Zivara Amaira adalah gadis yatim piatu yang tinggal bersama paman dan bibinya. Tempat yang seharusnya menjadi perlindungan justru berubah menjadi luka. Sebuah fitnah yang direncanakan oleh sepupunya membuat Zivara harus pergi. Tanpa diberi kesempatan membela diri, Zivara diusir dan dipaksa menelan hinaan atas kesalahan yang tak pernah ia lakukan.
Di sisi lain, Arga Aksara Wisesa adalah pria dingin dan misterius, yang tak memikirkan cinta. Ia hanya fokus pada pekerjaan dan keponakan kecilnya yang harus kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan setahun yang lalu.
Dua jiwa yang berbeda dipertemukan oleh takdir. Namun masa lalu, ambisi orang-orang di sekitar mereka, dan rahasia yang perlahan terkuak mengancam kebahagiaan yang baru saja tumbuh.
Akankah cinta mampu menyembuhkan luka yang terlalu dalam, atau justru membuka pintu bagi pengkhianatan yang lebih menyakitkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Putus
Zivara melangkah menjauh dari rumah yang hampir enam tahun menjadi tempatnya berteduh. Rumah yang seharusnya memberi perlindungan, justru mengusirnya dengan sebuah tuduhan perbuatan yang tak pernah ia lakukan.
Langkahnya pelan, namun pasti. Dalam hati, Zivara mencoba meyakinkan diri bahwa ini adalah jalan terbaik, meski cara kepergiannya sama sekali tak pernah terlintas dalam pikirannya.
Sesampainya di jalan besar, Zivara berhenti di bawah pohon rindang. Ia menghela napas panjang, lalu merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan ponsel. Ada satu nama yang selama ini menjadi sandaran harapannya.
Jansen.
Dengan jari gemetar, Zivara menekan tombol panggil.
“Hallo?”
Suara di seberang terdengar datar, bahkan cenderung malas. “Ada apa pagi-pagi begini sudah menghubungi ku?”
Zivara terdiam sejenak. Ada nada asing dalam suara itu.
“Maaf… aku mau minta tolong,” ucap Vara akhirnya. “Temani aku mencari tempat tinggal.”
“Maaf, aku tidak bisa.”
Jawaban itu meluncur begitu saja, tanpa ragu.
Belum sempat Zivara berbicara, Jansen kembali bersuara, “Zivara, aku ingin mengatakan sesuatu.”
Zivara menggenggam ponselnya erat, dadanya terasa sesak.
“Sebaiknya hubungan kita cukup sampai di sini. Kita putus.”
Putus.
Satu kata itu menghantamnya lebih keras dari tuduhan pencurian pagi tadi.
“Putus?” suara Zivara nyaris tak terdengar. “Kenapa? Apa salahku?”
“Kamu tidak salah,” jawab Jansen singkat. “Aku hanya… sudah menemukan seseorang yang lebih cocok denganku.”
Alasan itu begitu sederhana, namun melukai dengan sempurna.
“Semoga kamu menemukan pria yang bisa menerima dan menyayangimu,” lanjut Jansen dingin, lalu sambungan terputus.
Zivara menatap layar ponselnya yang kini gelap. Air matanya jatuh tanpa bisa dicegah. Satu-satunya orang yang menjadi harapan, kini pun pergi meninggalkannya.
Ia menekan dadanya, mencoba meredam nyeri yang bertubi-tubi menyerang.
Namun setelah beberapa saat, Zivara menghapus air matanya. Ia menguatkan diri.
Tidak. Aku tidak boleh hancur. Aku harus kuat. Aku akan membuktikan pada mereka, aku bisa hidup tanpa mereka.
Ia menegakkan tubuh dan kembali melangkah.
Baru beberapa langkah, sebuah mobil berhenti di tepi jalan.
“Zivara?”
Zivara menoleh. Matanya terbelalak saat mengenali sosok yang keluar dari mobil.
“Mona?”
“Kamu mau ke mana?” tanya Mona heran, menatap kondisi Zivara yang tampak lelah dan kusut.
Zivara terdiam. Sebenarnya ia enggan bercerita. Namun entah mengapa, saat melihat Mona, pertahanannya runtuh.
Tanpa banyak bicara, Mona menarik tangan Zivara dengan lembut. “Masuk dulu. Ceritanya nanti di jalan.”
Dalam perjalanan, Zivara menceritakan semuanya. Tentang pengusiran, putusnya hubungan, dan kebingungannya mencari tempat tinggal serta pekerjaan.
Mona mendengarkan dengan saksama. “Aku ingat,” ucap Mona akhirnya. “Paman aku punya rumah kosong. Keluarganya pindah ke luar kota. Kalau kamu mau, kamu bisa tinggal di sana dulu.”
Zivara terdiam, ragu.
Namun Mona tersenyum meyakinkan. “Anggap saja ini pertolongan sementara.”
Akhirnya Zivara mengangguk.
Sesampainya di rumah itu, Mona mengajak Zivara masuk. Rumahnya tidak besar, namun bersih dan terasa hangat.
“Ini rumahnya. Sudah beberapa bulan kosong. Dua minggu sekali dibersihkan orang suruhan paman ku,” jelas Mona. “Sekarang kamu yang jaga, ya. Sampai kamu dapat tempat tinggal sendiri.”
“Terima kasih, Mona,” ucap Zivara tulus. “Aku tidak tahu harus bagaimana kalau tidak bertemu dengan mu.”
“Kita kan teman,” jawab Mona ringan. “Kalau butuh apa-apa, jangan sungkan.”
Zivara tersenyum haru.
"Terima kasih, Tuhan. Di saat keluarga dan kekasihku membuangku, Kau masih mengirimkan orang baik." gumam Vara dalam hati.
