Sekuel keempat dari buku Sebelumnya: 'Cinderela Ubi Rebus, Kutukan Mbah Golok Sakti dan Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO'.
Menghadapi operasi bedah jantung? dr. Rahsya ahlinya. Tapi dipaksa jadi bidan sapi persalinan tengah malam oleh preman kampung berkolor tali rafia? Itu bencana!
Liburan tenang Rahsya di Desa Ci Sepi berubah total menjadi arena pawai hantu sejak ia menolong seorang anak kecil bernama Nathan.
Di tengah kekacauan mistis dan hilangnya para warga secara tragis, hadir Amel—gadis berisik yang selalu merepotkan namun berhasil mengacaukan detak jantung dokternya. Bisakah sang dokter rasional bertahan hidup, atau jiwanya akan tertinggal di dimensi lain telaga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. PATAH HATI DAN TEKA-TEKI TELAGA
"Nggak, Pak. Saya biasa-biasa saja," jawabnya cepat sembari membetulkan letak tas medis di bahunya.
Padahal, di dalam hati, ia sudah menghitung jam agar bisa segera menemui Kinanti.
"Oh, gitu ya. Ngomong-ngomong, singkong dari saya sudah dimasak belum, Pak?" tanya Pak Udin, beralih ke topik kebanggaannya.
Rahsya meringis, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan tawa kikuk. "Hehe, belum sempat, Pak. Masih di dapur."
"Waduh, jangan dianggurin doang! Itu singkong pilihan, Pak. Kalau direbus, beuh... pulennya minta ampun!"
Pak Udin mulai berceramah panjang lebar tentang teknik merebus singkong yang sempurna.
Rahsya hanya mangut-mangut, namun langkahnya melambat saat mereka melintasi area telaga. Matanya tertuju pada pohon beringin raksasa itu.
Di sana, rumah kayu sederhana milik Kinanti masih berdiri tegak. Rahsya mengembuskan napas lega; rumah itu nyata, bukan halusinasi tidurnya. Meski terlihat sepi tanpa aktivitas, keberadaan bangunan itu cukup menenangkan hatinya. Ia pun memacu langkah menyusul Pak Udin, berjanji dalam hati akan mampir setelah tugasnya selesai.
Namun, suasana hati Rahsya yang berbunga-bunga langsung layu saat sampai di rumah Pak Galih. Ia tertegun melihat seorang wanita tua terbaring lemah dengan separuh tubuh kaku akibat serangan stroke.
"Aduh, ini sih sudah parah, Pak. Sebaiknya segera dibawa ke rumah sakit," ucap Rahsya sambil melepas stetoskopnya, raut wajahnya berubah serius dan penuh iba.
Pak Galih menghela napas berat, matanya berkaca-kaca. "Kalau bisa, sudah saya bawa dari dulu, Pak Dokter. Tapi saya hanya petani serabutan. Biaya rumah sakit itu... buat saya seperti mimpi buruk."
Dialog berlanjut tentang sulitnya akses birokrasi di Desa Ci Sepi sejak para perangkat desanya "menghilang" secara misterius.
Rahsya terdiam, nuraninya bergejolak. Ia tidak bisa diam saja. Dengan mantap, ia merogoh ponselnya dan menghubungi sang ayah, direktur rumah sakit besar di kota.
Setelah percakapan singkat namun
tegas dengan ayahnya, Rahsya kembali menghampiri Pak Galih dengan binar harapan di matanya.
"Pak, sekarang sebaiknya Bapak siapkan keperluan istri Bapak. Kita bawa beliau ke vila saya dulu. Sebentar lagi ambulans akan datang."
"Maksudnya apa, Pak Dokter?" Pak Galih bertanya bingung, seolah tak percaya.
"Begini, Pak. Saya baru saja bicara dengan papa saya. Beliau mengizinkan Ibu dirawat di rumah sakit kami, dan beliau sendiri yang akan menanggung semua biaya pengobatannya sampai tuntas. Bapak tidak perlu memikirkan biaya lagi," jelas Rahsya sambil menepuk bahu Pak Galih dengan mantap.
Pak Galih jatuh terduduk, tangisnya pecah mendengar kebaikan sang dokter. Di tengah suasana haru itu, Rahsya melirik ke arah jendela yang menghadap ke arah telaga, bertanya-tanya apakah Kinanti melihat perbuatannya dari kejauhan.
