NovelToon NovelToon
Dewa Lukis Kecantol Siluman Rubah

Dewa Lukis Kecantol Siluman Rubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Beda Dunia / Suami amnesia / Fantasi
Popularitas:654
Nilai: 5
Nama Author: Musang_Galau

Chandra adalah dewa jatuh yang turun ke bumi menjadi manusia, dia tidak menyadari kekuatan dewa nya tidak hilang. Kesehariannya adalah melukis dan menjualnya di pasar, hidupnya berubah setelah memasuki galeri teratai hitam menemukan banyak keberuntungan dan juga harem yaitu Yueji siluman rubah ekor sembilan cantik dan mempesona, . Apakah hubungan Chandra akan menyadari bahwa dirinya adalah seorang dewa jatuh setelah bertemu Yueji?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Musang_Galau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak Bisa Bahasa Enggres

Chandra dan Kakek Lubis duduk berhadapan di meja pantry. Chandra menuangkan air panas ke cangkirnya, sementara Kakek Lubis tampak merenung.

"Paman, mau kopi?"

"Tidak, Chandra. Kok bisa leluhurku jadi seleb dadakan begitu, Chandra?"

"Salah aku juga, terlalu cepat mengajarkan teknologi ke dia," jawab Chandra sambil menyesap kopinya lemas.

"Ohh, begitu rupanya... Bisa-bisanya leluhurku begitu akrab dengan muda-mudi seperti itu," ucap Kakek Lubis sambil membelai-belai janggut panjangnya. "Apa leluhurku tidak punya niat tertentu? Seperti mengambil jiwa manusia-manusia yang masih suci, mungkin?"

"Emang anak seumuran mereka masih suci?" jawab Chandra penuh sarkasme.

"Ayoyoy... Ini bukan soal kenakalan remaja, Chandra! Lebih spesifiknya, mereka belum ternodai intrik dunia sepenuhnya."

"Hemm, menurutku sih dia tidak ke arah sana. Dia cuma seperti manusia yang lagi star syndrome saja. Nanti juga capek sendiri. Yang jelas, aku harus gimana, Paman, kalau Yueji minta gathering setiap hari? Aku tidak bisa membuat lukisan kalau bising begini," Chandra mengacak rambutnya frustrasi.

"Kamu saja tidak bisa mengatasi leluhurku, apalagi aku," jawab Kakek Lubis pasrah dengan kedua tangan terlipat di atas meja.

"Hahhh..." Chandra menghela napas panjang dengan wajah lemas.

"Ahh! Aku ada ide, Chandra!" Kakek Lubis tiba-tiba bangkit dari duduknya.

Wajah Chandra seketika kembali berseri. "Apa itu, Paman?"

"Kamu masih punya uang, kan?"

"Ada, Paman."

"Di sebelah kanan bagian depan galeri, masih ada ruangan tua yang aku jadikan gudang. Kita rehab saja ruangan itu, buat jadi studio melukis khusus kamu!" ucap Kakek Lubis tersenyum lebar.

"Bolehkah, Paman? Aku setuju banget, Paman!"

"Hehehe, tentu saja boleh! Sekarang aku telepon tukang langgananku untuk memperbaikinya, ya."

"Siap, Paman!"

Kakek Lubis merogoh ponsel dari dalam saku bajunya, lalu mendial nomor tukang andalannya.

"Mat! Kamu ke galeriku sekarang!"

"Baik, Kek!" jawab Rahmat dari balik telepon.

"Kalau Rahmat yang kerjakan, kurang dari seminggu sudah kelar, Chandra. Hehehe."

"Akhirnya ketemu solusi juga... Terima kasih banyak, Paman!"

"Aman saja! Semakin kamu cuan, aku juga kan kebagian. Hahaha!" Kakek Lubis tertawa lepas.

Saat Chandra dan Kakek Lubis sedang serius berdiskusi, Yueji dan Sisi masih asyik seru-seruan dengan gathering dadakannya di halaman belakang.

Sementara itu di ruang tengah, lukisan baru karya Chandra mulai bereaksi. Cahaya putih berpendar lembut dan memancar indah dari atas kanvas.

