Di dunia otomotif, uang bisa membeli mobil mewah, kekuasaan bisa membeli bengkel terbaik, dan nama besar bisa membuat seseorang dihormati. Namun, tidak semua orang memahami bahwa di balik setiap mesin hebat, ada seseorang yang benar-benar mengerti cara kerjanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmat Agung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 — BAYANGAN MASA LALU
Sabtu pagi akhirnya tiba.
Langit Jakarta masih diselimuti awan tipis ketika Arga Pratama berdiri di depan cermin kecil di kamarnya. Ia mengenakan kemeja hitam sederhana, celana panjang bahan, dan sepatu yang sudah beberapa kali ia jahit sendiri karena solnya mulai terlepas. Di atas meja kayu di samping tempat tidur, sebuah tas hitam berisi peralatan mekanik tersusun rapi.
Hari itu seharusnya menjadi hari biasa bagi seorang mekanik bengkel kecil. Namun, bagi Arga, ada sesuatu yang berbeda. Setelah lima tahun berusaha menghilang dari dunia otomotif profesional, ia akhirnya akan melangkah kembali ke tempat yang pernah menghancurkan hidupnya.
Arga mengembuskan napas panjang.
"Ini cuma kompetisi," gumamnya kepada diri sendiri. "Aku datang untuk membuktikan kemampuanku, bukan untuk mencari masalah."
Namun, ketika matanya tertuju pada sebuah kotak besi kecil di bawah meja, pikirannya kembali terlempar ke masa lalu.
Kotak itu sudah lama tidak dibuka. Warnanya kusam, beberapa bagian permukaannya berkarat. Di dalamnya tersimpan sebuah medali kejuaraan internasional, kartu identitas lama, dan foto dirinya bersama tiga orang yang pernah ia anggap sebagai keluarga.
Di foto itu, Arga berdiri di tengah dengan seragam tim balap berwarna hitam. Di sebelah kirinya ada Adrian Voss, pria yang dahulu menjadi pemimpin proyek teknologi mesin paling ambisius di perusahaan tempat mereka bekerja. Di sebelah kanannya berdiri dua rekan yang pernah berjuang bersamanya.
Mereka tersenyum.
Saat itu, Arga benar-benar percaya bahwa kerja keras dan kesetiaan akan membawa mereka menuju masa depan yang lebih baik.
Ia salah.
Arga menutup kotak itu kembali.
"Belum waktunya," bisiknya.
Ia mengambil tas peralatan, mematikan lampu kamar, lalu berjalan keluar.
Di ruang depan, ibunya sedang menyiapkan sarapan sederhana.
"Arga, kamu sudah mau berangkat?" tanya ibunya.
"Iya, Bu. Hari ini ada acara otomotif di Jakarta."
Ibunya meletakkan piring di meja. "Acara yang kemarin kamu ceritakan?"
Arga mengangguk.
"Semoga semuanya lancar. Ibu tidak terlalu mengerti soal mesin, tetapi Ibu tahu kamu selalu serius kalau mengerjakan sesuatu."
Arga tersenyum kecil. "Terima kasih, Bu."
"Jangan lupa makan. Jangan terlalu sibuk sampai lupa menjaga diri."
"Iya."
Arga memeluk ibunya sebentar sebelum meninggalkan rumah. Kalimat sederhana itu membuat dadanya terasa hangat. Selama lima tahun terakhir, ibunya tidak pernah memaksanya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Ia hanya menerima keputusan Arga untuk meninggalkan dunia balap dan bekerja di bengkel kecil.
Dukungan itulah yang membuat Arga mampu bertahan.
Pukul tujuh lewat tiga puluh menit, Arga tiba di Jakarta International Convention Center.
Bangunan besar itu sudah dipenuhi kendaraan dari berbagai merek. Deretan mobil sport, kendaraan balap, dan prototipe mesin dipamerkan di area luar. Spanduk raksasa bertuliskan National Automotive Engineering Challenge membentang di pintu masuk utama.
Para peserta datang mengenakan seragam tim masing-masing. Sebagian membawa koper peralatan mahal, sementara yang lain didampingi teknisi dan manajer.
Arga turun dari kendaraan umum, mengangkat tas hitamnya, lalu memandang bangunan di hadapannya.
Ia pernah berdiri di tempat seperti ini.
Dahulu, ia datang dengan mobil khusus tim, disambut kamera dan wartawan. Namanya tercetak besar di layar acara. Orang-orang mengenalnya sebagai AR-01, mekanik muda yang mampu menemukan masalah mesin yang tidak bisa diselesaikan tim lain.
