NovelToon NovelToon
RODA DUA Dan RAHASIA BIRU

RODA DUA Dan RAHASIA BIRU

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Zildiawan

Gavin Dewantara adalah pewaris tunggal Dewantara Group, salah satu keluarga old money terpandang di negeri ini. Bosan dengan kepalsuan kelas atas dan kekangan keluarganya, Gavin memilih kuliah di universitas negeri di luar kota, tinggal di kosan sederhana, dan menyembunyikan identitas aslinya. Di kampus, ia dikenal sebagai mahasiswa teknik yang slengean, ugal-ugalan, hobi naik motor tua, dan sering terlibat perkelahian jalanan menggunakan teknik bela diri praktis yang ia pelajari dari jalanan. Meski terlihat berandalan, Gavin memiliki prinsip hidup yang kokoh dan kesetiaan tanpa batas kepada teman-temannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 Sisi Lain Kirana

Suatu malam sekitar pukul sebelas, udara kota universitas terasa lembap setelah diguyur gerimis tipis. Gavin terbangun dari kasur busanya karena perutnya keroncongan parah. Menyadari stok mi instan di kamarnya habis, ia memutuskan untuk mampir ke sebuah minimarket 24 jam yang terletak sekitar dua blok dari Kos Bu Broto dengan mengendarai motor Astrea-nya.

Suasana minimarket malam itu sangat sepi, hanya ada suara dengung mesin pendingin minuman yang monoton. Gavin berjalan santai menyusuri lorong makanan ringan, mengenakan kaos oblong hitam pudar dan sandal jepit karet andalannya. Namun, langkah kakinya mendadak terhenti ketika ia berjalan menuju kasir untuk membayar.

Di balik meja kasir, seorang gadis dengan seragam merah berlogo minimarket sedang sibuk menghitung tumpukan uang kertas dengan cekatan. Gadis itu tampak sangat kelelahan; wajahnya yang biasanya kaku dan tegas kini terlihat pucat, matanya sayu dihiasi lingkaran hitam tipis, dan bahunya tampak terkulai lemas karena beban kerja.

Dia adalah Kirana Putri. Mahasiswi ambisius berprestasi yang selalu terlihat tanpa cela di ruang kuliah, kini sedang berdiri di balik meja kasir, berjuang melawan kantuk pada shift tengah malam.

Gavin tertegun di tempatnya berdiri selama beberapa detik. Untuk pertama kalinya, ia melihat retakan besar pada topeng "Si Perfeksionis" yang selalu dipakai Kirana di kampus. Kirana yang selalu sinis menilainya ternyata menyimpan beban hidup yang begitu berat. Rian sempat bercerita bahwa Kirana harus membiayai pengobatan ibunya di kampung sendirian, dan malam ini Gavin menyaksikannya langsung.

Alih-alih melontarkan lelucon slengean atau mengejek seperti yang biasa ia lakukan, Gavin sengaja memperlambat langkahnya menuju kasir. Ia menaruh sekotak susu UHT cokelat dan dua botol susu hangat dari pemanas ke atas meja counter.

Kirana mendongak secara otomatis, bersiap mengucapkan salam standar minimarket. "Selamat malam, selamat berbelanja di—"

Kalimat Kirana terputus di tengah jalan ketika matanya bertemu dengan tatapan mata Gavin. Wajah Kirana mendadak berubah dari pucat menjadi kemerahan karena malu dan campur aduk. Ia buru-buru memalingkan wajah, berpura-pura sibuk memindai kode barang di tangannya.

"Totalnya jadi dua puluh empat ribu rupiah, Gavin," ucap Kirana dengan suara yang pelan dan agak bergetar, tanpa berani menatap mata cowok itu langsung.

Gavin mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan lecek dari saku celana jinsnya, menyerahkannya tanpa banyak bicara. Ketika Kirana memberikan uang kembalian, Gavin tidak langsung mengambil semua barang belanjaannya. Ia mengambil susu cokelat miliknya, lalu menggeser dua botol susu hangat itu kembali ke arah Kirana.

"Ini buat lu, Ran. Minum selagi hangat," kata Gavin, suaranya terdengar jauh lebih lembut dari biasanya, namun tetap mempertahankan nada santainya.

Kirana mengernyitkan dahi, menatap botol susu itu lalu beralih menatap Gavin dengan pandangan defensif. "Gak usah kasihan sama aku, Gav. Aku gak butuh belas kasihan dari orang ugal-ugalan kayak kamu."

Gavin tidak tersinggung. Ia justru terkekeh renyah, merapikan letak rambut acak-acakannya yang sedikit basah karena gerimis. Ia mengambil barangnya lalu berjalan menuju pintu keluar, namun menghentikan langkahnya di ambang pintu kaca yang otomatis terbuka.

"Gue gak kasihan sama lu, Ran. Gue cuma gak mau proyek kelompok kita berantakan gara-gara ketuanya pingsan karena kurang gizi di meja kasir. Nanti gak ada lagi yang marahin gue di lab," ucap Gavin sambil melempar senyum miring khasnya. "Shift lu selesai jam dua belas kan? Gue tunggu di luar. Jalanan malam ini agak rawan buat anak perempuan yang jalan kaki sendirian."

Sebelum Kirana sempat protes, Gavin sudah melangkah keluar dan duduk bersandar di atas jok motor Astrea-nya di teras minimarket, membiarkan angin malam menerpa wajahnya. Di balik meja kasir, Kirana menatap dua botol susu hangat di depannya dengan perasaan yang mendadak menghangat. Gadis ambisius itu menyadari bahwa di balik sikap berandalan dan ugal-ugalan Gavin, tersembunyi sebuah ketulusan dan kepekaan yang jarang ia temukan pada pria-pria kaya yang egois di luar sana.

1
Mey-mey89
lanjut
Azmi Zildiawan: Terima kasih sudah membaca
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!