NovelToon NovelToon
Goresan Takdir

Goresan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan
Popularitas:46.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fernanda Syafira

Dikhianati oleh pria yang sangat ia cintai demi sebuah tahta, membuat Ningmas Danastri Kartawidjaja benar-benar terluka.
Dibawah aturan keluarga, Raden Dwipa Soeradiningrat, tak bisa berbuat apa-apa demi tahta sebagai pewaris dari Trah Soeradiningrat. Ia bahkan harus kehilangan Ningmas Danastri yang sangat ia cintai.
Namun, takdir justru membawa Ningmas Danastri ke arah yang tak disangka-sangka. Karena keterpurukannya, ia justru tanpa sadar menghabiskan malam dengan pria yang memiliki hubungan dekat dengan mantan kekasihnya.
Selain itu, satu persatu rahasia dua Trah (Trah Soeradiningrat dan Trah Kartawidjaja) yang tak pernah akur pun terbuka. Hal yang menyebabkan dua generasi terakhir selalu bersitegang itu, ternyata karena ada masa lalu yang masih belum selesai.
Bagaimanakah kelanjutan hidup Ningmas Danastri Kartawidjaja?
Akankah ia jatuh cinta pada orang yang tepat?
Apakah rahasia masa lalu dari dua keluarga yang masih belum tuntas?
Simak terus keseruan kisahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Aji Mumpung

"Ayah barusan sampai?" Tanya Sasmaya saat melihat Raden Daksa menyalami bapak mertuanya.

"Iya, Nduk. Ayah baru saja sampai." Jawab Raden Daksa sambil mengusap kepala putrinya.

"Ayo kita kesana..." Ajak Sasa sambil menunjuk ke tempat Astri bersama Ibu dan Adiknya duduk.

"Tapi, Sasa mau minta gendong, boleh atau tidak?" Tanya Sasmaya.

"Boleh. Sini Ayah gendong." Jawab Raden Daksa.

"Bukan Ayah, tapi gendong sama Mbah Akung." Jawab Sasmaya. Raden Tedjo pun terkekeh, sementara Raden Daksa hanya bisa mengembangkan senyumannya.

"sudah pasti boleh. Sini, Mbah Akung yang gendong." Kata Raden Tedjo sambil mengangkat tubuh Sasmaya.

"Mumpung Mbah Akung masih kuat gendong putune." Ujar Raden Tedjo.

"Matur suwun, Mbah Akung." Ucap Sasmaya sambil memeluk Raden Tedjo yang kembali terekeh.

Raden Daksa bersama putri dan bapak mertuanya kemudian bergabung dengan Astri, Ibu dan Adiknya. Mereka semua duduk bersantai di kursi bambu sembari menikmati suasana sore di halaman belakang rumah.

"Kopinya, Mas." Ujar Astri sambil mendekatkan gelas kopi yang masih mengepulkan asap.

"Matur suwun, Dek Ayu." Ucap Raden Daksa seraya mengusap sayang kepala istrinya.

"Ayah..." Panggil Sasmaya.

"Dalem, Nduk."

"Boleh tidak, Sasa menginap di rumah Mbah akung dan Mbah Uti?" Tanya Sasmaya. Ia memasang puppy eyes untuk meluluhkan hati Ayahnya.

"Menginap?" Tanya Raden Daksa. Tentu ia agak kebingungan karena Sasmaya tak pernah menginap di tempat lain selain di rumahnya dan rumah utama Soeradiningrat.

"Iya, Ayah. Sasa mau menginap disini." Jawab Sasmaya dengan yakin.

Raden Daksa terdiam sejenak. Dahinya berkerut, tanda ia sedang memikirkan sesuatu. Ia kemudian melirik ke arah Astri yang juga sedang melirik ke arahnya.

"Minta izin Bunda ya, Nduk. Kalau Bunda izinkan, ya gak apa-apa." Jawab Raden Daksa yang melemparkan keputusan pada istrinya.

"Ayah dan Bunda bagaimana, sih? Tadi waktu Sasa izin dengan Bunda, katanya suruh izin ke Ayah. Sekarang, malah Ayah suruh izin ke Bunda lagi." Protes Sasmaya yang justru mengundang gelak tawa.

"Gak apa-apa kalau Sasa mau menginap di sini, Le, Nduk. Wong ini ya rumah Mbahnya sendiri." Ujar Raden Tedjo. Ia tau jika sebenarnya menantunya itu merasa sungkan.

