NovelToon NovelToon
Suamiku Dokter Dingin Dan Posesif

Suamiku Dokter Dingin Dan Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Intan Wiwi

Valen Adisty, seorang gadis yatim yang gigih dan penuh semangat, baru saja menyelesaikan pendidikan kedokterannya dan bersiap memulai karier sebagai dokter muda. Namun, kehidupannya berubah drastis ketika takdir membawanya masuk ke dalam pernikahan tak terduga dengan Kevin Axelle Rayyan, seorang dokter spesialis tampan, dingin, dan sangat disegani di rumah sakit tempat Valen bekerja.
Di mata orang lain, Kevin adalah sosok dokter hebat yang perfeksionis, pendiam, dan sulit didekati. Namun di balik jubah putih dan tatapan matanya yang tajam, Kevin menyimpan kehangatan—sekaligus sifat posesif yang luar biasa tajam hanya untuk Valen seorang.
Sebagai dokter baru sekaligus istri rahasia dari dokter senior papan atas, Valen harus berjuang menyeimbangkan profesionalitas kerjanya dengan dinamika rumah tangganya yang penuh intrik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perdebatan sengit

Sampai di klinik resort, Kevin segera menangani luka Valen dengan cekatan. Akibat pengaruh obat bius lokal dan rasa lelah, Valen pun akhirnya tertidur pulas.

Selesai membersihkan serta menjahit luka di kaki gadis itu, Kevin melepas masker medisnya. Baru saat itulah ia tersadar dan mengenali wajah pasiennya.

"Loh... ini kan cewek jutek, sahabatnya Seinara?" gumam Kevin terkejut dalam hati. "Ngapain dia ada di sini? Apa mungkin dia ngikutin gue?"

Perlahan tapi pasti, Valen mulai membuka matanya. Rasa pening masih menguasai kesadarannya saat tatapannya beradu dengan Kevin. Tatapan itu seketika berubah menjadi keterkejutan yang nyata.

"Loe?! Loe bukannya dokter sinting temannya Pak Nathan?!" seru Valen spontan.

"Apa loe bilang?!" Kevin melotot, emosinya langsung tersulut. "Dasar cewek jutek! Nggak tahu terima kasih! Tahu gitu tadi nggak usah gue tolongin!"

"Gue juga nggak minta tolong sama dokter sinting kayak loe!" tembak Valen tajam. Ia mencoba untuk duduk, meski kepala dan kakinya masih terasa berdenyut sakit.

Kevin yang tak mau pasiennya bertingkah gegabah langsung menahan kedua bahu Valen agar kembali berbaring. "Heh, cewek jutek! Buka mata loe lebar-lebar. Loe itu baru aja dapet beberapa jahitan di kaki, plus luka gores di tangan. Kalau bukan gue yang nanganin, kaki loe udah infeksi terkena batu karang basah itu!"

Valen menyipitkan mata, menatap dingin tangan Kevin yang masih hinggap di bahunya. "Lepasin. Nggak usah pegang-pegang."

Kevin dengan cepat menarik tangannya kembali, mengibaskannya seolah-olah baru saja menyentuh benda beracun. Ia melipat kedua tangan di dada, menatap Valen dengan senyum sinis. "Gue juga ogah touching-touching cewek galak kayak loe. Lagian, ngapain sih loe pakai acara terdampar di pulau privat resort ini? Jangan-jangan loe beneran ngikutin gue ya?"

"PD banget loe jadi cowok!" potong Valen cepat dengan nada tak kalah pedas. "Gue ke sini karena nemenin Bunda! Kaki gue kepeleset waktu mau ngambil kerang di pantai belakang. Loe sendiri ngapain di sini? Nggak ada pasien gila yang butuh dokter kayak loe di resort mewah begini?"

Kevin menghela napas kasar lalu memutar bola matanya malas. "Hello? Ini resort punya keluarga gue. Dan gue ke sini mau liburan tenang, bukannya jadi dokter darurat buat cewek ketus yang nggak tahu kata 'terima kasih'."

Valen bungkam sejenak. Ia memproses ucapan Kevin, teringat perkataan Bundanya sebelumnya bahwa pulau dan resort ini memang milik keluarga seorang dokter muda asal Jakarta.

"Ya... ya tetep aja! Loe obatin gue kan emang udah kewajiban loe sebagai dokter. Masa liat orang luka didiemin?" sanggah Valen gengsi, memalingkan wajahnya ke arah jendela klinik.

"Tapi setidaknya pasien yang berbudi pekerti bakal ngomong, 'Makasih, Dokter Kevin yang ganteng,' bukannya maki-maki," sindir Kevin sambil berjalan menuju meja kerja untuk membereskan perlengkapan medisnya.

Suasana klinik mendadak hening. Hanya terdengar denting halus alat-alat medis berbahan stainless steel yang ditata Kevin ke dalam wadah steril. Valen melirik tipis dari sudut matanya. Harus ia akui, di balik sifat tengil dan menyebalkan pria itu, Kevin menangani lukanya dengan sangat rapi. Balutan perbannya terasa pas dan rasa sakitnya berkurang drastis dibanding saat ia terjatuh tadi.

