NovelToon NovelToon
MENG LIN DI ERA 1970 AN

MENG LIN DI ERA 1970 AN

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:16.9k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Fii

Meng Lin, seorang gadis modern yang baru menyelesaikan pendidikan S2 di bidang sains, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah novel.

Suatu malam, ia tertidur saat membaca novel berlatar tahun 1974. Ketika terbangun, ia justru mendapati dirinya berada di dalam novel tersebut—menjadi Meng Lin, gadis berusia sembilan belas tahun yang memiliki nama sama dengannya.

Meng Lin asli adalah gadis cantik, baik hati, dan lemah lembut. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia tinggal bersama paman, bibi, dan sepupunya, Meng Wan. Meski memiliki nilai sekolah terbaik, kesempatan kerja justru diberikan kepada Meng Wan. Tanpa pilihan lain, Meng Lin dikirim ke desa sebagai pemuda terpelajar.

Lebih menyedihkan, kekasihnya, Tang Qi, perlahan terlibat dengan Meng Wan. Dalam cerita asli, Meng Lin akhirnya menghilang dari kisah, sementara Meng Wan dan Tang Qi menikah.

"Hmm.. Karakter Utama itu akan menjadi milikku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7. Mendaftar ke Desa

Setelah Paman dan Bibi Lin berangkat bekerja, rumah itu akhirnya kembali tenang.

Meng Lin baru keluar dari kamar. Begitu sampai di dapur, langkahnya terhenti. Meng Wan sedang duduk di meja makan sambil menikmati sarapan. Di hadapannya terdapat beberapa panekuk yang masih hangat.

Tatapan kedua sepupu itu bertemu. Meng Lin melirik panekuk di atas meja, kemudian sudut bibirnya terangkat membentuk seringai tipis.

Tidak mengatakan apa-apa, ia hendak melewati meja makan.

Namun, Meng Wan langsung meletakkan sumpitnya. “Kenapa kamu tidak memasak?” tanyanya dengan kesal.

Meng Lin berhenti dan menoleh. “Maksudmu?” tanya Meng Lin balik seolah-olah tidak paham.

“Aku tidak terbiasa sarapan seperti ini.” Nada suara Meng Wan terdengar penuh keluhan. “Kemarin kamu juga tidak memasak. Pagi ini malah tidak membuat sarapan sama sekali.” suaranya mulai meninggi.

Meng Lin menatapnya beberapa detik. Akhirnya sifat asli Meng Wan terlihat juga. Sifat inilah yang sering pemilik tubuh lihat jika tidak ada orang lain di rumah.

Di luar rumah, gadis itu memang pandai sekali berakting. Di hadapan tetangga dan teman-temannya, dia selalu bersikap lembut, rajin, dan seolah-olah menjadi gadis yang paling pengertian di keluarga.

Tapi di depan dirinya sendiri, semuanya berbeda. Meng Lin hampir ingin tertawa.

“Hmm…” Ia menyandarkan tubuhnya sedikit pada kusen pintu. “Memangnya kamu pikir dirimu Tuan Putri yang harus aku layani?” tanyanya dengan nada mencemooh.

Wajah Meng Wan langsung berubah. Dia benar-benar tidak terbiasa dengan sikap Meng Lin yang sering melawannya.

Meng Lin menyeringai. “Cih... kalau mau jadi Tuan Putri, setidaknya kamu harus lebih cantik dariku!” kata-kata itu sangat menusuk.

“Meng Lin...!” Wajah Meng Wan seketika memerah. Tangannya yang memegang sumpit mengepal erat. Kalimat itu tepat mengenai bagian yang paling membuatnya kesal.

Meng Wan memang bukan gadis yang buruk rupa. Bahkan, di lingkungan tempat tinggal mereka, dia bisa disebut cantik.

Namun, setiap kali orang mengetahui bahwa mereka adalah sepupu, perbandingan selalu muncul.

Meng Lin terlalu mencolok. Kulitnya cerah, tubuhnya tinggi dan proporsional, dengan wajah yang memiliki garis lembut tetapi tetap terlihat dingin.

Terlebih lagi ketika dia tersenyum, sebuah lesung pipi kecil akan muncul tepat di bawah bibirnya, membuat wajahnya terlihat semakin menawan.

Hal itulah yang paling membuat Meng Wan iri.

Selama ini Meng Wan selalu berusaha mendapatkan pujian dengan bersikap lembut dan pandai mengambil hati orang lain.

Tetapi Meng Lin tidak perlu melakukan apa pun. Hanya berdiri diam saja, perhatian orang-orang sudah sering tertuju kepadanya.