"Hihihi~"

Anya tertawa mungil. Sepasang kaki kecilnya perlahan melangkah keluar dari dalam kanvas hingga berwujud utuh, berdiri melayang sebentar sebelum memijak lantai galeri.

"Hihihi!" Dia kembali tertawa riang, lalu berlari kecil menghentakkan kaki mungilnya menuju ruangan Kakek Lubis.

Di pantry, Kakek Lubis berdiri dari tempat duduknya. "Chandra, kalau begitu aku tunggu Mamat di ruanganku, ya. Kamu lanjutkan saja bersantai dahulu."

"Baik, Paman."

"Bagus juga kalau aku punya studio sendiri. Jadi tidak bakal diganggu Yueji ataupun Sisi. Apalagi sekumpulan remaja yang tiba-tiba datang itu," batin Chandra merasa mendapat pencerahan.

Di halaman belakang, kerumunan anak SMA makin betah.

"Kak Sisi, kok bisa cantik banget sih? Pakai skincare apa?" tanya seorang siswi yang duduk tepat di samping Sisi.

"Skincare? Skincare itu apa?" tanya Sisi polos.

"Wah, Kak Sisi cantik natural! Gila, idaman banget! Seandainya aku seumuran, sudah pasti aku kejar mati-matian!" ucap salah satu siswa terpesona melihat kepolosan Sisi.

"Yehh! Ngarep lu!" senggol kawannya yang lain.

"Hihihi, aku tidak pernah pakai apapun... Selain bedak ini," Sisi mengeluarkan sebuah wadah bedak berupa guci keramik mungil dari balik pakaiannya.

Para siswi itu langsung mengerumuni tangan lentik Sisi, memandangi guci keramik kuno itu dengan mata berbinar.

"Serius, Kak?"

"He-eh," jawab Sisi penuh kepastian.

"Hehe, Kak... Apa boleh aku coba?" ucap salah satu siswi agak canggung.

"Boleh, sini mukamu."

Dengan lembut Sisi mengoleskan tipis-tipis serbuk ajaib itu ke wajah si anak gadis. Seketika, wajah gadis itu memancarkan aura positif yang pekat seolah ada kilauan cahaya halus yang menyelimuti kulit wajahnya.

"Wahh... Sejuk dan segar sekali, Kak!" ucap gadis itu sambil memejamkan mata, menikmati sensasi ajaib yang meresap ke kulitnya.

Anak-anak cowok yang melihat perubahan itu langsung membelalakkan mata tidak percaya.

"Buset! Apa itu susuk?! Kok bisa makin cantik seketika!" histeris salah satu siswa.

"Kak, aku mau coba! Kak, aku mau coba juga!" Seketika Sisi diserbu para siswi bagaikan gula yang dikerumuni semut.

"Iya, iya, semuanya kebagian..." jawab Sisi tersenum manis.

"Wah, nyaman sekali di kulit!" seru para gadis serempak.

"Kak Sisi, ini bagus banget! Ada stok banyak enggak? Aku mau beli!"

"Emm... Aku hanya buat satu, tapi lain kali aku buatkan lagi, ya," jawab Sisi riang.

"Buat sendiri?!" Para gadis itu saling pandang terkagum-kagum.

"Wah, hebat sekali Kak Sisi! Kalau sudah jadi kabarin kita ya, kami bakal borong!" Tanpa ragu, para siswi itu langsung memeluk Sisi erat-erat.

"Hahaha, kalian ini..." ucap Sisi tertawa gembira.

"Sumpah aku excited banget! Kak Yueji sama Kak Sisi tuh wajahnya kayak karakter manhwa banget tahu! Jujur aku iri deh."

"Makanya, suruh siapa kamu buluk!" celetuk salah satu siswa cowok culas.

"Ehh! Kamu awas ya! Sekali lagi ngomong gitu aku gampar!" bentak siswi tersebut sambil mengacungkan tinju.

"Hahahahaha!" Semua orang tertawa lepas.

Sementara itu, Kakek Lubis yang sudah berada di dalam ruangannya tampak kebingungan mencari sesuatu.

