Terbang menuju Italia demi cinta, Evelyn hanya ingin membahagiakan kekasihnya. Namun, takdir berkata lain saat ia menemukan kenyataan pahit di dalam pesawat: sang kekasih berciuman mesra dengan wanita lain di depan matanya.
Saat air mata menetes dan tubuhnya goyah akibat turbulensi mendadak, sepasang lengan kekar menariknya rapat. Ia berada di pelukan Wiliam, pria dewasa berwajah tegas, berkelas, dan memiliki tatapan dingin membunuh. Pria itu tak membiarkan Evelyn lepas begitu saja. Dari sebuah insiden guncangan pesawat, Evelyn justru melangkah masuk ke dalam dunia sang pria paruh baya yang kaya raya, protektif, dan siap memanjakannya tanpa batas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 12
****
Mobil mewah yang mengantar Lyn akhirnya berhenti di pelataran parkir sebuah apartemen pencakar langit di kawasan elite Jakarta Pusat. Setelah berpisah dengan Clara di bandara yang dijemput oleh supir pribadi keluarganya, Lyn memilih untuk langsung pulang ke hunian pribadinya.
Sebuah unit one-bedroom seluas seratus meter persegi berdesain modern minimalis dengan pemandangan lanskap kota Jakarta yang megah. Sebagai anak tunggal dari pasangan konglomerat yang telah lama bercerai dan sibuk dengan pasangan baru masing-masing, kemewahan apartemen ini adalah bentuk "penebus dosa" dalam wujud materi. Tempat ini adalah pelarian, benteng pertahanan, sekaligus saksi bisu kesepian Lyn selama ini.
Lyn menghempaskan tubuhnya ke sofa kulit berwarna abu-abu di ruang tengah. Ia melepas sepatu tumit tingginya, membiarkan keheningan apartemen membungkus dirinya.
Namun, ketenangan itu mendadak sirna ketika ponsel di atas meja marmer bergetar nyaring. Layar menunjukkan nama yang amat jarang melintasi hari-harinya: Mama.
Dengan jemari yang sedikit gemetar, Lyn menggeser tombol hijau. "Halo, Ma..."
"Evelyn, kamu sudah sampai Jakarta?" suara tegas dan dingin di ujung telepon langsung menyambar tanpa menyapa. "Mama dengar kamu liburan ke Eropa? Kenapa tidak memberitahu Mama? Dan apa-apaan transferan dari papamu bulan lalu? Mama sudah bilang, jangan pernah terima uang dari pria tidak tahu diri itu!"
Lyn memejamkan matanya, meremas ujung gaunnya. Rasa sesak yang amat familier mulai menekan dadanya. "Ma, Lyn baru saja mendarat. Lyn lelah... Dan uang itu dari Papa untuk biaya—"
"Jangan memotong bicara Mama!" potong wanita itu tajam. "Kamu ini makin hari makin mirip papamu, tidak tahu berterima kasih! Mama membesarkanmu dengan segala kemewahan, tapi kamu malah terus berhubungan dengan keluarga pria brengsek itu!"
"Mama tidak pernah membesarkan Lyn!" jerit Lyn, air matanya yang ditahan sejak tadi akhirnya menetes deras membasahi pipinya. "Mama hanya memberi uang! Mama dan Papa sama saja, kalian hanya peduli dengan bisnis dan pasangan baru kalian! Lyn di sini sendiri, Ma... Lyn tidak pernah punya keluarga!"
"Jj-jangan berani kamu berteriak pada Mama—"
Sebelum ibunya menyelesaikan kalimatnya, Lyn mematikan sambungan telepon secara sepihak. Ia melempar ponselnya ke lantai hingga terlempar ke bawah meja.
Isak tangis Lyn pecah di dalam ruangan yang luas dan sunyi itu. Ia menarik kedua lututnya ke dada, menyembunyikan wajahnya yang basah oleh air mata. Luka lama sebagai anak broken home yang selalu diabaikan, dituntut, dan dijadikan alat persaingan antara kedua orang tuanya kembali menganga lebar. Selama 21 tahun hidupnya, tidak ada satu pun figur dewasa yang benar-benar mendekapnya dengan tulus, melindunginya, atau bertanya apakah ia baik-baik saja.
Dalam kegelapan ruang tengah yang hanya diterangi kilau lampu-lampu gedung Jakarta dari luar jendela kaca, Lyn merasa amat kecil, rapuh, dan sendirian.
BEEP. BEEP. KLIK.
Suara nada tombol sandi elektronik pintu utama apartemen tiba-tiba berbunyi. Pintu kayu tebal itu terdorong terbuka secara perlahan.
Lyn tersentak kaget di tengah tangisnya. Ia mendongak dengan mata sembab dan napas yang sesak, mengira itu adalah petugas keamanan gedung.
Namun, sesosok pria paruh baya bertubuh tinggi tegap melangkah masuk dengan tenang. Wiliam berdiri di ambang pintu. Pria itu telah menanggalkan jas mewahnya, hanya mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan kematangan dan wibawa mutlaknya.
"W-Wiliam...?" bisik Lyn serak. "Bagaimana bisa Anda... pintu saya..."
