NovelToon NovelToon
PENGANTINKU DIREBUT DIHARI PERNIKAHANKU

PENGANTINKU DIREBUT DIHARI PERNIKAHANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Identitas Tersembunyi / Evolusi dan Mutasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Tiga tahun aku merawat cinta dan membesarkan anak seorang diri di balik bayang-bayang kesibukan perusahaan, sementara tunanganku, Rian, bersiap menyambut hari pernikahan kami. Namun, tepat di altar suci di mana harusnya aku bersumpah setia, ia justru mempermalukanku di hadapan ratusan tamu undangan demi bersanding dengan wanita lain yang dihamirinya.
​Mereka mengira aku akan hancur lebur dan memohon iba. Mereka salah besar. Aku tidak datang ke altar untuk menangis, melainkan untuk mengambil alih seluruh imperium bisnis keluarganya dan membuat pria itu berlutut di lantai kotor tanpa sisa.
​Apakah Rian benar-benar mengira air mataku adalah kelemahan, sebelum aku mencabut seluruh kekuasaannya dalam satu malam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: NYONYA LISTIA JUAL DIRI DI BLOK M

Salon murah di kawasan Blok M.

Jarum jam baru jam sembilan pagi, tapi AC di ruangan itu sudah lama mati. Cuma ada kipas angin berdebu yang muter lambat di langit-langit, bunyi deritnya bikin telinga sakit.

Nyonya Listia duduk di lantai keramik yang lengket, tas Hermes tiruan kelas tertingginya tergeletak mengenaskan di samping tubuhnya. Tas itu sudah ditolak tiga toko loak. Toko pertama bilang kulitnya ngelupas, toko kedua bilang palsu, toko ketiga cuma nawar lima ratus ribu.

Di genggamannya, ia remas secarik kertas. Surat tagihan kontrakan Rian di Tanjung Priok yang nunggak tiga bulan total dua juta seratus ribu, disanding surat peringatan dari bank karena cicilan kendaraan nunggak empat bulan.

Dua bulan lalu, Nyonya Listia adalah sosialita paling disegani di Blok M. Arisan seratus juta tiap bulan, koleksi tas Hermes asli, cincin berlian di tiap jari, dan suara paling nyaring kalau ngerendahin pelayan restoran.

Tapi kemarin, di lobi Gedung Vion Tower, ia bersimpuh di kaki Alesha. Wanita miskin yang dulu ia ludahi di depan altar karena dianggap tak sepadan dengan putranya.

"Bu Listia, jadi mau potong rambut atau enggak? Kalau enggak, jangan duduk di lantai salon saya ngalangin jalan pelanggan!" bentak pemilik salon ketus.

Nyonya Listia dongak pelan. Wajah yang dulu selalu polesan jutaan kini pucat, kusam, dan penuh kerutan capek karena dua hari tidak tidur. Lipstik mahalnya sudah lama luntur.

"Saya... saya mau pinjam uang, Mbak. Dua juta aja. Buat lunasi kontrakan anak saya, Rian. Nanti kalau uang arisan saya cair, saya ganti empat juta..."

Pemilik salon ngakak, tawanya melengking sampai semua pelanggan nengok.

"Uang arisan? Bu Listia, apa Ibu sudah pikun? Ibu sudah dikeluarin dari Arisan Berlian Blok M sejak minggu lalu karena nunggak iuran dua bulan! Semua teman arisan Ibu sekarang kumpul di rumah Alesha! Eh maksud saya, Nyonya Vion! Mereka bilang Nyonya Vion sekarang yang jadi ketua arisannya!"

Kalimat itu menghantam batin Nyonya Listia seperti tusukan pisau karatan.

Ketua arisan. Alesha. Wanita yang dulu ia sebut perempuan kampung miskin tak tahu diri kini duduk di posisi ketua arisan yang dulu ia pimpin dengan congkak.

Nyonya Listia bangkit pakai sisa tenaga. Ia seret tas tiruannya keluar dari salon dengan langkah gontai.

Di luar, terik Blok M membakar kulit. Bau minyak goreng murah dan asap knalpot pekat.

Ponsel bututnya berdering nyaring. Nama di layar: RIAN.

"Bu... kontrakan... ibu kos mau usir Rian hari ini kalau belum dibayar... Rian lapar, Bu..."

Suara Rian di seberang parau dan lemah. Suara anak yang dulu suka bentak pelayan restoran kini mirip rintihan pengemis.

Air mata Nyonya Listia yang sempat kering kembali tumpah.

Ia nengok ke seberang jalan. Sebuah bar karaoke lampu neon warna-warni masih buka meski hari masih pagi. Di depannya tergantung papan besar:

DIBUTUHKAN: LADY COMPANION, USIA 35-50 TAHUN, GAJI 10 JUTA/MINGGU. HUBUNGI MAMI ROSA.

Gaji sepuluh juta per minggu. Cukup buat lunasi kontrakan Rian. Cukup buat sambung hidup.

Nyonya Listia menatap tulisan itu lima menit penuh. Tangannya gemetar. Harga dirinya sebagai sosialita teriak menolak. Tapi rintihan lapar anaknya di telepon jauh lebih keras.

Dengan langkah ragu, ia nyebrang jalan.

Di dalam bar remang-remang bau apek rokok, wanita bertubuh gempal rambut pirang dengan baju ketat duduk di sofa sambil ngerokok.

