Ophelia (31), karyawan biasa di perusahaan terkaya di Indonesia, sudah kebal dengan pertanyaan "kapan nikah?" di setiap pertemuan keluarga. Ia tidak anti-cinta, ia hanya terlalu sering mendengar keluhan tentang beratnya pernikahan.
Lalu datanglah Navin (28), CEO dingin dengan lidah setajam silet. Dalam pertemuan pertama, kalimatnya melukai Lia. Yang tidak Lia tahu, sejak detik itu Navin tidak bisa berhenti memikirkannya. Navin jatuh lebih dulu, menyangkalnya, lalu jatuh jauh lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan. Ketika restu keluarga menjadi tembok, dialah yang hancur paling parah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 Kenalan dari Tante Ratna
Minggu siang, Lia duduk di sebuah kafe di sudut Braga dengan kemeja biru muda dan ekspresi orang yang menunggu giliran di dokter gigi.
Ia sudah berkali-kali bilang tidak mau. Tapi Tante Ratna tidak bisa dihentikan, dan sejak "kekalahan" di rumah Nenek, tante itu berkeliling menceritakan pada seluruh keluarga bahwa Lia keras kepala. Akhirnya Ibu menelepon dengan suara pelan: "Lia, sekali ini saja. Satu jam. Setelah itu Tante Ratna tidak punya alasan lagi." Lia menyerah, bukan karena ingin, tapi karena tidak mau Ibu terjepit di tengah.
Sebelum berangkat, ia berdiri lama di depan cermin, bertanya-tanya kenapa harus ada pertemuan seperti ini hanya karena umurnya tiga puluh satu. Ia tidak menolak cinta. Ia hanya menolak dijadikan proyek keluarga yang harus selesai sebelum tenggat entah siapa. Meski begitu, ia tetap memilih kemeja biru muda favoritnya, karena Ibu pernah bilang warna itu membuatnya tampak lembut, dan hari ini ia ingin cukup lembut agar bisa menolak dengan cepat.
"Ophelia?"
Ia menoleh. Seorang pria berkemeja rapi berdiri di samping meja dengan senyum lebar. Tinggi, rambut tertata, jam tangan yang sengaja dibiarkan terlihat dari balik lengan kemeja.
"Saya dr. Fadli. Tante Ratna bilang kamu cantik. Beliau tidak berbohong."
"Terima kasih, Dok."
"Panggil saja Fadli." Ia duduk dan langsung menyapu daftar menu. "Jangan pesan kopi hitam. Kopi hitam itu tidak cocok untuk perempuan. Kamu cappuccino saja."
Lia mengangkat alis. "Saya suka kopi hitam."
"Oh, ya? Wah, unik." Ia tertawa seolah itu lelucon. Lalu ia melambai memanggil pelayan dan memesan untuk keduanya, tanpa menunggu jawaban Lia. Dua cappuccino.
Lia menatap cangkir di depannya, cairan cokelat dengan busa berbentuk hati. Ia tidak menyentuhnya. Baginya, kopi adalah hal kecil yang paling jujur tentang seseorang: apakah ia mau menerima kalau kamu tidak menyukai apa yang ia berikan.
Menit pertama, Lia berusaha objektif. Mungkin ia hanya gugup. Menit kelima, ia sudah tahu bahwa dr. Fadli punya klinik gigi dua cabang, mobil Eropa, apartemen di Dago, dan tiga saudara yang semuanya "berhasil." Menit kesepuluh, ia mendengar tentang pasien-pasien VIP, liburan ke Eropa, dan ayahnya yang pemilik yayasan. Menit kelima belas, Lia menyadari Fadli belum sekali pun menanyakan apa pun tentang dirinya.
"Kamu kerja di Sundara, ya?" tanyanya akhirnya. "Bagian apa? Sekretaris?"
"Perencanaan kontrak."
"Oh, administrasi." Ia mengangguk penuh pengertian. "Bagus, bagus. Pekerjaan santai. Nanti kalau kita menikah, kamu resign saja, ya? Saya tidak suka istri sibuk. Kasihan anak-anak."
Lia hampir tertawa. Hampir. Ia teringat Bimo dan Rio dan sederet pria lain yang membuat daftar "kenapa tidak" di kepalanya makin panjang. Ia mulai curiga bahwa ia bukan pilih-pilih. Ia hanya terlalu sering berhadapan dengan orang yang tidak mendengarkan.
Lia meletakkan cangkirnya perlahan.
Dua hal menyulutnya sekaligus. Pertama, kata administrasi diucapkan seolah itu pekerjaan yang bisa dikerjakan siapa saja. Kedua, kata kita menikah, dari mulut pria yang belum tahu warna favoritnya tapi sudah menentukan nasib kariernya.