"Tuh kan, Ayah. Sama Mbah Akung aja boleh." Kata Sasmaya dengan bersemangat.

"Boleh ya, Ayah, Bunda..." Desak Sasmaya lagi. Raden Daksa kembali melirik ke arah Astri yang juga melirik ke arahnya. Raden Daksa kemudian mengangguk untuk memberi kode izinnya pada Astri.

"Yasudah. Tapi Sasa janji, harus manut (menurut) sama Mbah Akung, Mbah Uti dan Om Tirta, ya. Ampun nakal, Ampun rewel, njih. (Jangan nakal, jangan rewel, ya.)" Pesan Astri yang langsung di jawab anggukan cepat oleh Sasmaya.

"Yeee! Matur suwun, Ayah, Bunda." Ucap Sasmaya sambil melompat dengan girang.

"Nanti Sus Sari pulang dulu sebentar untuk ambil pakaian Sus dan Sasa, ya." Kata Raden Daksa yang di jawab anggukan oleh Sasmaya.

"Berarti menginapnya sampai hari minggu dong ini, Raden Mas, Mbak?" Celetuk Tirta.

"Lho, ya semalam saja." Sahut Astri.

"Gak kerasa to, kalau cuma semalam." Sergah Ratri.

"Nanti Sasa rewel, Bu." Kata Astri.

"Enggak. Wis tenang wae to lah. Sasa wis kerasan neng kene. (Sudah tenang saja to lah. Sasa sudah betah disini.)" Ratri berusaha meyakinkan agar Sasmaya bisa menginap lebih lama.

"Iya, Mbak. Kan Mbak Astri sama Raden Mas bisa refreshing sambil honeymoon. Biar adiknya Sasa cepat jadi." Ujar Tirta yang membuat Raden Tedjo dan Ratri tersenyum. Sementara Astri justru memelototi Adiknya yang asal bicara.

"Duh! Nggemesne tenan. (menggemaskan sekali)" Batin Raden Daksa saat melihat wajah tersipu istrinya yang sedang berusaha untuk di tutupi.

Setelah mengobrol beberapa saat, Raden Daksa dan Astri kemudian berpamitan untuk kembali ke rumah mereka. Sementara Sasmaya akan menginap beberapa hari di rumah keluarga Astri.

Tak lupa, Raden Daksa kembali menyampaikan pesan untuk putrinya agar menurut dan tak membuat repot Mbah Akung, Mbah Uti dan Omnya.

"Apa kita mau liburan, Dek Ayu?" Tawar Raden Daksa saat mereka sedang dalam perjalanan.

"Tidak usah ke tempat yang jauh, kita menginap di Hotel di pinggir pantai saja." Imbuhnya lagi.

"Memangnya besok Mas ndak kerja?" Tanya Astri.

"Gak ada pekerjaan penting, jadi bisa di tinggal." Jawab Raden daksa.

"Apa kamu punya pekerjaan penting?" Tanya Raden Daksa kemudian.

"Mboten enten. (Tidak ada.)" Jawab Astri.

"Bagaimana, mau?" Tanya Rade Daksa lagi

"Sak kersane Mas mawon. (terserah Mas saja.)" Jawab Astri sambil tersenyum malu-malu.

"Yasudah, setelah sampai di rumah, kita mandi kemudian bersiap." Ujar Raden Daksa yang dijawab anggukan oleh Astri.

Begitu sampai di rumah, mereka segera mandi dan bersiap untuk menginap di salah satu hotel yang ada di tepi pantai. Karena lokasi tempat tinggal mereka yang cukup dekat dengan pesisir, mereka hanya akan menempuh waktu dua jam perjalanan untuk sampai di tempat yang mereka tuju.

Astri dan Raden Daksa memutuskan untuk membeli makan malam di jalan. Kali ini, mereka juga tidak diantar oleh supir. Raden Daksa sendiri yang membawa kendaraannya menuju ke tempat liburan mereka.

"Mas mau makan sekarang?" Tanya Astri.

"Boleh, Dek. Mas sudah kerasa lapar." Jawab Raden Daksa sambil mengemudikan mobilnya.

Astri segera membuka bungkus makanan yang mereka beli di jalan, kemudian menyuapkan makanan itu pada Raden Daksa.

