NovelToon NovelToon
Menukar Takdir Untuk Bellona

Menukar Takdir Untuk Bellona

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:459
Nilai: 5
Nama Author: BUNGA LYONA

Selama bertahun-tahun, Bellona terbiasa menjalani hidup tanpa sosok ayah yang benar-benar hadir. Sampai suatu hari, keadaan memaksanya untuk tinggal bersama lelaki yang selama ini hanya ia kenal dari cerita orang lain.

Pertemuan mereka tidak berjalan seperti yang Bellona bayangkan.

Ada banyak pertengkaran, kecanggungan, dan hal-hal yang terlalu sulit untuk dibicarakan. Mereka bahkan tidak tahu bagaimana caranya menjadi keluarga setelah bertahun-tahun hidup sebagai orang asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28. Pulang Cepat

Keesokan harinya, sinar matahari pagi menembus celah ventilasi rumah tua itu. Bellona keluar dari kamar dengan seragam sekolah yang sudah terpasang rapi. Muka dan matanya masih sembap, tapi raut kaku dan galak di wajahnya sudah kembali terpasang.

Di ruang tamu, Devan masih tergelak di atas sofa. Pria itu tertidur lelap dengan posisi miring, memakai kaus oblong hitam yang agak kendor dan selimut tipis yang cuma menutupi kakinya. Suara dengkuran halusnya sesekali terdengar, memperlihatkan betapa teler dan lelahnya ia setelah kejadian semalam.

Bellona melangkah pelan mendekati sofa. Ia menatap Devan cukup lama. Pipi kanan pria itu masih berbekas kemerahan tipis—jejak tiga kali tabokan maut Bellona semalam. Di atas meja kayu dekat sofa, terlihat dua botol minyak kayu putih dan satu gelas bekas air hangat yang sudah dingin, sesuai janji Devan semalam.

Bellona mendengkus pelan, memalingkan wajahnya agar tidak terhanyut suasana. Ia melangkah ke dapur, berniat mengambil minum sebelum berangkat.

Namun, langkahnya terhenti saat melihat meja makan mini di dapur. Di sana, sudah tertutup tudung saji plastik. Begitu Bellona membukanya, ada piring berisi dua tangkap roti tawar dengan isian selai cokelat yang agak berantakan, plus satu botol susu kemasan dingin yang masih berembun. Ada selarik kertas kecil di samping piring itu, ditulis asal-asalan memakai pulpen hitam:

Bocah, roti cokelatnya dimakan. Jangan bolos sarapan lagi. Duit jajan ada di bawah botol susu.

Bellona mematung menatap tulisan tangan Devan yang jelek dan cakar ayam itu. Jarinya menyentuh lipatan uang dua puluh ribuan yang terselip di bawah botol susu.

Dada Bellona berdesir aneh.

Gadis itu merapatkan bibirnya. Ia mengambil roti tawar itu, menggigitnya pelan sambil mengunyah kaku.

"Dasar Devan bego..." bisik Bellona pelan pada ruangan dapur yang sepi, walau tangannya tetap menyambar botol susu dan uang jajan itu lalu memasukkannya ke dalam tas.

Bellona melangkah kembali ke ruang tamu, melewati Devan yang masih tertidur pulas. Sebelum membuka pintu depan, Bellona menoleh sejenak ke arah sofa. Ia sengaja menghentakkan kakinya agak keras ke lantai.

BUM!

Devan langsung tersentak kaget dari tidurnya. "EH! CEWEK MONTOK— eh, apa?!" racau Devan spontan sambil duduk tegak dengan mata merem-melek dan rambut acak-acakan.

Bellona membelalakkan matanya, melempar tatapan maut paling tajam yang ia punya. "Masih aja lo ngelindur cewek montok, dasar om-om gatal!" bentak Bellona ketus.

Devan yang baru sadar sepenuhnya langsung memegangi kepalanya yang pusing, mukanya mendadak canggung parah. "Eh... Bocah! Kagak, demi Tuhan tadi refleks!"

