NovelToon NovelToon
Bunga Terakhir

Bunga Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Rumah Tangga
Popularitas:316
Nilai: 5
Nama Author: Idents

Arhan Hamid harus belajar kehilangan, padahal ia belum pernah siap.

Satu kalimat dari dokter meruntuhkan seluruh dunianya — usia Anya, istrinya, tinggal 30 hari. Karena kanker.

Sejak hari itu, Arhan memilih memikul semuanya sendirian. Di depan Anya, ia tetap menjadi suami yang utuh. Yang tertawa paling keras, yang membuatkan teh paling hangat, yang mencintai lebih dari separuh jiwanya sendiri.

Padahal di dalam dadanya, ia hancur pelan-pelan.

Ia menutupi air mata dengan tawa. Menutupi takut dengan doa-doa yang ia bisikkan diam-diam setiap malam.

Mampukah Arhan tetap kuat ketika waktu terus menghitung mundur?

Dan di antara 30 hari yang tersisa, mungkinkah semesta masih menyisakan satu keajaiban untuk mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idents, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Mobil ambulans pun tiba.

Jam dua lewat sepuluh. Suara sirinenya tidak panjang, hanya meraung pendek di ujung gang, lalu padam. Lampu merah di atapnya berputar, memantulkan cahaya ke dinding-dinding rumah yang masih gelap. Udara malam yang tadi diam menjadi pecah.

Dua petugas turun, membuka pintu belakang, menurunkan tandu dengan cepat. Langkah mereka ringan dan hafal.

Arhan sudah menunggu di depan pagar. Di pelukannya, Anya terlihat kecil. Selimut tipis membungkus tubuhnya, wajahnya pucat, bibirnya hampir sewarna kulit. Tangannya mencengkeram lengan Arhan, bukan karena ingin memeluk, tapi karena rasa sakit di perutnya datang seperti ombak.

Arhan segera membawa Anya pergi ke rumah sakit. Ia naik ke dalam ambulans, duduk di sisi tandu. Tangan Anya ia genggam. Di dalam ambulans, cahaya putih menyorot wajah Anya dari atas. Setiap guncangan jalan membuat Anya meringis pelan.

Sepanjang perjalanan, Arhan tidak bicara banyak. Ia hanya mengusap pelipis Anya yang basah, merapikan rambutnya yang menempel karena keringat. Di luar kaca, jalanan kosong, warung tutup, hanya lampu jalan yang berlari mundur.

Di rumah sakit, jam menunjukkan pukul dua lewat empat puluh. Koridor panjang itu terang oleh lampu neon, dingin, berbau cairan pembersih yang menusuk hidung. Anya langsung dibawa masuk ke ruang pemeriksaan. Tirai putih ditarik, menutup pandangan Arhan.

Arhan tertinggal di luar. Ia berdiri dengan punggung bersandar di dinding, napasnya masih berat. Dari saku celananya ia mengeluarkan ponsel, jarinya gemetar menekan nama yang sudah ia hafal. Suaranya pecah saat bicara.

Tidak sampai dua puluh menit, langkah tergesa terdengar dari ujung koridor.

Pak Hendra dan Ibu Soraya pun tiba.

Pak Hendra memakai jaket tebal di luar baju tidurnya, rambutnya masih acak, napasnya terengah. Ibu Soraya memakai jaket tipis, rambutnya diikat seadanya ke belakang, wajahnya tanpa riasan, pucat menahan cemas. Mereka berjalan cepat ke arah Arhan, seperti takut tertinggal sesuatu yang penting.

Pak Hendra menyapa Arhan yang tampak gelisah. Matanya menatap pintu ruang pemeriksaan, lalu menatap Arhan.

"Han. Sakit Anya kambuh lagi?" tanya Pak Hendra, suaranya rendah, menahan gugup.

Arhan mengangguk. Ia mencoba mengatur napasnya agar terdengar lebih tenang.

"Iya Pa. Anya lagi tidur. Tiba-tiba kerasa sakit lagi. Jadi Arhan bawa ke rumah sakit," jawab Arhan, suaranya serak.