"Mami Rosa?" sapa Nyonya Listia pelan.

Mami Rosa scan Nyonya Listia dari ujung kepala sampai kaki dengan tatapan meremehkan.

"Umur berapa?"

"Empat puluh sembilan..."

"Pengalaman?"

Nyonya Listia nunduk dalam. "Saya... saya dulu istri pengusaha..."

Mami Rosa ketawa renyah, sembur asap rokok tepat ke wajah Nyonya Listia.

"Istri pengusaha bangkrut ya? Banyak perempuan kayak kamu di sini. Mantan sosialita arisan yang suaminya selingkuh atau anaknya utang banyak. Mau kerja apa? Temenin om-om minum?"

Nyonya Listia mengepalkan tangan. Air matanya hampir tumpah.

"Saya butuh uang... anak saya..."

"Semua orang yang masuk ke sini butuh uang, Sayang. Tidak ada yang datang karena hobi," jawab Mami Rosa dingin. Ia ambil gaun mini merah menyala yang pendek dan ketat dari sandaran sofa, lalu lempar ke pangkuan Nyonya Listia.

"Coba pakai ini. Kalau tamu suka, kamu bisa dapat dua juta semalam. Cukup buat bayar kontrakan anakmu."

Nyonya Listia menatap gaun mini itu dengan ngeri. Baju yang bahkan tidak sudi ia sentuh ujung jarinya dua bulan lalu karena dianggap murahan dan kampungan.

Tangannya gemetar hebat saat ngangkat gaun itu.

Di waktu yang sama, di lantai delapan puluh delapan Vantec Tower, Alesha lagi mimpin rapat dengan dua puluh direksi baru.

Pakai blazer putih bersih, ia duduk di kursi CEO yang dulu diduduki Rian. Di depannya, laporan finansial nunjukin grafik untung satu miliar tiap hari dari hak paten yang sempat dicuri Rian.

Sekretaris pribadinya masuk tergesa.

"Nyonya Vion, kami dapat info penting. Nyonya Listia... ibu kandung Rian... terlihat masuk Bar Mawar di kawasan Blok M. Bar milik Mami Rosa."

Alesha berhenti tanda tangan dokumen.

Ia dongak, menatap sekretarisnya dengan mata dingin tanpa ekspresi.

"Bar Mawar? Tempat apa itu?"

"Tempat... tempat hiburan malam, Nyonya. Buat pria dewasa..."

Seisi ruang rapat mendadak sunyi. Semua direksi tahan napas.

Alesha diam sepuluh detik penuh. Wajahnya tetap datar.

Lalu ia lanjutkan tanda tangannya dengan tenang.

"Biarin aja," ucap Alesha pelan, tapi tiap katanya jelas di ruangan senyap. "Itu jalur hidup yang ia pilih sendiri. Sama seperti keputusannya dulu untuk ludahi saya di altar dan cap saya wanita murahan yang tidak pantas untuk putranya. Sekarang, biarin dia rasakan makna kata murahan yang sebenarnya."

Ia tutup map dokumen di depannya dengan bantingan keras. Brak!

"Rapat selesai. Dan hubungi Yayasan Sosialita Berlian Blok M. Saya mau donasi seratus juta untuk arisan mereka bulan ini. Atas nama saya, Nyonya Vion."

Semua direksi angguk patuh dengan rasa segan campur takut.

Di dalam Bar Mawar, Nyonya Listia berdiri terpaku di depan cermin retak bernoda di toilet bar yang bau, pakai gaun mini merah menyala itu. Ukurannya terlalu ketat, ngekspos keriput di leher dan lipatan lemak di lengannya.

Ia menatap pantulan dirinya sendiri dan merasa asing.

Dua bulan lalu, ia pakai gaun Dior delapan puluh juta.

Hari ini, ia pakai gaun mini seratus lima puluh ribu dari Mami Rosa.

Air matanya akhirnya tumpah tak tertahankan. Ia dekap wajah dengan kedua tangan, nangis histeris di dalam toilet kumuh.

Di luar ruangan, suara Mami Rosa melengking nyaring.

"Listia! Cepat keluar! Ada tamu di meja nomor tiga yang cari wanita! Cepat gerak!"

Nyonya Listia usap air mata kasar, tarik napas dalam, lalu melangkah keluar dari bilik toilet dengan maksa senyum palsu di wajahnya.

Langkahnya gontai menuju meja nomor tiga, tempat pria paruh baya kepala botak perut buncit lagi nunggu sambil nenggak botol bir.

Sementara itu, di Vantec Tower, Alesha berdiri di balik dinding kaca raksasa, memandangi kota ke arah Blok M jauh di sana. Cincin berlian biru lima karat di jari manisnya mantulin cahaya elegan.

Di belakangnya, Vion mendekat dan dekap pinggangnya hangat.

"Apa kamu tidak kasihan?" bisik Vion lembut.

Alesha senyum dingin tanpa noleh.

"Tidak. Dulu mereka ketawa saat saya nangis di altar. Sekarang giliran saya yang nikmati tawa saat mereka merana di Blok M. Ini baru keadilan, Tuan Vion."

Vion tertawa rendah, lalu mendaratkan kecupan ringan di leher Alesha.

"Ratuku yang kejam. Aku semakin jatuh cinta padamu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!