NovelToon NovelToon
Unit Kosong

Unit Kosong

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Rumahhantu / Iblis
Popularitas:244
Nilai: 5
Nama Author: Storyginal Finger

Cerita bergenre Horor dan Misteri yang mengungkap rahasia kelam pembantaian korban penghuni apartemen oleh penguasa. Meski terinspirasi berdasarkan kisah nyata, tapi termasuk Fiksi karena banyak tambahan yang dimasukkan ke dalam cerita.

SINOPSIS: Bagas bersama timnya pergi dari Jakarta ke Bandung untuk bertemu investor yang akan membiayai project film mereka. Tapi siapa sangka kalau mereka justru dipesankan unit apartemen yang berhantu. Bangunan terbengkalai yang mangkrak karena wabah covid-19.

Meskipun sudah diminta pindah, Jefry yang merupakan leader tim justru menolak. Ia menganggap bahwa ini kesempatan untuk mendapat ide cerita horor dari kisah nyata. Sedangkan Bagas tidak bisa menolak keputusan leadernya itu.

Mereka pun harus menghadapi teror demi teror yang semakin hari, semakin membahayakan. Tapi di balik bahaya tersebut, membuat Jefry semakin bersemangat dan penasaran akhir yang akan mereka lalui ke depan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25: Kaki Shinta Berdarah

Melihat Shinta berjalan di atas serpihan kaca hingga kakinya berdarah, Jefry memucat, benar-benar pucat. Sesaat, hati kecilku merasa puas ketika melihatnya.

Untung aku segera tersadar, lalu berusaha mencari sapu atau alat lain yang bisa digunakan untuk membersihkan serpihan beling di lantai.

Shinta terus melangkah pelan. Kepala mulai sedikit miring. Mata masih kosong.

Hingga akhirnya aku berhasil menemukan kain pel. Aku mendekat, tapi ada rasa dingin menusuk tulang. Seakan udara di sekitarnya membeku.

Dengan sisa keberanian, aku menyingkirkan serpihan beling itu. Sekilas aku melihat wajah Shinta mulai berubah. Ia terlihat marah. Sorot matanya tajam menatapku.

Aku sempat goyah. Menghentikan tanganku membersihkan serpihan kaca. Hal ini membuat Jefry langsung mengambil gagang kain pel dari tanganku.

Dengan cepat, ia melanjutkannya.

Tapi setelah jalan menuju Shinta sudah bersih. Jefry merasa bingung karena Shinta masih belum sadar.

“Dek, sadar! Jangan gini,” ucapnya.

Sama sekali tidak menggubris, Shinta justru masih menatap ke arahku. Dari tatapan itu, aku langsung meyakini kalau sepertinya arwah yang sedang merasuk adalah Ratna.

Ketakutanku berlipat ganda.

Hendra mulai mengambil tindakan. Ia bergerak mendekat ke arah Jefry, “Awas dulu, Bang,” ujarnya minta agar Jefry mundur.

“Bissmillah,” lanjutnya sebelum berinteraksi dengan Shinta.

Ia mulai dialog, “Assalamu’alaikum.”

Mohon maaf sebelumnya, aku merasa sedikit lucu karena mendengar Hendra mengucapkan salam. Dalam pikiranku, Ratna sudah hampir pasti bukan muslim.

Tapi aku kembali berpikir, selama ini Hendra berhasil menggagalkan teror arwah dengan keyakinan sebagai seorang muslim. Selain itu, bukan saat yang tepat untuk aku memikirkannya.

Mendengar ucapan salam dari Hendra rupanya membuat Shinta menoleh. Ia tak lagi menatapku.

Tak lagi berwajah marah, ia memberikan senyum kepada Hendra. Menganggukkan kepala perlahan sambil memejamkan mata sebentar, lalu membukanya lagi.

Dengan terbata, Hendra melanjutkan ucapannya, “Maaf, saya teman dari orang yang tubuhnya kamu pakai sekarang. Saya minta kamu keluar.”

Ia tidak langsung merespon, tapi sorot matanya mulai berubah perlahan.

Setelah beberapa saat, bibir Shinta mulai bergerak.

“Aku.. hanya ingin,” katanya pelan dengan suara milik Shinta, tapi terdengar jauh berbeda.

Kami semua diam menunggu kalimat selanjutnya. Tapi Shinta justru kembali menatap ke arahku.

Lalu meneruskan kalimat, “Keadilan.”

Mataku beberapa kali berkedip. Kadang menatap ke arah bawah. Tidak berani melihat karena Shinta terus memandangku.

Hendra balik bertanya, “Keadilan?”

Wajahnya sempat menoleh ke Hendra sebentar. Tapi bukan menjawab, Shinta justru mengangkat tangan. Kembali berjalan menyeret, kaki berlumuran darah.

