Ketika mahkota kekaisaran ternoda oleh keserakahan dan tirani seorang saudara kandung, seorang putri yang terbuang harus bangkit dari abu pembantaian.
Diasingkan sejak lahir di Desa Bunga Lotus, Zhao Lianhua tidak pernah tahu bahwa di dalam nadinya mengalir darah kekaisaran. Namun saat pedang istana membakar rumah dan menghancurkan kedamaiannya, ia terpaksa mengambil pedang demi keadilan rakyat jelata!
Bisakah seorang putri terbuang menumbangkan kerajaan yang dipimpin oleh saudara kandungnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Jejak darah
Menjelang tengah malam, ketika hujan di luar mulai reda dan menyisakan tetesan air yang jatuh bergemerisik dari dedaunan pohon, Lianhua memaksa dirinya untuk duduk bersandar pada dinding batu gua.
Ia meraba pinggangnya, pedang perak pemberian Tuan Zhao masih tersarung rapi di sana, meski bagian gagangnya kini ternoda oleh noda darah sang ayah.
Lianhua meraih gagang pedang itu, lalu menariknya ke hadapan wajahnya. Bilah pedang yang tadinya berkilau jernih kini memantulkan bayangan wajahnya sendiri di bawah temaram cahaya obor.
Seorang gadis remaja berambut acak-acakan, dengan mata yang menyala tajam penuh luka, namun memancarkan tekad yang sanggup mengguncangkan singgasana kekaisaran.
Lianhua mengangkat bilah pedang itu sejajar dengan dadanya, lalu menatap lurus ke arah Feng dan Bao yang duduk mengawalnya.
"Dengar sumpaku," ucap Lianhua dengan suara serak namun tegas, mengalirkan seluruh sisa energi di dalam tubuhnya ke setiap kata yang ia ucapkan.
Feng dan Bao sontak bangkit dan berlutut hormat di hadapan Lianhua.
"Aku, Zhao Lianhua," suara Lianhua bergetar namun penuh wibawa, "di hadapan langit dan bumi... di atas darah orang-orang tercinta yang gugur di Lembah Bunga Lotus... bersumpah tidak akan pernah mengampuni kebejatan Kaisar Longwei!"
Ia mengepalkan tangan kirinya hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangan.
"Kita akan menyusun kembali kekuatan dari sisa-sisa prajurit yang selamat di provinsi barat. Kita akan merebut kembali apa yang telah mereka rampas, dan kita tidak akan berhenti... sampai panji Bunga Lotus berkibar di atas Aula Takhta Naga Emas, menuntut pertanggungjawaban atas setiap tetes darah rakyat yang tertumpah!"
Kata-kata itu bergema pelan namun menghantam dinding batu Gua Mutiara Air dengan gaung yang penuh kekuatan magis dan emosional. Tidak ada lagi ratapan putus asa, yang tersisa di dalam gua itu adalah bara dendam suci dan janji suci seorang putri yang bangkit dari abu kehancuran.
Feng menatap Lianhua dengan mata berkaca-kaca dan penuh kesetiaan. Ia mengangkat kepalan tangannya ke dada dan berkata. "Kami akan mengikutimu sampai titik darah penghabisan, Lianhua! Apapun risikonya!"
Bao pun mengangguk mantap. "Kami hidup dan mati demi Bunga Lotus!"
Setelah sumpah terucap, suasana di dalam gua kembali tenang. Lianhua menarik napas dalam-dalam, dan membiarkan pikirannya yang cerdik kembali bekerja merangkai siasat di tengah situasi yang paling mendesak.
"Feng," panggil Lianhua dengan nada bicara seorang panglima perang yang kembali memegang kendali.
"Ya, Lianhua?"
"Berapa banyak prajurit aliansi atau pemuda desa yang berhasil lolos ke luar lembah selain kita?" tanya Lianhua.
Feng merenung sejenak, dan mengingat-ingat kekacauan saat evakuasi darurat. "Panglima Lu sempat memimpin sekitar empat puluh prajurit Pasukan Merah menerobos sisi timur lembah sebelum jalur tertutup longsoran meriam. Mereka kemungkinan besar mundur ke persembunyian lama di Hutan Bambu Hitam."
Lianhua mengangguk pelan. "Bagus. Itu artinya kekuatan inti kita belum sepenuhnya musnah. Longwei mungkin berpikir ia telah memenangkan pertempuran ini, tetapi ia tidak tahu bahwa akar bunga lotus tertanam jauh di dalam tanah yang paling gelap sekalipun."
Lianhua menatap luka di lengannya, lalu merobek sisa jubahnya untuk melilitnya lebih erat.
"Besok pagi, saat fajar menyingsing, kita tidak boleh tinggal lebih lama di gua ini. Pasukan pelacak Serigala Hitam pasti akan menyisir area Tebing Teratai Merah."
"Lalu, ke mana kita akan pergi, Lianhua?" tanya Bao cemas.
"Kita akan bergerak diam-diam menembus Pegunungan Barat menuju Hutan Bambu Hitam untuk menemui Panglima Lu," jawab Lianhua. "Dari sana, kita tidak akan lagi bersembunyi di dalam lembah. Kita akan membangun aliansi bayangan, merebut kembali kepercayaan rakyat yang ketakutan, dan menyusun serangan balik yang tidak akan pernah disangka oleh Kaisar di Kota Naga Emas."
________
Lanjut...
Fajar belum sepenuhnya menyingsing di atas Pegunungan Bunga Lotus. Udara dingin khas pagi buta menyusup menusuk tulang melalui celah-celah tebing batu Gua Mutiara Air. Kabut tebal berwarna kelabu melayang-layang rendah, menyelimuti permukaan tanah basah bekas guyuran hujan lebat semalam.
