Rin-pertemuannya dengan Al adalah kebetulan. Tapi Al bisa memberikan rasa manis dan asem di hari-harinya.
Al-kaku dan dingin. Tapi dinginnya bisa meleleh. Pertemuannya dengan Rin seperti roti. hangat di luar empuk di dalam.
Kisah semanis roti buatan Rin, penuh proses, harus dibentuk dengan bahan takaran yang pas. Baru bisa dinikmati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Tak lama sebuah mobil berhenti di belakang kampus. Seorang dengan tubuh sangat tinggi mengenakan masker dan jaket turun dari pintu kemudi.
"Kak Rin!"
"Jonas?"
"Kak, urgent! Ayo ikut ke kantor T&T,"
"Nggak!"
"Bang Al kak,..."
"Kalo dia nyuruh lo kesini mending lo pulang!"
"Bang Al nggak mau diobatin, dia cuma mau ketemu elo!"
"Ada Vivian!"
"Kak, kalo lo nggak pergi, gue gendong paksa ke kantor! Urgent banget, bang Al nggak mau diobatin dan sekarang...dia nggak bangun!" ucap Jonas dengan nada panik.
"Nggak bangun?" Rin ikutan panik.
"Lo kesana aja! Abis ini gue pulang!" kata Ara.
Rin mengangguk dan mengikuti Jonas menaiki mobil.
"Gimana dia?" tanya Rin.
"Nggak bangun kak! Dan dia ngigo nyebut nama lo terus. Mas Reza mau bawa ke klinik tapi bang Al nolak, dia nggak mau berobat kalo nggak sama lo kak," ucap Jonas.
"Ayo cepetan!" perintah Rin. Jonas menambah kecepatan dan berhenti di kantor T&T. Sesampainya di kantor, Rin melihat Al berbaring di sofa ruangan Al. Dia mengerang, lututnya terluka. Rin panik, besok mereka akan tampil. Gimana Al bisa tampil kalau kakinya luka gitu.
"Al! Kaki lo...! Ayo berobat!" Rin menggoyangkan badan Al. Al hanya mengerang.
"Rin..."
"Gue disini! Kita berobat ya..." Rin bicara dengan lembut.
"Gue... Mau Rin!"
"Gue di sini! Kita berobat ya" bisik Rin yang sekarang udah berlutut di bawah sofa.
Al membuka matanya pelan, terus narik tangan Rin ke dadanya.
"Di sini aja, gue nggak mau berobat," bisik Al. Kali ini Jonas, Arza dan mas Reza balik badan nahan ketawa.
"Kaki lo luka Al, gimana besok mau tampil kalau kayak gini?" Rin gemas.
"Lo aja ya yang obatin, gue nggak mau ke klinik. Titik!" Al memalingkan mukanya tapi tangannya masih menggenggam tangan Rin di dadanya.
"Hmmh... Lo pura-pura sakit kan?!" Rin menarik tangannya.
"Nggak!" telinga Al memerah.
"Lo bohongin gue!" Rin berdiri dan akan meninggalkan ruangan. Tapi Al bangkit dengan cepat lalu terjatuh dan kali ini Al nggak bohongan. Lukanya nabrak meja.
"Sial!" Al oleng dan Rin cepat-cepat berbalik membantu Al dan mendudukkannya kembali ke sofa. Wajah Rin tidak ramah tapi juga tidak terlihat dingin seperti sebelumnya.
"Ada P3K?" tanya Rin. Bima mengambilkan kotak obat dan menyerahkannya pada Rin. Rin duduk di bawah sofa dan melihat luka di lutut Al. Tidak terlalu besar ternyata. Rin membersihkan luka di lutut Al dengan gemas.
"Rin! Pelan-pelan!" protesnya. Rin hanya diam dan mengeringkan luka yang sudah dibersihkan. Lalu meraih betadine, meneteskannya di kasa dan menotolkannya dengan sedikit ditekan.
"Aduh! Pelaaaaan!" Al protes tapi langsung diam saat melihat tatapan Rin.
Kali ini Jonas dan Arza tak lagi bisa menyembunyikan tawa mereka. Bahkan Bima tersenyum lebar. Mas Reza sampai menyumpalkan tangannya agar suara tawanya tak keluar.
"Ini akal-akalan kalian kan?" tanya Rin.
"Nggak! Emang dia nggak pernah mau dibawa ke klinik," ucap Bima. Rin masih geram, sekali lagi ditekannya luka Al.
"Lagian lo ngapain sih sampe bisa luka kayak gini?" tanya Rin.
"Lo main ngilang aja, gue nyariin" ucap Al buang muka.
"Terus?" tatapan Rin tajam.