Ibu Soraya berdiri di sisi lain, matanya tidak lepas dari pintu yang tertutup. Tangannya menggenggam tas kecilnya erat-erat.

"Terus gimana kondisi Anya sekarang?" tanya Ibu Soraya, suaranya pelan.

Arhan menggelengkan kepala. Ia menatap lantai yang memantulkan cahaya lampu.

"Belum tau Ma. Masih diperiksa Dokter Rendra," jawabnya.

Mereka bertiga terdiam sejenak. Koridor malam itu terasa lebih panjang dari biasanya. Suara pendingin ruangan berdengung, sesekali terdengar roda troli perawat lewat. Waktu berjalan lambat.

Lalu Arhan menatap Ibu Soraya dengan tatapan yang sendu.

"Mama sudah tau kondisi Anya yang sebenarnya?" tanya Arhan.

Ibu Soraya menatap Arhan. Matanya langsung berkaca, beningnya pecah. Ia menarik napas pendek sebelum menjawab.

"Iya Han. Papa tadi sore yang ngasih tau Mama. Kamu gak usah merasa bersalah. Mama ngerti kok Han," jawab Soraya sambil berkaca-kaca.

Arhan menunduk. Bahunya turun.

Pintu ruang pemeriksaan terbuka.

Dokter Rendra keluar dari ruangan Anya dirawat. Jas putihnya masih rapi, stetoskop melingkar di lehernya. Langkahnya pelan, tidak terburu-buru. Ia menoleh kepada Arhan, memberi isyarat dengan anggukan kecil.

Arhan pun segera menghampiri Dokter Rendra. Jarak beberapa meter itu terasa jauh.

"Gimana Dok kondisi istriku?" tanya Arhan, suaranya ditahan agar tidak pecah.

Dokter Rendra menatap Arhan, lalu menatap Pak Hendra dan Ibu Soraya sekilas.

"Sebenarnya. Setelah saya periksa tidak ada kemajuan ataupun kemunduran Pak Arhan. Nyeri yang tadi itu karena tekanannya. Sudah saya beri pereda, sekarang dia lebih tenang," jawab Dokter Rendra.

Arhan menghela napas, tapi napasnya masih tersangkut.

Dokter Rendra melanjutkan, lebih pelan.

"Apakah Ibu Anya sudah tau tentang diagnosis terakhir dari saya?" tanya Dokter Rendra.

Arhan menunduk.

"Belum... Belum tau Dokter. Saya belum memberitahukan Anya," jawab Arhan.

Dokter Rendra dengan lembut dan tersenyum, senyum tipis yang biasa ia berikan untuk keluarga yang kelelahan.

"Ibu Anya berhak tau. Tadi istri anda pun bertanya kepada saya. Tentang kondisinya. Dia bilang badannya terasa semakin berat. Lebih baik, anda yang menjelaskannya. Dia menunggu penjelasan dari anda," kata Dokter Rendra.

Arhan menggigit bibir bawahnya, menahan sesuatu yang naik ke matanya.

Lalu Dokter Rendra menambahkan, suaranya lebih ringan.

"Yasudah saya kembali ke ruangan dulu Pak Arhan. Kalau ada apa-apa silahkan beritahukan saya," kata Dokter Rendra. Sambil menepuk pundak Arhan pelan, ia berbalik dan pergi, langkahnya hilang di belokan koridor.

Arhan menoleh kepada kedua mertuanya. Pak Hendra dan Ibu Soraya saling bertatap sebentar, lalu menatap Arhan.

Mereka berdua mengangguk, hampir bersamaan.

"Kami tunggu dulu di sini, kamu bicara dulu sama Anya, Han. Tentang semuanya," kata Pak Hendra, suaranya pelan, memberi ruang.

Ibu Soraya menambahkan, "Iya Han, kami di sini."

Meski langkahnya terasa berat. Lantai koridor yang dingin terasa menempel di telapak sepatunya. Arhan membuka pintu ruangan itu perlahan, seolah takut suara engselnya membangunkan seseorang.