Di dalam rongga gua yang remang-remang, Feng mendadak terbangun. Telinganya yang sangat peka menangkap getaran halus di atas dedaunan kering di luar mulut gua. Bukan gesekan angin, melainkan derap langkah kaki bertumit besi yang teratur dan berhati-hati.
Krik... Krik... Gemerincing besi pendek...
Feng menepuk bahu Bao dengan pelan. Bao yang tertidur lelap seketika membuka matanya, tangannya refleks mencengkeram gagang belati di pinggangnya.
"Sstt! Bao, bangun..." bisik Feng sangat halus di dekat telinga rekannya. "Ada pergerakan di luar."
Bao mengusap matanya yang masih berat, lalu menajamkan pendengarannya. Benar saja, suara kresek dedaunan dan bisikan rendah beberapa pria terdengar makin dekat dari arah lereng bawah.
Kedua pemuda itu menoleh secara bersamaan ke tempat Zhao Lianhua terbaring semalam. Lianhua yang kemarin malam menderita demam tinggi dan kehilangan banyak darah seharusnya masih terlelap lemas untuk memulihkan staminanya.
Feng dan Bao berniat memeriksa keadaan ke luar gua secara diam-diam tanpa mengganggu istirahat sang putri.
Namun, betapa kagetnya mereka ketika menatap sudut dinding batu tempat tumpukan lumut kering itu berada.
Tempat itu kosong. Kain yang tadinya menutupi tubuh Lianhua sudah terlipat rapi di atas tanah.
"Di... Di mana Lianhua?!" bisik Bao panik dengan wajah pucat.
"Sstt! Jangan berteriak!" desis Feng sambil merangkak perlahan mendekati mulut gua.
"Mencari aku?"
Sebuah suara jernih dan tenang berbisik tepat dari balik bayangan tiang batu yang menjulang di samping mereka.
Feng dan Bao terlonjak kaget hingga hampir melompat mundur. Lianhua berdiri tegap di sana! Gadis berusia tujuh belas tahun itu sudah mengenakan jubah pendar birunya yang terikat rapi.
Wajahnya memang masih terlihat sedikit pucat, namun matanya yang jernih memancarkan fokus, ketajaman, dan kesiapan tempur tingkat tinggi. Pedang peraknya sudah tergenggam mantap di tangan kanannya.
"Lianhua! Kau mengagetkan kami!" seru Bao dengan nada tertahan sambil mengelus dadanya yang berdebar kencang. "Apa kau baik-baik saja? Luka bahumu bagaimana?!"
Lianhua mengangguk tipis, dan memberikan senyuman kecil yang penuh ketenangan untuk menenangkan kedua rekannya. "Ramuan herba buatanmu semalam sangat mujarab, Bao. Pendarahannya sudah berhenti. Aku sudah terbangun sejak sepuluh menit yang lalu saat mendengar gesekan sepatu mereka di dasar tebing."
Feng merangkak mendekati bibir gua, dan menyibak sedikit dahan tanaman merambat yang menutupi pintu masuk. Dari balik celah daun, matanya membelalak.
Di bawah sana, sekitar lima belas prajurit elit Pasukan Serigala Hitam berzirah besi lengkap sedang menyisir jalur tebing secara perlahan. Mereka membawa obor yang asapnya membubung tipis dan menenteng pedang terhunus, menjejak setiap gua dan celah batu.
"Mereka melacak jejak darah kita yang tersapu hujan semalam," bisik Feng tegang. "Pasukan pelacak istana itu makin dekat. Jarak mereka tinggal tiga puluh langkah dari celah gua ini."
Bao mengepalkan tangannya dengan tegang. "Gua ini memiliki jalur buntu di belakang. Kita tidak bisa melarikan diri ke mana pun. Jalur luar adalah satu-satunya jalan keluar kita!"
"Kita tidak bisa menghindar karena ini satu-satunya jalan keluar," tegas Lianhua, matanya membaca situasi dengan kalkulasi taktik yang cepat dan dingin. "Jika kita mencoba menerobos keluar sekarang dalam kondisi terbuka, panah mereka akan menghujani kita dari bawah. Kita harus manfaatkan celah sempit pintu gua ini."
Lianhua kemudian merancang rencana pertarungan singkat di antara mereka bertiga.
"Feng, kau sembunyi di balik celah batu kiri. Begitu prajurit pertama menjejakkan kaki di dalam gua, tarik perhatiannya ke arah bawah. Bao, kau gunakan sisa bubuk pembius yang kau punya untuk merusak penglihatan barisan tengah mereka. Aku akan menyergap komandan mereka dari atas tiang batu ini untuk memotong rantai komando mereka!"
"Siap, Putri!" bisik Feng dan Bao serentak.
Ketiganya mengambil posisi tempur masing-masing, dan menahan napas di dalam kegelapan Gua Mutiara Air yang mencekam. Suara derap langkah prajurit istana di luar makin keras, dan menapak batu-batu licin tepat di depan pintu masuk.
"Cek gua di atas sana!" seru suara berat komandan pelacak dari luar. "Jejak rumput terinjak berhenti di celah ini! Mereka pasti bersembunyi di dalam!"
"Siap, Komandan!"
Tiga prajurit berzirah besi mengacungkan pedang mereka, hendak melangkah masuk menunduk melewati celah tanaman merambat. Feng sudah bersiap mengayunkan belatinya, dan Lianhua telah menegangkan otot kakinya di atas tiang batu, siap melompat.
Namun, tepat sebelum kaki prajurit pertama menapak di dalam gua—
SSSSHHH! SSSSHHH!
Bersambung...