Sekarang, tidak seorang pun memperhatikannya.
Baginya, itu bukan masalah.
Arga berjalan menuju meja registrasi.
Seorang petugas perempuan memandangnya sambil memeriksa daftar peserta.
"Nama?"
"Arga Pratama."
Petugas itu mengetik sesuatu di komputer. Beberapa detik kemudian, alisnya terangkat.
"Arga Pratama dari Agung Joyo Motor?"
"Benar."
Petugas itu memandang Arga dari ujung kepala sampai kaki. Ia tampak sedikit terkejut, mungkin karena membayangkan peserta dari bengkel kecil akan datang dengan penampilan berbeda.
"Nomor peserta Anda tujuh belas. Silakan ambil kartu identitas dan menuju aula utama."
Arga menerima kartu tersebut.
Di belakangnya, dua peserta berbicara dengan suara yang cukup keras untuk didengar.
"Jadi, itu orang yang katanya memperbaiki Ferrari milik Rendy?"
"Iya. Katanya cuma mekanik bengkel biasa."
"Kalau memang hebat, seharusnya dia bekerja di perusahaan besar. Kompetisi ini bukan tempat untuk coba-coba."
Arga tidak menanggapi. Ia sudah terlalu sering mendengar penilaian semacam itu.
Ia memasang kartu peserta di dadanya dan memasuki aula.
Di dalam, puluhan meja kerja telah disiapkan. Setiap meja memiliki seperangkat alat diagnostik, komputer, dan komponen mesin yang akan digunakan selama kompetisi. Di bagian depan terdapat panggung besar dengan layar digital.
Beberapa juri sedang berdiskusi. Salah seorang di antara mereka membuat langkah Arga melambat.
Pria itu berusia sekitar empat puluh tahun, mengenakan jas abu-abu dengan pin perusahaan otomotif internasional di kerahnya. Rambutnya mulai memutih di bagian pelipis, tetapi tatapannya masih tajam.
Arga mengenal pria itu.
Bukan karena mereka pernah menjadi teman.
Melainkan karena pria tersebut adalah salah satu orang yang menandatangani laporan yang menghancurkan reputasinya lima tahun lalu.
Nama pria itu adalah Marcus Hale.
Arga segera mengalihkan pandangan dan melanjutkan langkah. Ia tidak ingin dikenali sebelum mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Namun, ia terlambat.
Marcus yang semula berbicara dengan seorang juri tiba-tiba berhenti. Matanya mengikuti sosok Arga yang berjalan menuju barisan peserta.
"Mustahil," gumamnya.
Juri di sampingnya menoleh. "Ada masalah?"
Marcus tidak menjawab. Ia mengambil tablet dari meja, membuka daftar peserta, lalu mencari nama yang baru saja didengarnya.
Arga Pratama.
Nomor tujuh belas.
Wajah Marcus berubah tegang.
"Dia benar-benar datang," bisiknya.
Di sisi lain aula, Rendy Mahardika sedang berdiri di dekat sebuah mobil sport berwarna merah. Ia mengenakan jaket tim berlogo perusahaan keluarganya. Dua orang mekanik profesional berdiri di sampingnya, sementara seorang fotografer mengambil beberapa gambar.
Rendy tampak percaya diri.
Ketika melihat Arga memasuki area peserta, ia langsung menyeringai.
"Hei, mekanik bengkel kecil!"
Beberapa orang menoleh.
Arga berhenti dan memandangnya.
"Jadi, kamu benar-benar datang," lanjut Rendy. "Kupikir kamu akan berubah pikiran setelah melihat siapa saja yang ikut."
"Aku sudah mendaftar. Jadi, aku datang."
Rendy tertawa pendek. "Jawaban sederhana. Cocok untuk orang yang tidak punya banyak kemampuan."
Salah seorang mekanik di samping Rendy ikut tertawa.
"Mas Rendy, apa benar dia yang memperbaiki Ferrari Anda?"
"Benar," jawab Rendy. "Dia berhasil menemukan gangguan kecil. Jangan salah mengira itu sebagai kehebatan."
Arga tetap tenang.
"Kalau kamu sudah selesai bicara, aku ingin memeriksa area kompetisi."
Rendy mengangkat alis. Ia tampak tidak menyangka Arga akan menjawab tanpa menunjukkan kemarahan.
