Gu Chen hanyalah pemuda biasa yang keluarganya dihancurkan oleh kekuatan misterius. Namun, sebelum kematian menjemputnya, ia menemukan sebuah rahasia mengerikan: dunia tempatnya tinggal hanyalah papan permainan bagi makhluk-makhluk di luar pemahamannya.
Perang, kehancuran sekte, bahkan nasib para jenius ternyata telah diatur oleh tangan tersembunyi. Manusia hanyalah bidak, sementara para kultivator terkuat pun tidak lebih dari pion yang bisa dikorbankan kapan saja.
Gu Chen tidak memiliki bakat luar biasa ataupun kekuatan yang mampu mengguncang langit. Ia hanya memiliki kecerdasan, kesabaran, dan keberanian untuk menentang aturan permainan.
Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin mengerikan kebenaran yang ditemukannya.
Jika dunia ini adalah papan permainan, maka Gu Chen akan menemukan para pemainnya—dan membunuh mereka satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagas Hirmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 — Nama yang Dihapus dari Sejarah
Paviliun Seribu Catatan berdiri di ujung utara Kota Batu Merah, jauh dari keramaian pasar dan deretan toko milik para kultivator. Bangunannya terdiri atas tiga lantai, dengan dinding kayu hitam dan papan nama berwarna keemasan yang sudah memudar dimakan waktu. Tempat itu bukan sekte ataupun keluarga besar, melainkan rumah arsip yang menyimpan catatan tentang sejarah, teknik kultivasi, reruntuhan kuno, serta tokoh-tokoh yang pernah mengubah dunia. Bagi kultivator biasa, tempat tersebut tidak terlalu menarik. Mereka lebih memilih menghabiskan batu spiritual untuk membeli pil atau senjata daripada membaca catatan masa lalu. Namun, bagi Gu Chen, tempat itu mungkin satu-satunya jalan untuk menemukan jawaban.
Ia berhenti di depan pintu, memeriksa uang yang tersisa di sakunya, lalu menarik napas panjang. Uang pemberian Zhao Tua hanya cukup untuk membeli makanan selama beberapa hari. Ia tidak mungkin membayar biaya pencarian informasi yang mahal.
“Semoga orang bernama Shen Mo tidak menjual setiap kalimatnya dengan harga batu spiritual,” gumamnya.
Gu Chen memasuki paviliun. Aroma kertas tua dan kayu memenuhi ruangan. Beberapa orang duduk membaca gulungan, sementara seorang penjaga berjubah cokelat tertidur di balik meja. Gu Chen mengetuk meja dua kali.
“Aku mencari Shen Mo.”
Penjaga itu membuka sebelah mata. “Untuk urusan apa?”
“Aku ingin menanyakan seseorang yang namanya mungkin telah dihapus dari sejarah.”
Kantuk di wajah penjaga itu langsung menghilang. Ia menatap Gu Chen lebih saksama, kemudian menunjuk tangga menuju lantai dua.
“Ruang arsip lama. Pintu paling ujung. Kalau dia tidak mau menemuimu, jangan memaksanya.”
Gu Chen mengangguk dan menaiki tangga. Semakin tinggi ia berjalan, semakin sunyi suasananya. Di lantai dua, rak-rak buku dipenuhi debu, sementara sebagian gulungan telah rusak akibat kelembapan. Pintu paling ujung terbuka sedikit. Dari dalam terdengar suara seseorang membalik halaman.
Gu Chen mengetuk pintu.
“Masuk.”
Di dalam ruangan, seorang lelaki berambut abu-abu duduk di belakang meja penuh dokumen. Usianya sulit ditebak, tetapi sorot matanya tajam dan jernih. Ia mengenakan pakaian sederhana, tanpa lambang sekte maupun keluarga. Ketika melihat Gu Chen, ia tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun.
“Kau anak Gu Yuan.”
Gu Chen tidak langsung menjawab. Ia menutup pintu, kemudian berdiri di hadapan lelaki itu.
“Bagaimana Anda mengetahui namaku?”
