Sejak bayi, Lin Yuxin ditukar demi kemewahan anak keluarga Chen... Chen Ruoxi. Bertahun-tahun disiksa di rumah orang asing, dia akhirnya kembali ke keluarga kandungnya, hanya untuk difitnah habis-habisan oleh Chen Ruoxi yang iri pada kecantikan Lin Yuxin, apalagi saat Kaisar menjodohkannya dengan Putra Mahkota Li Chen... Sifat iri nya semkin menjadi. Lin Yuxin dituduh wanita murahan sekaligus dalang percobaan racun, Lin Yuxin yang tak mampu membela diri pun dijatuhi hukuman mati... sementara pelayan setianya, Xiao Yan, dibungkam selamanya oleh Chen Ruoxi.
Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Lin Yuxin bangkit kembali tepat di hari dia pertama menginjak rumah keluarga aslinya, membawa ingatan penuh tentang kehidupannya yang lalu. Kali ini, dia bersumpah, setiap fitnah akan dibalas, dan Xiao Yan tak akan mati lagi untuknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Awal baru di istana
Kereta berhenti di gerbang samping istana, pintu masuk yang lebih kecil dan jarang dipakai dibanding gerbang utama tempat Yuxin diterima resmi tadi pagi. Seorang dayang sudah menunggu dengan lentera di tangan, membungkuk begitu melihat Yuxin turun.
"Putri Mahkota, selamat datang kembali. Yang Mulia Putra Mahkota menitipkan pesan, beliau sedang ada urusan mendadak dan akan menemui Anda sedikit lebih malam."
"Baiklah," Yuxin mengangguk, lalu mengikuti dayang itu menyusuri lorong menuju paviliun yang sudah disiapkan untuknya.
Paviliun itu lebih luas dari kamar yang dia tempati di kediaman Lin, dengan taman kecil pribadi di bagian belakang, kolam ikan koi, dan beberapa pohon bunga yang sedang mekar wangi menyambut malam.
Xiao Yan langsung berdecak kagum begitu masuk, matanya berbinar menatap sekeliling seperti anak kecil masuk toko manisan. "Nona, lihat ini! Bahkan Guci nya saja berukir naga. Kalau hamba lap sedikit, bisa jadi cermin ini saking mengkilat nya."
"Jangan sentuh sembarangan," Yuxin memperingatkan, meski ujung bibirnya ikut tertarik menahan senyum.
"Hamba cuma lihat, Nona, bukan mau dicuri," Xiao Yan membela diri, meski tangannya sudah terulur mengelus salah satu vas porselen di meja.
Belum sempat Yuxin menegur lebih jauh, pintu paviliun diketuk pelan. Seorang wanita paruh baya melangkah masuk, pakaiannya sederhana seperti pelayan biasa, namun sikap tubuhnya terlalu tegak, terlalu terlatih untuk seorang pelayan rendahan.
"Putri Mahkota," wanita itu membungkuk hormat, "nama hamba Mama Rong. Yang Mulia Putra Mahkota mengirim hamba untuk membantu persiapan jamuan teh minggu depan."
Yuxin menatapnya dengan rasa lega yang tidak bisa dia sembunyikan sepenuhnya. "Terima kasih sudah bersedia datang, Mama Rong."
"Jangan berterima kasih dulu, Putri Mahkota," Mama Rong tersenyum tipis, meletakkan sebuah kotak kayu di atas meja, "karena mulai malam ini, hamba akan membuat Anda menghafal lebih banyak hal daripada yang pernah Anda bayangkan seumur hidup."
Xiao Yan, yang masih sibuk mengagumi vas porselen, menoleh cepat. "Seberat itu, Mama Rong? Nona kan baru datang, kasihan belum sempat istirahat."
"Justru karena waktunya sempit, Nak," Mama Rong menjawab tanpa basa-basi, "satu minggu itu kedengarannya lama, tapi kalau dihitung dari berapa banyak hal yang harus disiapkan untuk jamuan kerajaan, rasanya seperti semalam saja."
"Memangnya sebanyak apa, Mama?" Xiao Yan penasaran, melupakan sejenak niatnya menyingkir dari vas porselen.
"Pemilihan teh, urutan penyajian, siapa duduk di mana, hidangan apa untuk siapa, sampai lagu apa yang pantas dimainkan kalau ada anggota keluarga yang sedang berkabung atau baru saja merayakan sesuatu," Mama Rong menghitung dengan jari, "belum lagi kalau ada tamu dari wilayah lain yang punya pantangan budaya sendiri. Salah sedikit saja, bisa dianggap penghinaan, bukan cuma pada orangnya, tapi pada seluruh keluarganya."
Xiao Yan menelan ludah, mundur selangkah dari vas porselen seolah barang itu tiba-tiba jadi berbahaya. "Kalau begitu, hamba permisi menyiapkan teh saja, biar Nona fokus belajar."
