NovelToon NovelToon
DETEKTIF INDRA KE 6

DETEKTIF INDRA KE 6

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Misteri / TKP
Popularitas:875
Nilai: 5
Nama Author: Jilbab putih

Bagi publik dan media, Reno Devano adalah pendiri agensi Vanguard Private Crime Investigation (VPCI) sekaligus detektif swasta paling jenius yang selalu bisa membongkar kasus pembunuhan paling mustahil. Namun, di balik deduksinya yang tajam, Reno menyimpan satu rahasia besar: ia memiliki indra ke-6. Melalui sentuhan pada barang bukti di tempat kejadian perkara, ia mampu melihat kilas balik detik-detik sebelum korban meregang nyawa.

Ketika sebuah kasus pembunuhan pengusaha besar ditutup oleh polisi dengan dugaan pelaku tunggal, Reno yang menyentuh kancing kemeja korban di TKP mendapati penglihatan mengerikan korban sebenarnya dieksekusi secara terencana oleh dua orang pelaku.

Karena paham bahwa "penglihatan gaib" tidak akan pernah diterima di meja hijau, Reno harus menyembunyikan kemampuannya dari tim forensik dan tim hukumnya sendiri yang terbiasa berpikir logis. Reno bertarung dengan waktu: menggunakan penglihatannya untuk 'memandu' dokter forensik dan ahli siber menemukan bukti fis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12:Musuh Dalam Selimut

BAB 12:Musuh Dalam Selimut

Sirine pengunci darurat gedung VPCI meraung nyaring, menggetarkan dinding-dinding beton lantai bawah tanah. Pintu baja di setiap pintu keluar meluncur turun secara otomatis, mengisolasi seluruh area markas dari dunia luar.

Suara mekanisme pengunci yang saling bertaut bergema berat, menegaskan bahwa tidak ada satu orang pun yang bisa keluar atau masuk tanpa otoritas tertinggi Reno Devano.

Di dalam kamar jenazah, pendar lampu neon putih memantulkan ketegangan yang kian membakar. Bau amis darah Aris Devano sang paman yang kini terbujur kaku di atas Meja Otopsi 03 seolah menyatu dengan kecurigaan yang menyeruak di antara mereka.

Dion 'Zero' Prasetya dan Bara Aksara menerobos masuk ke laboratorium medis dengan napas terengah-engah.

Dion memeluk laptop utamanya dengan erat, sementara Bara memegang pistol taktis yang sudah terlepas dari sarungnya, matanya bergerak liar menyapu sekeliling ruangan.

"Ada apa ini, Ren?!" teriak Dion panik, menoleh ke arah pintu baja yang tertutup rapat. "Kenapa protokol lockdown tingkat satu diaktifkan?! Semua akses server luar mendadak diputus!"

"Bara, amankan semua akses tangga darurat dan lift," perintah Reno dingin, suaranya pelan namun mengandung intimidasi yang amat pekat. Wajah sang detektif tampak pucat, tetapi matanya memancarkan ketajaman yang berbahaya.

Bara mengangguk cepat, mengambil posisi di dekat panel kendali utama. "Ada infiltrasi di dalam kantor kita, Bos?"

"Bukan cuma infiltrasi," sela dr. Sara Maheswari, melangkah maju ke tengah ruangan seraya menunjuk jasad di atas meja tiga.

"Seseorang telah membunuh Aris Devano paman kandung Reno satu jam yang lalu di sekitar pelabuhan, lalu menyelundupkan jasadnya ke dalam kamar jenazah ini melalui pintu darurat laboratorium."

Dion dan Bara membeku seketika. Pandangan mereka tertuju pada wajah kaku Aris Devano, lalu beralih ke bekas luka tusukan scalpel micro-serrated di dadanya.

"Paman Aris...?" bisik Dion dengan suara bergetar. "Tapi bukankah dia... bukankah dia sudah tewas dalam ledakan dua belas tahun lalu?"

"Dia tidak pernah tewas," potong Widya Kusuma, menyerahkan tablet digitalnya pada Dion. "Dia bersembunyi selama dua belas tahun.

Dan data yang baru saja kubuka menunjukkan bahwa Aris

Devano adalah sosok yang membiayai dan merancang laboratorium VPCI generasi pertama bersama pendiri awal kita sebelum tragedi kecelakaan orang tua Reno terjadi!"

