NovelToon NovelToon
Tahta, Dahaga, Dan Mahkota

Tahta, Dahaga, Dan Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Enemy to Lovers / Cinta Istana/Kuno / Wanita perkasa
Popularitas:367
Nilai: 5
Nama Author: Laygraph

"Aku akan menumpahkan darahmu di atas ranjang ini, demi rakyatku."

Itu adalah sumpah Dyah Ayu di malam pertamanya sebagai selir rampasan perang. Tangannya menggenggam erat tusuk konde beracun di balik selimut sutra. Namun, Prabu Hayam Vira—Raja kejam yang telah membumihanguskan tanah kelahirannya—hanya menatapnya dingin, lalu mencengkeram pergelangan tangannya.

"Silakan tikam aku, Selirku," bisik sang Raja dengan senyum sinis yang mengintimidasi. "Tapi jika aku mati malam ini, pastikan kau sanggup melihat adikmu dan seluruh rakyatmu dibakar hidup-hidup esok pagi."

Terjebak di dalam Keputren Kerajaan Kagendra yang indah namun beracun, Dyah Ayu harus memutar otak untuk bertahan hidup. Ia bukan hanya harus menghadapi kekejaman Raja, tetapi juga intrik mematikan dari Permaisuri Agung dan puluhan selir yang haus kekuasaan. Niat awalnya hanya satu: menghancurkan kerajaan itu dari dalam.

Namun, seiring berjalannya waktu, kekejaman sang Raja perlahan memudar, tergantikan oleh perlindungan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laygraph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Pertemuan Rahasia di Antara Bayang-Bayang

Pagar Taman Larangan hanya setinggi dua kali tubuh manusia, tetapi ujung setiap tombak besinya diasah tajam.

Dyah Ayu tidak memanjatnya. Ia merangkak masuk melalui lubang saluran air di sisi barat, tempat air hujan dari atap Keputren mengalir keluar. Lubang itu sempit, berlumut, dan berbau daun busuk. Batu kasarnya mengelupas kulit di kedua sikunya.

Ia menemukan lubang itu tadi sore, saat berpura-pura tersesat mencari dapur. Dua orang dayang buangan yang sedang menguras selokan bertukar pandang ketika ia menanyakannya, lalu salah satu berbisik: Setengah pentungan setelah tengah malam, jaga di sisi barat berganti.

Harga bisikan itu adalah satu-satunya anting emas yang berhasil ia selundupkan dari Watugaluh.

____________________

Taman Larangan tidak seperti taman.

Pohon beringin tua berdiri dengan akar-akar gantung yang menjuntai sampai ke tanah, bergerak pelan setiap kali angin lewat. Kabut tipis merayap di atas rerumputan. Embun sudah membasahi segalanya, dan dalam sepuluh langkah jarik Dyah Ayu sudah basah sampai ke betis.

Dinginnya menusuk tulang kering.

Ia bergerak di antara bayangan, menjauhi jalan setapak berlapis batu putih. Di tangan kanannya, pisau pemotong daun sirih yang ia curi dari dapur. Bilahnya tumpul di satu sisi. Tidak cukup untuk membunuh, tetapi cukup untuk memotong batang bunga.

Ibunya pernah bercerita tentang Wijayakusuma. Bunga putih yang hanya mekar semalam, tepat saat bulan tergelincir dari puncak langit, lalu layu sebelum fajar. Minyaknya harus diperas saat kelopaknya masih hangat. Terlambat sepemakan sirih, bau harumnya berubah masam.

Satu kelopak masam di kaki arca leluhur, dan kepalanya akan dipajang di gerbang Keputren.

Di ujung taman, di dekat kolam batu yang airnya hitam, ia melihatnya.

Tiga kuntum putih bergantung dari batang hijau pipih yang melengkung. Kelopak luarnya sudah mulai membuka, perlahan, gemetar dalam kabut. Aroma manisnya samar, seperti madu yang dicampur air hujan.