"Matur suwun, Sayang." Ucap Raden Daksa sambil tersenyum.

"Pantas saja Sasa suka kamu suapi. Ternyata rasanya lebih nikmat." Imbuhnya yang membuat Astri terkekeh.

Perjalanan mereka terasa begitu hangat malam itu. Astri sangat bersyukur karena Allah memberikannya jodoh terbaik di saat yang tak disangka-sangka. Bertemu dengan pria matang, mapan dan family man, membuat hidup Astri terasa sangat bahagia. Perlahan namun pasti, cinta untuk Raden Daksa terus bersemi dan tumbuh di hatinya.

"Mas..."

"Dalem, Dek Ayu." Jawab Astri.

"Kalau suatu hari nanti, aku minta Mas mengurus perusahaanku juga, Mas keberatan ndak?" Tanya Astri tiba-tiba.

"Maksudnya gimana, Dek Ayu?" Tanya Raden Daksa.

"Aku mau minta Mas untuk mengurus perusahaanku juga. Bukan berarti aku benar-benar lepas tangan, aku akan tetap membantu. Maksudku, supaya aku ndak terlalu sibuk seperi biasanya dan aku bisa lebih banyak di rumah untuk mengurus Mas dan Sasa." Kata Astri.

Raden Daksa terdiam. Ia nampak berpikir untuk memutuskan hal itu. Ini adalah keputusan yang cukup berat, mengingat ia juga memiliki perusahaan dan sebuah galeri seni.

"Mas mau, asal kamu tetap membantu dan memantau semua usaha kita." Kata Raden Daksa.

"Maksudnya, Mas mau aku juga memantau Perusahaan Mas dan Galeri Seni?" Tanya Astri yang dijawab anggukan oleh Raden Daksa.

"Mas tau, kamu itu orang yang cerdas. Strategimu dalam berbisnis itu matang dan cukup mumpuni. Jadi, kamu pasti bisa membantu Mas mengelola semuanya. Kita sama-sama mengelola usaha kita, Dek Ayu." Kata Raden Daksa yang menawarkan sebuah kerjasama. Bukan hanya di rumah tangga, namun juga pada bisnis mereka.

"Baik kalau begitu." Jawab Astri sambil tersenyum.

"Sebaiknya cukup disini saja kita membicarakan masalah bisnis dan pekerjaan, Dek Ayu." Ujar Raden Daksa.

"Selama liburan nanti, Mas hanya mau fokus denganmu saja." Imbuhnya yang membuat wajah Astri terasa memanas.

1
Santi Seminar
panas membara
Fisca vis vis
novel ini bnyak adegan mantap2nya 🤣, mngkin karna raden daksa pak duda sndiri di bnding tokoh novel yg lain jdi dibuat beda 🤣🤣🤭
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
novel yang ini lebih byk adetan mantap2nya dr yang sebelum nya. pasangan hp mereka.
Rahmawati
hareudang hareudang
Nyai Aksara 👩‍🦯
Ealah, kenapa gini terus adrgannya
This Is Me
Jadi kepikiran, apakah Yg dikandung istrinya itu anak Dwipa?
🤔🤔
ika
Peh ...
othor kie...🤣😄
Sukarti Wijaya
cuaca sudah panas tambah panas...🤭😄🤣
Intan Nurwulan
Hareudang gini ka othor,,jdi pengen honeymoon lg😂😍
citraalief
fanasss oeyyyy.... fanasss...🤣🤣🤣 maternuwun Kak sampun up seng puanass... puanassss🥰🙏
Reni Setia
hot hot haredang 😄😄
citraalief
😘 Semangat Up Kakk👍🙏💪
Nur Wakidah
pasangan teruwuuuuu😍😍😍😄😄😄
Rahmawati
itulah rasa iri timbul karna ketidakadilan, , tambah lope lope deh sama raden daksa
This Is Me
Astri & Daksa pasti jadi pasangan ortu idaman 🩷🩷
Rahmawati
astri. harus rajin olahraga biar bisa ngimbangi raden Daksa yg sll on fire😂
This Is Me
Terlalu lama puasa nih🤣
Reni Setia
raden Daksa lagi maruk,,, maklum duda lama 😄😄
🟢Rafifah
bsk sblm honeymoon terakhir mantap2 ny di kolam renang nich pasti seru
ika
wadowwww🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!