"Dokter Fadli," katanya lembut. "Boleh saya tanya sesuatu?"
"Tentu."
"Kalau nanti kita menikah dan saya berhenti bekerja, siapa yang akan bertanya apa yang saya inginkan?"
Fadli mengerjap. "Ya... saya. Kan saya suami."
"Sejak tadi, Dok, belum ada satu pun pertanyaan tentang saya. Bukan soal hobi, bukan soal impian, bahkan bukan soal kopi kesukaan saya." Lia tersenyum, senyum yang sama persis seperti yang ia berikan pada Tante Ratna. "Menurut saya Anda pria yang bagus, untuk seseorang yang mencari penonton, bukan pasangan."
Wajah Fadli membeku. Senyum lebarnya perlahan turun. "Kamu ini maksudnya apa?"
"Maksud saya, terima kasih atas kopinya, dan tolong sampaikan salam saya pada Tante Ratna. Beliau tidak salah. Anda memang tampan dan sukses." Lia berdiri dan mengambil tasnya. "Sayangnya, itu bukan syarat pertama saya."
"Ini tidak sopan."
"Betul." Lia menatapnya tenang. "Tapi menyuruh orang resign di pertemuan pertama juga tidak."
Ia melangkah keluar tanpa menoleh, dan udara sejuk Braga menyentuh wajahnya seperti tepuk tangan.
* * *
Di trotoar, ia berhenti di depan sebuah toko buku tua dan menarik napas panjang. Ponselnya bergetar. Tante Ratna, tentu saja.
Tante Ratna: Bagaimana? Dokter Fadli itu bagus sekali, kan? Kapan ketemu lagi?
Lia menatap layar itu beberapa detik, lalu mengetik pelan.
Lia: Bagus sekali, Tante. Untuk perempuan lain.
Ia mengirimnya tanpa menyesal, lalu tertawa sendiri di depan etalase toko buku. Tawa yang tulus, sampai beberapa orang menoleh. Balasan Tante Ratna datang tiga detik kemudian, berisi lima tanda seru dan satu emotikon marah. Lia membiarkannya tidak terbaca.
Tapi ketika tawanya mereda, sesuatu yang lain naik ke permukaan. Bukan karena Fadli. Fadli tidak berarti apa-apa, hanya satu nama lagi dalam daftar panjang laki-laki yang tidak pernah bertanya.
Tapi karena kalimat lain. Kalimat yang lebih menyakitkan, yang keluar dari mulut yang lebih dingin, di ruangan yang lebih sepi.
Tidak ada laki-laki yang tahan dengan perempuan yang selalu merasa dirinya paling benar.
Lia berdiri di depan etalase, menatap pantulan dirinya di kaca. Perempuan tiga puluh satu tahun, kemeja biru muda, rambut terurai tertiup angin. Perempuan yang baru saja menolak pria mapan dengan satu kalimat dan tidak menyesal sedikit pun.
Kalau ia benar-benar merasa dirinya paling benar, kenapa kalimat pria itu masih menyakitinya lebih dari semua kalimat Tante Ratna dan semua pria seperti Fadli?
Ia tidak menemukan jawabannya. Tapi ia tahu satu hal yang membuatnya jengkel setengah mati: hanya pria itu yang bisa masuk ke dalam kepalanya dan tinggal di sana tanpa membayar sewa.
Dan yang lebih menjengkelkan lagi, ia teringat tangan yang menangkap pergelangannya di lorong itu. Hangat, cepat, tanpa ragu. Bagaimana mungkin tangan yang sama menjadi milik mulut yang mengucapkan kalimat sekeji itu? Lia menggeleng keras, seperti berusaha mengusir lebah dari telinganya.
Ponselnya bergetar lagi. Kali ini dari Ibu.
Ibu: Bagaimana tadi? Ibu tidak memaksa kamu cerita. Ibu cuma ingin tahu kamu baik-baik saja.
Lia menghela napas, dan sesuatu di dadanya melunak.
Lia: Baik-baik saja, Bu. Tapi kayaknya Tante Ratna harus cari calon lain. Atau berhenti mencari.
Ibu: Ibu setuju pilihan kedua. Pulang kapan? Ibu masak sop buntut.
Lia: Sebentar lagi.
Ia menyimpan ponsel ke tas dan berjalan menyusuri trotoar di bawah pohon-pohon tua yang meneteskan sisa hujan semalam. Ia berjalan pelan, membiarkan udara mendinginkan kepalanya. Hari Senin sudah menunggu di depan, dan bersamanya, sebuah gedung dengan seorang pria di lantai tiga yang tidak akan ia tatap.
Setidaknya begitu rencananya, dan Lia selalu percaya pada rencananya sendiri.