Dyah Ayu berlutut di tanah yang lembap. Ia mengeluarkan kendi kecil dari balik setagennya dan menunggu.

Kelopak demi kelopak terbuka.

Tangannya baru menyentuh batang bunga pertama ketika sebuah telapak tangan besar membekap mulutnya dari belakang.

Tubuhnya disentak ke belakang, terangkat dari tanah.

Dyah Ayu tidak menjerit. Ia menghantamkan siku kirinya ke belakang, tepat ke rusuk penyerangnya. Terdengar desis tertahan. Ia memutar pisau sirih di tangan kanannya dan menusukkannya ke paha lelaki itu.

Pergelangannya ditangkap. Dipelintir, tetapi tidak sampai patah. Pisau itu jatuh ke rumput tanpa suara.

Lelaki itu menyeretnya ke balik batang beringin yang lebar, ke kegelapan yang pekat di antara akar-akar gantung. Punggungnya ditekan ke kulit kayu yang kasar dan basah. Topeng kayu hitam, ukiran wajah raksasa bertaring, berada sejengkal dari wajahnya.

Dyah Ayu menggigit jari-jari yang membekap mulutnya sampai terasa asin darah.

Lelaki itu tidak menarik tangannya. Ia justru menunduk, dan dari balik topeng, terdengar suara yang serak dan pecah.

"Ayu. Ini aku."

Seluruh tubuh Dyah Ayu berhenti bergerak.

Tangan itu perlahan turun dari mulutnya. Lelaki itu mengangkat topengnya.

Rahang persegi dengan bekas luka kecil di dagu, luka yang ia dapat saat jatuh dari pohon jambu di belakang kediaman kadipaten ketika mereka berumur sebelas tahun. Alis tebal. Mata cokelat gelap yang merah dan cekung, seperti belum tidur berhari-hari.

Mahisa.

"Kau mati," bisik Dyah Ayu. Suaranya tidak keluar dengan benar. "Mereka bilang kau mati di Jembatan Kali Gending. Mereka bilang tubuhmu terbawa arus."

"Tubuhku memang terbawa arus." Napas Mahisa menyapu dahinya, hangat dan tersengal. "Tapi aku tidak mati. Aku merangkak keluar di muara, tiga hari kemudian. Dan saat aku kembali..."

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Jemarinya menyentuh pipi Dyah Ayu, gemetar, seolah memastikan ia tidak sedang bermimpi.

Dyah Ayu melihat seragam yang dikenakannya. Kain hitam dengan sabuk kulit berkepala perunggu. Lambang matahari bersudut delapan terjahit di dada kiri.

Bhayangkara. Pasukan pengawal pribadi Raja Kagendra.

"Bagaimana kau bisa..."

"Seorang Bhayangkara dari Kahuripan tewas di Kali Gending, tidak jauh dari tempatku merangkak keluar. Namanya Mahisa Pawagal." Ia tersenyum pahit. "Aku bahkan tidak perlu belajar menoleh saat dipanggil. Aku hanya mengambil lencananya dan topengnya." Mahisa menggenggam kedua bahunya. "Tidak ada waktu, Ayu. Dengar aku."

Ia menunjuk ke arah dinding timur taman dengan dagunya.

"Ada saluran air lama di bawah kolam itu. Kering sejak musim kemarau. Tembus sampai ke tepi Kali Gending di luar tembok kota. Perahu sudah menunggu di sana, dan dua kuda di seberang sungai." Kata-katanya keluar tergesa, bertumpuk. "Sebelum fajar, kita sudah di hutan Wengker. Tidak ada yang akan menemukan kita."

Dyah Ayu menatapnya.

"Arya," katanya.

Mahisa terdiam.

"Adikku ada di penjara bawah Balai Wiyata. Dua belas tahun, Mahisa. Dua belas." Ujung jemari Dyah Ayu mencengkeram kain seragam di dada Mahisa sampai buku-buku jarinya memutih. "Dan tiga ratus orang kita di kandang tawanan alun-alun selatan. Pak Karto, pandai besi. Mbok Sumi dan bayinya. Kau tahu apa yang dikatakan Raja itu padaku? Setiap kali aku mengangkat senjata, ia akan memenggal satu kepala. Dan aku yang memilih kepala siapa."

