💗🤗 Assalamualaikum semua! Ayo mampir baca pelan-pelan aja ya! jika suka jangan lupa tinggalkan jejak kalian!👇🤗😍
Di balik wajah cantiknya, Alana menyimpan identitas mematikan: seorang hacker genius sekaligus penembak jitu bayaran yang tak pernah meleset. Namun, ia terpaksa menggantung senapannya demi satu tujuan baru yang tak pernah ia rencanakan—menjadi ibu pengganti bagi keponakannya yang mendadak yatim piatu.
Di sisi lain kota, Sang Bos Mafia penguasa dunia bawah tanah sedang murka. Pembantaian brutal baru saja menewaskan tangan kanan kepercayaannya, dan sepasang anak kembar sang tangan kanan menghilang tanpa jejak.
Dalam perburuannya mencari anak-anak itu dan menuntut balas, sang Mafia juga memburu seorang hacker misterius yang terus-menerus meretas sistem keamanan kartelnya.
Takdir mempertemukan mereka dalam kejar-kejaran yang mematikan. Sang Bos Mafia tidak tahu bahwa wanita cantik yang mati-matian melindungi sepasang anak kembar di dekapannya adalah penembak jitu yang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Di area drop-off VIP Rosewood Academy, gerbang baja raksasa baru saja tertutup rapat, mengamankan Kael, Kai, dan Lea di dalam zona steril sekolah elit tersebut.
Mereka sedang berjalan menuju gedung utama saat suara BRAK! yang sangat keras—disusul oleh letusan senapan yang memekakkan telinga—terdengar dari arah luar gerbang.
Guru pendamping yang bertugas langsung memekik panik, meniup peluit darurat dan menggiring anak-anak untuk segera tiarap atau berlari ke dalam lobi yang berlapis kaca antipeluru. Sirene sekolah mulai meraung.
Lea menjerit ketakutan, menutup telinganya dengan kedua tangan. Namun, sebelum salah satu guru sempat menariknya, Kael dan Kai sudah bergerak lebih dulu dengan insting tempur yang telah ditanamkan Alana di kepala mereka.
Kai menarik lengan Lea dengan kuat, menarik gadis kecil itu ke pelukannya. Ia mendorong Lea hingga berjongkok di balik pilar beton tebal di dekat taman, memosisikan tubuh mungilnya sendiri sebagai perisai di depan Lea.
"Tunduk dan tutup telingamu, Lea! Jangan lihat ke atas!" perintah Kai tegas, suaranya tidak bergetar sedikit pun meski usianya baru genap 6 tahun.
Di sebelahnya, Kael tidak mencari perlindungan. Bocah itu berdiri dengan tenang, kacamata bacanya sedikit merosot di hidungnya. Ia menekan tombol khusus pada jam tangan digitalnya, mengaktifkan frekuensi darurat yang terhubung langsung dengan sistem earpiece Alana dan markas besar Adhitama.
"Paman Bas," suara Kael terdengar dingin dan tanpa emosi saat ia berbicara ke arah jam tangannya.
"Ada serangan proyektil kaliber besar di depan gerbang. SUV Paman Elvano menjadi target. Estimasi jarak penembak tiga ratus meter. Kecepatan angin normal."
Dari ujung earpiece, terdengar suara Bastian yang sedang mengumpat kasar sambil mengetik cepat.
"Bawa Kai dan Lea ke lobi utama sekarang, Kael! Sistem lockdown sekolah sedang aktif! Jangan melihat ke arah gerbang!"
"Protokol Alpha, dimengerti," jawab Kael singkat.
Ia menoleh ke arah Kai. Keduanya saling bertatapan sedetik—sebuah komunikasi diam tanpa kata antara anak kembar yang telah terbiasa hidup dalam bayang-bayang maut.
"Ayo, Lea. Berdiri," Kai menarik tangan gadis kecil yang masih gemetar itu. Kael berdiri di sisi lain Lea, melindungi sayap kirinya.
Dengan formasi pengawalan sempurna yang membuat guru-guru di sekitar mereka ternganga tak percaya, Kael dan Kai menuntun Lea berlari masuk ke dalam lobi utama sekolah yang aman, sementara di luar sana, deru mesin SUV V8 milik Elvano meraung menjauh, memancing para penembak jitu agar tidak mengarahkan peluru mereka ke area sekolah.