"Perasaan buku catatanku ada di sini... Ke mana ya?" gumam Kakek Lubis sambil membongkar rak demi rak.

"Ini Daddy... Ini Mommy... Ini Kakak... Hihihi!" Terdengar suara celotehan anak kecil dari balik lemari kayu yang besar.

"Hah? Apa aku tidak salah dengar? Ada suara anak kecil?" batin Kakek Lubis heran. Dia berjinjit pelan-pelan, mengintip ke balik lemari.

"Kakek!"

"HUAAAA~!"

BRUKK!

Kakek Lubis tersungkur ke lantai karena kaget setengah mati.

Saat matanya terbuka, ia terbelalak menatap sesosok anak perempuan cilik yang sangat cantik, berkulit bersih, dan imut menyerupai boneka hidup.

"Sayang... Kamu anak siapa?" tanya Kakek Lubis pelan sambil berusaha tersenyum ramah.

"What do you mean, Daddy?" sahut Anya dengan wajah polos dan memiringkan kepalanya.

"Hehehe... Kakek tidak bisa bahasa Enggres," Kakek Lubis menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum malu.

"Sepertinya dia anak nyasar... Tapi kok bisa nyasar sejauh ini sampai ke dalam ruanganku?" batin Kakek Lubis keheranan.

"Kakek gendong, ya?" ucap Kakek Lubis memperagakan gerakan tangan menggendong.

Anya tertawa riang lalu mengulurkan kedua tangan mungilnya ke atas.

"Wah, kamu imut seperti boneka... Tapi lumayan berat juga ya!" ucap Kakek Lubis yang kini memangku Anya di pelukannya. "Ayo, kita jalan-jalan!"

Anya terdiam sebentar, berusaha mencerna ucapan bahasa Indonesia Kakek Lubis.

Kakek Lubis lalu mengacungkan tangan kanannya ke udara layaknya pose Superman terbang. "Jalan-jalan?"

"Hihihi! Goooo!" teriak Anya gembira sambil menunjuk ke luar.

Kakek Lubis pun berjalan membopong Anya keluar dari ruangan.

Di dekat pantry, Chandra yang melihat Kakek Lubis membopong anak kecil langsung melotot. "Paman! Anak siapa itu?!"

"Baru nemu," jawab Kakek Lubis singkat sambil mengunci pintu ruangannya.

"Nemu?! Dikira barang?! Paman nyulik anak orang, ya?!"

"Sembarangan kamu, Chandra! Dia ada di dalam ruanganku barusan. Siapa tahu orang tuanya masih ada di sekitaran sini..."

"Ohh, anak nyasar. Tapi... wajahnya kok familier banget ya?" Chandra keheranan sambil melipat tangan di dada.

Anya terdiam sejenak dari gendongan Kakek Lubis, memandangi wajah Chandra dengan mata bulatnya yang berbinar.

"Daddy!" ucap Anya gembira sambil menggapai-gapaikan tangan mungilnya ke arah Chandra.

"Wah, lucu sekali! Seperti boneka hidup," puji Chandra.

"Hemm! Ini punyaku!" ketus Kakek Lubis tiba-tiba posesif, lalu buru-buru membopong Anya pergi menuju pintu depan galeri.

Chandra menatap punggung Kakek Lubis yang menjauh sambil menggaruk dagunya. "Kenapa anak kecil itu mirip banget sama sosok yang baru aku lukis tadi ya?" batin Chandra makin bingung.

"Ah, mungkin cuma kebetulan mirip saja," gumam Chandra menepis pikirannya, lalu membalikkan badan hendak menuju kamar.

"Kakek! Ini Rahmat!" terdengar teriakan seorang pria dari arah depan galeri.

"Akhirnya datang juga," Chandra mengurungkan niatnya menuju kamar dan melangkah menuju pintu depan.

1
Waaaaaa_
Hallo aku mampir
Alinsyah 70: Makasih loh udah mampir, maaf loh kalau ceritanya kurang bagus
total 1 replies
Ruang Senddu
seru, mari saling dukung
Doodle Music
semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!