"Aku yang menciptakan penderitaanmu... maka aku juga yang akan jadi takdir bahagiamu."
Lili tidak pernah menyangka akan bertransmigrasi ke dalam novel buatannya sendiri—menjadi Lilian, seorang pelayan biasa. Mengerikannya, ia datang saat Damian, sang tokoh utama pria, berada di titik terendah.
Dibuang keluarga, posisinya dijarah, dan tunangannya direbut anak angkat yang licik.
Tahu betul penderitaan ciptaannya, Lilian pasang badan. Berbekal 'pengetahuan masa depan', ia membongkar kejahatan anak angkat itu dan menuntun Damian merebut kembali segalanya.
Namun, saat dendam terbalaskan dan Lilian berniat pergi, Damian justru menguncinya erat.
"Kamu yang mengajarkanku cara bangkit, Lilian. Jangan harap bisa pergi setelah merebut hatiku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.11 -Hukuman untuk Gavin
Sore harinya, Gavin baru saja kembali. Bukan dari kampus, melainkan dari apartemen Leo. Ia dijatuhi hukuman skorsing selama tiga minggu—dilarang menginjakkan kaki di kampus dan diwajibkan menyelesaikan proyek baru secara mandiri tanpa bantuan siapa pun.
Langkahnya terasa berat saat memasuki ruang keluarga mansion utama. Di sana, Tuan Arthur sudah duduk menunggu dengan raut wajah sangat dingin. Pria itu baru saja menerima laporan resmi dari pihak kampus mengenai kasus plagiarisme dan fakta bahwa Gavin telah mencuri karya proyek milik Damian.
Sebenarnya, Arthur merasa terkesan saat melihat betapa jenius dan detailnya draf proyek yang dibuat oleh Damian. Namun, rasa gengsi dan rasa benci yang terlanjur mengakar di dadanya membuat Arthur enggan mengakui kehebatan anak kandungnya itu.
"Daddy..." lirih Gavin pelan. Langkah kakinya tertahan di ambang pintu, tidak berani mendekat.
Arthur tak langsung menjawab. Pria paruh baya itu perlahan meletakkan cangkir kopinya ke atas meja dengan dentang halus yang terasa mencekam. Matanya menatap Gavin dengan tatapan menusuk, seolah sanggup menguliti anak adopsinya itu hidup-hidup.
"Tiga minggu skorsing," suara Arthur terdengar dalam dan dingin, membuat bulu kuduk Gavin mendadak berdiri. "Hanya karena kamu tidak punya otak untuk mengerjakan tugasmu sendiri, kamu berani menyeret nama besar keluarga Laurent ke dalam lumpur!"
"Dad, dengarkan penjelasan Gavin dulu—"
Brak!
Arthur menggeprak meja kopi hingga cangkirnya bergetar hebat. "Penjelasan apa?! Pihak kampus sendiri yang menghubungi Saya! Mencecar Saya soal aksi plagiarisme murahan yang kamu lakukan!"
Gavin menunduk dalam-dalam, dadanya bergemuruh panik bercampur emosi.
Arthur berdiri, lalu melangkah mendekat dengan aura menekan yang sangat kuat. Kebencian dan rasa gengsinya pada Damian kini meluap menjadi kemarahan hebat pada Gavin yang dianggap telah mencoreng harga dirinya di mata para profesor.
"Selama ini Saya memfasilitasi kamu dengan hal terbaik, Gavin! Tapi kamu malah bertindak seperti pencuri amatir!" bentak Arthur murka. "Kalau dalam tiga minggu ini kamu tidak bisa menyerahkan proyek baru dengan hasil murni usahamu sendiri, jangan harap Saya akan memberi kamu izin untuk menyentuh aset perusahaan!"
Gavin mengepalkan tangannya rapat-rapat sampai kuku-kukunya memutih. "Tapi, Dad... Damian—"
"Jangan bawa-bawa nama Damian!" potong Arthur dingin. "Masuk ke kamarmu dan selesaikan tugasmu. Jangan bikin Saya makin menyesal sudah membesarkanmu!"
Eleanor menatap putra yang selama ini dibesarkannya dengan penuh kasih sayang itu. Ada binar kekecewaan yang mendalam di matanya. Gavin yang menyadari hal itu menatap sang ibunda dengan raut memelas.
"Mom..." lirih Gavin.
"Turuti apa yang dikatakan oleh Daddymu, Gavin. Jangan buat dia makin marah," kata Eleanor dingin, lalu berbalik pergi menyusul suaminya tanpa menoleh lagi.
Gavin mengepalkan tangannya erat-erat hingga kuku-kukunya memutih. Amarah dan rasa iri membakar dadanya. Ia bersumpah harus bisa menyelesaikan proyek baru ini sendirian, merebut kembali kepercayaan penuh keluarga Laurent, dan membuat mereka makin membenci Damian.
Sementara itu di balik tembok lorong, Lilian tersenyum puas menyaksikan Gavin dimarahi habis-habisan oleh kedua orang tua angkatnya.
"Rasain... dasar anak angkat enggak tahu diri," gumam Lilian pelan sambil menyunggingkan senyum kemenangan.
Tanpa membuang waktu, Lilian berbalik dan melangkah cepat meninggalkan mansion utama menuju Paviliun Barat dengan perasaan sangat puas.
Di sepanjang jalan setapak menuju Paviliun Barat, Si Peri Mini melayang-layang mengitari kepala Lilian dengan kekehan geli.
"Host! Luar biasa sekali! Muka Gavin pas di cuekin oleh Eleanor benar-benar tiada tanding!" cicit peri kecil itu antusias.