Dion dengan lincah menari-narikan jemarinya di atas layar tablet, memeriksa struktur berkas tua yang berhasil diaksesnya. Matanya membelalak hebat saat membaca grafik silsilah struktur pendiri agensi.

"Astaga..." bisik Dion, peluh dingin bercucuran di pelipisnya. "Berkas ini... berkas kepemilikan saham dan hak paten formula kimia medis VPCI tidak pernah hilang! Berkas itu dienkripsi menggunakan dua kunci biometrik! Kunci pertama dimiliki oleh Aris Devano, dan kunci kedua..."

Dion menghentikan kalimatnya, menatap dr. Sara dan Reno bergantian dengan tatapan horor yang murni.

"...kunci kedua dimiliki oleh Kepala Tim Medis Pertama VPCI, dr. Eleanor Maheswari!"

Atmosfer di dalam kamar jenazah itu mendadak membeku sepenuhnya.

Reno memutar tubuhnya perlahan, menatap dr. Sara lurus-lurus. dr. Sara sendiri berdiri terpaku, raut wajahnya mengekspresikan kombinasi antara rasa terkejut, kebingungan, dan kepanikan yang teramat sangat.

"Eleanor Maheswari..." gumam Reno dengan suara serak yang memendam gejolak emosi. "Ibu kandungmu, Sara."

dr. Sara menggelengkan kepalanya dengan cepat, mundur satu tindak perlahan. "Tidak... itu tidak mungkin! Ibuku meninggal sepuluh tahun lalu akibat kanker hati! Beliau tidak ada hubungannya dengan kecelakaan keluarga Devano!"

"Tapi ibu Anda adalah orang yang menyusun sistem operasional laboratorium ini, Dok!" potong Widya, suaranya bergetar menahan tekanan.

"Dan pisau bedah scalpel micro-serrated yang digunakan untuk membunuh Aris Devano... adalah pisau bedah medis langka yang spesifikasinya hanya dimiliki oleh jajaran dokter eksekutif keluarga Maheswari!"

"Cukup, Widya!" bentak dr. Sara, matanya berkaca-kaca menahan rasa frustrasi dan amarah. Sang dokter forensik yang biasanya selalu tampil dingin dan rasional, kini tampak begitu rapuh di hadapan tuduhan gila yang mengarah pada darah dagingnya sendiri.

"Ibuku sudah wafat! Aku sendiri yang menangani proses pemulasaraan jenazahnya sepuluh tahun lalu! Jangan membawa-bawa nama almarhumah ibuku dalam pembunuhan ini!"

Reno melangkah mendekati dr. Sara. Sang detektif menatap jemari dr. Sara yang gemetar hebat di samping saku jas laboratoriumnya.

"Sara..." panggil Reno pelan, suaranya sarat akan kebenaran yang jujur.

"Pelaku yang membunuh Paman Aris satu jam lalu adalah seorang wanita berjas laboratorium resmi. Dia memakai masker medis, tapi gerakan pisaunya... presisi gerakan tangannya saat merobek dada Paman Aris adalah teknik bedah saraf tingkat tinggi yang sama persis dengan caramu mengotopsi korban."

dr. Sara menatap Reno dengan pandangan yang hancur. "Kamu... kamu mencurigai aku, Reno? Setelah semua yang kita lalui?! Setelah aku mempertaruhkan reputasiku untuk menutupi kemampuan psychometry-mu di depan Propam tadi pagi?!"

"Aku tidak bilang pelaku itu kamu, Sara," sahut Reno tenang namun tegas, menatap manik mata sang dokter.

"Tapi kamu memegang jawaban atas siapa sosok wanita yang menggunakan identitas dan pisau bedah keluargamu."

Suasana di dalam ruangan itu terasa begitu mencekam hingga detak jam dinding terdengar seperti dentuman keras. Bara menggeser posisi berdirinya secara refleks, meletakkan tangannya di dekat holster senjata, bersiap menghadapi segala kemungkinan terburuk.

Tiba-tiba, lampu di dalam kamar jenazah berkedip kasar.

BZZZT! BZZZT!

Layar monitor utama di dinding laboratorium yang tadinya menampilkan peta sistem keamanan kantor mendadak mengalami gangguan sinyal parah (glitch). Garis-garis noise berwarna hitam-merah memenuhi layar, disusul oleh suara desis frekuensi radio yang memekakkan telinga.

"Dion! Apa yang terjadi dengan sistem?!" teriak Bara seraya menarik pistotnya.

