Cerita ini menceritakan seorang gadis yang mengalami peristiwa yang sangat tragis, karena kecelakaan yang dialami nya, dia harus duduk di kursi roda sebagai penyangga hidupnya, entah lelaki mana yang masih mau menerima nya sekarang, dokter mengatakan semuanya sementara, namun ini sudah hampir lima tahun da dirinya masih duduk di kursi roda. Entahlah, hidupnya mungkin akan berakhir seperti itu selamanya, namun di saat detik detik terakhir dalam hal terpuruk nya. Dia datang, seolah membawa harapan yang selama ini dia inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MegaHerdian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Gaun malam hitam sutra itu melekat sempurna di tubuh Layla, tetapi rasanya seperti kain kafan yang mencekik seluruh harga dirinya. Di dalam mobil mewah yang melaju membelah gemerlap lampu neon Shanghai, keheningan di antara Layla dan Teo terasa begitu pekat dan sarat akan racun.
Di sampingnya, Teo duduk tegak, memandang ke luar jendela dengan ekspresi dingin yang tak terbaca. Amarah nya yang meledak ledak kemarin telah mereda, di gantikan oleh aura kepemilikan yang mutlak.
“Senyum sedikit Layla” ucap Teo tiba-tiba tanpa menoleh. Suaranya rendah, hampir menyerupai bisikan, namun penuh penekanan.
“Ayahku dan para investor tidak suka melihat wanita berwajah muram, itu sangat tidak menyenangkan untuk di lihat!”
Alih alih menjawab ucapan Teo, Layla memegang tas kecil di pangkuannya “Bimo sudah di bebaskan?” Tanya Layla.
Teo kini mulai menoleh perlahan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sinis. Teo mengulurkan tangannya, jemarinya yang dingin membelai pipi Layla dengan lembut, sebuah gestur yang terlihat penuh kasih sayang dari luar, namun terasa seperti cengkeraman besi bagi Layla.
“Dia sudah di studio nya sekarang, sibuk memeriksa berkas material yang baru saja ku loloskan” ujar Teo.
Jarinya turun ke dagu Layla, memaksa nya untuk menatap langsung ke dalam manik matanya yang kelam.
“Lihat, betapa mudahnya hidupmu jika kau menurut? Padahal aku bisa jadi malaikat pelindungmu, atau iblis yang mencabut seluruh masa depanmu, semua tergantung pada pilihan mu”
Layla memalingkan wajahnya dengan sentakan kecil, menjauh dari sentuhan Teo. Di satu sisi Layla membenci Teo setengah mati atas segala manipulasi, sabotase, dan pemerasan ini.
Namun di sisi lainnya lagi, ada kenyataan pahit yang perlahan menggerogoti jiwanya. Layla benar-benar tidak berdaya tanpa lelaki bajingan ini. Di negeri asing yang jauh dari rumah dan dengan keterbatasan fisiknya yang hanya di atas kursi roda, Teo adalah satu-satunya orang yang memegang kendali atas udara yang ia hirup dan jalan yang ia lalui.
Beribu kalipun Layla berpikir, Teo melakukan semua hal ini hanya karena harga dirinya yang mungkin terluka atas penolakannya di masa lalu, penolakan dari wanita lumpuh terhadap sang pria sempurna, bukankah itu cukup untuk menjadi alasan. Namun , memangnya harus sampai sejauh ini!.
“Kenapa kau melakukan ini semua Teo?” Suara Layla cukup bergetar saat mengucapkan nya. Mencoba menahan tangis yang mendesak keluar, jujur saja , Layla masih tidak percaya dengan alur hidupnya.
“Jika kau membenciku karena aku menolak dulu dan sekarang, hancurkan saja aku! Kenapa harus menjebak ku dalam sandiwara menjijikkan ini?”
Mendengar pernyataan itu, kilat kemarahan kembali menyambar di mata Teo. Teo memajukan tubuhnya, mengunci tatapan Layla dalam jarak yang sangat dekat hingga atmosfer di dalam mobil terasa membara.
“Karena aku tidak pernah kalah Layla!” Desis Teo, suaranya berat akan luka ego yang mendalam di dalam dirinya.
“Kau adalah satu-satunya wanita yang berani berjalan membelakangi ku dan memblokir nomor teleponku saat aku mendekati mu dengan cara yang baik, kau bahkan tidak memberiku kesempatan dalam hal apapun, dan membuat ku memilih untuk melakukan hal seperti ini!” Ujar Teo.