Yuxin menatap kepergian Xiao Yan yang buru-buru itu dengan geli, lalu kembali pada Mama Rong. "Baiklah, Mama Rong. Dari mana kita mulai?"
Mama Rong membuka kotak kayu itu, mengeluarkan setumpuk kartas bertuliskan berbagai jenis teh, masing-masing dengan catatan kapan dan untuk siapa teh itu pantas disajikan.
"Dari yang paling mendasar," ucapnya, mengatur kertas-kertas itu di atas meja seperti, "jenis teh apa yang pantas disajikan untuk Yang Mulia Kaisar, dan jenis apa yang justru bisa dianggap penghinaan kalau disajikan pada beliau. Setelah itu, baru kita bicara soal tamu-tamu yang lebih rumit."
"Lebih rumit dari Kaisar sendiri?" Yuxin mengangkat alis.
Mama Rong tersenyum tipis, senyum yang menyiratkan dia sudah bertahun-tahun bermain di dunia penuh intrik istana. "Kaisar itu mudah, Putri Mahkota. Beliau hanya perlu dihormati. Yang sulit itu tamu-tamu yang datang dengan dendam lama atau persaingan tersembunyi. Dan setahu hamba, istana ini penuh dengan orang semacam itu."
Mama Rong mengangkat salah satu kertas, menunjukkannya pada Yuxin. "Ini contohnya. Teh bunga krisan. Terlihat biasa saja, bukan?"
"Terlihat begitu," Yuxin mengangguk.
"Tapi kalau Anda sajikan ini pada Selir Mei dari Paviliun Timur," Mama Rong melanjutkan, "Anda baru saja mengingatkan seluruh ruangan bahwa suaminya meninggal karena diracun lewat teh serupa, tiga tahun lalu. Dia tidak akan marah di depan umum, tapi dia akan mengingatnya seumur hidup, dan mencari cara membalasnya diam-diam."
Yuxin terdiam sejenak, mencerna informasi itu. "Begitu detail?"
"Istana ini dibangun di atas detail-detail semacam itu, Putri Mahkota," Mama Rong meletakkan kartu itu kembali, mengambil yang lain. "Satu lagi, teh molihua. Kedengarannya aman, bukan?"
"Aman menurutku."
"Aman, kecuali kalau disajikan untuk Pangeran Wei dari provinsi selatan," lanjut Mama Rong. "Dia pernah bertunangan dengan seorang gadis bernama Lihua, yang meninggal sebelum pernikahan mereka. Sejak itu, dia tidak tahan mencium wangi bunga molihua sama sekali. Beberapa tahun lalu seorang nyonya rumah tanpa sengaja menyajikan teh itu padanya, dan dia langsung pergi dari jamuan tanpa pamit. Cerita itu jadi bahan gosip seisi istana selama berbulan-bulan."
Dari balik pintu, Xiao Yan yang sedang membawa nampan berisi cangkir dan teko teh, tiba-tiba menyela, "Jadi intinya, Nona harus hafal siapa pernah patah hati karena apa, supaya tidak salah kasih teh?"
Mama Rong menoleh, sedikit terkejut mendengar kesimpulan yang begitu lugas itu, lalu tertawa kecil. "Bisa dibilang begitu, Nak. Kau lebih cepat menangkap intinya daripada beberapa selir yang pernah hamba ajar."
"Hamba kan sering dengar curhatan orang di pasar dulu," Xiao Yan menjawab bangga, meletakkan nampan di meja. "Soal patah hati begini, hamba ahlinya."
"Kalau begitu," Mama Rong menatapnya, mata tuanya berkilat jenaka, "mungkin kau yang seharusnya hamba ajar duluan, baru Putri Mahkota."
Xiao Yan langsung berdiri tegak, berpura-pura serius. "Hamba siap, Mama Rong. Tanya saja, siapa yang patah hati karena apa."
Yuxin menggeleng pelan, menahan tawa melihat tingkah pelayannya yang tidak pernah kehabisan cara untuk mencairkan suasana, bahkan di tengah pelajaran serumit ini.
Mama Rong kembali pada tumpukan kertasnya, mengangkat satu lagi, kali ini wajahnya lebih serius. "Baiklah, ini yang paling penting. Teh oolong tua, disajikan khusus untuk Permaisuri Xuan."
Senyum di wajah Yuxin memudar sedikit, kembali waspada. "Kenapa khusus?"
"Karena itu teh favoritnya sejak muda," Mama Rong menjelaskan, "dan kalau Anda tidak menyajikannya dengan benar di jamuan nanti, dia tidak akan butuh alasan rumit untuk menyalahkan Anda di depan seluruh keluarga istana. Cukup dengan bilang, Anda bahkan tidak tahu selera teh Ibu Suri sendiri."
Yuxin menghela napas pelan, menyadari bahwa di antara semua tamu yang harus dia pikirkan, Permaisuri Xuan tetaplah ujian yang paling berat, bahkan sebelum jamuan itu sendiri dimulai.