“Oh ya,” sambung Mona. “Kamu tadi bilang mau cari kerja, kan? Aku dengar perusahaan wisesa Group sedang membuka lowongan. Coba saja kamu melamar kerja disana.”
Zivara menggeleng ragu. “Itu perusahaan besar. Apa mungkin orang sepertiku diterima di sana?”
“Zivara, kamu pintar. Jangan meremehkan diri sendiri. Dicoba dulu. Siapa tahu rezekimu ada di sana.”
Zivara mengangguk perlahan. “Baik. Aku akan coba.”
Mona memeluknya singkat. “Kamu tidak sendirian.”
Dan untuk pertama kalinya sejak pagi itu, Zivara merasa meski rapuh ia masih punya harapan.
Kiran tampak begitu menikmati sore itu. Ia duduk santai di sebuah kafe modern bersama dua sahabatnya, Sisil dan Dinda. Tawa mereka sesekali pecah, sementara secangkir kopi di hadapan Kiran bahkan belum tersentuh. Wajahnya berseri terlalu berseri untuk sekadar berkumpul biasa.
“Jadi… rencana lo berhasil?” tanya Sisil sambil menaikkan alisnya, penasaran.
Kiran tersenyum lebar, senyum penuh kepuasan.
“Berhasil dong. Gampang banget bikin dia keluar dari rumah gue,” ucapnya bangga.
Dinda mengernyitkan dahi. “Kenapa sih lo senang banget Vara pergi? Bukannya dengan dia di rumah, lo bisa nyuruh-nyuruh dia? Lagian orang tua lo juga nggak pernah ngebandingin kalian.”
Kiran menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap lurus ke depan dengan ekspresi dingin.
“Secara logika, omongan lo benar,” katanya pelan, lalu mendecak kesal. “Tapi gue enek tiap lihat mukanya. Gue muak. Daripada gue emosi tiap hari dan itu ngerusak penampilan sama kesehatan gue, mending gue singkirin aja sekalian.”
Sisil dan Dinda saling pandang.
Yang tak mereka tahu, di balik nada tenang Kiran, tersimpan iri yang telah lama berakar. Vara selalu unggul. Lebih pintar, lebih cantik, dan tanpa sadar selalu mencuri perhatian. Bagi Kiran, meskipun Vara adalah sepupunya. Ia adalah saingan yang harus disingkirkan.
Kiran yakin, begitu Vara keluar dari rumah itu, hidupnya akan hancur. Tak ada tempat berpijak, tak ada perlindungan. Dan yang terpenting, tak akan ada lagi yang menyainginya.
“Hari ini traktiran gue,” kata Kiran tiba-tiba, melambaikan tangan pada pelayan. “Kita rayain kepergian dia.”
Di tempat yang berbeda, Vara sedang mengemasi barang-barangnya. Lemari kecil di kamar barunya terbuka, pakaian-pakaiannya tersusun rapi. Siang tadi, Mona sempat menemaninya makan. Tanpa banyak tanya, sahabatnya itu memesankan makanan dan menemani Vara dalam diam yang hangat.
Setelah makan siang, Mona pamit pulang.
“Kalau butuh apa-apa, kabarin gue,” ucapnya tulus.
“Terima kasih, Mona.”Jawab Vara sambil tersenyum kecil.
Kini, setelah semua barangnya tertata, Vara merebahkan tubuh di ranjang. Kamar itu sederhana, namun entah mengapa, hatinya terasa lebih tenang. Tak ada teriakan, tak ada tatapan penuh kebencian. Perlahan, kelelahan mengalahkan pikirannya, dan Vara terlelap.
Ia terbangun saat jarum jam menunjukkan pukul lima sore. Vara menggeliat pelan, meregangkan tubuhnya yang masih terasa kaku. Ia berencana pergi ke supermarket terdekat untuk membeli beberapa barang yang ia butuhkan kan.
Setelah berganti pakaian, Vara meraih tas kecilnya dan melangkah keluar.
Di tengah perjalanan, langkahnya tiba-tiba melambat.
Matanya menangkap pemandangan yang membuat dadanya seketika sesak.
Jansen.
Pria itu berjalan mesra dengan seorang wanita, tangan mereka saling menggenggam. Saat Vara memperhatikan lebih saksama, jantungnya seakan berhenti berdetak.
Wanita itu… Kiran.
“Jansen…” suara Vara nyaris tak terdengar saat ia mendekat.
Kiran dan Jansen menoleh bersamaan.
Sekilas, Kiran tampak terkejut. Namun detik berikutnya, senyum kemenangan mengembang di bibirnya. Ia justru menggenggam lengan Jansen lebih erat.
“Hai, Vara,” sapa Kiran manis, penuh kepura-puraan.
“Jadi… Kiran yang kamu maksud?” tanya Vara lirih, matanya menatap Jansen, berharap ada penjelasan yang membatalkan semuanya.
“Iya,” jawab Jansen datar. “Kami sudah jadian hampir sebulan.”
Tanpa rasa bersalah. Tanpa keraguan.
Kalimat itu menghantam Vara lebih keras dari hinaan yang pernah ia terima. Vara hanya bisa terdiam, menatap punggung mereka yang menjauh. Orang yang ia cintai, orang yang seharusnya menjadi tempatnya bersandar, justru meninggalkannya saat ia paling membutuhkan perlindungan.
Dadanya sakit. Napaknya terasa goyah.
Namun tiba-tiba, senyum tipis terukir di wajah Vara. Senyum yang bukan lahir dari kebahagiaan, melainkan tekad.
“Baiklah,” gumamnya pelan.
“Kalian yang memulai semua ini.”