NovelToon NovelToon
My Idol Is My Desktop Shortcut

My Idol Is My Desktop Shortcut

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Idola sekolah / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: TCN_Luna

Di sekolah, Rendra Adijaya adalah pangeran sempurna yang dingin dan tak tersentuh. Namun di balik pintu kamar, dia hanyalah cowok anxious kronis yang menyembah seorang admin Discord anonim sebagai "pawang mental"-nya. Siapa sangka, admin gaming tempatnya mengemis semangat setiap malam itu ternyata Naya, cewek cuek bermulut tajam yang duduk di pojok kelasnya dan paling anti dengan cowok nyata.

Begitu rahasia terbongkar, saklar obsesi Rendra langsung menyala. Topeng pangeran dinginnya pecah total saat dia nekat menyudutkan Naya di kelas kosong sambil memelas gila, "Tolong jangan block gue... gue rela beliin angkot jalur sekolah ini asal lu tetep mau jadi pawang gue!" Mampukah Naya bertahan menghadapi tingkah bucin akut sang idola sekolah yang aslinya serapuh kerupuk kesiram kuah soto?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TCN_Luna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Satu Pesan, Seribu Kesalahpahaman

Malam itu, Rendra Adijaya duduk di depan laptop dengan postur tegak dan ekspresi serius.

Di layar terpampang dokumen presentasi kelompok Bahasa Indonesia. Judulnya sederhana: Penggunaan Media Sosial secara Bertanggung Jawab.

Sederhana bagi manusia normal.

Bagi Rendra, dokumen itu sudah menjelma menjadi proyek nasional yang menentukan masa depan peradaban.

Ia membaca ulang materi yang tadi dipraktikkan bersama Naya di perpustakaan. Beberapa kalimat sudah ia sederhanakan, sementara bagian data ia susun menjadi poin-poin agar lebih mudah dijelaskan.

Semuanya terlihat baik.

Masalahnya tinggal satu.

Besok, ia harus mempraktikkannya lagi.

Dan lusa, mungkin ia akan diminta mencoba di depan seluruh kelompok.

Kemudian, pada hari presentasi, ia harus berdiri di depan kelas XI-A dengan puluhan pasang mata mengarah kepadanya.

Rendra berhenti membaca.

“Gue bisa menghadapi pemain peringkat atas di server internasional,” gumamnya. “Gue bisa mengalahkan kapten basket kelas XII.”

Ia menatap bayangannya sendiri di layar laptop yang mulai meredup.

“Tapi ngomong di depan dua puluh delapan orang? Kenapa hidup gue penuh kontradiksi?”

Ponselnya bergetar.

Satu pesan masuk dari Naya.

Naya: Latihan mandirinya gimana?

Rendra langsung meraih ponsel.

Jari-jarinya bergerak cepat.

Rendra: Lancar.

Ia berhenti.

Menghapus pesan.

Rendra: Cukup baik. Gue sudah memahami materi dan mampu menyampaikan poin utama tanpa membaca seluruh catatan.

Ia membaca ulang kalimat tersebut.

Terlalu formal.

Seperti laporan perkembangan proyek kepada direktur perusahaan.

Dihapus lagi.

Rendra: Lumayan. Masih agak gugup.

Kirim.

Rendra menatap layar sambil menunggu balasan. Lima detik berlalu. Sepuluh detik. Dua puluh detik.

Tidak ada jawaban.

Ia meletakkan ponsel.

Kemudian mengambilnya lagi.

Mungkin Naya sedang makan. Mungkin sedang mandi. Mungkin sedang mengerjakan tugas. Atau mungkin...

“JANGAN MULAI.”

Rendra langsung menjauhkan ponselnya dari wajah.

Ia sudah berjanji tidak akan mengirim pesan bertubi-tubi hanya karena Naya belum membalas. Janji itu baru dibuat beberapa jam lalu, dan akan sangat memalukan kalau ia melanggarnya sebelum pergantian hari.

Ia kembali membuka dokumen.

Tiga menit kemudian, ponselnya bergetar.

Naya: Bagus. Besok kita coba latihan pakai timer, ya. Biar tahu durasi presentasinya.

Rendra tersenyum tipis.

Rendra: Oke.

Ia hampir menambahkan tiga paragraf tentang betapa senangnya ia bisa berlatih bersama Naya lagi.

Hampir.

Akhirnya, ia hanya mengirim satu pesan.

Rendra: Makasih udah bantuin gue.

Balasan Naya datang tak lama kemudian.

Naya: Sama-sama. Tidur jangan kemalaman. Besok masih sekolah.

Rendra menatap pesan itu cukup lama.

