Hidup Zheana berubah di saat harus menggantikan sang Kakak menikah. Niken kabur di saat hari pernikahan dengan Khadafi.
Ibunya mengamuk dan malah menyalahkan Zheana atas apa yang terjadi. Zheana bahkan di maki dan di siksa ibunya, Khadafi yang tak tega melihat Zheana membawa dia pergi dari sana.
Mereka tinggal di Apartemen milik Khadafi yang sudah di persiapkan sebelumnya. Rupanya kelembutan Zheana mengubah hati Khadafi dan mulai mencintai istrinya. seperti yang di katakan Umi dan Abinya, jika ini adalah jalan Allah SWT untuk menunjukkan jodoh Khadafi.
Selama pernikahan tak semulus itu, karena ibunya Zheana masih terus membencinya. saat Zheana hamil, rupanya Niken kembali. Apakah Khadafi akan kembali kepada Niken?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zheana 13
"A... apa?!" jerit Bu Irma tak percaya, suaranya melengking pecah. Ego dan rasa tidak terimanya seketika meledak. Tanpa sadar akan situasi, Bu Irma menunjuk Zheana dengan jari gemetaran.
"Pak Haris! Jeng Rina! Nggak bisa gitu dong! Zheana itu bukan anak kandung saya! Dia cuma anak tiri! Dia bukan darah daging saya, cuma anak bawaan Mas Bagas dari almarhumah istri pertamanya! Mana pantas anak tiri macam dia yang menikmati pernikahan mewah ini menggantikan Niken?!"
Keheningan seketika melingkupi ruangan. Seluruh kerabat Khadafy terbelalak mendengar rahasia dan nada hinaan yang terlontar begitu gamblang dari mulut Bu Irma. Pak Bagas mengepalkan tangannya hingga memutih, matanya memerah penuh amarah.
"Irma! Cukup! Jaga mulutmu!" bentak Pak Bagas menggelegar, napasnya memburu kencang.
"Zheana itu anak saya! Anak kandung saya!"
Umi Rina melangkah maju, memotong perdebatan itu dengan ketenangan luar biasa. Beliau menatap Bu Irma dingin tanpa sedikit pun rasa gentar, lalu menghampiri Zheana. Umi Rina memegang kedua bahu Zheana lembut, merengkuh jemari gadis itu yang membeku.
"Anak tiri atau anak kandung, itu tidak mengikis sedikit pun kemuliaan akhlak Zheana," sahut Umi Rina tegas namun lembut, menyapu wajah Bu Irma yang mendadak pias. Beliau lalu menoleh pada Khadafy.
"Sejak awal, Umi sudah merasakan kedamaian saat melihat Zheana. Allah punya cara sendiri untuk menyelamatkanmu dari wanita yang salah, Khadafy."
Khadafy tetap berdiri membisu, rahangnya mengeras rapat. Tatapannya tertuju lurus pada Zheana. Pria itu memilih diam, membiarkan keputusan besar ini berada penuh di tangan orang tuanya dan takdir yang tengah bergeser.
"Khadafy," panggil Abi Haris tegas, menatap putranya secara langsung.
"Bagaimana?"
Khadafy menarik napas panjang. Matanya yang dingin kini beralih menatap Zheana secara lurus. Untuk beberapa detik yang terasa menyiksa, Khadafy hanya diam. Namun, bukannya menolak seperti yang diharapkan Zheana, Khadafy justru mengangguk pelan satu kali dengan wajah amat tenang dan mantap.
"Khadafy menyetujuinya, Abi. Khadafy siap menikahi Zheana pagi ini," ucap Khadafy datar namun pasti.
Zheana seketika lemas. Dunianya serasa runtuh. Harapan terakhirnya agar Khadafy menolak kini sirnah sudah. Pria itu justru dengan begitu mudah menyetujui takdir rumit ini tanpa ragu sedikit pun.
"Tapi... Mas Khadafy... Abi... Umi..." suara Zheana akhirnya keluar, cicitan halus yang bergetar hebat dari bibirnya yang pucat.
"Zheana... Zheana nggak bisa..."
Umi Rina menggenggam erat kedua tangan Zheana yang dingin dan gemetaran. Tatapan mata Umi Rina berubah menjadi begitu hangat, berkaca-kaca, dan sarat akan permohonan yang amat tulus.
"Zheana, Nak... Umi mohon padamu," bisik Umi Rina parau, membelai lembut pipi Zheana.
"Tolong bantu keluarga kami... Tolong selamatkan kehormatan Khadafy dan keluarga besar kita. Umi sangat yakin, Allah memilihmu bukan tanpa alasan. Bantu Umi ya, Nak?"
Pak Bagas pun ikut berjalan mendekati putri bungsunya, berlutut kecil di hadapan Zheana seraya menggenggam jemari bungsunya yang dingin. Air mata Pak Bagas menetes deras di atas tangan Zheana.
"Zheana, Nak... tolong Papa..." bisik Pak Bagas parau, memohon dengan segumpal rasa bersalah dan harapan terakhir.
"Tolong selamatkan kehormatan keluarga kita... Tolong Papa, Nak..."
Dilepaskan permohonan tulus dari Umi Rina dan ratapan pasrah sang ayah, Zheana benar-benar tersudut. Ia tak punya pilihan lain. Suara penolakannya tertahan di tenggorokan, terkunci oleh rasa tak tega.
