NovelToon NovelToon
OTAK SUPER SANG DOKTER IDIOT

OTAK SUPER SANG DOKTER IDIOT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Di balik tatapan kosong dan cemoohan sebagai "dokter idiot" yang selalu diremehkan di rumah sakit elit, Arka Prasetya sebenarnya menyimpan kejeniusan otak super serta sertifikasi bedah internasional yang tidak diketahui siapa pun. Ketika hidupnya terus diinjak-injak oleh para dokter senior yang arogan dan terjebak dalam perjodohan tak terduga dengan Clara, seorang pewaris konglomerat yang angkuh, Arka perlahan mulai menunjukkan taringnya lewat operasi-operasi mustahil yang akan memberikan tamparan telak bagi siapa saja yang berani merendahkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28

Matahari siang menyinari halaman Rumah Sakit Medika Sentosa dengan terik.

Suasana di dalam ruangan kerja kepala divisi bedah darurat terasa sangat sibuk.

Siska meletakkan setumpuk dokumen ekspansi rumah sakit di atas meja Arka.

"Semua proposal perluasan kerja sama regional sudah ditandatangani, Arka," ucap Siska tersenyum.

Arka menutup berkas laporan di depannya dengan gerakan santai.

"Baguslah, kalau begitu kita bisa mulai tahap ekspansi minggu ini," balas Arka tenang.

Clara melangkah masuk ke ruangan dengan membawa secangkir kopi hangat.

"Ekspansi ini membuat nilai saham rumah sakit melesat naik tajam," kata Clara bangga.

"Keluarga Handojo dan aliansi pusat pasti sedang gigit jari sekarang," tambah Clara tertawa kecil.

Arka menerima secangkir kopi dari tangan Clara sambil tersenyum tipis.

"Mereka tidak cuma gigit jari, tapi sedang merencanakan sesuatu yang lebih nekat," duga Arka dingin.

[Sistem Mendeteksi Aktivitas Mencurigakan Dari Sisa Aliansi Pusat]

[Peringatan: Ancaman Terakhir Menuju Babak Akhir Arc Pertama]

Suara notifikasi bernada datar berderik pelan di dalam kepala Arka.

Siska mengerutkan keningnya cemas mendengar peringatan dari Arka.

"Maksudmu, sisa-sisa anak buah Barata masih berani membuat kekacauan?" tanya Siska khawatir.

"Orang yang sudah kehilangan segalanya biasanya menjadi paling berbahaya," jawab Arka santai.

Tiba-tiba, suara alarm darurat berbunyi nyaring di luar gedung rumah sakit.

Wiu... wiu... wiu...

Siska langsung berdiri kaget mendengar suara sirine tersebut.

"Ada apa lagi itu di luar?" gumam Siska panik.

Seorang perawat IGD berlari masuk tanpa mengetuk pintu ruangan.

"Dokter Arka! Gawat! Ada sekelompok preman bayaran mengamuk di lobi utama!" lapor perawat itu terengah-engah.

Clara mengepalkan kedua tangannya karena emosi.

"Pasti ini ulah sisa-sisa aliansi pusat yang ingin balas dendam!" geram Clara kesal.

Arka berdiri dari kursinya dengan wajah tanpa beban sedikit pun.

"Mari kita sambut tamu tidak diundang itu di bawah," ajak Arka tenang.

Mereka bertiga berjalan keluar ruangan menuju lantai dasar rumah sakit.

Setibanya di lobi utama, suasana tampak sangat kacau dan tegang.

Beberapa pot bunga hias hancur berserakan di atas lantai marmer.

Sepuluh orang preman berbadan kekar dengan tato di lengan memegang tongkat baseball.

Seorang pria paruh baya berjas kusut berdiri di tengah-tengah gerombolan preman tersebut.

Pria itu adalah wakil direktur aliansi pusat yang lolos dari penangkapan kemarin bernama Herman.

"Keluar kamu, Arka si dokter palsu!" bentak Herman dengan suara serak penuh amarah.

Arka berjalan santai menembus kerumunan perawat dan pasien yang ketakutan.

"Aku sudah di sini, tidak usah berteriak merusak fasilitas umum," jawab Arka dingin.

Herman melotot tajam menatap Arka dengan sorot mata penuh kebencian membara.

"Kamu sudah menghancurkan karier rekan-rekanku, sekarang giliran rumah sakit ini yang kubuat hancur!" ancam Herman.

"Serang mereka semua sampai rata dengan tanah!" perintah Herman kepada para preman bayarannya.

Prang!

Para preman itu mengayunkan tongkat baseball maju menyerang secara membabi buta.