Meng Lin melihat wajah Meng Wan yang memerah. Dalam hati, ia tertawa kecil.

Benar-benar tidak bisa melawan. Kalau gadis ini memang sebaik yang selalu diperlihatkannya kepada orang lain, seharusnya dia tidak akan semarah ini hanya karena tidak dibuatkan sarapan.

Meng Lin tidak ingin membuang waktunya lebih lama. Ia berbalik hendak pergi.

“Oh, satu lagi. Semangat mengerjakan pekerjaan rumah hari ini.” sahutnya sambil tersenyum kemenangan.

Meng Wan membeku. Dia mana mau mengerjakan semua itu. Dia hanya melakukannya jika ingin mencari perhatian saja.

Meng Lin menoleh dan tersenyum tipis. “Kalau merasa terlalu banyak, kamu bisa meminta teman-temanmu membantu. Bukankah kemarin mereka juga membantumu?"

Wajah Meng Wan semakin buruk. Mana mungkin teman-temannya mau membantu?

Kemarin itu karena Meng Wan sudah mentraktir mereka. Mereka datang untuk bersenang-senang, bukan untuk mengerjakan pekerjaan rumah.

Meng Lin melihat ekspresi Meng Wan dan langsung memahami jawabannya. “Kalau begitu, jangan lupa bekerja keras.” ucapnya seolah memberi semangat, tapi penuh ejekan.

Ia melangkah meninggalkan dapur. Sebelum menghilang di balik pintu, Meng Lin menambahkan dengan santai, “Bagaimanapun, kamu kan terkenal sebagai gadis yang paling rajin di rumah ini.” Langkahnya kemudian menjauh.

Sementara itu, Meng Wan hanya bisa menggertakkan gigi di tempat. Tangannya kembali mengepal.

Untuk pertama kalinya, dia mulai menyadari bahwa sepupunya yang dulu selalu diam dan menurut ternyata tidak mudah dikendalikan.

...----------------...

Setelah meninggalkan rumah, Meng Lin tidak terlalu memikirkan pertengkarannya dengan Meng Wan. Ia berjalan menuju Restoran Negara yang tidak terlalu jauh dari kompleks tempat tinggalnya.

Pagi itu, Meng Lin hanya membeli beberapa bakpao isi daging sebagai sarapan. Setelah membayar, ia membawa bakpao tersebut dan melanjutkan perjalanan.

Hari ini ada hal yang lebih penting untuk dilakukan. Meng Lin harus mendaftarkan diri sebagai pemuda terpelajar.

Meng Lin sudah mengetahui alur cerita novel ini dengan sangat jelas. Tak lama lagi, para pemuda terpelajar dari kota akan mulai didata dan diberangkatkan ke pedesaan, bagi mereka yang tidak punya pekerjaan di kota.

Dan dirinya termasuk salah satu orang yang akan dikirim. Meng Lin tidak berniat menghindari hal itu.

Justru dia ingin mendaftarkan dirinya sendiri sebelum keluarga Lin kembali membuat keputusan untuknya.

Setelah berjalan beberapa saat, sebuah bangunan sederhana akhirnya terlihat di hadapannya.

Di bagian depan terdapat papan nama kantor.

Meng Lin menghabiskan gigitan terakhir bakpaonya, lalu membersihkan tangannya.

Ia kemudian masuk ke dalam. Di dalam kantor terdapat beberapa meja dengan tumpukan dokumen. Beberapa pemuda dan pemudi juga sedang mengantre untuk mengurus pendaftaran.

Seorang petugas yang duduk di belakang meja mengangkat kepala. “Ada keperluan apa?”

“Aku ingin mendaftar sebagai pemuda terpelajar.” ucap Meng Lin setelah duduk.

Petugas itu mengambil formulir. "Apa kamu bawa Dokumen atau buku pendaftaran rumah tangga ?” tanyanya sambil menatap Meng Lin.

Baru pertama kali dia melihat seorang pemuda yang tampaknya sangat santai pergi ke desa. Jika itu pemuda lain, di wajah mereka terlihat jelas, ketakutan, kekecewaan dan kepasrahan.

Meng Lin mengangguk. “Dibawa." Ia mengeluarkan dokumen yang diperlukan dari tasnya dan menyerahkannya. Tentu dia sangat santai, karena itu memang keinginannya.

Petugas memeriksa satu per satu. Setelah memastikan semuanya lengkap, ia menyerahkan formulir kepada Meng Lin.

“Isi bagian ini. Setelah selesai, serahkan kembali.”

Meng Lin menerima formulir tersebut. “Baik.”