Kemudian ia menutup laptop, mematikan lampu meja, dan berbaring.

Dua menit kemudian, ia bangun lagi untuk memastikan alarmnya sudah aktif.

Tiga kali.

Manusia memang makhluk yang rumit. Rendra sendiri tidak yakin dirinya masih termasuk kategori manusia atau sudah berubah menjadi aplikasi dengan terlalu banyak pengaturan.

Keesokan paginya, suasana kelas XI-A jauh dari kata tenang.

Aldi sedang berdebat dengan Keysha mengenai desain sampul presentasi. Menurut Aldi, sampul berwarna hitam dengan tulisan merah akan terlihat keren. Menurut Keysha, desain itu terlihat seperti poster film horor beranggaran rendah.

Naya duduk di dekat jendela sambil memeriksa catatan kelompok.

Sementara itu, Rendra baru saja tiba dan langsung meletakkan tasnya di kursi.

“Pagi,” sapa Naya.

Rendra menoleh.

“Pagi.”

Sederhana. Normal. Tidak ada kalimat aneh, tidak ada penawaran membeli fasilitas umum, tidak ada tindakan yang membuat satu sekolah perlu membentuk grup gosip baru.

Kemajuan besar bagi umat manusia.

Naya menggeser selembar kertas ke arahnya.

“Gue udah susun urutan presentasinya. Coba lihat.”

Rendra membaca daftar tersebut. Keysha membuka presentasi, Aldi memberikan contoh kasus, Rendra menjelaskan data pendukung, dan Naya menutup dengan kesimpulan.

“Durasi total sepuluh menit,” kata Naya. “Kita masing-masing punya bagian yang jelas. Jadi nggak ada yang perlu mengambil alih bagian orang lain.”

Kalimat terakhir itu membuat Rendra mengangkat wajah.

Naya meliriknya.

“Termasuk lo. Jangan tiba-tiba menjawab semua pertanyaan cuma karena lo merasa orang lain bakal salah.”

“Gue nggak pernah melakukan itu.”

Aldi menoleh dari belakang.

“Lo pernah mengoreksi cara gue mengucapkan kata ‘algoritma’ selama tujuh menit.”

“Pengucapan lo memang salah.”

“ITU BUKAN INTI MASALAHNYA!”

Keysha ikut tertawa. Naya menggeleng sambil menyimpan pulpen.

“Pokoknya, kita kerja sebagai kelompok. Kalau ada yang lupa, anggota lain bisa membantu. Tapi jangan memotong pembicaraan orang.”

Rendra mengangguk pelan.

Ia mengerti maksud Naya. Selama ini, ia sering mencoba mengendalikan keadaan supaya tidak ada kesalahan. Bukan hanya dalam permainan, tetapi juga ketika berinteraksi dengan orang lain.

Sayangnya, manusia tidak bisa diperlakukan seperti pertandingan yang hasilnya ditentukan oleh satu pemain.

Dan kelompok ini jelas tidak akan membiarkannya menjadi pemain tunggal.

Latihan dimulai saat jam kosong.

Mereka menggeser beberapa kursi ke depan kelas, lalu menyusun urutan presentasi. Keysha membuka dengan percaya diri. Aldi menjelaskan contoh penyebaran informasi palsu dengan gaya yang terlalu dramatis sampai Naya harus mengingatkannya bahwa mereka sedang membuat presentasi sekolah, bukan mengadakan konferensi pers.

Ketika giliran Rendra tiba, suasana mendadak terasa berbeda baginya.

Ia berdiri di depan kelas sambil memegang catatan.

Tiga orang duduk menghadapnya.

Hanya tiga.

Jumlah yang seharusnya tidak mengancam siapa pun.

Namun, ketika mereka semua mengangkat kepala dan memperhatikannya, bahu Rendra menegang. Ia tahu apa yang ingin disampaikan, tetapi kalimat pertama terasa tersangkut di tenggorokan.

Aldi yang biasanya paling berisik kali ini tidak melontarkan lelucon.

Keysha menunggu dengan sabar.

Naya memberikan anggukan kecil.

Rendra menarik napas.

“Berdasarkan data yang kami kumpulkan, penyebaran informasi di media sosial dapat berlangsung sangat cepat. Karena itu, pengguna perlu memeriksa sumber informasi sebelum membagikannya kepada orang lain.”

Kalimat pertama berhasil.

Ia melanjutkan penjelasan mengenai contoh berita palsu, dampak penyebaran informasi yang belum terverifikasi, dan pentingnya memeriksa sumber resmi.

Sesekali, matanya turun ke catatan. Namun, ia tidak lagi membaca setiap kata.

Ketika selesai, Naya melihat timer di ponselnya.