Keheningan kembali menyergap ruangan. Di tengah gelombang kepasrahan dan permohonan yang mengepungnya, Zheana hanya bisa menunduk dalam-dalam. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes basah membasahi punggung tangannya.
Melihat keraguan hebat dan keputusasaan di raut wajah gadis itu, Khadafy melangkah satu kali mendekat. Tatapan matanya yang tajam dan dingin menatap Zheana lekat-lekat, mencoba mencari kejujuran di balik ketakutannya.
"Zheana," panggil Khadafy dengan suara berat yang menembus hening.
"Jawab jujur. Kenapa kamu begitu keberatan? Apakah kamu sudah punya kekasih... atau ada pria lain yang sedang menunggumu?"
Pertanyaan Khadafy membuat semua orang menahan napas. Zheana mendongak pelan, menggelengkan kepalanya dengan cepat. Mata bahagianya yang meluap oleh air mata menatap Khadafy lurus.
"Nggak ada, Mas... Zheana nggak punya siapa-siapa," bisik Zheana dengan suara bergetar dan parau. Ia menarik napas panjang yang terasa menyiksa di dada.
"Zheana cuma... Zheana cuma nggak mau pernikahan sakral ini cuma dianggap sebagai solusi darurat, sebagai tameng formalitas, atau permainan sementara untuk menyelamatkan muka keluarga... Pernikahan bukan mainan, Mas. Zheana takut..."
Kalimat yang meluncur jujur dari bibir Zheana seketika menampar hati siapa pun yang mendengarnya. Tak ada ambisi harta, tak ada niat memanfaatkan situasi—hanya ada ketakutan tulus seorang wanita akan kesakralan sebuah janji di hadapan Sang Pencipta.
Abi Haris menatap Zheana dengan binar rasa hormat yang kian dalam, sementara Umi Rina memejamkan mata menahan rasa haru yang membuncah. Bahkan Khadafy mengembuskan napas panjang, sorot matanya yang semula dingin melunak pelan, menyadari betapa bersihnya hati wanita di hadapannya ini.
Di saat suasana mengambang dalam ketegangan yang mengharukan, seorang pria paruh baya bertubuh bersahaja melangkah mendekat. Paman Kusno, adik kandung Pak Bagas yang sejak tadi diam menyaksikan di sudut ruangan, menyentuh pundak Zheana dengan kehangatan seorang pengganti orang tua.
"Zheana, anakku... dengarkan Paman sebentar, Nak," panggil Paman Kusno lembut. Suaranya yang tenang membawa kedamaian di tengah badai.
Zheana menoleh, menatap pamannya dengan mata sembab.
"Paman tahu ini sangat berat dan mendadak buat kamu. Kamu merasa ditumpangi beban yang bukan salahmu," ucap Paman Kusno perlahan, matanya ikut berkaca-kaca.
"Tapi lihat Papamu, Nak... lihat Umi Rina dan Abi Haris. Mereka tidak sedang menjadikanmu permainan. Allah tidak pernah salah meletakkan takdir. Kadang, pintu kehancuran dibuka hanya untuk menunjukkan siapa sebenarnya orang yang dikirim Tuhan untuk membawa berkah."
Paman Kusno melirik Khadafy, lalu kembali menatap Zheana.
"Mas Khadafy dan keluarganya datang ke sini dengan niat baik, niat yang tulus untuk menjaga martabat. Kamu bukan pengganti yang asal dicomot, Zheana... Kamu adalah jawaban dari doa-doa yang teraniaya. Jalani ini sebagai ibadah. Paman yakin, kebaikan hatimu tidak akan pernah sia-sia di mata Allah."
Penjelasan Paman Kusno yang begitu bijak dan menyentuh sanubari seketika meluruhkan sisa-sisa pertahanan di hati Zheana. Tangisnya pecah perlahan, bukan lagi karena panik atau tertekan, melainkan rasa pasrah yang merengkuh jiwanya.
Zheana menatap ayahnya yang masih berlutut dengan wajah berurai air mata, lalu menatap Umi Rina yang tersenyum penuh kasih. Ia mengusap air matanya pelan, lalu mengangguk lirih dengan suara yang mantap.
"Bismillahirahmanirrahim... Zheana bersedia, Pa... Abi... Umi..." ucap Zheana tulus dan pasrah.
"Alhamdulillah ya Allah..." bisik Umi Rina langsung memeluk tubuh Zheana erat-erat, menyandarkan kepala gadis itu di dadanya dengan tangis haru yang mengalir deras.
Abi Haris mengusap dadanya seraya menghembuskan napas lega yang panjang.
"Alhamdulillah... Terimakasih, Nak Zheana."
Abi Haris kemudian menoleh ke arah tangga lantai dua, menatap tim MUA yang berdiri terpaku.
"Mbak Siska! Bawa pengantin wanita ke atas sekarang! Waktu kita tidak banyak, rias Zheana dengan sebaik-baiknya!"
"Baik, Pak!" sahut Mbak Siska sigap.
Dengan perlahan, Zheana dituntun menaiki anak tangga menuju lantai dua. Di ruang tamu bawah, Bu Irma hanya bisa terduduk lemas di lantai dengan wajah pias dan mulut terkunci rapat. Ia menatap punggung anak tiri yang selama ini selalu ia tirani dan remehkan, kini melangkah naik untuk mengenakan gaun pengantin mewah, siap bertahta menjadi menantu di keluarga paling terpandang.