Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta bersama Arthur Bond, Rexana Nycekerh hidup bagai pajangan mahal di dalam sangkar emas. Demi menyelamatkan perusahan ayahnya yang terancam runtuh, Rex terpaksa menelan bulat-bulat dinginnya penghinaan dan tuduhan atas rahasia masa lalu yang enggan ia bocorkan. Namun, ketika kembali ke New York, takdir memainkan lelucon paling kejam.
Lexana, kakaknya sendiri, secara terang-terangan memamerkan kekasih barunya—Diedrick Glodereus Ashford.
Pria itu adalah pemilik masa lalu Rex, cinta pertamanya yang kini hadir kembali membawa dendam dan kepahitan.
Di tengah kepungan tuntutan keluarga yang tak berhati dan intrik kekuasaan, Rex harus berdiri sendirian di antara dua pria yang membencinya.
Akankah rahasia di balik perpisahan masa lalu mereka terkuak, atau justru Rex akan benar-benar hancur dalam permainan pembalasan dendam ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#5
"Di... Diedrick?!" teriak Lexana kaget, matanya membelalak tak percaya.
"Kenapa kau ada di dalam toilet wanita?!"
Suara melengking Lexana memantul kaku di dinding koridor luar toilet VIP.
Wajahnya yang berbalut riasan tebal tampak tegang, bercampur antara rasa heran dan kecurigaan yang membakar.
Diedrick berdiri tenang di ambang pintu, merapikan lengan jas mahalnya dengan gerakan santai yang teratur. Tidak ada sedikit pun raut kepanikan di wajah tampannya, topeng dingin aristokratnya telah terpasang sempurna.
"Aku baru saja membantu adikmu. Keran toiletnya rusak," ucap Diedrick datar tanpa rasa bersalah, matanya sekilas melirik ke dalam, memberi isyarat tak tersirat agar Rex keluar detik itu juga.
Rex melangkah keluar dari dalam toilet dengan kepala terangkat kaku.
Bibirnya yang pucat memutih, namun matanya menatap Lexana dengan pandangan hampa yang dingin.
"Kurasa toilet ini ada hantunya," gumam Rex pelan, suaranya parau namun memotong ketegangan di udara.
Deg.
Lexana menyipitkan mata, sama sekali tidak percaya pada alasan konyol itu.
Dada cantiknya naik turun menahan gumpalan prasangka buruk. Tepat setelah Rex keluar melintas di sebelahnya, Lexana memajukan kepalanya ke dalam toilet dengan pandangan selidik.
"Di mana keran yang rusak?" tanyanya penuh curiga, matanya berputar menatap keran air yang berada di dekat cermin.
BRAK!
Suara benturan keras mendadak menggelegar dari dalam. Air langsung mengucur deras, menyembur liar membasahi lantai marmer dan dinding toilet. Diedrick baru saja menendang keran tembaga itu hingga patah dari jalurnya tanpa berkedip sedikit pun.
Lexana menganga lebar, melangkah mundur agar gaun mewahnya tidak terkena cipratan air. Pandangannya berpindah cepat dari keran yang banjir menuju sosok Rex yang berdiri di dekat pintu.
Di dalam benak Lexana, api cemburu menyala hebat.
Dia yakin Rex baru saja mencoba menggunakan pesona murahannya untuk menggoda Diedrick—pria yang baru saja menjadi pencapaian terbesarnya.
Jalang murahan... awas kau! maki Lexana dalam hati, meremas jemarinya hingga kuku akriliknya menancap ke telapak tangan.
Diedrick melangkah keluar dari toilet tanpa membuang kata-kata lagi pada Lexana.
Pria itu berjalan anggun, melewati Lexana seolah-olah wanita itu hanyalah pajangan dinding. Namun, saat tubuh tingginya melintasi Rex yang berdiri membelakanginya di dekat cermin koridor, tangan Diedrick yang tersembunyi di balik jasnya berbuat gila.
Secara samar dan penuh dominasi, jemari Diedrick menyapu dan meremas lembut bokong Rexana sebelum berlalu begitu saja menuju ballroom.
Deg.
Tubuh Rex membeku seketika.
Sensasi sentuhan itu menjalar bagai sengatan listrik yang merendahkan harga dirinya hingga ke dasar bumi.
Air mata Rex nyaris menetes lagi.
Rumor dia menjadi pria brengsek rupanya benar... batin Rex lirih, menatap punggung tegap Diedrick yang menghilang di belokan koridor.
Pria lembut yang dulu memeluknya di bawah hujan kini telah mati, berganti menjadi iblis tak berhati yang menggunakan wanita sebagai mainan.
...ΩΩΩ...
Atmosfer di dalam ballroom utama telah berubah semakin riuh dan hangat.
Musik simfoni lembut berganti menjadi alunan valsa yang lambat namun memikat. Di tengah ruangan, pembawa acara berdiri di atas panggung kecil dengan mikrofoni berlapis emas, memegang gelas gandumnya penuh semangat.
"Hadirin yang terhormat, para tamu undangan yang luar biasa!" suara MC menggema nyaring, menarik perhatian seluruh bangsawan dan pengusaha yang sedang memegang gelas penyu.
"Malam ini, untuk mempererat kehangatan dan keakraban di antara keluarga-keluarga terhebat New York, kita akan mengadakan satu tradisi klasik pesta Ashford—The Masquerade Partner Switch!"
Sorak sorai halus dan tepuk tangan meriah membumbung dari para tamu.
