NovelToon NovelToon
Pelakor Sang Mafia

Pelakor Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa Fantasi / Perjodohan
Popularitas:775
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

Maya cuma cewek biasa yang nggak sengaja masuk ke lingkaran kehidupan Reza, bos mafia paling ditakuti di kota. Awalnya, Maya cuma cari aman. Tapi lama-lama, pesona Reza yang dingin tapi protektif bikin Maya luluh. Masalah utamanya? Reza sudah punya istri sah, Sora—wanita berkelas dari keluarga terpandang yang rela melakukan apa saja demi mempertahankan posisinya.
​Di mata orang luar dan lingkaran mafia, Maya digelari sebagai pelakor yang merusak kedamaian. Tapi bagi Maya, ini bukan sekadar cinta terlarang. ini soal bertahan hidup di dunia gelap yang penuh pengkhianatan.
​Ketika rahasia besar Reza dan Sora terkuak, Maya harus memilih: tetap bertahan di samping pria paling berbahaya walau dicap perusak rumah tangga, atau kabur sebelum nyawanya sendiri yang melayang.
​Cinta terlarang, perebutan kekuasaan, dan intrik berdarah. akankah Maya mendapatkan hati Sang Mafia, atau justru jadi korban berikutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 20

Sorotan lampu polisi yang menyilaukan menembus kaca-kaca jendela vila gunung, memotong kepungan kegelapan malam. Suara pengeras suara petugas kepolisian bergema keras di tengah rindangnya hutan pinus, menyuruh mereka menyerahkan diri.

​Maya panik luar biasa. Cengkeramannya pada kemeja Reza makin mengerat. "Reza... polisi di luar! Nyonya Sora benar-benar melaporkan aku!"

​Reza sama sekali tidak terlihat gentar. Pria itu menepuk-nepuk pelan punggung Maya, lalu mengisyaratkan Rian dan para pengawal pribadinya untuk mengambil posisi.

​"Ini bukan cuma polisi biasa, Maya," bisik Reza dingin dengan mata menajam. "Ini aparat yang sudah dibeli oleh Tuan Burhan dan Sora. Rian, eksekusi Rencana B!"

​"Siap, Tuan Besar!" jawab Rian cepat.

​Sebelum pasukan kepolisian dan anak buah Burhan sempat mendobrak masuk lewat pintu depan, Rian menekan tombol peledak sinyal keliru di area barat vila.

BOOM!

Ledakan asap tebal langsung memicu kepanikan di luar. Di tengah kekacauan itu, Reza memimpin rombongannya menerobos keluar lewat lorong rahasia di basemen yang terhubung langsung ke jalan setapak bawah tanah.

​Dua mobil jip lapis baja sudah menunggu di ujung lorong. Mereka berhasil lolos dari kepungan di vila, namun pelarian itu menandai dimulainya babak baru yang jauh lebih berdarah: Perang Dingin Antar Geng Mafia Pecah di Seluruh Kota.

​Hanya dalam kurun waktu dua puluh empat jam, kota yang tadinya tenang berubah menjadi medan tempur tanpa hukum.

Laporan perseteruan terbuka antara kelompok Reza dan persekutuan klan Burhan-Sora menghiasi seluruh saluran berita tersembunyi.

​Di jalanan utama kota, pertumpahan darah tidak lagi sembunyi-sembunyi. Tempat-tempat usaha milik keluarga Burhan diserbu dan disabotase oleh anak buah setia Reza.

Sebaliknya, kasino bawah tanah, klub malam, dan jalur logistik milik Reza dihancurkan dan disita oleh gabungan kekuatan polisi korup serta geng bayaran yang disewa Sora.

​Suara sirine polisi, dentuman senjata api, dan pembakaran gedung-gedung komersial terjadi hampir setiap malam di sudut-sudut kota. Warga sipil ketakutan, sementara para petinggi dunia hitam terbelah menjadi dua kubu.

​Di sebuah safehouse tersembunyi yang berlokasi di dalam bunker beton bawah tanah di pusat kota, Maya duduk memeluk lututnya di atas sofa busa yang kusam.

Suara dentuman meriam dan helikopter yang lalu-lalang di atas kota masih terdengar samar-samar menembus dinding beton tebal.

