Dua puluh lima tahun Ryu Jin mengurung jiwanya di dasar jurang terlarang demi menahan kebangkitan Pedang Tulang Hitam. Namun, Aliansi Tiga Sekte membantai seluruh warga desanya demi menguras darah jiwa murni. Tetesan darah warga merobek segelnya. Sang Iblis Purba terbangun dengan mata membara. Mereka tidak tahu bahwa desa itu bukanlah pemukiman biasa, melainkan penjara tempat dikurungnya bencana abadi. Kini, pintunya telah terbuka, dan Ryu Jin siap menagih jiwa para penguasa benua!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LEMBAH TENGKORAK
Fajar baru saja menyingsing di atas langit Kota Pelabuhan Lembah Berdarah. Sinar matahari pagi yang menembus kabut tipis menerpa atap-atap bangunan batu, membiaskan cahaya keemasan yang tenang. Suasana kota perlahan mulai hidup; para pedagang sayur dan buah spiritual kembali membentang lapak mereka, seolah kengerian di dalam lorong bawah tanah Balai Kota semalam tidak pernah terjadi.
Di sudut terpencil kedai kayu dua lantai yang sepi, Ryu Jin duduk sendirian di samping jendela yang terbuka.
Jubah kain cokelat pudar yang dikenakannya terkibas pelan oleh hembusan angin pagi. Di atas meja kayu yang agak kusam, tergeletak sebuah poci keramik tua dan mangkuk kecil berisi anggur murah. Ryu Jin memegang mangkuk anggur itu dengan santai, meneguk cairannya yang terasa sedikit pahit di tenggorokan.
Wajahnya tampak teramat tenang dan datar. Dari balik dada kirinya, Pedang Tulang Hitam yang bersemayam di antara tulang rusuknya berdenyut sangat halus, mencerna Inti Jiwa milik Tetua Gong yang diserapnya semalam.
Penyegelan sementara yang dilakukan Ryu Jin pada titik-titik aliran formasi bawah tanah berhasil menghentikan proses penyerapan esensi jiwa di kota ini. Namun, Ryu Jin sangat paham bahwa tindakannya bagaikan menyumbat aliran sungai berarus deras—tekanan energi yang tertahan di bawah tanah lambat laun akan disadari oleh para pengelola utama fasilitas tersebut.
Ryu Jin mengepalkan jarinya pada mangkuk anggur. Matanya yang tajam menatap ke luar jendela, memperhatikan riak ombak di pelabuhan jauh di sana. Ia tidak bermaksud bersembunyi. Penyegelan itu sengaja ia pasang sebagai umpan untuk melihat seberapa cepat para petinggi musuh bertindak.
KRIEEAK.
Suara engsel pintu kayu kedai yang terbuka pelan memecah keheningan. Langkah kaki beraturan yang terbungkus sepatu kain halus mendekati meja tempat Ryu Jin duduk.
Ryu Jin tidak menoleh. Ia tetap menatap ke luar jendela seraya menuangkan kembali anggur dari poci keramik.
Sesosok wanita muda berbalut jubah bertudung abu-abu gelap duduk di kursi kosong di hadapan Ryu Jin. Ia menurunkan tudungnya sedikit, menyingkap paras cantiknya yang agak pucat serta matanya yang menyimpan duka mendalam.
Dialah Putri Yuan Xuefei.
Keangkuhan dan kemewahan khas putri gubernur yang dulu melekat padanya kini telah menguap sepenuhnya. Setelah menyaksikan kebenaran kelam di bawah balai kota serta menyerahkan anak-anak yang terselamatkan kembali ke tangan ibu mereka semalam, ada ketegaran dingin dan kedewasaan yang tumbuh di dalam matanya.
Xuefei menatap pemuda berkain cokelar di hadapannya. Pria ini duduk di sana dengan begitu tenang, meminum anggur murah seolah-olah ia baru saja menyelesaikan sarapan pagi biasa, bukannya baru membantai seorang ahli ranah Nascent Soul dan melumpuhkan jaringan raksasa musuh.
"Kau sangat menikmati anggurmu, Pendekar," bisik Yuan Xuefei dengan suara pelan namun jelas.
"Anggur murah ini punya rasa yang jujur," jawab Ryu Jin datar tanpa memandang Xuefei. "Tidak seperti kota tempat tinggalmu."
Xuefei menghela napas panjang, senyuman pahit terukir tipis di bibirnya. Kata-kata Ryu Jin menusuk tajam, namun ia tahu itu adalah kebenaran yang mutlak.
"Aku datang bukan untuk berbasa-basi," kata Xuefei, memajukan tubuhnya sedikit dan merendahkan suaranya hingga menjadi bisikan yang sangat tipis. "Ada perkembangan penting di Balai Kota. Ayahku... Gubernur Yuan... sedang dalam keadaan panik luar biasa."
Ryu Jin meneguk anggurnya, membiarkan Xuefei melanjutkan percakapannya.