Setelah Pak Udin dan Pak Galih menggotong Bu Ipah menggunakan tandu bambu menuju vila, Rahsya sengaja memperlambat langkah. Ia berdalih ada "urusan mendesak" yang tertinggal, padahal hatinya sudah meloncat lebih dulu ke rumah kayu di pinggir telaga itu.
****
Setibanya di depan rumah Kinanti, Rahsya merapikan kerah kausnya sejenak. Dengan langkah mantap namun penuh debar, ia mengetuk pintu kayu yang tampak kusam itu dengan irama teratur.
Tok, tok-tok, tok-tok!
Persis seperti cara membangunkan sahur, tetapi versi paling lembut bin merdu yang ia bisa.
"Assalamualaikum..." ucapnya, sengaja diberat-beratkan agar terdengar seperti qari yang sedang tilawah.
Hening. Hanya suara gesekan daun beringin dan riak air telaga yang menyahut.
"Kinan... Kinanti? Ini saya, Rahsya," panggilnya lagi sembari mengetuk sedikit lebih keras.
Rahsya mulai gelisah. Ia celingukan, mencoba mengintip dari celah jendela kayu yang tertutup rapat.
"Apa dia lagi keluar? Kerja? Atau jangan-jangan lagi ke pasar?" gumamnya heran.
Mengingat usia Kinan yang hanya terpaut dua tahun darinya, kecil kemungkinan gadis itu masih sekolah, meski wajah imutnya memang menipu.
'Kok sepi amat ya? Orang tuanya juga pada ke mana? Apa dia tinggal sendirian di sini?' batin Rahsya mulai dipenuhi tanda tanya.
Rumah itu terasa mati, seolah tidak ada hawa kehidupan di dalamnya, bahkan debu tebal terlihat menempel di gagang pintunya.
"Ck. Pulang saja kali ya," keluhnya dengan bahu merosot.
Hatinya sedikit kecewa karena gagal menemui "calon istri idaman" di pagi yang cerah ini. Ia juga sadar tidak enak membiarkan Pak Galih dan ambulans menunggu lama di vila.
Rahsya mempercepat langkahnya menuju jalan beraspal di depan vila. Matanya seketika berbinar saat menangkap sosok familiar yang berjalan anggun dari arah berlawanan. Itu dia! Gadis pemberi "kado bebek" yang semalam ia antar pulang.
Sontak, Rahsya memamerkan senyum lebarnya yang paling menawan. Ia mengangkat tangan tinggi-tinggi, melambai-lambaikan jemarinya dengan semangat dari kejauhan, seolah ingin menunjukkan bahwa dunianya mendadak cerah karena kehadiran gadis itu.
"Kinan—"
Panggilan itu tertahan di ujung lidah. Gadis itu terus melangkah maju tanpa mengurangi kecepatan.
Saat jarak mereka hanya tersisa dua meter, alih-alih membalas senyuman Rahsya, ia justru melirik sekilas dengan tatapan asing.
Sebelah alisnya terangkat tinggi, menunjukkan raut heran seolah-olah Rahsya adalah orang asing—atau mungkin orang aneh—yang tiba-tiba menyapanya di pinggir jalan.
Tanpa sepatah kata pun, gadis itu melewatinya begitu saja. Aroma melati yang semalam begitu pekat, kini tak tercium sedikit pun, digantikan oleh aroma sabun cuci yang biasa.
Tangan Rahsya menggantung kaku di udara. Senyumnya pudar seketika, berganti dengan ekspresi bingung yang telak. Ia mematung, menatap punggung gadis itu yang terus menjauh tanpa menoleh lagi. Perasaannya campur aduk; malu, bingung, dan sesak secara bersamaan.
Apakah semalam itu hanya mimpi? Ataukah gadis ini memiliki saudara kembar yang sangat mirip?
Rahsya baru saja hendak berbalik dan memanggil namanya dengan lantang, namun raungan sirene yang membelah keheningan desa membatalkan niatnya.
Wiuuu... wiuuu... wiuuu...
Suara ambulans yang ia pesan sudah terdengar mendekat, menandakan petugas medisnya telah menanti. Rahsya mengembuskan napas berat, menurunkan tangannya dengan lesu, lalu terpaksa membuang muka dari punggung Kinanti untuk menyambut tim medis yang baru saja tiba di depan vila.