"Gue nggak tahu! Seseorang meretas jalur sistem komunikasi internal dari dalam jaringan lokal kita!" jawab Dion histeris, menekan tombol-tombol keyboard secara liar. "Aksesnya berasal dari... dari ruang arsip medis bawah tanah dua!"

Di layar monitor yang terganggu, sebuah siaran audio rahasia mendadak terputar secara otomatis. Suara wanita bertransmisi teredam suara yang dingin, berat, dan dipenuhi oleh kepresisian medis bergema melalui speaker laboratorium:

"Sangat mengagumkan, Detektif Reno... kamu berhasil menghubungkan benang merah dari Aris Devano. Tapi tebakanmu tentang Sara sangat amat keliru."

dr. Sara menahan napasnya, mengenali warna suara asing yang janggal tersebut. "Siapa kamu?!"

"Aku adalah bayangan yang diciptakan oleh ibumu dan Aris Devano dua belas tahun lalu, Sara," lanjut suara wanita di balik speaker. "Tragedi kecelakaan keluarga Devano dua belas tahun lalu bukanlah murni musibah. Itu adalah pembersihan rahasia saat ayah Reno menemukan bahwa proyek penelitian ilmiah VPCI disalahgunakan untuk menciptakan racun saraf tak terdeteksi—racun yang sama dengan yang dipakai oleh Frans dalam Kasus Sentosa."

Mata Reno membelalak lebar. Potongan teka-teki gila selama bertahun-tahun kini meledak di dalam kepalanya. Tragedi yang menewaskan orang tuanya... bukan kecelakaan biasa, melainkan pembunuhan berencana yang dirancang dari dalam proyek rahasia VPCI!

"Aris Devano menyimpan dokumen asli formula racun itu dan buku catatan uji cobanya. Dan selama dua belas tahun, aku menunggu moment ini... moment di mana Reno Devano mengumpulkan seluruh bukti fisik tersebut di bawah satu atap yang sama," suara wanita itu terkekeh dingin. "Terima kasih telah membawakan buku catatan Aris ke VPCI, Reno. Sekarang, proyek dua belas tahun lalu itu resmi menjadi milikku sepenuhnya."

BIP!

Layar monitor mendadak mati total. Tepat di saat yang sama, sirene peringatan baru berbunyi dengan nada yang jauh lebih melengking dan berbahaya.

TUIT! TUIT! TUIT!

"Sistem proteksi kebakaran otomatis di ruang arsip medis bawah tanah dua diaktifkan!" jerit Dion dari balik laptopnya, matanya membelalak ketakutan.

"Seseorang telah memicu pelepasan gas nitrogen cair di ruang penyimpanan sampel! Jika gas itu memenuhi seluruh lantai bawah tanah dalam sepuluh menit, semua oksigen di lantai ini bakal tersedot habis! Kita semua bakal mati lemas!"

"Dia mau memusnahkan seluruh bukti fisik dan membunuh kita di sini!" teriak Widya panik.

"Sara! Amankan buku catatan Paman Aris!" perintah Reno lantang, membuang semua keraguan dan kecurigaan. Sang detektif menyambar besi pertahanan dirinya, matanya menyala oleh tekat yang membara.

"Bara, Dion, bawa Widya ke lorong ventilasi darurat! Aku akan turun ke ruang arsip bawah tanah dua untuk menghentikan wanita itu!"

"Aku ikut denganmu, Reno!" tegas dr. Sara tanpa ragu sedikit pun, menarik dua tabung oksigen portabel dari rak darurat.

"Aku harus melihat sendiri siapa wanita yang mengatasnamakan ibuku dan menggunakan pisau bedah keluargaku!"

Reno menatap dr. Sara sejenak, mengangguk mantap. Tidak ada waktu lagi untuk berdebat.

Di tengah raungan sirine darurat dan desisan awal gas nitrogen yang mulai merayap dari lorong bawah, Reno Devano dan dr. Sara Maheswari berlari kencang menuju lorong tangga bawah tanah dua menyelami kegelapan paling dalam dari markas VPCI untuk bertarung menghadapi sosok bayangan dari masa lalu yang siap mengeksekusi mereka berdua.

1
Windi Triana
Ceritanya bagus, aku pikir karena judulnya ada tulisan 'indera keenam' pasti ada makhluk astral nya, tapi ternyata tidak ada. Gak tahu nanti bab selanjutnya, apakah ada atau tidak, belum sampai kesana bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!