"Aturannya sangat sederhana dan penuh kejutan," lanjut MC dengan senyum misterius.
"Setiap pasangan akan turun ke lantai dansa. Tepat saat musik melambat dan seluruh lampu ballroom dipadamkan selama beberapa detik, kalian diwajibkan melepaskan pasangan kalian dan meraih tangan siapa pun yang berada di samping kalian dalam kegelapan! Saat lampu menyala kembali... pasangan baru itulah yang akan menyelesaikan dansa malam ini!"
Permainan gila khas kelas atas.
Sebuah ajang terselubung yang dibungkus dengan nama "tradisi pesta".
Arthur Bond yang berdiri di dekat meja minuman keras terkekeh pelan.
Matanya melirik Rex yang baru saja kembali dari koridor dengan wajah pucat.
Arthur menarik lengan Rex kasar, membawanya mendekati kerumunan di tepi lantai dansa.
Saat itu juga, Diedrick melangkah anggun bersama Lexana ke tengah lantai dansa, disusul oleh puluhan pasangan elit lainnya.
"Ikut aku," bisik Arthur dingin di telinga Rex.
Pria itu membawa Rex turun ke lantai dansa, memeluk pinggang istrinya kaku saat musik valsa mulai mengalun.
"Kau terlihat mengenaskan malam ini, Rex," ejek Arthur sembari memutar tubuh Rex mengikuti irama musik.
"Rambut pendekmu membuatmu makin mirip tawanan yang menyedihkan."
Rex tidak menyahut.
Pandangannya kosong, menatap bahu jas Arthur tanpa minat.
Tiba-tiba, nada musik memelan drastis.
Sebuah dentang lonceng berdenting pelan dari sudut panggung.
TEK!
Seluruh lampu kristal raksasa di atas ballroom padam seketika.
Ruangan megah itu tenggelam dalam kegelapan pekat yang pekat. Suara gesekan gaun sutra, helaan napas, dan pergeseran langkah kaki yang sibuk bergema di mana-mana.
Dalam kegelapan murni itu, sebuah tangan besar bertulang tegas yang terasa begitu familier mencengkeram pergelangan tangan Rex secara paksa.
Sentuhannya dingin namun possessif.
Sebelum Rex sempat memprotes, tubuhnya ditarik kuat hingga menabrak dada bidang seorang pria yang memancarkan aroma parfum kayu cendana dan hujan musim gugur.
KLIK!
Lampu-lampu kristal menyala kembali secara serentak, membiaskan pendar keemasan yang menyilaukan.
Tepuk tangan para tamu membumbung tinggi saat setiap pasangan menyadari siapa yang kini berada di pelukan mereka.
Rex mendongak pelan, dan jantungnya serasa melompat keluar dari dada.
Pria yang kini memeluk pinggangnya erat-erat, menatapnya dengan sepasang mata elang yang pekat dan mengintimidasi, adalah Diedrick Glodereus Ashford.
Di sebelah mereka, Lexana mendapati dirinya berdiri bersama Arthur Bond. Wajah Lexana memucat kaget, sementara Arthur justru mengumbar senyum miring yang penuh kepuasan terselubung.
Jemari Diedrick mencengkeram pinggang Rex kencang, membawa tubuh ramping wanita itu memutar menguasai lantai dansa mengikuti tempo musik yang kembali cepat.
Jarak di antara mereka begitu dekat hingga hembusan napas Diedrick menerpa dahi Rex.
"Kebetulan yang sungguh indah, bukan... Bellerina?" bisik Diedrick rendah, suaranya hanya bisa didengar oleh Rex.
Rex berusaha menarik tubuhnya mundur, namun cengkeraman tangan Diedrick di punggungnya bagaikan penjepit besi.
"Lepaskan aku, Diedrick. Semua orang memperhatikan kita..."
"Biarkan mereka melihat," sahut Diedrick dingin, memutar tubuh Rex anggun di udara sebelum menariknya kembali rapat ke dadanya.
"Biarkan suamimu melihat betapa sempurnanya kau berada di pelukanku."
Dari tepi lantai dansa, Arthur Bond menyaksikan setiap gerakan dansa antara istrinya dan sang pewaris Ashford.
Bukannya marah atau cemburu, Arthur justru melangkah mendekati batas lantai dansa saat pasangan itu berputar mendekatinya.
Arthur menyunggingkan senyum paling beracun yang pernah Rex lihat.
Pria itu mencondongkan tubuhnya sedikit saat Rex berputar di hadapannya, lalu berbisik dengan suara pelan namun sangat jelas menyayat ulu hati Rex.
"Aku akan membebaskanmu dan menyetujui perceraian kita... jika kau berhasil tidur dengannya malam ini, Rex."
Deg.
Kata-kata itu menghantam Rex bagai petir di siang bolong.
Langkah dansanya terhenti seketika, matanya membelalak menatap Arthur yang kini tertawa pelan sembari menyesap sampanyenya.
Diedrick merasakan perubahan drastis pada tubuh Rex yang mendadak gemetar hebat di dalam pelukannya. Tatapan mata Diedrick menyipit tajam, melirik kearah Arthur dengan kebencian murni yang menguap dari dadanya.
Miris.
Sangat miris.
Suaminya sendiri baru saja menjual dirinya di depan umum hanya demi sebuah transaksi bisnis yang memuakkan.
love sekebon
happy graduation eh happy birthday mksdnya