​Setiap kali televisi kecil di sudut ruangan menayangkan gedung yang terbakar atau korban baku tembak yang berjatuhan di jalanan, dada Maya terasa begitu sesak dan menghimpit.

​"Semua ini gara-gara aku..." bisik Maya lirih pada dirinya sendiri, air mata tak henti-hentinya menetes membasahi pipinya yang kian tirus.

"Kota ini hancur... orang-orang saling bunuh... cuma karena aku..."

​Pintu besi bunker berderit terbuka. Reza melangkah masuk dengan setelan kemeja hitam yang berantakan.

Wajah tampannya dipenuhi bekas jelaga tipis dan beberapa goresan luka baru. Pria itu terlihat sangat lelah, namun sorot matanya tetap memancarkan dominasi yang tak tergoyahkan.

​Reza melempar jasnya ke kursi, lalu mendekati Maya dan berlutut di hadapan gadis itu.

​"Kamu belum tidur dari semalam, Maya?" tanya Reza lembut, mencoba mengusap air mata di pipi Maya dengan jemarinya yang kasar.

​Maya menarik wajahnya pelan, menatap Reza dengan pandangan penuh keputusasaan dan duka yang mendalam.

"Bagaimana aku bisa tidur, Reza? Coba kamu dengar suara di luar! Kota ini pecah! Perang di mana-mana!"

​Reza menghela napas berat, matanya menyipit penuh emosi yang tertahan.

"Ini bukan salah kamu, Maya. Konflik antara saya dan klan Burhan sudah lama membusuk. Masalah kamu cuma jadi percikan api terakhir yang membakar ledakan ini."

​"Tapi kalau aku tidak ada di sini, kamu tidak perlu memusuhi seluruh isi kota!" seru Maya dengan suara parau yang menyayat hati.

"Anak buah kamu banyak yang terluka, Reza! Bisnis kamu hancur! Dan Nyonya Sora... dia membakar seluruh fasilitas kamu satu per satu!"

​Reza mengepalkan tangannya kuat-kuat, rahangnya mengeras tajam.

"Biarkan dia membakar semuanya. Harta dan fasilitas bisa saya bangun ulang dalam hitungan bulan. Tapi kalau saya menyerahkan kamu ke tangan mereka, saya tidak akan pernah bisa memaafkan diri saya sendiri seumur hidup."

​"Tapi sampai kapan, Reza?!" jerit Maya, emosi dan ketakutannya tumpah tak tertahan. "Sampai salah satu dari kita mati?! Sampai kamu terbunuh di jalanan?!"

​Reza menggenggam kedua pergelangan tangan Maya dengan mantap, menatap lurus ke dalam matanya.

"Sampai saya menghancurkan klan Burhan sampai ke akar-akarnya! Nanti malam, saya akan memimpin penyerangan langsung ke markas utama mereka."

​Maya membelalakkan matanya, jantungnya serasa berhenti berdetak. "Penyerangan langsung? Itu bunuh diri, Reza! Tuan Burhan punya ratusan pasukan bersenjata di sana!"

​"Saya tidak punya pilihan lain," tegas Reza tanpa ragu. "Ini satu-satunya cara untuk mengakhiri perang dingin ini dan membersihkan nama kamu sepenuhnya."

​Sebelum Maya sempat membantah lagi, Rian mendadak berlari masuk ke dalam bunker dengan napas terengah-engah dan wajah yang sangat pucat pasi.

​"Tuan Besar! darurat dari jalur utama!" teriak Rian panik.

​Reza berdiri cepat. "Ada apa, Rian?"

​"Nyonya Sora... dia tidak cuma menyerang tempat bisnis kita," ujar Rian dengan suara bergetar.

"Sora baru saja mengerahkan seluruh pasukan utamanya untuk mengepung panti asuhan tempat Mba Maya dibesarkan dulu! Dia mengancam akan membakar seluruh panti asuhan itu bersama anak-anak di dalamnya... kalau Mba Maya tidak datang menyerahkan diri secara pribadi dalam waktu satu jam!"

​Bersambung.......

1
Naelong
makasi udah mampir.. jangan lupa tinggalin jejak, like dan komen agar autor tambah semangat.. makasi🙏🙏😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!