Namaku Aliqa Mardika, setelah lulus SMA orangtuaku menjodohkan ku dengan putra dari sahabatnya, yang bernama Davin Aryasatya dia berprofesi sebagai seorang Dokter Spesialis di Rumah Sakit Swasta.
Dengan berat hati aku menerima perjodohan ini, dengan harapan seiring kita bersama cinta akan hadir dengan sendirinya.
Ternyata aku memasuki hubungan yang salah, pria yang di jodohkan dengan ku telah memiliki hubungan dengan wanita lain.
Akan kah pernikahan ini berjalan dengan semestinya?
Ini adalah novel pertama ku, mohon maaf jika mengalami kesalahan dalam penulisan, mohon koreksinya.
Ditunggu like, komen & vote nya ya reader.. terimakasih 🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divty Hardyfani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nikah Siri
Di sebuah rumah kontrakan yang tak terlalu besar, aku merasa sangat bahagia. Asalkan bersama orang yang kita sayangi dan cintai di manapun kita tinggal akan sangat menyenangkan, perasaan itu yang aku rasakan saat ini. Tetapi tidak dengan wanita yang kini telah sah menjadi istriku, wanita yang tiga minggu lalu aku nikahi, dia merasa tak nyaman tinggal di rumah ini dia ingin tinggal di rumah yang kini di tempati oleh Aliqa.
"Vin, apa kau sangat mencintai ku?" tanya Mila dengan wajah yang terlihat serius.
"Tentu saja, kau satu-satu nya wanita yang aku sayangi dan cintai."
"Lalu kapan kau akan menceraikan istri dari hasil perjodohan Papa mu?"
"Aku akan menceraikan nya, tapi tidak sekarang."
"Apa kau tega membiarkan ku tinggal di rumah kontrakan butut ini, sementara bocah itu tidur dengan nyenyak di rumah pemberian Papa mu!"
"Wanita itu tak akan merasa nyaman berada disana, aku akan membuatnya seakan seperti berada dalam neraka."
"Apakah kau mulai mencintainya?"
"Apa kau masih meragukan cintaku? Aku mencintaimu, maka dari itu aku menikahimu meski pernikahan secara agama. Aku hanya menggunakan Aliqa, untuk menutupi pernikahan kita. Tak pernah sekalipun aku tidur satu ranjang dengan nya, bahkan kau tau sendiri setiap hari aku habiskan waktu ku bersama mu. Aku pulang ke tempat Aliqa larut malam bahkan tidak pulang sama sekali."
"Aku percaya pada mu, tapi aku ingin menjadi satu-satunya istri mu yang sah secara agama dan juga negara," ucap nya dengan wajah yang cemberut.
"Iya sayang, tunggulah waktu yang tepat kau akan menjadi satu-satunya wanita ku. Sudah dong jangan cemberut seperti itu, nanti jadi hilang cantiknya."
"Kau ingin membuat ku senang suami?"
"Tentu saja istriku yang paling cantik, apa yang kau inginkan?"
"Kau harus mengantar ku berbelanja, aku ingin membeli baju, sepatu dan juga tas."
"Baiklah jika itu membuatmu bahagia."
"Sebentar aku siap-siap dulu sayang," ucap Mila berlalu menuju kamarnya.
"Baik sayang, aku akan menunggu mu di dalam mobil."
Di dalam mobil aku menyalakan radio agar tidak terlalu jenuh menunggu Mila yang berdandan cukup lama, Mila wanita yang ku cintai sejak dari SMA kini dia telah sah menjadi istri ku secara agama.
Semua uang penghasilan ku Mila lah yang mengelola. Kecuali uang kiriman dari Papa akulah yang menyimpannya tanpa sepengetahuan Mila, aku mendapatkan kiriman karena usaha yang Papa kelola di bidang properti, Papa selalu meminta ku untuk melanjutkan usahanya tapi aku lebih memilih untuk menjadi seorang dokter meski dengan berat hati namun Papa tetap mengijinkan. Ku berikan Tiga Juta Rupiah untuk Aliqa memenuhi kebutuhan sehari-harinya cukup atau tidak aku tak pernah menanyakannya, karena aku merasa tak peduli.
Terlihat Mila berjalan menuju mobil, istriku semakin cantik dan modis dengan pakaian, sepatu dan tas dari merk terkenal. Aku laki-laki yang teramat sangat beruntung mendapatkan nya.
"Sayang, kita ke Paris Van Java ya. Untuk menghilangkan rasa kesal ku, aku harus berbelanja banyak hari ini."
"Baiklah istriku." Ku cium keningnya untuk menyalurkan rasa sayangku.