“Karena wajahmu mirip dengannya.” Shen Mo meletakkan gulungan yang sedang dibacanya. “Sekarang jawab pertanyaanku. Apakah ayahmu sudah meninggal?”
Gu Chen mengepalkan tangan. “Ya. Dia dibunuh oleh orang-orang Sekte Pedang Awan.”
Shen Mo terdiam sejenak. Tidak ada rasa terkejut di wajahnya, tetapi jemarinya berhenti bergerak.
“Jadi, mereka akhirnya menemukannya.”
Gu Chen segera menangkap perkataan itu.
“Anda tahu siapa ayahku sebenarnya?”
“Aku tahu sebagian kecil dari masa lalunya. Namun, sebelum aku menjelaskan apa pun, aku perlu mengetahui satu hal.” Shen Mo mencondongkan tubuhnya. “Apakah mereka mengambil sesuatu dari rumahmu?”
Gu Chen memperhatikan lelaki itu dengan hati-hati. Ia belum memiliki alasan untuk memercayainya, dan pengalaman beberapa hari terakhir telah mengajarkannya bahwa orang yang mengajukan pertanyaan belum tentu berniat membantu.
“Mereka mengambil beberapa barang.”
“Benda berbentuk lonceng?”
Gu Chen menggeleng. Ia sengaja berbohong. “Tidak ada lonceng di rumahku.”
Shen Mo tidak langsung menanggapi. Ia hanya memandang Gu Chen selama beberapa detik, lalu menghela napas.
“Bagus. Setidaknya kau tidak sebodoh ayahmu.”
Gu Chen menyipitkan mata. “Apa maksud Anda?”
“Artinya, ayahmu terlalu lama menganggap bahwa menyembunyikan sesuatu sama dengan melindunginya.” Shen Mo berdiri dan berjalan menuju rak paling belakang. “Ikutlah. Ada sesuatu yang harus kau lihat.”
Ia menarik sebuah gulungan berwarna hitam dari celah tersembunyi di antara rak. Gulungan itu tidak memiliki judul, hanya sebuah segel merah yang tampak seperti mata tertutup. Ketika Shen Mo meletakkannya di atas meja, udara di sekeliling mereka mendadak terasa berat.
“Catatan ini berasal dari lebih dari seribu tahun lalu,” jelas Shen Mo. “Isinya membicarakan sebuah peristiwa yang tidak pernah tercatat dalam sejarah resmi. Sebuah kerajaan menghilang dalam satu malam, beserta jutaan penduduknya. Tidak ada perang, wabah, atau bencana alam yang bisa menjelaskan kehancuran itu.”
“Lalu apa yang terjadi?”
“Menurut satu-satunya saksi yang tersisa, langit terbuka dan tangan raksasa turun dari atas. Seluruh kerajaan kemudian menghilang seperti bidak yang diangkat dari papan.”
Jantung Gu Chen berdetak lebih cepat. Pemandangan yang diceritakan Shen Mo terlalu mirip dengan tempat yang ia lihat ketika hampir mati.
“Apakah ada bukti?”
Shen Mo membuka gulungan tersebut. Sebagian besar tulisannya telah memudar, tetapi sebuah gambar masih terlihat jelas: sebuah papan dengan bidak-bidak kecil, dikelilingi sosok-sosok tanpa wajah.
Gu Chen merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya.
“Itu…”
“Kau pernah melihatnya?” tanya Shen Mo.
Gu Chen tidak menjawab. Ia tidak ingin mengungkapkan seluruh rahasianya kepada seseorang yang baru ditemuinya. Namun, reaksinya rupanya sudah cukup.
Shen Mo menutup gulungan itu dengan cepat.
“Dengarkan baik-baik. Jika kau benar-benar telah melihat papan tersebut, jangan ceritakan kepada siapa pun. Bahkan jangan mengucapkannya ketika kau sendirian.”
“Kenapa?”
“Karena beberapa hal tidak perlu mendengar namanya untuk mengetahui bahwa seseorang sedang membicarakannya.”