Di dalam, cahaya lampu diredupkan. Anya masih terbangun. Selang infus menggantung di tiang besi, cairannya menetes pelan, satu per satu jatuh. Wajah Anya pucat, tapi keringat di dahinya sudah tidak sebanyak tadi. Matanya terbuka setengah, lemas dan sayu, menatap ke arah pintu.

Melihat Arhan masuk, bibir Anya bergerak tipis.

"Han, duduk di sini," ucap Anya, suaranya hampir seperti bisikan, tangannya yang bebas infus menepuk pelan sisi kasur.

Arhan berjalan pelan dan duduk di samping Anya. Kasur berderak pelan. Ia mengambil tangan Anya, menggenggamnya. Tangan itu dingin, tapi ia genggam dengan kedua tangannya agar hangat.

Beberapa detik mereka hanya diam. Hanya bunyi tetesan infus dan bunyi monitor yang berdetak pelan.

Lalu Anya membuka suara.

"Han. Aku, aku sebenarnya sudah tau. Aku sudah tau semuanya. Tentang kondisiku. Tapi tolong. Aku ingin tau. Aku ingin tau dari bibirmu langsung," kata Anya, matanya menatap Arhan, tidak berkedip.

Mendengar hal itu jantung Arhan seperti dihantam begitu keras. Bukan hantaman yang keras dan berisik, tapi hantaman sunyi yang membuat dadanya sesak, membuat pandangannya buram seketika.

Air mata Arhan jatuh, air mata yang selama ini dia sembunyikan dari Anya. Air mata yang ia simpan saat Anya tertidur, yang ia tahan saat menatap video pernikahannya, yang ia sembunyikan di dalam ambulans.

"Maafkan aku An.. Aku... Aku takut kehilangan kamu. Aku takut mendengar diagnosis dari Dokter Rendra itu... Itu bisa membuat kamu pergi lebih cepat. Aku tidak sanggup... Aku tidak sanggup kehilangan kamu," kata Arhan, suaranya pecah di setiap kata.

Anya mengangkat tangannya yang terpasang infus, dengan pelan, mengusap pipi Arhan.

Lalu Anya memeluk suaminya itu. Pelukannya tidak kuat, karena tubuhnya lemah, tapi cukup untuk membuat Arhan menunduk dan menyandarkan kepalanya di bahu Anya. Air mata pun mengalir di pipi Anya, jatuh pelan.

"Gak apa-apa Han. Gak apa-apa. Sekalipun aku harus pergi. Aku tidak akan pernah menyesal. Karena... Karena aku dapat suami sebaik kamu Han... Jangan pikul semuanya sendirian... Kamu punya aku, punya Mama, punya Papa.. Mereka sayang sama kamu," bisik Anya di dekat telinga Arhan.

Ucapan itu membuat air mata Arhan semakin deras. Ia menangis tanpa suara, bahunya naik turun.

Di luar pintu yang sedikit terbuka, Pak Hendra dan Ibu Soraya berdiri diam. Mereka mendengar sebagian dari percakapan itu. Pak Hendra menatap lantai, Ibu Soraya menutup mulutnya dengan tangan, menahan isak. Mereka tidak masuk, mereka memberi ruang untuk dua orang di dalam itu menyelesaikan kata-kata yang selama ini tertunda.

Pak Hendra yang mendengar perbincangan mereka dari celah pintu, suaranya terdengar pelan dari luar, tidak masuk sepenuhnya.

"Papa sudah bilang Arhan. Kamu menantu yang baik.. Papa sama Mama udah anggap kamu sebagai anak kami sendiri," kata Pak Hendra dari ambang pintu, suaranya parau.

Arhan tidak menjawab. Ia masih menyandarkan kepalanya di bahu Anya, air matanya masih jatuh.

Ucapan Pak Hendra adalah ucapan yang sama menyakitkan. Karena ucapan yang hangat itu tidak pernah terdengar dari ayah kandungnya sendiri.

Di ruangan rumah sakit jam tiga pagi itu, lampu tetap redup, tetesan infus terus jatuh satu per satu, dan di luar jendela, malam masih menggantung gelap, menahan pagi yang belum datang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!