"Tunggu dulu. Ada satu hal yang harus kamu pahami."
Rendy melangkah mendekat.
"Di sini, kamu tidak sedang bekerja di bengkel kecil dengan pelanggan yang tidak mengerti mesin. Semua peserta punya pengalaman, peralatan, dan pendidikan yang jauh lebih baik darimu."
"Bagus," jawab Arga.
Rendy mengerutkan dahi. "Apa maksudmu?"
"Kalau semua orang di sini berpengalaman, aku bisa belajar sesuatu."
Beberapa peserta yang mendengar percakapan itu menahan senyum. Rendy justru merasa tersindir.
"Kamu pikir ini tempat belajar?"
"Bukankah kompetisi juga menguji kemampuan?"
Wajah Rendy memerah.
"Kita lihat saja nanti. Aku ingin melihat berapa lama kamu bisa bertahan sebelum mempermalukan dirimu sendiri."
Arga berjalan melewatinya tanpa menjawab.
Rendy menatap punggungnya dengan kesal.
"Orang itu benar-benar menyebalkan," katanya kepada rekannya.
"Tenang, Mas. Kita akan mengalahkannya di babak pertama."
Rendy tersenyum kembali. "Aku tidak hanya ingin mengalahkannya. Aku ingin semua orang tahu bahwa dia tidak pantas berada di sini."
Ia tidak mengetahui bahwa beberapa meter dari tempat mereka berdiri, Marcus Hale sedang mengamati Arga dengan wajah penuh kekhawatiran.
Bagi Rendy, Arga hanyalah mekanik kecil yang kebetulan berhasil memperbaiki mobilnya.
Bagi Marcus, Arga adalah seseorang yang seharusnya tidak pernah kembali.
Tepat pukul delapan, suara pembawa acara menggema di seluruh aula.
"Selamat pagi, para peserta dan tamu undangan. Selamat datang di National Automotive Engineering Challenge!"
Tepuk tangan memenuhi ruangan.
"Kompetisi tahun ini akan menguji kemampuan peserta dalam tiga bidang utama: diagnosis kerusakan, analisis sistem mesin, dan penyelesaian masalah dalam kondisi terbatas. Para peserta akan dinilai berdasarkan ketepatan diagnosis, keselamatan kerja, efisiensi waktu, serta kemampuan menjelaskan solusi teknis."
Layar besar menampilkan nama para juri.
Arga memperhatikan setiap nama yang muncul. Ia tidak mengenal sebagian besar dari mereka. Namun, ketika nama Marcus Hale muncul di layar, rahangnya mengeras.
Pembawa acara melanjutkan, "Sebelum memulai, kami ingin mengingatkan bahwa seluruh kendaraan dan komponen yang digunakan telah disiapkan oleh panitia. Peserta dilarang mengubah sistem di luar instruksi dan wajib mengikuti prosedur keselamatan."
Seorang pria berkacamata naik ke panggung. Ia memperkenalkan diri sebagai Fajar, koordinator teknis kompetisi yang sebelumnya datang ke Agung Joyo Motor.
"Babak pertama akan dimulai dalam sepuluh menit," katanya. "Setiap peserta akan menerima satu unit mesin dengan gangguan yang berbeda. Kalian harus menemukan sumber masalah, menyusun diagnosis, dan menjelaskan langkah perbaikannya kepada juri."
Fajar memandang seluruh peserta.
"Kesalahan diagnosis akan mengurangi nilai. Tindakan yang membahayakan keselamatan akan menyebabkan diskualifikasi."
Arga mengangguk pelan.
Ini bukan sekadar soal siapa yang paling cepat. Ia tahu bahwa mekanik yang baik harus memahami alasan di balik setiap gejala, bukan sekadar mengganti komponen sampai mesin kembali hidup.
Seorang petugas membagikan amplop instruksi kepada setiap peserta.
Arga membuka amplopnya.
Di dalamnya terdapat diagram sistem mesin, beberapa data awal, dan nomor unit yang harus diperiksa.
Unit tujuh belas.
Ia membaca data tersebut dengan saksama. Ada catatan mengenai putaran mesin yang tidak stabil, peningkatan konsumsi bahan bakar, serta kode gangguan yang muncul secara tidak konsisten.
Bagi sebagian orang, masalah itu mungkin terlihat seperti gangguan sensor biasa.
Namun, Arga menemukan sesuatu yang janggal pada pola data yang disertakan.
Ia membaca ulang angka-angka tersebut.