Ia mencari tempat duduk kosong di dekat jendela, lalu mulai mengisi data dengan tenang.

Tangannya bergerak tanpa ragu. Tidak ada kecemasan di wajahnya, seperti calon pemuda lainnya.

Dalam cerita aslinya, tubuh ini memang akan dikirim ke pedesaan sebagai pemuda terpelajar. Tetapi bagi Meng Lin, keberangkatan itu bukan akhir.

Saat keluar dari kantor tersebut, Meng Lin bertemu kenalan pemilik tubuh. Seorang gadis dengan rambut pendek, teman duduk saat dirinya masih sekolah.

"Meng Lin...!" serunya dengan semangat..! "Lama tidak bertemu, kami makin cantik saja!" pujinya dengan tulus.

Meng Lin tersenyum, dalam ingatannya gadis itulah satu-satunya yang mau bergaul dengannya.

"Yan Rao!" Meng Lin menyapa balik. "Lama tidak bertemu!"

"Ya. Bagaimana kita bisa bertemu.? Selama lulus sekolah kamu pasti hanya mengurung diri di rumah kan?" tanyanya seraya menebak.

"Kamu sangat mengerti diriku! Tapi ngomong-ngomong siapa beliau? Kenapa kalian ada di sini?" tanyanya sambil menatap wanita di samping Yan Rao.

Seorang wanita paruh baya yang datang bersama dengan Yan Rao. Yan Rao menatap Meng Lin sejenak, dia merasa sangat berbeda, kali ini dia mau berbicara lebih banyak.

"Hei.. Kenapa melamun?" wanita itu menepuk pundak Yan Rao dengan pelan.

"Heheh.. Oh Lin Lin.. Kenalin, ini Ibuku." jelasnya "Ibu ini Meng Lin yang sering aku ceritain, teman sekelasku dengan nilai terbaik!"

"Oh ternyata Nak Lin Lin.. Rao'er sudah cerita banyak tentangmu!" sahut wanita itu..

"Halo Bibi, salam kenal!" Sapa Meng Lin sambul tersenyum. Dalam ingatannya, Yan Rao sering mengajak main ke rumahnya, tapi pemilik tubuh menolak dengan alasan pekerjaan rumah.

"Ya. Gadis yang sangat cantik!" pujinya. "Oh kami datang untuk mendaftarkan Rao'er, dia harus pergi ke Desa!" ujarnya.

Yan Rao tersenyum kecut, "Hmm.. Sangat sulit dapat pekerjaan, jadi tidak ada pilihan lain. Lin lin, entah kapan kita bisa bertemu lagi..!"

"Aku baru saja mendaftar!" sahut Meng Lin.

"Mendaftar untuk ke Desa?" tanya Yan Rao terkejut. "Lin lin jangan bercanda, nilaimu sangat bagus..! Apa Pamanmu tidak mencari kanmu pekerjaan?"

"Ada. Tapi cuma ada satu kuota..!" jelasnya dengan jujur.

Yan Rao terdiam. Tanpa penjelasan lanjut, dia tahu untuk siapa kuota kerja itu. "Pamanmu sangat pilih kasih!"

"Ya. Kamu tau itu...!" balas Meng Lin dengan santai.

"Kalau begitu kamu ke wilayah mana? Aku mau satu Brigade denganmu!" Yan Rao sangat bersemangat, setidaknya dia ada kenalan.

.

.

.

.

1
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat
yang banyak update nya Thor 👍😀
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
Didi Wahyudi
niubi
nengnong
meng Lin ke kota cuma mau beli kemoceng 🤔🤦
nengnong
💪💪
Musdalifa Ifa
klo boleh request Thor tolong upnya dibanyakin🙏🤭🤭🤭
Fauziah Daud
lanjuttt
Fauziah Daud
terus sehat n lanjut
Heni Setiyaningsih
tetap sehat dan semangat
next double up ya Thor 😁
Musdalifa Ifa
tambah up Thor 🙏
Kia Zahra
tes dulu
Fauziah Daud
lanjuttt
Heni Setiyaningsih
tolong tambah lagi upload nya kurang klo 1 bab
Andira Rahmawati
thorr knp up nya cuma satu eps aja..double up lagi dong thorrr👍👍🙏💪
Fauziah Daud
terus sehat
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt
update nya kurang banyak Thor 😀👍
Kusii Yaati
kurang banyak Thor 🤗
Fii
maaf jarang update. kurang sehat 🙏🙏
Musdalifa Ifa: semoga cepat sembuh thor💪
total 1 replies
Fauziah Daud
trusemangattt
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat biar bisa update setiap hari 😍😀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!