Wiliam tidak menjawab. Pria paruh baya itu menutup pintu, menguncinya kembali dari dalam, lalu melangkah lebar membelah ruang tengah apartemen. Aroma sandalwood yang hangat, pekat, dan kaya seketika merebak di udara, mengusir aroma dingin keheningan yang tadi melingkupi Lyn.
Mata sehitam jelaga milik Wiliam menatap lurus ke arah Lyn yang meringkuk gemetar di atas sofa dengan wajah berderai air mata. Tatapan dingin pria tua itu seketika berganti menjadi kehangatan yang amat pekat—sebuah naluri pelindung dan keposesifan mutlak yang meledak saat melihat milik pribadinya tampak begitu hancur.
"Siapa yang berani membuat Little Lady-ku menangis seperti ini?" suara berat Wiliam bergetar rendah di udara, dipenuhi penekanan yang dalam.
Lyn tidak mampu menjawab. Isakan tangisnya justru makin pecah saat melihat sosok pria matang itu berada di hadapannya.
Wiliam tidak membuang waktu. Pria paruh baya itu berlutut di depan sofa, lalu tanpa ragu merengkuh tubuh mungil Lyn ke dalam dekapan hangat dada bidangnya yang kokoh. Tangannya yang besar dan kuat melingkari punggung Lyn, menekan kepala gadis itu agar bersandar rapat pada perpotongan lehernya.
DEG.
Dekapan itu begitu erat, tegap, dan penuh rasa aman yang belum pernah dirasakan Lyn sepanjang hidupnya. Kehangatan tubuh Wiliam seolah menjadi benteng yang sanggup menahan seluruh badai yang menghantam jiwanya.
"W-Wiliam... hiks... mereka... mereka tidak pernah menginginkan saya..." tangis Lyn pecah di balik kemeja putih Wiliam, jemari lentiknya meremas kain kemeja pria itu di bagian dada dengan sangat erat, seolah-olah jika ia melepaskannya, ia akan tenggelam.
Wiliam mengusap rambut panjang Lyn dengan sangat lembut, gerakan tangannya begitu teratur dan menenangkan. Ibu jarinya yang kasar mengusap jejak air mata di pipi mulus Lyn.
"Ssshh... biarkan mereka," bisik Wiliam tepat di telinga Lyn, suaranya yang dalam dan bernas menjadi jangkar bagi jiwa Lyn yang terombang-ambing. "Kamu tidak butuh mereka, Lyn. Mulai detik ini, kamu tidak perlu memikirkan orang-orang yang tidak tahu cara menghargaimu."
"Tapi saya... saya selalu sendiri, Wiliam... tidak ada yang pernah ada untuk saya..." rintih Lyn pasrah, kepalanya makin terkulai lemas di dada Wiliam, menghirup aroma sandalwood yang memabukkan.
Wiliam terkekeh rendah—sebuah tawa berat di dalam dada yang mengirimkan getaran hangat ke seluruh tubuh Lyn. Tangannya yang lain naik menangkup rahang lembut Lyn, memiringkan wajah cantik itu agar menatap lurus ke dalam matanya yang tajam dan sarat akan dominasi penuh perlindungan.
"Kamu tidak sendiri lagi, Little Lady," ujar Wiliam penuh penekanan mutlak di setiap kata yang diucapkannya. "Pria yang berdiri di depanmu sekarang memiliki seluruh kekuasaan dan kemewahan untuk menjagamu. Apa pun yang kamu butuhkan—perlindungan, rasa aman, tempat bersandar—semuanya ada padaku."
Lyn menatap mata pria di usia ayahnya itu dengan pandangan yang sayu dan kepasrahan emosional yang amat mendalam. Di dalam benaknya, bayangan wajah Clara sempat melintas, memicu rasa bersalah yang mengikis hatinya. Pria ini adalah ayah dari sahabatku... ini salah, ini terlarang...
Namun, saat Lyn merasakan betapa hangat, kuat, dan kokohnya dekapan Wiliam dibandingkan dengan kehampaan rumah dan dinginnya sikap orang tua kandungnya sendiri, seluruh logika dan rasa bersalah Lyn runtuh tanpa sisa. Kepolosan dan kehausannya akan figur pelindung membuat Lyn menyerahkan seluruh jiwa dan raga pada kungkungan pria matang ini.
"Wiliam... jangan tinggalkan saya..." bisik Lyn lirih dengan suara yang sarat akan kepasrahan total.
Wiliam menyunggingkan senyum dominan yang sangat tipis namun memikat. Pria tua itu menundukkan kepalanya, menyapu air mata di pipi Lyn dengan bibirnya yang hangat, lalu turun mengunci bibir mungil Lyn dalam ciuman yang sangat dalam, pekat, dan menuntut kepatuhan mutlak.
Ciuman itu tidak lagi hanya digerakkan oleh gairah fisik, melainkan oleh janji kepemilikan dan rasa aman yang mengikat jiwa Lyn. Lyn melenguh pelan dalam ciuman itu, melingkarkan kedua tangannya di leher kokoh Wiliam, membiarkan dirinya tenggelam sepenuhnya dalam pelukan sang tuan di balik dinding-dinding kaca apartemen mewahnya.
Bersambung....
itu kata william🙂
enak bacanya
❤️❤️❤️❤️❤️
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