"Semalam, setelah Tetua Gong tidak kembali dari ruang bawah tanah dan aliran esensi dari formasi mendadak terhenti, jimat komunikasi rahasia di meja kerja Ayah berdering hebat," lanjut Xuefei dengan mata menyipit. "Penghentian aliran energi itu memicu alarm khusus di markas utama Sekte Iblis Langit Merah."
"Lalu?" tanya Ryu Jin singkat.
"Ayahku sangat ketakutan jika para petinggi sekte menganggap dirinya tidak becus mengelola kota dan mengeksekusinya," bisik Xuefei, jarinya mengepal erat di atas meja hingga buku-buku jarinya memutih. "Untuk menutupi kekacauan ini, Ayah secara mendadak mengatur sebuah Pertemuan Rahasia yang akan digelar malam ini di Lembah Tengkorak —sebuah lembah terlarang yang terletak di perbatasan wilayah luar kota."
Mendengar nama Lembah Tengkorak, pandangan mata Ryu Jin bergeser perlahan ke arah Xuefei.
"Siapa saja yang akan hadir?" tanya Ryu Jin.
"Bukan cuma Ayah," jawab Xuefei cepat. "Pertemuan itu dihadiri oleh Utusan Khusus Puncak Gunung—seorang utusan langsung dari Tetua Agung Du Xuan—serta perwakilan pimpinan dari Sekte Luar yang baru mendarat membawakan pasokan instan darurat. Ayah berencana menyerahkan dokumen seluruh jaringan kota dan persembahan darurat tambahan di sana agar posisinya aman!"
Ryu Jin menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kayu.
Rencana Gubernur Yuan terbilang sangat licik namun panik. Gubernur itu berniat mengalihkan perhatian pimpinan sekte dengan menyerahkan persembahan lain di lokasi netral sebelum para petinggi tersebut sempat memeriksa reruntuhan di bawah balai kota.
Namun di mata Ryu Jin, keputusan panik sang Gubernur justru menjadi kejutan taktis yang sangat menguntungkan.
Sekte Iblis Langit Merah membentang begitu luas di seluruh benua dengan ribuan benteng dan jebakan formasi. Jika Ryu Jin menyerbu Puncak Gunung Tengkorak Merah secara langsung sekarang, para elit sekte yang licik bisa saja langsung melarikan diri menggunakan gerbang dimensi atau menggunakan seluruh warga kota sebagai sandera formasi.
Namun, dengan digelarnya Pertemuan Rahasia ini, para petinggi penting dari divisi luar, utusan Puncak Gunung, dan pimpinan sekte cabang akan berkumpul di satu tempat tertutup yang jauh dari pemukiman warga!
"Lembah Tengkorak ..." gumam Ryu Jin pelan, senyuman dingin yang sangat tipis terukir di sudut bibirnya. "Tempat yang sangat bagus untuk mengubur mereka sekaligus."
Xuefei menatap reaksi Ryu Jin dengan rasa takjub yang campur aduk. Siapa pun praktisi normal yang mendengar bahwa Utusan Puncak Gunung dan pimpinan sekte luar berkumpul pasti akan memilih untuk melarikan diri sejauh mungkin. Namun pemuda di hadapannya ini justru melihatnya sebagai kesempatan emas untuk membantai mereka di satu piringan.
"Ayahku telah menyiagakan formasi pelindung Kubah Darah di sekeliling lembah itu malam ini," kata Xuefei menegaskan. "Tidak ada pengawal atau orang luar yang diizinkan mendekat dalam radius lima mil. Pintu masuk lembah dijaga ketat oleh prajurit pilihan ranah Core Formation."
Ryu Jin meletakkan mangkuk anggurnya yang telah kosong ke atas meja dengan bunyi ketukan ringan.
TAK.
"Kau tahu jalan pintas melewati garis penjagaan itu?" tanya Ryu Jin, matanya yang merah pudar menatap lurus ke dalam pupil mata Xuefei.
Xuefei merinding merasakan ketajaman tatapan Ryu Jin, namun ia meluruskan punggungnya dan mengangguk tegas. "Aku tumbuh di wilayah ini. Ada saluran bekas tambang batu spiritual yang menembus langsung ke tebing atas Lembah Tengkorak Hitam. Aku bisa membawamu ke sana tanpa memicu alarm formasi luar."
Gadis itu mengepalkan tangannya rapat-rapat, menatap Ryu Jin dengan ketetapan hati yang tak tergoyahkan.
"Aku ingin ikut," kata Xuefei berat. "Aku ingin melihat dengan mataku sendiri... bagaimana akhir dari kekuasaan kejam Ayah dan sekte terkutuk itu!"
Ryu Jin berdiri dari kursinya. Jubah cokelar pudar yang dikenakannya terkibas pelan. Ia tidak menolak permohonan Xuefei, karena keberadaan gadis itu memang berguna untuk menavigasi jalur tambang kuno tersebut.
"Siapkan jalanmu," kata Ryu Jin datar, melangkah melewati kursi Xuefei menuju pintu keluar kedai. "Malam ini... kita akan menghadiri pertemuan mereka sebagai tamu."
Malam pun tiba menyelimuti Benua Luar.