Lalu membandingkannya dengan diagram.
"Ini aneh," gumamnya.
"Apa yang aneh?" tanya peserta di sebelahnya.
Arga menoleh. Peserta itu seorang pria berusia sekitar dua puluh lima tahun dengan seragam biru tua bertuliskan nama tim dari Surabaya.
"Data pembacaan sensor dan perubahan putaran mesin tidak sepenuhnya cocok," jawab Arga. "Kalau hanya mengandalkan kode gangguan, kita bisa salah menentukan sumber masalah."
Pria itu mengamati lembar instruksi Arga sekilas.
"Atau mungkin kamu yang salah membaca."
"Mungkin," kata Arga santai. "Nanti kita lihat hasil pemeriksaannya."
Pria itu memperkenalkan diri sebagai Dimas Prakoso, salah satu peserta yang pernah mengikuti beberapa kompetisi tingkat nasional.
"Kalau kamu butuh bantuan, sebaiknya tanyakan sebelum waktu dimulai," ujar Dimas. "Setelah itu, semua orang akan sibuk menyelamatkan nilainya sendiri."
"Terima kasih. Aku akan mengingatnya."
Dimas kembali ke mejanya.
Arga meletakkan lembar instruksi, lalu memeriksa peralatan yang tersedia. Ia memastikan alat ukur berada dalam kondisi baik dan kabel penghubung tidak rusak.
Kebiasaan itu selalu ia lakukan, bahkan ketika bekerja di bengkel kecil.
Lima tahun lalu, satu keputusan yang terburu-buru telah membuat hidupnya berubah. Sejak saat itu, ia tidak pernah menganggap pemeriksaan awal sebagai sesuatu yang boleh dilewatkan.
Sementara itu, di area juri, Marcus mendekati seorang pria berjas hitam yang baru memasuki aula.
Pria itu memiliki postur tegap, rambut disisir rapi, dan ekspresi dingin. Beberapa orang panitia menyapanya dengan hormat ketika ia berjalan menuju panggung.
Adrian Voss.
Nama yang selama lima tahun berusaha dihindari Arga.
Adrian berhenti di samping Marcus.
"Apakah benar dia ada di sini?" tanyanya pelan.
Marcus mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari meja peserta nomor tujuh belas.
"Dia terdaftar sebagai peserta dari Agung Joyo Motor."
Adrian menatap Arga dari kejauhan.
Untuk sesaat, wajah dinginnya menunjukkan perubahan kecil. Bukan keterkejutan, melainkan sesuatu yang lebih sulit dibaca.
"Menarik," katanya.
"Kalau dia mulai membicarakan kejadian lima tahun lalu, kita bisa menghadapi masalah besar," ujar Marcus.
Adrian merapikan ujung lengan jasnya.
"Dia tidak memiliki bukti yang cukup."
"Bagaimana kalau dia masih menyimpan data proyek?"
Adrian terdiam sesaat.
Kemudian ia tersenyum tipis.
"Kalau begitu, pastikan dia tidak mendapat kesempatan untuk menunjukkannya."
Marcus menelan ludah.
"Anda ingin saya melakukan sesuatu?"
"Tidak perlu melakukan hal yang mencolok. Biarkan kompetisi berjalan sesuai aturan." Adrian menatap Arga sekali lagi. "Kita hanya perlu memastikan semua orang melihatnya sebagai mekanik biasa yang terlalu percaya diri."
Marcus memahami maksud itu.
Adrian tidak ingin Arga dihentikan sebelum kompetisi dimulai.
Ia ingin Arga kalah di hadapan semua orang.
Sepuluh menit kemudian, babak pertama resmi dimulai.
Bunyi penanda waktu terdengar dari pengeras suara.
Para peserta segera bergerak menuju unit masing-masing. Beberapa langsung menghubungkan alat diagnostik, sementara yang lain memeriksa komponen secara visual.
Rendy bekerja dengan cepat. Ia telah terbiasa menggunakan perangkat modern di bengkel milik keluarganya. Dalam beberapa menit, ia sudah membuka data dari komputer kendaraan dan mulai menandai sejumlah kemungkinan kerusakan.
Ia melirik ke arah Arga.
Mekanik dari Agung Joyo Motor itu belum menghubungkan alat diagnostik.
Arga justru sedang memeriksa kabel, konektor, dan kondisi fisik beberapa komponen.
Rendy tersenyum mengejek.
"Dia bahkan belum mulai."
Namun, Arga tidak sedang membuang waktu.