***
Sudah dua kantong belanja yang di bawanya, tapi belum membuatnya puas. Mila kembali memasuki toko lainnya, untuk membeli barang yang diinginkan nya. Senyum terus terpancar di wajahnya, membuat ku sebagai suami turut bahagia atas kebahagiaanya. Tak apa uang hasil kerja ku habis, aku masih bisa mencari nya. Tapi jika aku kehilangan nya, harus ku cari kemana sosok wanita yang seperti dirinya.
"Vin bisakah kau membantuku, membawakan kantong belanjaan ini?"
"Tentu saja sayang."
Dengan senang hati aku selalu menemani Mila berbelanja, membawa satuan bahkan puluhan kantong belanjaan. Mungkin bisa disebut aku ini budak cinta, karena aku selalu menuruti apapun keinginannya, tak masalah menurut ku jika bucin terhadap istri sendiri.
"Sayang..." ucap Mila dengan manja.
"Iya istriku yang cantik, kenapa?
"Aku laper, kita makan dulu sayang?"
"Baiklah."
Tak pernah aku menolak setiap keinginannya, aku selalu mengiyakan apapun yang Mila inginkan, aku selalu ingin membuatnya bahagia.
***
Makanan yang di pesan sudah tiba di atas meja kami. Selama menikah tak pernah aku dan Mila makan dirumah, selalu saja kami makan di luar karena Mila tak pernah memasak, alasannya karena dia tidak bisa memasak, sebetulnya itu bukan alasan untuk tidak memasak karena di zaman canggih seperti ini semuanya bisa di pelajari dan di cari di dalam smartphone. Tapi aku tak pernah mempermasalahkannya, karena aku mencintai Mila apa adanya, aku hanya ingin selalu bersamanya.
"Vin, dimakan dong makanannya. Nanti keburu dingin kan gak enak."
"Iya sayang, barusan masih panas banget jadi belum aku makan."
"Suami, apakah bocah itu sudah mengetahui mengenai hubungan kita?" tanya Mila dengan wajah seriusnya.
"Belum."
"Seharusnya kamu beritahukan yang sejujurnya, mengenai hubungan kita. Ingat vin kamu itu milik ku, hanya milik ku!!"
"Masalahnya tidak segampang itu sayang, jika aku memberitahu mengenai hubungan kita kepada Aliqa. Bisa saja dia akan lapor ke papa, papa akan semakin membenci mu dan juga membenci ku. Aku tak bisa kehilangan mu dan juga papa."
"Aku ini istri mu vin, aku tidak ingin status hubungan kita selalu di sembunyikan seperti ini, meski Papa akan membenci mu kau masih memiliki aku."
"Orang tua ku hanya tinggal Papa, aku menyayanginya dan aku juga menyayangimu sebagai istriku. Aku tidak ingin kehilangan kalian berdua." jawabku lirih. "Bersabarlah, aku akan memberitahukan mengenai hubungan kita kepada Papa, tapi tidak sekarang. Yang terpenting sekarang, aku menyayangimu dan akan terus seperti itu."
"Aku pun sangat menyayangi mu suami, maka dari itu aku selalu meminta mu untuk mengenalkan ku kepada semua orang bahwa akulah istrimu."
"Baiklah istriku yang teramat sangat aku cintai, lebih baik kita membahas hal lain saja. Apakah acara berbelanja nya sudah selesai?"
"Sepertinya sudah tak ada lagi yang harus ku beli. Belanja sudah, makan pun sudah. Bagaimana kalau kita pulang saja suami?"
"Baiklah kita segera pulang, sudah tidak sabar aku ingin segera memakan mu."
"Tapi aku lelah, aku ingin segera sampai di rumah dan segera mengistirahatkan tubuh ku."
"Aku dengan senang hati mengantar mu kemana pun kamu mau sayang dan saatnya aku untuk menagih jatah ku untuk hari ini, agar setiap benih yang ku tanam segera tumbuh di rahim mu."
"Baiklah, mana mungkin aku bisa menolak setiap sentuhan dari mu. Ayo segera pulang, tidak mungkin kan kita melakukannya disini," ucap Mila dengan terkekeh.
"Periksa kembali belanjaannya, sebelum kita meninggalkan restoran ini siapa tahu ada yang tertinggal,"
"Tidak ada yang tertinggal sayang," tutur Mila lembut.
Aku membawa beberapa kantong belanjaan, keluar dari restoran tempat kami melangsungkan makan malam. Terkadang selalu terjadi keributan-keributan kecil di dalam hubungan kami, tapi sebisa mungkin kami akan segera menyelesaikan nya agak tak sampai berlarut-larut.