"Bodo amat! Gue berangkat sekolah!" cetus Bellona cepat, langsung melangkah keluar dan membanting pintu depan—kali ini dengan kekerasan yang sedikit berkurang dibanding kemarin pagi.

Devan terduduk kaku di sofa, mengusap wajahnya yang kusam. Pria itu menggeleng-gelengkan kepala sambil menghela napas panjang, lalu menyunggingkan senyum konyolnya saat menyadari roti dan susu di dapur sudah dibawa pergi oleh anak gadisnya.

***

Suasana koridor sekolah saat istirahat pertama cukup ramai, tapi Viola langsung menarik tangan Bellona menuju area bangku semen di bawah pohon kamboja yang agak sepi. Di tangannya sudah ada dua plastik es teh manis sesuai janjinya semalam.

Viola meletakkan es teh itu di meja semen, lalu menatap Bellona dengan mata berbinar penasaran.

"Bell, seriusan deh, kamu harus cerita!" desak Viola tanpa basa-basi, memasang raut muka memohon. "Sejak kabar Oma meninggal beberapa minggu lalu, kamu hilang kontak sama sekali. Tiba-tiba masuk sekolah lagi mukanya kayak orang banyak beban hidup. Kamu tinggal sama siapa sekarang? Terus Mama kamu ke mana?"

Bellona mengaduk-aduk es tehnya pakai sedotan, mendengkus pelan. Ia sudah menebak tebak-tebakan kepo Viola pasti akan keluar hari ini.

"Penasaran banget lo kayak intel," cetus Bellona, mencoba menetralkan raut wajahnya.

"Ya lagian! Aku tuh khawatir, Bell!" protes Viola sambil memanyunkan bibirnya. "Kemarin-kemarin kamu di-chat cuma bales seadanya. Terus waktu itu kan aku cuma tahu kabar Oma meninggal dari grup angkatan, habis itu kamu gak ada kabar sama sekali. Cerita dong, kamu sekarang tinggal di mana?"

Bellona diam sejenak, menatap es tehnya yang mulai berembun. Ia tentu tak bisa menceritakan seluruh drama kekacauan tentang Devan, band rock, atau kenyataan pahit bahwa Devan adalah ayahnya. Terlalu rumit dan terlalu memalukan untuk dibongkar.

"Gue... pindah rumah," sahut Bellona pelan, berbohong tipis demi menutupi kenyataan.

Viola mencondongkan badannya ke depan. "Pindah ke mana? Sama Mama kamu?"

Mendengar kata 'Mama', raut wajah Bellona mendadak berubah agak dingin. "Kagak. Mama... ada urusan kerjaan di luar kota, kagak bisa diganggu."

"Terus kamu tinggal sama siapa?"

"Sama..." Bellona merapatkan bibirnya, membayangkan muka slengean Devan yang tadi pagi masih sempat-sempatnya ngelindur. "...sama kerabat jauh. Om gue."

"Om kamu?" Viola menaikkan alisnya heran. "Baik gak orangnya? Kok kayaknya kamu masih kelihatan capek banget?"

Bellona menghembuskan napas panjang.

"Orangnya bego, bising, suka bikin emosi," cerocos Bellona ketus, menyedot es tehnya kasar. "Tapi... ya gitu deh. Kagak usah dibahas, pusing gue."

Viola malah terkekeh melihat wajah kesal Bellona yang khas. "Tapi seenggaknya kamu gak sendirian kan? Aku sempet panik kirain kamu keleleran gak ada tempat tinggal."

"Mana ada," sahut Bellona gengsi.

Walau jawaban Bellona serba singkat dan judes, Viola akhirnya merasa lega karena setidaknya temannya itu mau terbuka sedikit. Sementara Bellona kembali menyedot es tehnya, memikirkan pria di rumah tua itu yang mungkin saat ini baru selesai mandi dan kesakitan memegangi pipinya.