Ia tahu data komputer hanyalah salah satu sumber informasi. Sebelum mempercayai hasil pembacaan, ia harus memastikan sistem yang diperiksa memang berada dalam kondisi layak untuk diuji.
Arga memasang alat ukur, memeriksa sambungan sesuai prosedur, kemudian mengaktifkan sistem pemeriksaan awal.
Angka-angka muncul di layar.
Ia mengamati perubahan nilai, mencatat waktu, lalu mengulang pengukuran untuk memastikan hasilnya konsisten.
Setelah beberapa menit, Arga menemukan pola yang dicarinya.
Masalahnya tidak sesederhana kode gangguan yang tercantum pada lembar instruksi.
Ia menunduk, memperhatikan jalur kabel pada diagram, lalu memeriksa titik sambungan yang berkaitan dengan data tersebut. Tidak ada komponen yang langsung ia ganti. Ia ingin memastikan sumber gangguan terlebih dahulu.
Di meja juri, Marcus memperhatikan layar monitor yang menampilkan perkembangan setiap peserta.
Ketika melihat Arga melakukan pemeriksaan tambahan, ia mengernyit.
"Dia masih menggunakan metode itu," gumamnya.
Adrian berdiri di sampingnya.
"Metode apa?"
"Dia memeriksa hubungan antarsistem sebelum menetapkan diagnosis. Dulu, dia sering melakukan hal yang sama."
Adrian menatap layar tanpa ekspresi.
"Metode lama tidak selalu menghasilkan jawaban yang benar."
"Namun, dia jarang salah."
Adrian menoleh tajam.
"Marcus."
Pria itu langsung diam.
Di meja nomor tujuh belas, Arga akhirnya mengangkat kepala.
Ia telah menemukan sesuatu.
Bukan kerusakan besar yang langsung terlihat, melainkan ketidaksesuaian pada rangkaian yang dapat menjelaskan mengapa gangguan muncul secara tidak konsisten.
Arga menuliskan hasil diagnosis awal dan mulai menyusun penjelasan teknisnya. Ia tetap melakukan satu pemeriksaan konfirmasi sebelum menyerahkan lembar jawaban.
Ketika waktu tersisa lima belas menit, sebagian peserta masih berdebat dengan data yang mereka peroleh.
Rendy mengganti pendekatan setelah hasil pemeriksaan pertamanya tidak sesuai perkiraan. Wajahnya mulai tegang.
Arga justru telah menyelesaikan pemeriksaan dan sedang meninjau ulang seluruh catatannya.
Dimas melirik lembar jawaban Arga.
"Kamu sudah selesai?"
"Hampir."
"Diagnosisnya apa?"
Arga menggeleng kecil. "Kita tidak boleh saling bertukar jawaban selama babak berlangsung."
Dimas tertawa singkat. "Benar juga. Aku hampir lupa."
Arga memeriksa kembali catatannya. Ia tidak merasa perlu menjadi orang pertama yang menyerahkan jawaban. Baginya, ketepatan lebih penting daripada sekadar terlihat cepat.
Ketika waktu habis, semua peserta diminta menghentikan pekerjaan dan menyerahkan hasil diagnosis.
Arga menyerahkan lembar jawabannya kepada petugas.
Fajar menerima dokumen tersebut, lalu memeriksanya sekilas. Ekspresinya berubah ketika membaca urutan pemeriksaan yang ditulis Arga.
"Anda memeriksa rangkaian sebelum menentukan komponen yang bermasalah?" tanyanya.
"Ya. Gejalanya tidak cukup untuk memastikan satu komponen tertentu."
Fajar menatapnya beberapa saat.
"Dan Anda melakukan pemeriksaan konfirmasi?"
"Ya."
Fajar mengangguk pelan. "Baik. Silakan kembali ke tempat Anda."
Arga berjalan menjauh tanpa menyadari bahwa percakapan singkat itu telah menarik perhatian salah seorang juri.
Marcus mengambil lembar jawaban dari tumpukan yang baru diserahkan. Ia membaca nama peserta di bagian atas.
Arga Pratama.
Semakin jauh ia membaca, semakin pucat wajahnya.
Diagnosis itu masuk akal. Urutan pemeriksaannya sistematis. Penjelasan mengenai hubungan antara gejala dan sumber gangguan disusun dengan jelas.
Itu bukan pekerjaan seseorang yang sekadar beruntung.
Marcus mengangkat pandangan ke arah Adrian.