Lilian menyunggingkan senyum tipis seraya mengibaskan tangannya santai. "Itu baru permulaan, Peri. Gavin mikir dia bisa nyelesaiin proyek baru dalam tiga minggu? Tanpa otak Damian, dia cuma ampas."
"Tapi Host, kamu harus hati-hati," kata si peri dengan nada yang mendadak serius. "Gavin yang makin terdesak biasanya bakal main makin kotor. Ditambah Clara, mereka pasti bakal nyari celah buat ngejatuhin kamu atau Damian!"
Lilian terkekeh dingin. "Baguslah kalau mereka mau main kotor. Biar sekalian aku sapu bersih sampai ke akar-akarnya."
Begitu menginjakkan kaki di teras Paviliun Barat, Lilian menepuk pipinya pelan, merapikan raut wajahnya agar tidak terlihat habis memasang tampang antagonis di mansion utama. Ia mendorong pintu kayu yang kokoh itu perlahan.
Aroma masakan hangat langsung menyambut penciumannya. Di dalam ruang makan yang bersih, Damian terlihat baru saja selesai meletakkan dua mangkuk sup di atas meja. Pria itu sudah mengenakan pakaian santai yang bersih, meski gerakan tubuhnya masih sedikit kaku karena luka di punggungnya.
Lilian membelalakkan mata, buru-buru menghampiri. "Damian! Kan aku udah bilang, kamu tuh masih sakit! Ngapain malah masak?!"
Damian menoleh, menyunggingkan senyum tipis—senyuman yang kini mulai lebih sering ia perlihatkan khusus untuk Lilian. "Cuma sup hangat. Aku cuma mau menyambut kamu yang udah capek dari kampus."
Dada Lilian mendadak berdesir hangat. Rasa bersalah karena pernah menuliskannya takdir tragis mendadak berganti jadi rasa ingin melindungi yang makin tebal.
"Udah, duduk!" perintah Lilian galak tapi perhatian. Ia menarik kursi dan memaksa Damian duduk di sana. "Mulai sekarang, biar aku yang ngurusin semuanya. Tugas kamu cuma satu: sembuh dan fokus sama masa depan kamu."
Damian menurut tanpa bantahan. Matanya menatap jemari Lilian yang dengan telaten menyiapkan sendok dan mangkuk untuk mereka berdua.
"Lilian..." panggil Damian lirih.
"Hmm?" Lilian menyendok sup hangat ke mangkuknya sendiri.
"Gavin... dia marah besar, ya?" tanya Damian, ada kilat kecemasan di matanya bukan karena takut, melainkan khawatir Gavin akan melampiaskan kekesalannya pada Lilian.
Lilian terkekeh renyah, lalu menatap Damian mantap. "Dia bukan cuma marah, Damian. Dia kena skorsing tiga minggu dari kampus dan diancam Tuan Arthur enggak bakal dapet izin pegang aset perusahaan kalau enggak bisa bikin proyek murni sendirian!"
Damian tertegun. Ia tahu betul betapa ambisiusnya Gavin untuk menguasai perusahaan keluarga Laurent. Hukuman ini jelas merupakan pukulan telak bagi saudara angkatnya itu.
"Tapi kamu enggak usah mikirin dia," lanjut Lilian seraya menyodorkan botol vitamin pemulihan dari Sistem yang sudah ia tuang ke cangkir. "Minum ini dulu. Tiga minggu skorsing Gavin itu kesempatan emas buat kita."
Damian menerima cangkir itu, menatap Lilian dengan dahi berkerut halus. "Kesempatan emas?"
Lilian menyandarkan punggungnya ke kursi, menyilangkan tangan di dada dengan tatapan penuh rencana cerdas.
"Iya! Selama Gavin sibuk frustrasi ngerjain tugasnya sendiri, kita bakal bikin proyek bisnis asli milik kamu. Kita bakal daftarkan hak paten atas nama Damian Laurent secara pribadi—bukan atas nama keluarga Laurent!"
Mata Damian berbinar kaget. Selama ini, semua ide dan hasil kerjanya selalu diatasnamakan keluarga atau direbut Gavin. Ia tidak pernah berpikir untuk berdiri di atas kakinya sendiri secara hukum.
"Kamu... percaya aku bisa bikin perusahaan sendiri?" tanya Damian lirih, suaranya agak bergetar.
Lilian menatap pria di depannya itu dengan binar keyakinan yang mutlak. "Bukan cuma percaya, Damian. Aku TAHU kamu bisa jadi pengusaha paling sukses di kota ini. Dan aku bakal ada di samping kamu buat mewujudkannya."
Damian terpaku. Kata-kata Lilian menembus ulu hatinya yang paling dalam, meruntuhkan sisa-sisa rasa minder dan keputusasaan yang selama ini mengurungnya. Tangan Damian perlahan terulur di atas meja, menggenggam erat jemari Lilian.
"Kalau begitu..." bisik Damian penuh penekanan, matanya menatap Lilian lekat-lekat. "Bimbing aku, Lilian. Jangan pernah tinggalkan aku."
Lilian mendadak salah tingkah lagi, merasakan kehangatan genggaman tangan Damian yang begitu protektif. Di belakang kepala Lilian, Si Peri Mini sudah tertawa-tawa tanpa suara menyaksikan drama romantis di depan matanya.
Bersambung ...
buat apa bertahan demi laki² yang tidak mau menikahi'mu
balik wwooii... balikk...
wow....
kejutan....
ada apa ini Li...
Emak Bapak'mu gak nyariin Kamu Li
tarik nafas lewat mulut...
buang lwt bawah...
bbrrooootttt🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
tapi Kamu jadi kaya raya Li
mengganggu aja
dia kau Gagav