Shevi (20 tahun) adalah pemuda miskin di Jakarta yang menyambung hidup sebagai buruh cuci motor panggilan. Sudahlah dihina dan dicampakkan oleh pacarnya karena dianggap tidak punya masa depan, emaknya pun terancam diusir dari kontrakan petak karena menunggak tiga bulan.
Di titik terendah hidupnya, sebuah mukjizat datang lewat "Sistem Poin Keberkahan".
Setiap kali Shevi bersabar dari hinaan, bekerja jujur, dan ikhlas menolong sesama di kerasnya ibu kota, dia akan mendapatkan Poin Keberkahan yang bisa ditukar dengan uang tunai atau kemampuan ajaib. Berbekal jalur langit ini, Shevi merangkak naik membalikkan takdir dari buruh jalanan menjadi miliarder nomor satu di Jakarta!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyyy ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keringat di Bawah Hidrolik
Keesokan paginya, tepat pukul sembilan, Jalan Raya Daan Mogot dipadati oleh riuh kendaraan. Di tengah kepulan asap dan debu jalanan yang memanas, sebuah truk bak sedang berlogo perusahaan logistik milik Gita memperlambat lajunya, lalu menepi di halaman parkir ruko Shevi.
Di atas bak truk besi tersebut, lima unit motor bebek operasional kurir tampak berjajar dengan kondisi mengenaskan. Tumpukan debu tebal, kerak lumpur kering bekas banjir di sela-sela blok mesin bawah, hingga bodi plastik yang retak dan diikat karet memperlihatkan betapa kerasnya kendaraan itu dipaksa membelah jalanan ibu kota setiap hari.
Dika membantu sopir truk menurunkan kelima motor tersebut satu per satu menggunakan ramp besi tebal. Setelah truk melaju pergi, Dika berjongkok di samping motor pertama. Dia membuka penutup oli, memeriksa bagian kolong mesin, lalu menoleh ke arah Shevi dengan raut khawatir.
"Shev, ini parah banget, Bro," tutur Dika seraya menyeka tangannya yang berlepotan oli pekat. "Dua motor bebek ini knalpotnya mengeluarkan asap putih parah, ring pistonnya pasti sudah K.O. atau dinding linernya baret. Dua motor lagi kelistrikannya korslet total gara-gara terendam banjir, dan yang satu ini transmisinya macet, sama sekali tidak bisa masuk gigi. Kalau kita beli semua suku cadang original ini di toko grosir umum Daan Mogot dengan harga eceran, modal kita tidak akan cukup!"
Shevi melangkah mendekat, sepasang matanya menatap tajam ke arah deretan motor operasional tersebut. Pengalaman dan keahlian mekanik yang tersimpan di kepalanya langsung menyusun daftar kerusakan teknis secara terperinci beserta estimasi komponen yang harus dibeli.
Dika benar, tingkat kerusakan kelima motor ini berada di atas rata-rata. Gita tampaknya sengaja memilih armada yang kondisinya paling kritis dari gudang untuk menguji kelayakan dan kapasitas bengkel baru ini secara langsung.
Di balik pembawaannya yang terkontrol, Shevi menghitung sisa kas di dompetnya yang berada di angka dua juta seratus lima puluh ribu rupiah. Menghadapi lima motor rusak parah ini adalah pertaruhan kelangsungan bisnis barunya. Namun Shevi harus tetap menjaga ketenangan agar Dika tidak kehilangan fokus.
"Kita tidak punya alasan untuk mundur, Dik," sahut Shevi, menatap sahabatnya dengan mantap. "Kalau kita menyerah sekarang, pra-kontrak kemarin langsung hangus, dan ruko dari Pak Teguh ini cuma jadi tempat kosong. lu nggak usah pusing memikirkan pembagian modal onderdil, itu bagian gua yang selesaikan. Sekarang, lu urus dua motor yang kelistrikannya korslet dulu. Bersihkan konektor yang kemasukan air pakai bensin dan kompresor. Biar gua yang turun mesin untuk dua motor yang berasap putih."
Ketegasan Shevi meluruhkan keraguan Dika.
"Siap, Shev! Gua urus kelistrikannya sekarang juga!" seru Dika, langsung menyambar kotak perkakasnya.
Shevi segera mendorong salah satu motor ke atas unit hidrolik pengangkat. Dia menekan tombol manual, dan hidrolik besi tersebut perlahan terangkat setinggi dada. Shevi mengambil kunci pas ukuran dua belas dan mulai membuka bagian blok silinder mesin dengan gerakan cepat dan presisi.
Otot lengannya bekerja keras menghadapi baut-baut blok mesin yang sudah berkarat. Kulit tangannya sempat tergores pinggiran sasis yang tajam hingga merembeskan darah tipis, namun Shevi menahannya tanpa merintih. Dia melepas kepala silinder, menarik keluar komponen piston yang baret, dan memeriksa bagian dinding linernya.