Clara hendak melangkah maju untuk memanggil petugas keamanan tambahan.

Namun Arka menahan lengan Clara dengan gerakan lembut.

"Biarkan aku yang membereskan sampah-sampah ini," bisik Arka tenang.

Arka melangkah maju satu langkah menghadapi gelombang preman yang berlari ke arahnya.

Swish!

Ayunan tongkat baseball pertama meluncur deras mengarah ke kepala Arka.

Arka sedikit memiringkan kepalanya dengan sangat elegan menghindari pukulan tersebut.

Pluk!

Arka menepuk tepat di bagian titik saraf leher preman pertama dalam sekejap.

Bruk!

Preman berbadan besar itu langsung tersungkur pingsan tanpa perlawanan berarti di lantai.

[Sistem Mendeteksi Pergerakan Fisik Musuh Tingkat Rendah]

[Mengaktifkan Mode Pertahanan Efisiensi Maksimal]

Suara notifikasi berderik pelan di dalam kepala Arka.

Preman kedua dan ketiga menyerang secara bersamaan dari arah samping.

Arka berputar ringan lalu melayangkan dua tendangan kilat secara beruntun.

Bugh! Bugh!

Tubuh kedua preman itu terpental mundur menabrak dinding lobi dengan keras.

Herman melihat anak buahnya tumbang dengan sangat mudah dalam waktu kurang dari sepuluh detik.

Wajah Herman berubah menjadi pucat pasi ketakutan setengah mati.

"M-monster... anak ini benar-benar monster..." gemetar Herman mundur ke belakang.

Arka melangkah perlahan mendekati Herman dengan senyuman dingin di bibirnya.

"Mau lari kemana lagi, Tuan Wakil Direktur?" tanya Arka mengejek.

Herman tersandung kakinya sendiri lalu jatuh terjengkang di atas pecahan pot bunga.

"Jangan... jangan apa-apakan aku...!" rintih Herman ketakutan melihat sorot mata Arka.

Siska dan Clara menyaksikan aksi luar biasa itu dengan rasa takjub yang mendalam.

"Dia benar-benar tidak terkalahkan," bisik Siska kagum.

Pintu utama rumah sakit terbuka lebar menampilkan kedatangan polisi bersenjata lengkap.

Tim satuan pengaman khusus tiba tepat waktu setelah dihubungi oleh sistem keamanan rumah sakit.

"Tangkap semua preman bayaran itu beserta dalangnya," perintah Arka kepada kepala polisi.

Polisi langsung memborgol Herman dan anak buahnya yang masih terkapar di lantai.

Herman menangis histeris diseret keluar dari lobi rumah sakit.

Ancaman terakhir dari sisa aliansi pusat berhasil dihancurkan sepenuhnya hari ini.

Arka merapikan sedikit kerah bajunya lalu berbalik menghadap Clara dan Siska.

"Masalah kecil sudah selesai, mari kita kembali bekerja," ucap Arka santai.

Clara tertawa kecil menggelengkan kepalanya melihat ketenangan luar biasa dari Arka.

"Kamu benar-benar tidak ada tandingannya, Arka," puji Clara tulus.

Perjalanan Arka menuju puncak kekuasaan medis kini semakin dekat menuju garis akhir.

1
Shinta geol
karya yang bagus dan masuk ke dalam alur
Shinta geol
salut sama sikap thor yang tenang menguasai keadaan,saya kasih vote lah biar rame😍
Shinta geol
kasihan si arka selalu dekerjain para dokter lain nya😭
setiawan
motivasi hidup,saya kasih bintang 5
Jangkar pion
🥰😍🤩
Anton barly
saya suka karakter Thor🤗
gofur
karya yg menarik
yani
😶‍🌫️
fitri
motivasi untuk org normal biar tambah wawasan
fitri
hebat nya orang idiot tpi otak melebihi orang normal👍
Angel
sangat berkesan untuk orang nornal biar tambah semangat dalam bekerja💪
Angel
walaupun banyak yang hina tpi dia tidak runtuh sama sekali👍👍👍
Anton barly
orang idiot aja masih punya musuh,apalagi dia normal
Anton barly
orang pintar walaupun udiot masih aja punya musuh
fitri
sikap thor yang tenang menghadapi masalah👍
pricilia
jangan meremehkan orang yang memiliki kekurangan,belum tentu orang kekurangan itu di bawah batas kita,saya sadar orang normal belum tentu baik😒
clara
sangat bagus
clara
saya suka alur crita nya saya kasih vote 1 deh biar bisa lanjut baca nya😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!