“Dua menit empat puluh detik. Pas.”

Rendra mengembuskan napas lega.

“Gimana?” tanyanya.

“Isinya jelas,” jawab Keysha. “Tapi bagian contoh kasus bisa dibuat lebih menarik.”

Aldi mengangkat tangan.

“Gue punya ide.”

Naya langsung menyipitkan mata.

“Kalau ide lo melibatkan suara ledakan, coretan darah palsu, atau gue harus memakai kostum tertentu, jawabannya tidak.”

“Kenapa pikiran lo langsung ke sana?”

“Karena gue kenal lo.”

Aldi berdeham, kemudian menunjuk Rendra.

“Kita bikin simulasi. Gue pura-pura menyebarkan berita kalau sekolah libur besok. Terus kalian menjelaskan kenapa orang nggak boleh langsung percaya.”

“Boleh juga,” kata Keysha.

Rendra mengangguk. “Asalkan informasinya jelas merupakan contoh fiktif.”

Aldi menatapnya.

“Bro, bahkan dalam simulasi pun lo masih menjadi polisi aturan.”

“Setidaknya salah satu dari kita harus berpikir.”

Naya menahan senyum.

“Sudah. Kita pakai ide Aldi, tapi jangan sampai ada yang benar-benar menyebarkan kabar itu ke grup kelas.”

“Tenang,” jawab Aldi. “Gue profesional.”

Tiga orang lainnya serempak menatapnya dengan raut tidak percaya.

“APAAN SIH?!” protes Aldi.

Untuk pertama kalinya sejak latihan dimulai, Rendra tertawa lepas.

Bukan tawa sopan yang biasanya ia gunakan saat tidak tahu harus merespons apa. Tawa sungguhan yang muncul karena ia menikmati suasana bersama teman-temannya.

Dan ketika ia kembali berdiri untuk mengulang bagian presentasinya, rasa gugup itu masih ada.

Hanya saja, kali ini rasa gugup tersebut tidak memenuhi seluruh ruang di kepalanya.

Ada sedikit tempat untuk hal lain.

Untuk bercanda. Untuk belajar. Untuk melakukan kesalahan tanpa merasa semuanya akan berakhir.

Saat bel pulang berbunyi, Naya memasukkan catatannya ke dalam tas.

“Besok kita latihan sekali lagi. Setelah itu, tinggal evaluasi akhir.”

Rendra mengangguk.

“Gue bakal latihan sendiri malam ini.”

“Bagus. Tapi jangan sampai begadang demi menghafal semua kalimat.”

“Gue nggak akan begadang.”

Naya menatapnya curiga.

“Janji?”

“Janji.”

“Kalau besok mata lo kayak dua kantong belanja, gue tahu siapa yang bohong.”

Rendra menghela napas.

“Kenapa ancaman lo selalu berkaitan dengan kondisi fisik gue?”

“Karena kalau gue mengancam bakal melarang lo ikut presentasi, lo mungkin malah senang.”

“Itu tidak benar.”

“Kalau begitu, buktikan.”

Naya berjalan menuju pintu kelas bersama Keysha. Aldi menyusul mereka sambil masih membicarakan desain sampul yang akhirnya disepakati berwarna biru tua.

Rendra membereskan barang-barangnya dengan tenang.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Naya masuk ke grup kelompok, berisi daftar evaluasi dan pembagian tugas untuk besok.

Tidak ada pesan pribadi khusus untuknya. Tidak ada kalimat manis. Tidak ada alasan untuk menafsirkan hal biasa sebagai sesuatu yang luar biasa.

Dan kali ini, Rendra tidak berusaha mencari makna tersembunyi di baliknya.

Ia membuka dokumen presentasi, memeriksa bagian tugasnya, lalu menyimpan perubahan terakhir.

Satu langkah kecil.

Besok masih ada latihan. Setelah itu, presentasi sebenarnya akan menunggu mereka.

Rendra belum tahu apakah ia bisa mengatasi rasa gugupnya di depan seluruh kelas.

Namun, setidaknya sekarang ia tahu satu hal: ia tidak harus menghilangkan semua rasa takutnya sebelum berani mencoba.

Kadang, cukup dengan tetap berdiri meskipun lutut terasa lemas.

Dan kalau gagal?

Yah, paling Aldi akan mengingatnya sampai mereka lulus kuliah.

Rendra mengangkat tasnya.

“Gue harus mencari teman yang lebih baik.”

Sayangnya, Aldi muncul lagi dari ambang pintu.

“Ren! Besok bawa camilan, ya!”

Rendra memejamkan mata.

Ralat.

Ia membutuhkan keajaiban, bukan teman baru.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!