****
Siang harinya, Rahsya tetap menjalankan aktivitas di klinik garasinya, meski hatinya terasa seperti ruangan kosong yang berdebu. Rasa bahagia yang tadi pagi meluap-luap kini menguap tak berbekas, menyisakan kehampaan yang menyesakkan dada.
Suara langkah kaki dari arah depan memecah keheningan yang suram itu.
"Silakan masuk," ucap Rahsya tanpa gairah.
Ia mendongak dan sedikit tersentak. Ternyata Amel.
Gadis itu berdiri di ambang pintu dengan raut wajah yang tak biasa. "Ada yang bisa dibantu enggak?" tanya Amel tulus.
Kali ini ia berusaha mati-matian bersikap datar dan tidak "cari muka" seperti biasanya. Sepertinya, Amel mulai paham kapan harus berhenti menggoda sang dokter.
"Enggak perlu. Hari ini sepi, enggak ada pasien," jawab Rahsya, tetap ketus meski volume suaranya merendah.
Rahsya bangkit, melangkah keluar dari meja periksanya untuk melepas masker. Ia menarik napas dalam, mencoba mengisi paru-parunya dengan oksigen yang terasa berat.
Sambil menyandarkan punggung pada dinding tembok yang dingin, matanya menatap kosong ke arah jalanan, memperhatikan satu-dua motor warga yang berlalu-lalang di bawah terik matahari Ci Sepi.
Amel terdiam di belakangnya, memperhatikan bahu Rahsya yang tampak lunglai. Ia bisa melihat ada beban besar yang mendadak hinggap di wajah tampan itu. Namun, raut wajah Rahsya tiba-tiba berubah tegang saat sosok Kinan kembali terlihat berjalan melewati aspal jalanan. Seperti sebelumnya, gadis itu melintas tanpa melirik sedikit pun ke arah garasi.
Amel yang sejak tadi mengamati gerak-gerik itu akhirnya mendekat dan bertanya langsung ke intinya.
"Kakak suka ya sama kakak saya?"
Rahsya tersentak hebat. Ia menoleh dengan gerakan patah-patah ke arah Amel. "Kakak? Jadi dia itu... kakak kamu?" tanya Rahsya, syok berat hingga suaranya serak.
Amel mengangguk mantap. "Iya, dia kakak sepupu aku. Tapi aku saranin Kakak jangan naksir sama dia. Soalnya dia sudah nikah sama Kang Rahman, pegawai negeri yang kerja di kota."
Deg!
Bahu Rahsya merosot seketika. Dunianya serasa runtuh. Ia hampir saja limbung jika tangannya tidak cepat-cepat mencengkeram kusen pintu garasi.
"Apa?! Jadi... dia sudah menikah?"
"Iya. Kenapa Kakak kayak kaget gitu?" tanya Amel heran melihat reaksi berlebihan pria di depannya.
"Ah, saya enggak kaget. Cuma syok!" bantah Rahsya dengan logika yang sudah berantakan.
"Syok? Kenapa harus syok?"
"Sudahlah, enggak penting! Enggak usah dibahas lagi!"
Rahsya mencoba mengalihkan pembicaraan untuk menutupi rasa malunya yang selangit. "Kalau dia kakak sepupu kamu, kenapa kamu malah 'numpang' hidup di vila saya?" cecar Rahsya, seolah Amel adalah penyusup yang sudah tinggal di sana sejak zaman purba.
Amel mendengus, merasa terpojok. "Aku enggak mau di sana karena dia sudah berkeluarga dan tinggal sama mertuanya. Kakak saya itu bukan asli sini, dulu memang sempat tinggal di rumah kakek-nenek, tapi berhubung kakek-nenek lagi ke luar kota, aku dititipin ke sini."
Rahsya hendak memotong, namun Amel lebih cepat. "Terus di rumah mertua kakak aku itu enggak ada kamar kosong lagi. Suaminya punya tiga adik, belum lagi pembantu. Dan satu lagi biar jelas, aku ogah menginap di sana karena dua adik laki-laki suaminya itu enggak tahu etika!"
Rahsya terdiam, kepalanya mendadak pening luar biasa. Jika Kinan yang tadi lewat adalah kakak sepupu Amel yang nyata dan sudah menikah, lalu siapa sosok misterius yang ia obati di kamar semalam?
Siapa gadis yang memberinya "kado bebek" sepuluh tahun lalu dan menghilang secara misterius di pinggir telaga dengan rumah kayu yang tiba-tiba muncul?