Rasa yang tidak seharusnya ada itu kian tumbuh pada Carol, dari sebuah kekaguman berubah menjadi cinta. Carol mengubur semua itu dalam-dalam karena cinta itu tidak akan pernah bisa dia gapai. Sampai suatu hari dimana ternyata semesta seperti memberinya sebuah kesempatan. Dan Carol tidak mau menyia-nyiakannya, dia berjuang mendapatkan sesuatu yang sebelumnya terasa sangat mustahil itu. Dia mengambilnya meski harus menghadapi banyaknya sudut pandang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MeNickname, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Hari berganti, seperti rencananya kemarin Carol benar-benar pergi bersama Lucas kali ini.
Dia dijemput oleh pemuda itu di lobi, Lucas memutari mobil dan membukakan pintu untuk Carol. Dengan senyum tipisnya gadis itu masuk ke dalam mobil tanpa protes.
Rencananya Lucas akan membawa Carol ke salah satu taman hiburan terdekat terlebih dahulu barulah mereka pergi nonton ke bioskop.
Selama disana Carol terlihat senang sekali, dia mencoba berbagai wahana permainan yang memacu adrenalinnya, membeli permen kapas, membeli es krim dan juga membeli berbagai makanan yang terlihat unik untuknya. Lucas sudah seperti mengasuh anak kecil saja.
"Gimana? Masih mau lanjut?" tanya Lucas saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Lanjut lah."
Lucas tersenyum mendengarnya, gadis yang sangat mencuri perhatiannya dari sejak kuliah ini sepertinya sudah mulai nyaman dengannya.
Namun, tanpa Carol ketahui ternyata ada yang sedang mengikutinya dan bahkan melaporkan semua hal yang dia lakukan pada seseorang yang sedang dalam perjalanan pulang.
...----------------...
Hari senin pun tiba dan weekend pun selesai, kali ini Carol pergi ke kantor menggunakan mobil lagi.
Dia terlihat sangat ceria, semua orang yang berpapasan dengannya mendapatkan senyuman cantiknya.
Tapi tidak untuk Andrew yang tiba-tiba saja ikut masuk lift bersamanya, entah pria itu datang darimana.
"Kita harus bicara." ucap Andrew sambil menatap ke arah lain.
Carol melengos, dia tetap diam sampai pintu lift terbuka, "Tidak ada yang perlu dibicarakan, Tuan."
Namun diluar dugaan, Andrew malah menyeretnya ke dalam ruang kerjanya.
"Lepasin!" Carol memberontak, tapi tenaganya tidak cukup kuat.
brak.
Pintu itu tertutup dari dalam, Jenn yang melihat semua adegan itu terlihat mengepalkan tangannya.
"Semua ini gara-gara dia!" marahnya, dia mulai mengingat kejadian malam itu dan betapa dinginnya sikap Andrew setelahnya. Kali ini Jenn benar-benar marah.
Sementara di dalam, Andrew tengah menatap Carol dengan penuh selidik.
"Anda bahkan belum melihat hasil dari pekerjaan saya selama anda pergi, tapi saya malah sudah dipanggil duluan."
"Cukup, Carl. Akhir-akhir ini kau selalu menghindariku. Dan yang lebih parahnya lagi nomorku juga kau blokir. Kenapa?"
"Tuan, dengan siapa saya berkomunikasi dan nomor siapapun yang saya tolak ituadalah hak saya."
Jawaban yang terdengar biasa saja namun cukup menusuk untuk Andrew, "Dan lagi, kenapa kau masih menemui pemuda itu?"
"Itu juga, dengan siapa saya bertemu itu adalah hak saya."
"Carol!"
"Sudah jelas kan Tuan? Kalau begitu saya permisi."
Melihat respon Carol yang sedingin itu membuat Andrew marah, dia menangkap tangan Carol yang ingin meraih pintu dan mencengkramnya dengan erat.
Carol pun tidak tinggal diam, dia menghempaskan tangan besar itu meski kalah tenaga.
"Aku butuh jawaban, Carl! Bukan seperti ini!"
"Jawaban? Baiklah pertama, kenapa saya menghindari anda itu karena anda sendiri yang meminta. Lalu yang kedua, bukankah itu adalah saran anda? Anda yang menawari saya untuk mencarikan saya pacar. Tapi setelah saya pikir-pikir sepertinya lebih baik saya sendiri saja yang mencari. Apa salah?"
Cengkraman Andrew melemah mendengar jawaban yang tenang dari Carol. Gadis itu tidak pernah seperti ini.
Melihat reaksi Andrew gadis itu langsung melepaskan tangannya dan pergi.
"Saya permisi." ucapnya.
Setelah pintu tertutup dari luar Carol terlihat mengepalkan tangannya, amarahnya serasa ingin meledak saat itu juga. Dia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Andrew.