***

Bel istirahat kedua belum sempat berbunyi, tapi ketua kelas sudah berdiri di depan papan tulis mengumumkan kalau seluruh murid boleh pulang lebih awal karena para guru ada rapat mendadak sampai sore. Suara sorak-sorai langsung pecah di dalam kelas.

Viola buru-buru memasukkan buku-bukunya ke dalam tas dengan gerakan serba cepat.

Bellona yang memandangnya heran langsung menaikkan sebelah alis. "Santai kali, Vi. Keburu diusir satpam lo?"

"Aku mesti buru-buru, Bell!" sahut Viola sambil meresleting tasnya cepat-cepat. "Aku mau kerja nih."

Bellona membelalakkan matanya kaget. "Kerja? Lah, bukannya lo udah kaya? Ngapain pake kerja segala?"

Viola menghentikan gerakannya sejenak, lalu mendengkus sambil tertawa kecil. "Ya emang keluargaku berada, Bell. Tapi kan itu duit hasil jerih payah orang tua aku, bukan duit aku sendiri. Aku mau punya penghasilan sendiri biar gak ketergantungan."

Bellona terdiam sejenak. Pikiran soal Devan, rumah tua kusam itu, dan rasa enggan untuk terus bergantung pada pria bising itu mendadak berputar di kepalanya. Kalau ia punya uang sendiri, ia tidak perlu merasa berutang budi pada Devan.

"Vi... tempat lo kerja masih ada lowongan kagak?" tanya Bellona mendadak.

Viola menoleh kaget, matanya membulat. "Masih sih, kebetulan lagi butuh satu orang lagi buat shift sore. Kenapa?"

"Gue mau ikut kerja sama lo," jawab Bellona mantap.

Viola makin melotot heran. "Lah? Bukannya kamu juga orang kaya, Bell? Mama kamu kan berada banget. Ngapain kamu ikut-ikutan mau kerja?"

Bellona langsung merapatkan bibirnya, melempar tatapan judes. "Kagak usah kepo."

Viola menepuk jidatnya sendiri sambil berdecak sebal. "Dih! Giliran tadi kamu yang nanya, aku jawab jujur panjang lebar. Pas giliran aku yang nanya balik, malah diketusin! Bintang satu buat kamu ya, Bell!"

Bellona yang mendengar ocehan Viola refleks terkekeh pelan. "Yee... yaudah ayo, anterin gue ke tempat kerja lo itu sekarang!"

1
falea sezi
buat ini anak agak punya adab donk😒 sebel liat anak g tau aturan banyak kok anak broken home yg tau adab g kayak beloman ini sombong
falea sezi
buat belunasadar donk anak haram kok ngelunjak 😒
falea sezi
anak haram gk tau diri🤣🤣 mending usir aja emak loe aja gk mau lu ikut dia masih ada yg mau nampung loe aja alhamdulillah😒 sebel liat anak g tau Adab
falea sezi
q dpet anak g sopan uda guaa usir🤣
falea sezi
q kirim hadiah 🤭 up banyak ya moga makin bagus buat bocah nya jelas stts nya anak devan apa bukan
BUNGA LYONA: siap kak, makasih udah baca😇🌸
total 1 replies
falea sezi
moga ajaa bneran anak devan ya😓 kasian uda di buang emak nya tp lona jangan sok ya
falea sezi
ini numpang 😒 gk ada baik baiknya kayaknya belom. tentu lo anak devan🤣🤣 bisa aja emak lo🤣jalang gk tau anak siapa😒
falea sezi
ini bapak bneran kan🤣
Lisa Kusmiran07
semangat kak
BUNGA LYONA: makasihh😍
total 1 replies
Lisa Kusmiran07
semangat thorr,ceritanya seru lain dari yg lain
Lisa Kusmiran07
menunggu lanjutannya,
BUNGA LYONA: siapp🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!