Gu Chen menatapnya dengan curiga. “Anda berbicara seolah-olah mereka bisa mendengar kita.”
Shen Mo tidak menjawab. Ia kembali ke mejanya, mengambil selembar kertas, lalu menuliskan beberapa karakter kuno.
“Nama ayahmu pernah muncul dalam catatan yang sama. Tetapi beberapa tahun lalu, seluruh catatan tentang dirinya dihapus. Bukan hanya dari arsip ini, melainkan juga dari beberapa perpustakaan besar yang pernah kukunjungi.”
Gu Chen merasakan dadanya mengencang. “Siapa ayahku sebenarnya?”
Shen Mo menatapnya lama sebelum menjawab.
“Aku tidak tahu identitas lengkapnya. Namun, aku tahu bahwa Gu Yuan bukanlah nama yang digunakannya sejak lahir.”
Gu Chen terdiam. Selama tujuh belas tahun, ia mengira mengetahui segala sesuatu tentang keluarganya. Ternyata, bahkan nama ayahnya sendiri mungkin merupakan kebohongan.
“Apakah dia seorang penjahat?”
“Bisa jadi. Atau seseorang yang mengetahui terlalu banyak.” Shen Mo mengembalikan gulungan itu ke tempatnya. “Dalam dunia ini, perbedaan antara keduanya terkadang hanya ditentukan oleh siapa yang menulis sejarah.”
Gu Chen tidak menyukai jawaban tersebut, tetapi ia memahami satu hal: jika ia ingin mengetahui kebenaran, ia harus mencari lebih jauh daripada sekadar nama ayahnya.
“Bagaimana caraku mengetahui masa lalunya?”
Shen Mo mengambil sebuah lempengan kayu kecil dari laci. Di permukaannya terukir lambang gunung yang dikelilingi sembilan garis.
“Pergilah ke Pegunungan Tulang Kelabu. Di sana terdapat reruntuhan yang sudah ditinggalkan selama ratusan tahun. Menurut catatan lama, seseorang pernah menyembunyikan sebuah arsip di bawah reruntuhan itu. Jika masih ada, mungkin kau akan menemukan sesuatu yang berhubungan dengan ayahmu.”
Gu Chen menerima lempengan tersebut. “Mengapa Anda membantu orang yang bahkan tidak Anda kenal?”
Shen Mo tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak mencapai matanya.
“Karena aku pernah membuat kesalahan yang sama seperti ayahmu. Aku membiarkan seseorang berjalan menuju kematiannya tanpa memberinya kesempatan untuk mengetahui kebenaran.”
Sebelum Gu Chen sempat bertanya lebih jauh, sebuah suara keras terdengar dari lantai bawah. Seseorang membanting pintu paviliun, disusul langkah-langkah kaki yang menaiki tangga.
Shen Mo langsung mengubah ekspresinya.
“Mereka datang lebih cepat daripada perkiraanku.”
“Siapa?”
“Orang-orang yang tidak ingin kau menemukan arsip itu.”
Pintu ruang arsip terbuka dengan keras. Tiga pria berjubah abu-abu berdiri di ambang pintu, dan di belakang mereka terdapat seorang pemuda dengan pakaian mewah yang sangat dikenal Gu Chen.
Lin Feng.
Pemuda yang dipermalukannya di pasar itu tersenyum dingin.
“Kita bertemu lagi, sampah.”
Gu Chen menghela napas pelan. “Kota ini ternyata kecil sekali.”
Lin Feng mengabaikan sindiran tersebut dan menunjuk ke arah Shen Mo.
“Serahkan anak itu dan semua catatan yang kalian bicarakan. Jika kalian menurut, keluarga Lin mungkin masih bersedia membiarkan paviliun ini berdiri.”
Shen Mo berdiri di depan meja. “Paviliun Seribu Catatan tidak berada di bawah kekuasaan keluarga Lin. Kalian tidak berhak menggeledah tempat ini.”
“Kalau begitu, jangan salahkan kami atas apa yang terjadi selanjutnya.”