Awan hitam pekat menggantung rendah di atas langit, menutup cahaya bulan dan bintang. Di dalam Lembah Tengkorak—sebuah jurang raksasa berdinding batu karang tajam yang terisolasi—suasana terasa sangat berat dan kental oleh aura membunuh.
Di dasar lembah, sebuah tenda raksasa berornamen kain merah darah berdiri di tengah panggung batu. Di sekeliling tenda tersebut, sebuah kubah energi berwarna merah keemasan—Formasi Kubah Darah—membentang melingkupi seluruh area lembah, mengisolasi tempat itu dari dunia luar secara mutlak.
Di dalam tenda utama, Gubernur Kota Yuan berdiri dengan tubuh agak membungkuk. Wajah pria paruh baya yang biasanya berkuasa itu kini dipenuhi keringat dingin.
Di hadapan Gubernur Yuan, duduk dua sosok ber-aura teramat menakutkan.
Sosok pertama adalah seorang pria jangkung berzirah besi hitam dengan mata menyala merah—Utusan Khusus Zang, kepercayaan langsung dari Tetua Agung Du Xuan di Puncak Gunung, seorang praktisi ranah Nascent Soul Tingkat Menengah.
Di samping Utusan Zang, duduk seorang wanita paruh baya bergaun sutra hitam beracun yang memegang tongkat tengkorak—Ketua Cabang Luar Mo, pimpinan dari sekte pembantai yang baru tiba dari wilayah pesisir timur.
"Gubernur Yuan..." suara Utusan Zang bergema berat dan kaku bagaikan gesekan batu tajam. "Kau memanggil kami ke lembah terisolasi ini secara mendadak... dan kau katakan aliran esensi jiwa dari kota terhenti sejak semalam? Apa yang sebenarnya terjadi di balai kotamu?!"
Gubernur Yuan gemetar hebat, menyapukan pandangannya yang cemas lalu segera menyodorkan sebuah gulungan kulit kayu berukirkan emas di atas meja batu.
"M-Mohon ampun, Utusan Zang!" seru Gubernur Yuan dengan suara memelas, berlutut dengan satu kaki. "Terjadi sedikit gangguan teknis pada simpul formasi bawah tanah akibat lonjakan energi kemarin malam! Tapi hamba telah menyiapkan solusinya! Gulungan ini berisi hak akses seluruh jaringan tambang dan persembahan darurat lima ratus anak tambahan dari desa-desa sekitar yang siap disetorkan besok!"
Utusan Zang menyempitkan matanya, merogoh gulungan kulit kayu itu dengan tangannya yang berkulit hitam kaku. "Lima ratus anak tambahan... Hmph, tindakanmu cukup cepat untuk menutupi kesalahanmu, Gubernur Yuan. Jika tidak, Tetua Agung pasti sudah mencabut kepalamu malam ini."
Ketua Cabang Luar Mo terkekeh sinis dengan suara melengking. "Beruntung sekali kau, Gubernur Yuan. Jika aliran esensi ini terganggu lebih lama, proyek pembangunan Altar Utama di Puncak Gunung bisa tertunda, dan tidak ada satu pun dari kita yang sanggup menanggung murka Tetua Agung Du Xuan."
Gubernur Yuan mengusap keringat di dahi dengan perasaan lega yang luar biasa. Ia merasa kepalanya baru saja lolos dari tebasan pedang eksekusi sekte.
Namun, tepat pada saat para petinggi musuh itu hendak membuka gulungan persembahan...
KRAK!
Di atas tebing batu yang berada persis di atas kubah energi lembah, sebuah suara retakan batu yang sangat halus bergema menembus kegelapan malam.
Utusan Zang dan Ketua Cabang Luar Mo mendadak membeku! Ketajaman insting ranah Nascent Soul mereka menangkap sebuah getaran asing yang teramat sangat murni.
"Siapa di atas sana?!" bentak Utusan Zang seraya berdiri kasar, aura Nascent Soul menengahnya meledak dahsyat hingga merobek atap tenda raksasa tersebut!
Di atas tebing karang yang menjulang tinggi di luar kubah energi, dua sosok manusia berdiri mematung menembus kegelapan malam.
Tuan Putri Yuan Xuefei berdiri di barisan belakang, napasnya tertahan saat menatap ayahnya dan para petinggi sekte di dasar lembah.
Sementara di barisan depan tebing, berdiri Ryu Jin.
Jubah cokelar pudar milik Ryu Jin terkibas keras ditiup angin malam yang dingin. Wajah kusamnya menatap turun ke arah dasar lembah dengan pandangan yang teramat datar dan acuh tak acuh.
Ia tidak membuang waktu untuk bersuara atau memberikan peringatan.
Ryu Jin hanya merentangkan tangan kanannya ke depan, mengarahkan telapak tangannya lurus ke arah kubah energi raksasa yang melindungi seluruh isi Lembah Tengkorak.
Dari balik dada kiri Ryu Jin, ketujuh mata merah pada sarung Pedang Tulang Hitam meledak dalam pancaran cahaya kehitaman yang teramat pekat!
DUAARR!
Bencana sejati dari Desa Sunyi telah tiba di atas panggung pertemuan rahasia musuh!