak Surya."

"Iya, Nyonya?"

"Kalau Damar menolak keras naik ojek, biarkan dia jalan kaki saja ke sekolah."

Damar langsung membelalakkan matanya selebar piring. "Jalan kaki?! Bisa pingsan aku di jalan!"

"Kan sehat, biar tidak gampang loyo," balas Arunika santai. "Olahraga pagi gratis."

Beberapa pelayan di sudut ruangan yang mendengarnya spontan menundukkan kepala dalam-dalam, berusaha keras menahan tawa geli yang hampir meledak. Damar yang menyadari dirinya menjadi bahan tertawaan langsung merengut kesal setengah mati.

Ratna memukul meja makan dengan telapak tangannya.

"Cukup drama kekanak-kanakan ini!" Wanita tua itu meraih ponsel mahalnya dengan tangan bergetar hebat karena murka. "Aku akan menelepon Arjuna detik ini juga untuk melaporkan kelakuanmu!"

"Silakan, Ibu Mertua. Telepon saja," jawab Arunika santai tanpa ada rasa gentar sedikit pun, membuat Ratna semakin naik pitam.

Nada sambung berdering di speaker. Tak lama kemudian...

"Halo, Ma?" suara bariton Arjuna terdengar berat dari seberang.

Ratna langsung mengadu dengan nada manja yang dibuat-buat. "Arjuna! Wanita yang kau nikahi kemarin itu benar-benar sudah kurang ajar! Dia—"

Belum sempat Ratna menyelesaikan kalimat pengaduannya, suara dingin Arjuna memotong tegas.

"Ma, aku sedang memimpin rapat operasi militer darurat di perbatasan. Kalau bukan urusan hidup dan mati, tolong jangan hubungi aku sekarang."

"Tapi ini masalah penting di rumah, Arjuna—"

Tut!

Sambungan telepon langsung diputus sepihak oleh Arjuna.

Ratna mematung seketika. Matanya melotot tajam menatap layar ponsel yang sudah gelap. "Dimatikan begitu saja?"

Wina yang tidak sabaran langsung merebut ponsel itu dari tangan mertuanya. "Biar aku yang bicara!" Ia kembali mendial nomor Arjuna.

Beberapa detik kemudian, panggilan tersambung lagi.

"Arjuna! Dengarkan Kakak dulu, Istrimu ini benar-benar—"

"Aku sedang sibuk luar biasa, Kak," potong Arjuna dingin dari seberang. "Tolong jangan ganggu konsentrasiku. Kalau ada masalah internal di rumah, selesaikan secara dewasa baik-baik."

Telepon kembali ditutup sepihak.

Wina membeku di tempat, wajahnya memerah padam menahan rasa malu yang teramat sangat karena diabaikan oleh adik kandungnya sendiri.

Sementara itu, Arunika berdeham pelan mencairkan suasana. "Nah, karena suamiku sedang sibuk menjaga kedaulatan negara..." ia tersenyum manis penuh kemenangan, "...mulai hari ini segala urusan rumah tangga dan kedisiplinan anak biarkan aku yang mengambil alih."

Arunika melangkah anggun, menatap mertua dan iparnya bergantian.

"Tidak usah sedikit-sedikit merepotkan beliau dengan masalah remeh-temeh yang sebenarnya bisa diselesaikan oleh orang-orang dewasa di rumah ini."

Ratna dan Wina sama-sama menggertakkan gigi, benci setengah mati pada dominasi baru di rumah itu.

Sedangkan Nakula yang sejak tadi hanya duduk diam terpaku, perlahan mengangkat wajahnya. Untuk pertama kalinya seumur hidup, ia melihat ada sesosok malaikat pelindung yang berani berdiri tegak di hadapannya, membela dan melindunginya tanpa rasa takut sedikit pun pada Ratna maupun Wina.

"Mamaku benar-benar keren," ucap Nakula dalam hati.

1
Muft Smoker
yx bnr dr awal cerita gx prnh tuh bpa ny si bocah gaib dsebut ,, gx mungkin kn si Wina nikah ma makhluk halus 😱😱😱
Maria Lina
lgi ya thor plisssss
Maria Lina
mantap arunika hajar aj wkwk
Mundri Astuti
gantian arunika beraksi 😂😂
🇦 🇵 🇷 🇾👎
next kk... klo gak... aq tumbuk
🇦 🇵 🇷 🇾👎
good sayg... itu dy yg sll aq tny".... uda di wakil kn
Endang Sulistiyowati
Ternyata mereka cuma keluarga tiri. benar2 parasit sikapnya.
Bantai aja Nika, mumpung Arjuna lagi tugas, jadi ga perlu akting2an kalian
🇦 🇵 🇷 🇾👎
hoooh keten
🇦 🇵 🇷 🇾👎
kasian🤣🤣🤣
rheisha
hajar tipis-tipis nika,biar berasa disiksa nya hahaha....
ryuka
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥 hajaaaarrr arunika
ryuka
baguuuusss 👍👍👍👍👍
Maya
coba pertegas lagi kak, ratna ini ibu sama kakak kandungnya arjuna kah atau hanya saudara tiri atau mertua saja? bingung saya.
novi handayati: sabar sabar .. walaupun aq jg penasaran banget 😄
total 2 replies
Senja Susanti
god job
Maya
wait, ratna itu ibu kandung atau bukan sih,atau mertua kah? jdi bingung
𝓢𝓮𝓷𝓲 𝓢𝓮𝓿𝓲𝔂𝓸𝓻𝓾𝓶: itu ada di atas kak jawabanya, dia mak tiri, tp arjuna belum bisa anu karena anu
total 1 replies
Muft Smoker
duuuh gx expect ma ekspresi ny trio gx tau diri ,,
udh pindah aj ke dapur itung2 latihan nanti kalo makan di penjara ,, 🤭🤭🤣🤣🤣 ,, biar gx kaget
nining cahyaningrum
/Drool//Drool/
Ita rahmawati
denger GK tuh kalian
Ita rahmawati
iya iya percaya,,hanya karena kasian aja kan 🤣
🇦 🇵 🇷 🇾👎
😫😫😅😅😅😅😅😅🤣🤣🤣🤣🤣giod
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!