Salah satu pria berjubah abu-abu melangkah maju. Energi spiritual mengalir dari tubuhnya, menekan seluruh ruangan. Gu Chen langsung merasakan kesulitan bernapas. Kekuatan orang itu jauh melampaui Lin Feng dan jelas bukan sesuatu yang bisa ia hadapi.
Shen Mo melirik Gu Chen sekilas.
“Ketika aku memberi aba-aba, lari melalui pintu belakang.”
“Bagaimana dengan Anda?”
“Aku akan mengurus mereka.”
Gu Chen hampir tertawa mendengarnya. Lelaki tua di hadapannya tampak seperti penjaga arsip biasa, sementara lawan mereka adalah kultivator yang mampu membunuhnya hanya dengan satu serangan. Namun, ia tidak mengatakan apa pun. Dalam situasi seperti ini, mempertanyakan rencana seseorang tidak akan membuatnya lebih aman.
Tiba-tiba, pria berjubah abu-abu itu menyerang.
Shen Mo mengangkat tangan dan menepuk meja. Seluruh gulungan di ruangan itu terbang ke udara, membentuk lingkaran simbol yang menyala terang. Serangan sang kultivator menghantam penghalang tak terlihat dan menghasilkan ledakan yang mengguncang lantai dua.
Gu Chen tidak membuang kesempatan. Ia berlari menuju pintu belakang, tetapi sebelum mencapai tangga, ia mendengar Lin Feng berteriak.
“Jangan biarkan dia membawa lempengan itu!”
Sebuah belati melesat ke arah punggungnya.
Gu Chen menjatuhkan tubuh dan berguling. Belati itu menancap di dinding, hanya sejengkal dari kepalanya. Ia bangkit dan terus berlari, tetapi langkah-langkah kaki segera mengejarnya.
Saat mencapai lorong belakang, bidak hitam di dalam sakunya tiba-tiba memanas.
Sebuah tulisan muncul di hadapan matanya.
\[Peringatan: Anda telah memasuki wilayah yang tidak tercatat dalam permainan.\]
Gu Chen berhenti sesaat.
“Apa maksudnya?”
Tulisan kedua muncul.
\[Pengamatan pemain terhadap Anda telah meningkat.\]
Kemudian, sebuah kalimat terakhir muncul, membuat wajahnya berubah serius.
\[Satu pemain telah mengubah perintah.\]
Dari ujung lorong, terdengar suara Lin Feng.
“Ketemu kau!”
Gu Chen menggertakkan gigi dan berlari keluar menuju gang sempit di belakang paviliun. Ia tidak tahu apa arti pesan itu, tetapi ia yakin satu hal: kejadian di Paviliun Seribu Catatan bukan sekadar pengejaran biasa. Seseorang telah mengetahui gerakannya, dan seseorang yang jauh lebih kuat daripada keluarga Lin mulai memperhatikannya.
Di belakangnya, pertarungan masih berlangsung. Di hadapannya, gang sempit membentang menuju bagian kota yang belum pernah ia kunjungi.
Gu Chen menggenggam lempengan kayu pemberian Shen Mo dan terus berlari.
Ia belum mendapatkan seluruh jawaban tentang ayahnya. Ia bahkan belum memahami aturan permainan yang mengancam hidupnya. Namun, sekarang ia memiliki petunjuk pertama menuju masa lalu keluarganya.
Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa mencari kebenaran mungkin jauh lebih berbahaya daripada membalas dendam.
Jauh di atas dunia fana, sebuah tangan perlahan menggerakkan bidak putih di atas papan raksasa.
“Anak itu mulai menyimpang dari jalur yang ditentukan.”
Sosok bertopeng putih mengamati papan tersebut dengan tenang.
“Kalau begitu, kirimkan seseorang yang bisa mengembalikannya ke tempat semula.”
Sosok lain tertawa dari balik kegelapan.
“Dan jika dia menolak?”
Tangan itu berhenti di atas papan.
“Kalau dia menolak menjadi bidak, pastikan dia tidak pernah menjadi pemain.”
Bab 3 selesai.