"Maka kita akan kembali untuk mereka. Aku punya orang-orang di hutan, Ayu. Sisa prajurit ayahmu. Kita kumpulkan kekuatan, lalu..."

"Lalu apa? Menyerbu keraton dengan lima puluh orang dan tombak bambu?" Dyah Ayu menggeleng keras. "Begitu aku menghilang malam ini, Arya yang pertama dipenggal besok pagi. Kau tahu itu."

"Dan kalau kau tetap di sini?" Suara Mahisa pecah. "Kau pikir aku tidak dengar apa yang terjadi semalam? Seluruh barak Bhayangkara membicarakannya. Raja keluar dari bilikmu dengan..."

Ia berhenti. Tangannya turun ke pergelangan kanan Dyah Ayu, tempat selendang tipis itu sudah melorot. Empat bekas jari berwarna ungu terlihat jelas di bawah cahaya bulan yang menembus celah daun.

Rahang Mahisa mengeras. Otot di pelipisnya bergerak.

"Dia menyentuhmu."

"Dia tidak..." Dyah Ayu menarik tangannya. "Itu tidak penting."

"Tidak penting?" Mahisa mencengkeram wajahnya dengan kedua tangan, memaksanya menatap. "Aku sudah melamarmu di depan ayahmu. Kita akan menikah setelah panen kedua. Aku sudah menyiapkan rumah di tepi sawah, dengan jendela menghadap Gunung Wilis, persis seperti yang kau minta. Dan sekarang kau bilang tidak penting?"

Mata Dyah Ayu panas. Ia menggigit bagian dalam pipinya sampai terasa perih.

"Rumah itu sudah terbakar, Mahisa. Bersama seluruh Watugaluh."

"Ayu..."

"Aku akan tetap di sini." Suaranya rendah, datar, keras. "Aku akan tidur di ranjangnya kalau perlu. Aku akan tersenyum pada permaisurinya dan meminum tehnya. Dan suatu hari, saat Arya sudah aman, aku akan membakar keraton ini dari dalam. Sampai tidak tersisa satu tiang pun."

Mahisa menatapnya seolah melihat orang asing.

Lalu ia menunduk, menempelkan dahinya ke dahi Dyah Ayu. Napasnya bergetar.

"Kalau begitu, biarkan aku tetap di dekatmu," bisiknya. "Biarkan aku jadi pedangmu di dalam tembok ini."

Dyah Ayu membuka mulut untuk menjawab.

Tetapi yang terdengar lebih dulu adalah bunyi langkah kaki.

____________________

Berat. Berirama. Lebih dari lima orang, dari arah gerbang utama taman.

Cahaya obor menari-nari di antara batang pohon, memanjangkan bayangan akar-akar beringin di atas rumput basah. Bunyi logam beradu pelan: tombak-tombak yang dipegang tegak, sabuk yang bergesekan dengan sarung pedang.

Mahisa langsung mendorong Dyah Ayu lebih dalam ke balik batang pohon, tubuhnya menjadi perisai. Satu tangannya meraba gagang keris di pinggang.

Lalu angin berembus dari arah gerbang.

Membawa bau kayu cendana. Bukan cendana murahan yang dipakai para selir, melainkan cendana tua yang pekat, bercampur samar dengan bau besi dan kulit kuda.

Dyah Ayu mengenali bau itu. Semalam bau itu menempel di kulitnya sampai subuh.

Seluruh darah seolah turun dari wajah Mahisa. Ia juga mengenalinya.

"Tunggu di gerbang." Suara itu terdengar dari jarak tiga puluh langkah. Tidak keras, tetapi setiap kata jelas. "Aku sendiri yang memeriksa."

"Tapi Gusti Prabu, keamanan..."

"Di gerbang."