_____________
Sementara itu, di dalam garasi rahasia bawah tanah tempat SUV Elvano akhirnya berhenti dengan selamat, Alana masih menatap pria arogan di hadapannya dengan perasaan campur aduk.
Gengsi mafia yang absurd soal cemburu pada Bastian barusan memang berhasil mencairkan ketegangan, namun otak Alana langsung kembali pada kenyataan paling mengerikan.
"Anak-anak," napas Alana tertahan. Ia memegang lengan Elvano dengan cengkeraman erat.
"El... Kael dan Kai... Lea... mereka ada di sekolah! Bagaimana kalau—"
"Mereka aman, Alana," potong Elvano cepat, suaranya berat dan menenangkan. Ia meletakkan tangannya di atas tangan Alana yang gemetar, meremasnya lembut.
"Gerbang Rosewood Academy ditutup tiga detik sebelum tembakan pertama meletus. Sekolah itu memiliki sistem lockdown level militer. Kaca lobi mereka bisa menahan peluru rudal ringan."
Elvano menekan earpiece-nya, menghubungi markas. "Bastian, laporan status si kembar dan Lea."
Suara Bastian terdengar cepat dan lega di ujung sana. "Mereka sudah di dalam ruang isolasi VIP sekolah bersama kepala keamanan Rosewood. Kael dan Kai... astaga, El. Kau harus melihat rekaman CCTV-nya nanti. Dua ponakanmu itu mengawal Lea masuk ke lobi layaknya pasukan khusus pengamanan presiden. Mereka tidak tergores sedikit pun."
Mendengar itu, bahu Alana yang sejak tadi menegang akhirnya merosot jatuh. Napas lega yang panjang meluncur dari bibirnya. Ia memejamkan mata, bersandar lemas pada jok mobil. Kael dan Kai selamat. Ajaran bertahan hidup yang ia tanamkan pada mereka sejak balita telah menyelamatkan nyawa anak-anak itu.
Elvano menatap wajah lega Alana. Seringai bangga terbit di sudut bibirnya. Anak-anak Raka memang luar biasa, persis seperti wanita keras kepala yang ada dihadapannya sekarang.
"Kau dengar itu, Nona Hacker?" gumam Elvano, jemarinya perlahan mengusap punggung tangan Alana. "Mereka jagoan. Persis sepertimu."
Alana membuka matanya, membalas tatapan Elvano. Ketakutannya telah menguap, digantikan oleh kobaran api amarah yang tak tertahankan. Sindikat Bayangan telah berani menembakkan peluru di dekat keponakannya, dan meletakkan harga untuk nyawanya.
"Kau bilang kau mau memberiku perang terbuka, Tuan Adhitama?" Alana mendesis tajam, matanya menyipit penuh perhitungan mematikan.
Ia menarik tangannya dari genggaman Elvano, lalu merogoh pistol Glock dari jok dan memeriksa magasinnya.
"Mari kita perbaiki kesepakatannya," lanjut Alana, menyeringai dingin.
"Sepuluh juta dolar untuk kepalaku? Aku yang akan meretas seluruh aset finansial utama Sindikat Bayangan dan membakarnya menjadi abu digital, sementara kau dan pasukan mafiamu yang akan membereskan nyawa tikus-tikus itu di lapangan. Setuju?"
Elvano tersenyum lebar. Bukan senyum tipis yang meremehkan, melainkan senyum puas seorang iblis yang baru saja menemukan pasangan dansanya di neraka.
"Setuju," jawab Elvano, suaranya serak dan berbahaya.
"Tapi tawaran seratus juta dolar untuk setiap kepala mereka dari kantong pribadiku tetap berlaku. Ayo kembali ke mansion. Bastian sudah menunggu, dan kita punya sindikat yang harus dihancurkan."
Bersambung...
smg Al TDK mengaktifkan Hp atau Flashdisk itu yaaa ,, biar TDK ketahuan sama Al 🤣🤣
biar gantian Al yg jengkel kalau GPS nya TDK aktif 🤣🤣🤣🤣
tp Al ttp mau melindungi kedua keponakan nya sndri