"Gue jatuh waktu lompat dari panggung," jawab Al. Jonas dan Arza kompak menepuk jidatnya.
"Lo bego bang!" bisik Jonas.
Rin menuang sedikit lagi betadine, lalu menempelkannya ke lutut Al. Lukanya diberi kasa dan diplester.
Rin meraih ponselnya dan menelepon Ara.
"Nelpon siapa?" tanya Al.
"Ara!"
"Siapa Ara?" tanya Al.
"Yang seharian ini bareng gue! Kan gue udah bilang mau ngenalin dia ke elo. Dia tu fans T&T. Dibela-belain kesini buat nonton kalian," ucap Rin.
"Ooh..." Al mengangguk tapi rasanya dia ingin menenggelamkan diri di sofa.
"Oh doang bang?" tanya Arza.
"Bang, lo paling blingsatan liat temen kak Rin. Coba ceritain!" pinta Jonas dengan senyum menyebalkan.
"Emang kenapa dengan temen gue?" tanya Rin dengan tatapan tajam.
"Nggak kenapa-kenapa!" Al membaringkan kepalanya di sandaran kursi, tangannya mendekap dadanya.
"Cerita nggak?" tanya Rin sambil memukul pelan lutut Al.
"Aduh! Nggak kenapa-kenapa! Udah ah, kepala gue pusing!" ucap Al memejamkan mata. Jurusnya menghindar dari kesalahan.
"Cerita aja bang!" ucap Jonas. Al masih tidur tapi kepalan tangannya naik seolah akan meninju Jonas.
"Lo tau kak, kalo ada orang cemburu buta sampe nggak bisa bedain orang itu cowok apa cewek," ucap Jonas lagi.
"Maksudnya? Coba jelasin yang bener! Dan lo juga! Gue masih marah sama lo yang seenaknya nyulik gue kesini! Lo bohongin gue!" ancam Rin. Jonas menelan ludahnya. Arza ketawa sambil bertepuk tangan.
"Lo juga antek-anteknya! Kalian sengaja bohongin gue supaya gue kesini kan?" Rin mendekap tangannya.
"Lo tau kalo Al itu tadi..."
"Nggak usah cerita!" Al mengerang pelan memotong pembicaraan Bima.
"Bang Al itu cemburu sama temen kakak, dikira dia itu cowok. Rupanya itu temen lo yang manis itu. Ara namanya?" bisik Jonas di telinga Rin. Rin menatap Al yang pura-pura tidur.
"Bener-bener lo yah!" Rin gemas dan kali ini benar-benar memukul lutut Al agak keras.
"Rin! Kalo lutut gue patah gimana?" protes Al.
"Lebay lo! Nggak akan patah cuma gue giniin!" Rin lagi-lagi menepuk lutut Al pelan.
"Rin! Ini sakit!"
"Biarin! biar tau rasa! Lo kira gue cewek apaan! Gue udah bilang temen. Pikiran lo ya!" Rin gemas memukul bahu Al lagi. Rasa kesal Rin udah sampai ke ubun-ubun.
"Ya kan gue nggak tahu kalo dia cewek!"
"Makanya nanya!"
Al kehabisan kata-kata. Memang salahnya yang nggak nanya siapa yang ngasih gelang ungu itu? Siapa yang ngajarin Rin bikin cookies? siapa yang sama-sama suka matcha?
Al tahu dia salah tapi terlalu gengsi untuk mengakui semuanya dan malu kalau sebenarnya dia cemburu ke teman Rin yang dia sangka cowok itu. Dari jauh kelihatan gayanya cowok banget. Mana pas di kantin belakang dia ngerangkul Rin dan disanalah puncak rasa cemburunya.
Keduanya terdiam dengan mendekap dada dan saling membuang muka.
"Udah berantemnya?" tanya Bima. Keduanya diam tak menjawab.
Klek...
Pintu terbuka. Satu siluet masuk dan berlari ke arah Al. Semua mata tertuju padanya termasuk Al yang kaget melihat siapa yang duduk di sampingnya dengan wajah cemas.
"Al... kamu nggak apa-apa? Gimana lukanya? Kita ke rumah sakit yuk!" ajak Vivian menggoyangkan tubuh Al.
"Nggak perlu!"
"Al! Besok kamu mau manggung! Kalau kayak gini gimana mau tampil?"
"Udah diobatin!" jawab Al cuek.
Barulah saat itu Vivian menyadari ada seseorang yang wajahnya baru dia lihat hari ini.
kisah Al dan Rin tak melulu soal cinta, ada sedih, bahagia, lucu dan kadang sedikit kaku🤭
kisahnya nggak berat kok