Langkah para pengawal berhenti, lalu menjauh. Hanya satu pasang langkah yang terus mendekat. Tidak terburu-buru. Tanpa obor.

Mahisa menatap Dyah Ayu. Kepanikan di matanya berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap. Tangannya mencabut keris setengah dari sarungnya.

Dyah Ayu mencengkeram pergelangan tangannya. Menggeleng sekali. Tajam.

Arya. Tiga ratus orang. Satu kepala untuk setiap senjata.

Mahisa menatapnya selama satu tarikan napas yang terasa terlalu lama. Lalu ia menyarungkan kembali kerisnya, memasang topengnya, dan melompat meraih akar gantung beringin. Tubuhnya naik ke dahan pertama, ke dahan kedua, dan menghilang ke dalam kegelapan daun yang lebat.

Hanya satu helai daun yang jatuh, berputar pelan, dan mendarat di bahu Dyah Ayu.

Ia menepisnya. Lalu melangkah keluar dari balik pohon, kembali ke tepi kolam, dan berlutut di depan Wijayakusuma yang kini mekar sempurna. Tangannya gemetar saat meraih pisau sirih di rumput.

Ia memotong kuntum pertama.

Langkah kaki itu berhenti tepat di belakangnya.

Dyah Ayu tidak menoleh. Napasnya masih memburu, dadanya naik-turun di balik kemben lurik yang basah. Rambutnya yang terurai setengah menempel di leher dan punggung, dingin dan berat oleh embun.

"Wijayakusuma," ucap suara itu di belakangnya. "Kau tahu hanya ada satu orang yang boleh memetiknya?"

Ia berbalik perlahan, masih berlutut.

Prabu Hayam Vira berdiri tanpa zirah, tanpa mahkota. Hanya kain gelap dan jubah tipis tersampir di bahu. Cahaya bulan memotong wajahnya menjadi dua, separuh terang, separuh bayangan. Tangannya kosong.

Ia tidak menatap Dyah Ayu. Ia menatap batang beringin di belakangnya. Lalu ke rumput di bawahnya, tempat embun sudah tersapu oleh dua pasang kaki.

Lalu, akhirnya, ia menatap Dyah Ayu.

"Gusti Permaisuri menugaskan hamba..."

"Aku tahu apa yang ditugaskan Prabaswari."

Hayam Vira melangkah maju. Satu langkah. Dua. Ia membungkuk, menyelipkan satu lengan di bawah lutut Dyah Ayu dan satu lagi di balik punggungnya, lalu mengangkat tubuhnya dari tanah dalam satu gerakan. Semudah mengangkat selembar kain.

Kendi kecil dan kuntum Wijayakusuma masih tergenggam di tangan Dyah Ayu. Ia terkunci di dada sang Raja, merasakan panas tubuh lelaki itu menembus kain basahnya. Jantung Hayam Vira berdetak di bawah telapak tangannya. Pelan. Teratur. Sama sekali tidak terburu-buru.

Tetesan embun jatuh dari ujung rambutnya ke lengan Raja. Hayam Vira menunduk. Bibirnya menyentuh daun telinga Dyah Ayu yang dingin, dan napasnya yang hangat mengalir ke lehernya.

Di atas mereka, sebuah dahan beringin berderit pelan.

"Aku tahu kau tidak sendiri di taman ini, Selirku."

1
Agus Tina
Bagus ceritanya
Agus Tina
Sepertinya semua cerita tentang istana memang penuh dengan intrik dan kepalsuan
Laygraph: Iya kak, bahkan banyak sejahrawan mencatat banyak relief yang membuktikan Konspirasi sudah ada sejak zaman kerajaan kuno. bahkan sampai sekarang. 😄
total 1 replies
Agus Tina
Cerita, alur, cara menukis ceritq ini bagus semua ... kenapa yg like sedikit? Ayo pembaca
.. ke sini ... cerutqnya bagus loh
..
Laygraph: Terimakasih masukannya kak, semoga setia sampai ceritanya selesai yah 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!