"Dia masih memiliki kemampuan yang sama."
Adrian mengambil lembar jawaban itu dan membacanya sekilas.
Untuk pertama kalinya pagi itu, senyum tipis di wajahnya menghilang.
"Kalau begitu," katanya dingin, "babak berikutnya akan menjadi lebih menarik."
Di sisi lain aula, Rendy sedang mengeluh kepada rekannya karena hasil pemeriksaannya belum meyakinkan.
Ia melihat Arga duduk tenang sambil menutup tas peralatannya.
"Kamu kelihatan santai sekali," sindir Rendy. "Jangan-jangan kamu bahkan tidak tahu apa yang kamu kerjakan."
Arga menatapnya.
"Aku tahu apa yang kuperiksa."
"Kalau begitu, semoga hasilmu bagus."
"Semoga hasil kita semua sesuai kenyataan."
Rendy mendengus lalu berpaling.
Tak lama kemudian, pembawa acara naik ke panggung untuk mengumumkan hasil penilaian awal. Para peserta kembali berkumpul di depan layar besar.
Nama-nama mulai muncul satu per satu.
Beberapa peserta memperoleh nilai tinggi. Dimas berada di posisi lima besar. Rendy masuk dalam daftar sepuluh besar, tetapi bukan di posisi teratas.
Kemudian layar berhenti pada tiga nama dengan nilai tertinggi.
Posisi ketiga.
Posisi kedua.
Dan posisi pertama.
ARGA PRATAMA — AGUNG JOYO MOTOR.
Aula mendadak riuh.
Sejumlah peserta saling pandang. Beberapa juri terlihat terkejut. Rendy berdiri membeku, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja dibacanya.
"Ini pasti salah!" serunya.
Pembawa acara menghentikan penjelasannya dan menoleh.
Rendy segera mendekati meja panitia.
"Saya ingin penilaian itu diperiksa ulang. Tidak mungkin dia mendapat nilai tertinggi!"
Fajar berdiri dengan tenang.
"Semua lembar jawaban dinilai berdasarkan kriteria yang sama. Diagnosis peserta nomor tujuh belas memenuhi seluruh poin utama pada babak pertama."
"Tapi dia cuma mekanik bengkel kecil!"
"Tempat seseorang bekerja tidak menjadi dasar penilaian kami," jawab Fajar tegas. "Yang dinilai adalah kemampuan peserta."
Rendy terdiam, wajahnya memerah karena malu.
Arga sendiri tidak menunjukkan ekspresi berlebihan. Ia hanya menatap layar, kemudian menunduk sebentar seolah memastikan bahwa nama yang muncul memang namanya.
Lima tahun.
Selama lima tahun, ia menjauh dari panggung seperti ini. Ia membiarkan orang-orang melupakan namanya dan menerima kehidupan sederhana sebagai mekanik bengkel kecil.
Namun, hari itu, tanpa perlu membanggakan masa lalunya, ia kembali membuktikan sesuatu yang selalu ia yakini.
Kemampuan tidak ditentukan oleh mahalnya peralatan atau besarnya nama perusahaan.
Ia ditentukan oleh ketelitian, pengetahuan, dan keberanian untuk mencari kebenaran.
Ketika para peserta mulai meninggalkan area penilaian, seorang petugas menghampiri Arga.
"Pak Arga, salah satu juri ingin bertemu dengan Anda di ruang belakang."
Arga menatap petugas itu.
"Juri yang mana?"
Petugas tersebut ragu sejenak sebelum menjawab.
"Pak Adrian Voss."
Dunia di sekitar Arga seolah mendadak sunyi.
Nama itu kembali terdengar setelah lima tahun.
Arga mengencangkan genggaman pada tali tasnya. Untuk sesaat, ia teringat malam ketika seluruh hidupnya berubah, ketika tuduhan yang tidak pernah dilakukannya membuat namanya dihancurkan dan semua orang yang pernah ia percaya berpaling.
Ia mengangkat kepala.
"Di mana ruangannya?"
Petugas itu menunjuk lorong di sisi aula.
Arga mulai melangkah.
Ia tidak tahu apa yang menunggunya di balik pintu itu. Namun, satu hal sudah jelas: kompetisi ini bukan lagi sekadar kesempatan untuk membuktikan kemampuannya.
Masa lalu yang selama ini ia hindari akhirnya berdiri tepat di hadapannya.
Dan kali ini, Arga tidak berniat melarikan diri.
Bersambung.