“Ini adalah hasil dari penolakan mu Layla” Lanjutnya lagi.
“Ya, ini tentang egoku.Tapi lebih dari itu…” Teo menjeda kalimatnya, tatapannya mendadak melembut sesaat secara misterius sebelum kembali mengeras.
“Aku membenci kenyataan bahwa setelah kau mencampakkan ku, aku masih harus melihat portofolio mu setiap malam di mejaku. Walaupun aku hanya bekerja sesuai keinginan ku, tapi takdir seperti mempermainkan segalanya”
“Aku membenci kenyataan bahwa tidak ada arsitek di sini yang bisa menerjemahkan konsep cahaya di kepalaku seindah dirimu, dan aku menginginkan bakatmu, dan aku menginginkan dirimu berlutut memohon pertolongan ku”
Layla masih bingung “Teo..” Layla menarik nafas beratnya.
“Sepertinya kau masih belum paham mengapa aku melakukan hal itu padamu…”
“Karena kita berbeda Teo, kau mungkin hanya mencintai ku sesaat karena rasa penasaran mu dan bisa pergi kapanpun yang kau ingkan dan meninggalkan ku dalam keterpurukan “
“Tapi aku… kau mungkin bisa melihat kondisi ku seperti ini. Apa yang kau harapkan dari semua ini?”
“Itu semua hanya rasa penasaran dan egomu yang terluka” Layla mencoba mengartikan semuanya namun Teo seperti enggan mendengar, lelaki itu hanya memalingkan wajahnya tidak peduli dengan ucapan Layla.
Keheningan menyelimuti mereka berdua sampai mobil yang mereka tumpaki berhenti di depan lobi hotel bintang lima tempat perjamuan berlangsung.
Layla menghadiri perjamuan sebagai perwakilan dari timnya untuk hadir di acara makan malam bersama para investor.
Lampu lampu kristal raksasa di ballroom hotel mewah itu memantulkan cahaya yang menyilaukan, namun bagi Layla, ruangan itu terasa seperti penjara kaca yang kedap udara.
Begitu perjamuan usai dan para tamu mulai membubarkan diri, Teo membawa kursi roda Layla ke sebuah balkon privat yang sepi, menghadap langsung ke arah pemandangan gedung gedung pencakar langit Shanghai dan sungai Huangpu yang berkilau.
Udara malam yang dingin langsung menusuk kulit Layla, memadamkan kepalsuan sandiwara di dalam gedung tadi. Layla tidak bisa menahannya lagi. Rasa bingung kembali menyiksa jiwanya, bahkan mengalahkan rasa takutnya.
“Apa lagi sekarang Layla? Tugasmu malam ini sudah selesai dengan sangat baik” ucap Teo datar saat melihat wajah masam Layla.
“Aku ingin meminta penjelasan..” ucap Layla pelan dan datar.
Teo terdiam, untuk pertama kalinya, senyum sinis yang bertengger di wajahnya lenyap. Teo membuang rokoknya yang baru saja menyala ke lantai balkon, lalu menginjaknya hingga padam. Ia berjalan mendekat, lalu berlutut di depan kursi roda Layla agar mata mereka sejajar.
Jarak mereka begitu dekat hingga Layla bisa melihat guratan lelah dan konflik batin yang tersembunyi di balik mata tajam lelaki itu.
“Kau ingin penjelasan?” Suara Teo mendadak berubah, merendah dan emosi yang selama ini dia tekan rapat rapat.
“Karena hanya dengan cara ini kau mau menatap ku, Layla. Hanya saat kau kesulitan, kau tidak bisa memalingkan wajah mu dariku” ucapan Leo memang benar adanya, Layla memang tidak mau menatap Teo, walaupun dengan hal egois ini yang dia lakukan.
Layla cukup tertegun dengan ucapannya walaupun ada benarnya tapi tetap saja hal ini salah dan sangat menekan batin nya.
“Saat aku mendekati mu dengan cara biasa, kau memperlakukan ku seperti seonggok sampah kaya yang tidak punya arti”
“Kau menolak ku hanya karena prasangka mu yang bahkan belum kau coba dan lalui”
“Aku terbiasa mendapatkan apapun yang kuingin kan di dunia ini, Layla. Tapi kau.. kau membuat ku merasa sangat tidak berdaya”
Ucapannya begitu egois dan sampai detik ini pun Teo masih belum sadar dengan tembok tinggi yang menghalangi mereka dan batasan yang seharusnya tidak boleh di lewati.