Bagaimana jadinya jika jiwa seorang remaja cewek tomboi modern yang hobi tawuran, bermulut tajam, dan ceplas-ceplos terlempar ke masa lalu? Sialnya lagi, dia bangun di dalam tubuh permaisuri Xia Ruo, wanita paling rapuh dan tertindas di Kekaisaran Han yang baru saja mencoba bunuh diri karena tidak tahan diabaikan oleh kaisar yang penguasa berdarah dingin yang terkenal kejam.
Kini, tidak ada lagi Permaisuri Xia Ruo yang hobi menangis terisak. Yang ada hanyalah permaisuri baru yang berani duduk bersila di atas ranjang sutra sambil memanggil sang Kaisar kejam dengan sebutan "Mas Bro". Didampingi oleh Yuan er, pelayan setianya yang selalu menangis histeris dan berusaha keras mendidik sang permaisuri agar bisa berbicara lembut, Xia Ruo harus memutar otak untuk bertahan hidup. Mulai dari melabrak dapur istana demi makanan enak, melatih fisiknya yang selemah triplek basah, hingga menghadapi Kaisar kejam yang anehnya... justru mulai terobsesi dengan perubahan barbar dirinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7 : selir yang kena mental
Belum sempat Ara membalas bisikan menantang Kaisar Yan, terdengar suara langkah kaki yang centil dan berisik dari arah luar paviliun. Suara gemerincing hiasan rambut emas beradu dengan tawa kecil yang sengaja dibuat-buat agar terdengar manja.
Krieeek...
Pintu paviliun kembali terbuka. Sesosok wanita dengan gaun sutra berwarna merah muda menyala melangkah masuk dengan anggun. Wajahnya dilapisi bedak tebal, bibirnya merah merekah, dan matanya dibuat sayu seolah dia adalah makhluk paling suci di dunia. Dia adalah Selir Agung Li, wanita yang selama ini paling hobi menindas Xia Ruo asli.
Begitu melihat Kaisar Yan sedang duduk di tepi ranjang bersama Ara, mata Selir Agung Li berkilat cemburu. Namun, dalam sekejap dia merubah ekspresinya menjadi wajah penuh keprihatinan yang dramatis.
"Kaisar!" Selir Agung Li langsung berlari kecil dan berlutut di dekat kaki Kaisar Yan, mengabaikan keberadaan Ara. "Hamba mendengar Permaisuri bertingkah gila dan mengacau di dapur istana milik kerabat hamba. Hamba sangat khawatir Permaisuri akan melukai Anda dengan kegilaannya itu, Kaisar. Mengapa Anda malah berada di tempat sekotor ini?"
Yuan-er yang masih bersujud langsung meremas ujung bajunya sendiri, ketakutan kalau Kaisar Yan akan termakan hasutan selir ular itu.
Ara yang masih duduk bersila di atas kasur langsung mendengus geli. Dia mengambil sebuah tusuk gigi kayu dari meja kecilnya, lalu menggunakannya dengan santai sambil menatap Selir Agung Li dari atas ke bawah.
"Woi, mbak-mbak baju pink," panggil Ara dengan nada ceplas-ceplos. "Lu kalau dateng ke rumah orang tuh ketuk pintu dulu napa? Main nyelonong aja kayak sales panci. Lagian, muka lu tebel amat itu bedaknya, gak berat apa? Ketiup angin dikit kayaknya langsung retak tuh komuk."
Selir Agung Li langsung mematung. Dia mendongak, menatap Ara dengan tatapan tidak percaya. "Kau... kau berani mengatain wajahku?!"
"Lah, emang kenyataan," sahut Ara makin menjadi-jadi. Dia menurunkan kakinya dari kasur, lalu berdiri tegap dan berjalan mendekati Selir Agung Li. "Terus tadi lu bilang apa? Dapur istana milik kerabat lu? Heh, denger ya uler kadut. Ini istana punya kekaisaran, artinya punya Mas Bro di sebelah lu nih. Sejak kapan dapur negara jadi sertifikat hak milik keluarga lu? Korupsi terselubung lu ya?"
"Ka-Kaisar! Lihat dia! Permaisuri menuduh hamba yang tidak-tidak! Hwaaa... hamba tidak terima dihina seperti ini oleh wanita gila!" Selir Agung Li langsung menangis bombay, mencoba mencari perlindungan dari Kaisar Yan dengan cara menggelayuti lengan jubah hitam sang Kaisar.
Kaisar Yan hanya diam, matanya beralih dari Selir Agung Li ke arah Ara. Dia ingin melihat sejauh mana Permaisuri barbarnya ini akan bertindak.
Ara malah melipat kedua tangannya di dada, sama sekali gak takut. "Gak usah akting nangis lu, air mata lu aja kagak keluar. Gini ya, daripada lu sibuk ngadu kayak anak TK, mending lu bawa pulang itu saudara lu si koki gendut. Bilangin sama dia, mulai besok kalau jatah makan gua dikurang-kurangin lagi, bukan cuma pintu dapur yang gua jebol, tapi gerbang paviliun lu juga gua tendang sampai roboh! Paham?!"
"Kau... kau...!" Selir Agung Li gemetaran, wajahnya yang tadinya putih karena bedak kini memerah padam menahan malu dan amarah yang luar biasa. Dia menatap Kaisar Yan, berharap pria itu akan membela dan menghukum Ara.
Namun, Kaisar Yan justru perlahan melepaskan cengkeraman tangan Selir Agung Li dari jubahnya. Pria itu bangkit berdiri, menatap dingin ke arah sang selir. "Pergilah, Li-er. Ucapan Permaisuri ada benarnya. Istana belakang ini milik Kekaisaran, bukan milik keluargamu. Jaga batasanmu."
Mendengar keputusan dingin dari Kaisar Yan, Selir Agung Li serasa disambar petir di siang bolong. Dia kena mental sehancur-hancurnya. Dengan air mata yang kali ini benar-benar keluar karena malu, dia buru-buru bangkit dan berlari keluar dari paviliun sambil menutupi wajahnya yang memerah.
Ara tersenyum puas melihat kemenangan pertamanya. Dia menoleh ke arah Kaisar Yan yang sedang memperhatikannya dengan tatapan intens.
"Gimana, Mas Bro? Akting selir lu jelek banget, kan? Gak lolos casting tuh kalau di tempat gua," ujar Ara santai tanpa beban.
Paksu Kaisar berharap banget pada ibu negara 🤣🤣🤣
ketawa mulu mah gue
kok nggak ada yg komen ya?
apakah para pembaca pada terhipnotis krn novel ini enakn dibaca ya?
Kayaknya Kaisar Yan akan mendapatkan lawan seimbang
Gue suka mulut Permaisuri yg badas... yg bikin para pejabat pada setrok berjemaah ketika Permaisuri memberikan kuliah subuh 🤣🤣🤣🤣