"Ehem..." Valen berdeham pelan untuk memecah kecanggungan. "Sakitnya... udah agak mendingan sih."

Kevin yang membelakangi Valen terkekeh pelan. Ia membalikkan badan, menyandarkan pinggulnya di tepi meja sambil bersedekap. "Gue panggilin Bunda kamu sekarang?"

"Jangan!" seru Valen refleks. "Maksud gue... jangan dulu. Bunda pasti panik banget kalau tahu gue luka kayak gini. Beliau kan lagi sibuk jalan-jalan sama Nenek."

Kevin menatap Valen beberapa detik. Sikap protektif gadis itu terhadap keluarganya sedikit membuat Kevin terkesan. Di balik sifat galak dan ketusnya, ternyata Valen sangat menyayangi orang tuanya.

"Terus mau balik sendiri pake kaki bernasib tragis itu? Jangan mimpi," kata Kevin jujur sambil berjalan mendekati brankar. "Loe harus minum obat pereda nyeri dulu, terus tunggu setengah jam sampai pusingnya bener-bener hilang."

Kevin menyodorkan segelas air putih dan dua tablet obat. Valen menatap obat itu dengan pandangan curiga.

"Nggak usah liat gue kayak gitu. Itu bukan racun. Kalau gue mau ngeracunin loe, dari tadi waktu loe pingsan udah gue lempar balik ke laut," celetuk Kevin gemas.

Valen mencebikkan bibir, namun tetap mengambil obat dan air minum dari tangan Kevin. Setelah menelannya, ia menyerahkan kembali gelas kosong itu.

"Makasih..." bisik Valen sangat pelan, hampir tenggelam oleh suara angin.

Kevin menaikkan sebelah alisnya, berpura-pura tidak mendengar. "Apa? Nggak denger. Angin laut kenceng banget di luar."

"Makasih, Dokter Kevin!" seru Valen kesal dengan nada dinaikkan. "Puas loe?!"

Kevin terkekeh geli, suara tawa renyahnya mengisi ruang klinik yang dingin. "Sama-sama, Cewek Jutek. Nah gitu dong, kan keliatan sedikit lebih bernyawa."

Kevin kemudian menarik sebuah kursi roda dari sudut ruangan dan menghentikannya tepat di samping brankar. Namun, melihat raut bingung Valen, Kevin langsung merubah raut wajahnya menjadi profesional.

"Jahitan di telapak kaki loe cukup dalam," jelas Kevin dengan nada tegas khas seorang dokter. "Untuk dua atau tiga hari ke depan, loe sama sekali nggak boleh menumpukan beban ke kaki kiri kalau nggak mau jahitannya lepas dan infeksi."

Valen meringis pelan mendengarnya, membayangkan betapa merepotkannya hal itu nanti.

Kevin menyilangkan dada sambil melempar senyum jahilnya kembali. "Jadi pilihannya cuma dua: loe naik kursi roda ini sampai batas jalan setapak dekat cottage, atau... minta gendong sama gue sampai depan rumah loe."

"Sudi amat digendong sama loe! Mending gue merangkak!" tembak Valen cepat dengan wajah memerah, entah karena kesal atau malu.

"Yakin mau merangkak? Pasir pantai belakang halus sih, tapi karangnya tajam-tajam lho," goda Kevin lagi sambil menahan tawa. "Lagian, jalur ke cottage kamu lewat belakang itu berundak dan penuh pasir. Kursi roda nggak bakal membal kalau dipaksa lewat sana, yang ada loe terguling. Kamu kan juga nggak mau ketahuan Bunda kalau balik lewat jalur utama pake kursi roda?"

Valen bungkam. Perkataan Kevin ada benarnya. Jalur belakang yang sepi adalah satu-satunya cara agar Bundanya tidak memergoki kondisinya, tetapi jalur itu tidak ramah roda.

Antara gengsi setinggi langit dan rasa sakit yang mulai berdenyut di kakinya, Valen tahu ia tidak punya banyak pilihan.

"Nggak usah digendong..." cicit Valen pelan, pandangannya tertuju pada jemari tangannya sendiri di pangkuan. "Papah aja... tapi awas kalau sampai gue jatuh."

Kevin menatap Valen yang akhirnya menurunkan sedikit ego tingginya. Senyum tipis yang tulus tanpa rasa ejekan terukir di wajah dokter muda itu. Ia melangkah mendekati brankar, menyingsingkan lengan kemejanya hingga ke siku.

"Tenang aja, Cewek Jutek. Gue dokter profesional, bukan penjahat," ujar Kevin lembut, suara tengilnya mendadak berganti menjadi nada hangat yang berhasil membuat jantung Valen berdesir aneh.

1
Intan Wiwi
sangat cocok untuk pembaca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!