Clara hanyalah seorang gadis penderita anemia kronis yang terjebak utang almarhumah ibunya. Demi melunasi utang tersebut, ia terpaksa menjadi asisten pribadi sekaligus "penawar tidur" bagi Arsen Baskara—Tuan Muda yang dingin, kejam, dan menderita insomnia parah.
Di bawah satu atap, Arsen bertindak sangat posesif dan mendominasi Clara. Namun anehnya, setiap kali Arsen berhasrat melangkah lebih jauh, benteng penolakan ghaib di dadanya selalu bergejolak. Rasa penasaran berlanjut ketika orang-orang di sekitar mereka menyadari kemiripan garis wajah dan kebiasaan refleks yang ganjil di antara keduanya.
Saat Baskara—sang penguasa kejam klan Baskara—pulang untuk memburu dokumen masa lalu, terungkaplah rahasia terlarang yang paling mendalam: Clara bukan sekadar pelayan, melainkan adik kandung Arsen yang dulu melarikan diri bersama ibunya demi menghindari paksaan aborsi akibat fitnah perselingkuhan.
Di antara jeratan posesif sang Tuan Muda, ancaman pembunuhan dari ayah mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: PINTU MENUJU KONFLIK BARU
Suasana pagi di mansion megah keluarga Baskara mendadak diliputi hawa ketegangan yang pekat. Seluruh pelayan terlihat hilir mudik dengan raut wajah cemas, membersihkan setiap sudut ruangan dengan tingkat ketelitian yang tak biasa. Bahkan Bi Inah menyapu lantai dengan jemari gemetar.
Clara, yang baru saja selesai menyiapkan kemeja sekolah Arsen, melangkah keluar kamar dan menyadari perubahan drastis pada atmosfer rumah tersebut.
Saat Clara berjalan menuju aula utama, ia melihat Arsen berdiri di dekat meja telepon antik. Pria itu baru saja menutup saluran telepon. Wajah Arsen yang biasanya tenang dan mendominasi kini tampak mengeras hebat. Rahangnya menegang, dan mata pekatnya memancarkan kecemasan yang belum pernah Clara lihat sebelumnya.
"Arsen? Ada apa?" tanya Clara pelan, mendekatinya dengan ragu. "Kenapa semua pelayan kelihatan panik?"
Arsen menoleh lambat. Tatapannya menancap pada Clara—sebuah tatapan yang dipenuhi rasa protektif yang berpadu dengan kegelisahan mendalam.
"Ayahku..." suara Arsen rendah dan berat, bergetar oleh permusuhan terpendam. "Baskara akan pulang dari luar negeri sore ini."
DEG!
Dada Clara terenyak. Nama Baskara adalah bayangan hitam yang selalu membayangi mansion ini. Meski belum pernah bertemu langsung, cerita tentang kekejaman pria itu sudah cukup untuk membuat bulu kuduk Clara berdiri.
Arsen melangkah mendekati Clara, menyambar kedua bahu rapuh gadis itu dengan cengkeraman yang kuat namun hati-hati.
"Dengarkan aku baik-baik, Clara," bisik Arsen penuh penekanan, matanya menatap tajam ke dalam manik mata Clara. "Ayahku adalah monster. Dia adalah sosok yang sangat kejam, manipulatif, dan tidak segan menghancurkan siapa pun yang dianggapnya mengganggu. Dialah alasan mengapa rumah ini terasa seperti neraka."
Arsen mengepalkan tangannya rapat-rapat. Ia tahu betul rahasia kelam dan dinginnya hati sang ayah. Jika Baskara mengetahui keberadaan Clara—seorang gadis penderita anemia dari keluarga tak berada yang diizinkan tidur di kamar utama dan dilunasi utangnya oleh Arsen—Baskara tidak akan tinggal diam.
"Mulai nanti sore, jangan pernah berada di dekatnya," tegas Arsen, suaranya sarat peringatan mematikan. "Jangan pernah bicara padanya, jangan menatap matanya, dan tetap berada di dalam jangkauanku. Paham?"
Clara menelan ludah dengan susah payah, mengangguk pelan. "P-paham, Arsen..."
Arsen menarik Clara ke dalam dekapannya secara singkat namun teramat erat, seolah berusaha menyembunyikan penawar hidupnya itu dari badai besar yang sebentar lagi akan menerjang.
Pintu depan mansion yang megah itu seolah siap terbuka lebar, menyambut kedatangan sang penguasa sejati Keluarga Baskara—dan membawa rahasia darah serta ancaman mematikan yang siap menghancurkan sangkar emas tempat mereka berlindung.
Pintu depan mansion yang megah itu seolah siap terbuka lebar, menyambut kedatangan sang penguasa sejati Keluarga Baskara—dan membawa rahasia darah serta ancaman mematikan yang siap menghancurkan sangkar emas tempat mereka berlindung.
Arsen perlahan melepaskan dekapannya, namun kedua tangannya masih berada di bahu Clara. Tatapan mata hitamnya tampak begitu pekat, sarat akan gejolak emosi yang tertahan.
"Mulai detik ini, Clara," bisik Arsen dengan suara rendah yang menembus keheningan aula, "kamu tidak lagi sekadar asistenku. Di depan ayahku, kamu harus tetap berada satu langkah di belakangku. Apapun yang terjadi, jangan pernah melepaskan jemariku jika aku menggenggammu."
Clara bisa merasakan kehangatan sekaligus genggaman yang teramat protektif dari Arsen. Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi Arsen yang tidak hanya didominasi oleh kekuasaan dan keangkuhan, tetapi juga oleh ketakutan nyata akan sosok pria yang dipanggilnya 'Ayah'.
Deru mesin mobil mewah terdengar membelah heningnya pelataran luar mansion.
Lampu sorot mobil memancar terang menembus kaca pintu depan, membiaskan bayangan panjang dua sosok pria di aula utama. Para pelayan langsung berbaris rapi dengan kepala menunduk dalam-dalam.
Arsen mengambil napas panjang, merapikan kerah kemejanya, lalu menurunkan tangannya dan menyentuh jemari dingin Clara dengan sebuah genggaman erat yang tegas.
"Dia sudah datang," gumam Arsen dingin, menatap lurus ke arah pintu utama yang perlahan mulai dibuka oleh pengawal.