Baret pada linernya ternyata masih tipis. Tidak perlu korter ulang, cukup ganti ring piston baru dan satu paket piston ukuran standar, analisis Shevi seraya membersihkan sisa oli hitam di bak mesin menggunakan kain lap.
"Dik! Gua jalan keluar sebentar ke toko grosir suku cadang untuk beli komponen piston, ring, dan beberapa kabel bodi baru. Lu lanjutkan membersihkan kerak mesin dua motor sebelah!" seru Shevi sambil menyambar kunci motor matic tuanya.
"Sip, Shev! Hati-hati di jalan!" balas Dika setengah berteriak di antara deru kompresor.
Shevi melesat membelah terik matahari menuju toko grosir onderdil terbesar di kawasan Daan Mogot. Di toko yang dipadati antrean montir itu, Shevi sabar mengantre sebelum menyebutkan seluruh kode komponen suku cadang asli pabrikan dengan fasih dan akurat tanpa melihat buku panduan.
"Total semuanya jadi satu juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah, Mas. Ini barang original semua, potongan diskon dapet sepuluh persen sesuai kuota bengkel umum," ucap pelayan toko seraya menyerahkan kantong onderdil.
Shevi membayar pembelian tersebut secara tunai. Sisa uang tunai di kantongnya kini menyusut. Sangat mepet, jika terjadi kesalahan teknis saat pemasangan kembali nanti sore, mereka tidak punya cadangan modal untuk membeli onderdil pengganti.
Setelah kembali ke ruko, Shevi dan Dika bekerja tanpa henti. Dika berhasil menyambung kembali seluruh jalur pengapian dan mengganti sekring dua motor yang korslet, sementara Shevi memasang komponen piston baru, mengganti ring, serta menyetel celah klep dua motor yang berasap dalam waktu kurang dari dua jam.
Untuk motor kelima yang transmisinya macet, Shevi menemukan bahwa per kopling otomatis gandanya patah akibat usia pemakaian dan mengunci rumah kopling belakang. Dia menggantinya dengan komponen baru seharga delapan puluh ribu rupiah dari sisa uang di kantongnya.
Tepat pukul 16.30 WIB, kelima motor bebek berlogo logistik itu diturunkan dari hidrolik dan berjejer rapi di halaman parkir dalam kondisi bersih dari lumpur.
"Coba nyalakan mesin semuanya sekaligus, Dik," intruksi Shevi seraya menyeka keringat di pelipisnya.
Dika menyalakan kunci kontak dan menekan tombol starter kelima motor tersebut secara bergiliran.
BRRRMAAAM... JRENG... BRRRMMM!
Suara deru mesin kelima motor bebek itu seketika membelah keheningan sore. Dua motor yang tadinya mengeluarkan asap putih pekat, kini knalpotnya bersih total dan deru mesinnya terdengar halus. Dua motor yang kelistrikannya mati kini seluruh lampu indikator dan klaksonnya menyala terang, sementara motor kelima dapat berpindah gigi dengan empuk tanpa hentakan kasar.
Dika meletakkan obengnya di atas meja, lalu terduduk di sofa ruang tunggu dengan napas lega. "Gila, Shev... kita bisa membereskan lima motor ini dalam waktu kurang dari sehari. Kalau bukan karena ketelitianmu menyetel celah klep tadi, gua ngga yakin motor-motor ini bisa sehalus ini suaranya."
"Ini hasil kerja keras dan kekompakan kita berdua, Dik," sahut Shevi tulus, menyodorkan sebotol air mineral dingin kepada sahabatnya.
Tepat pada saat itu, mobil operasional logistik kembali datang memasuki halaman ruko untuk menjemput kendaraan tersebut. Sang sopir truk turun, lalu memeriksa kondisi kelima motor bebek itu satu per satu dengan raut terkesima setelah mendengar halus deru mesinnya.
"Wah... Mas Shevi sama Mas Dika ini benar-benar ahli! Tadi pagi motor ini dipaksa jalan saja tidak bisa. Nanti saya laporkan langsung hasil ini ke Mbak Gita agar kontrak penuhnya bisa cepat turun," ucap sopir truk itu sebelum menaikkan kembali motor ke atas bak truk. Sopir tersebut juga menyerahkan lembaran tanda terima penyerahan jasa perawatan pertama yang akan diproses oleh pihak keuangan perusahaan Gita.
Begitu truk logistik melaju pergi menghilang di balik kepadatan lalu lintas, ketenangan meresap ke dalam dada Shevi.
Shevi bersandar di pintu geser ruko, menatap lampu-lampu jalanan Daan Mogot yang mulai menyala di bawah langit malam. Ujian pertama dari Gita berhasil dilewati dengan sukses besar melalui kerja keras fisik bersama Dika.
Meski sisa dompetnya kini berada di angka Rp320.000,00 sebelum pencairan klaim tagihan dari Gita, Shevi menatap lurus ke depan dengan keteguhan batin. Kepercayaan telah terbangun, keahlian telah terbukti, dan esok hari perjalanan bisnis nyata mereka resmi dimulai!