Dengan kepala yang setengah miring, Shinta menunjukku dengan jarinya.

“Dia sudah tau.”

Sontak saja Hendra dan Jefry juga ikut melihatku. Mereka heran mendengar apa yang diucapkan oleh arwah Ratna.

Tapi kemudian, tiba-tiba saja tubuh Shinta sempoyongan, lalu hampir terjatuh ke lantai.

Untung saja Hendra segera menangkapnya.

“Dek?!” teriak Jefry yang kemudian langsung mendekat.

Aku merasa lega karena sepertinya teror sudah selesai. Namun ternyata aku justru dikejutkan dengan kemunculan sosok wanita tua yang berdiri di dekat pintu kamar utama.

Rambutnya panjang, berwarna putih. Bertubuh gemuk, mengenakan pakaian rumah lusuh. Ia melihatku berwajah datar, tenang, sebenarnya adem jika ia merupakan seorang manusia.

Tapi karena aku tahu bukan manusia, ekspresi itu justru terasa sangat menakutkan.

Yang lain tidak menyadari karena masih fokus pada kondisi Shinta.

Aku menunduk, tak mau melihatnya. Begitu aku memberanikan diri untuk mengintip dari ekor mata. Sosok itu sudah menghilang.

Waktu berlalu cepat. Aku berdiri terpaku di ruang tengah setelah sosok menyeramkan itu hilang. Jefry dan Hendra sedang sibuk mengangkat tubuh Shinta ke ranjang. Tubuhnya lemas, pucat, dan nafas terdengar berat. Telapak kakinya penuh darah.

“Aduh, Dek. Lo kenapa sih?” suara Jefry bergetar. Tangannya gemetar saat menarik serpihan kaca kecil yang menempel di kulit telapak Shinta.

“Awas pelan-pelan, Bang.” Hendra mengingatkan, tapi dengan suara sama paniknya.

Aku merasa mual melihat darah mengalir begitu banyak.

“Bentar, Bang. Gua ambil plester dulu,” kataku cepat. Aku langsung setengah berlari dengan hati-hati ke kamarku, membuka tas dan mengambil beberapa. Tapi aku langsung sadar, jelas ini tidak akan cukup.

Saat aku memberikan ke Jefry, darah masih terlihat mengalir ke sprei.

“Nggak cukup, Gas” Jefry mulai terdengar semakin histeris.

Tanpa pikir panjang, ia meraih kain hijab Shinta yang terlipat di atas kursi rias. Jefry melilitkan kuat-kuat di telapak kaki Shinta.

“Sorry ya, Dek,” suaranya parau, nyaris menangis.

“Mesti dibawa ke rumah sakit, Bang,” kataku tegas.

Hendra mengangguk. “Iya, jangan nunggu lagi. Ini bisa bahaya buat dia.”

Tapi Jefry malah tetap duduk di sisi ranjang, menatap wajah Shinta yang terpejam.

“Bang, tunggu apa lagi?” tanyaku kesal.

Dia menggeleng pelan. “Ini salah gua, semua salah gua.”

“Udah bukan waktunya ngomongin itu! Kita harus cepat!” aku hampir membentak.

Hendra minta aku segera mengambil kunci mobil. “Kita angkat bareng! Lo angkat badan, gua kakinya.”

Tapi ternyata Jefry ingin mengangkat Shinta sendirian, “Nggak usah, biar gua aja.”

Kami lalu bersiap. Jefry menggendong tubuh Shinta, aku mengikuti dari belakang, memastikan luka di kaki tetap tertekan.

Dalam perjalanan menuju pintu, aku masih bisa melihat pecahan kaca berserakan di lantai.

Aku berbisik lirih dalam hati.

“Tolong jangan ganggu lagi, sudah cukup.”

Kami berjalan keluar unit, melangkah melewati lorong temaram. Menuju lift yang sebenarnya tak terlalu jauh. Tapi aku merasa lama sekali untuk tiba.

Hendra menekan tombol lift. Tidak ada tanda pergerakan. Suasana menjadi sunyi. Jefry mencengkeram tubuh Shinta erat-erat.

“Gimana nih?” tanya Hendra menyadari kalau ada yang tidak beres. Begitu juga denganku.

Untuk pertama kali, aku melihat Jefry menangis. Ia terlihat putus asa, merasa bersalah dan menyesal.

Awalnya sempat berpikir ekspresi Jefry seperti ini yang aku harapkan. Tapi sekarang malah tidak tega, karena Shinta harus menjadi korban. Mungkin kalau Jefry mengalaminya secara langsung, perasaanku akan berbeda.

Aku masih teringat dengan jelas saat Jefry mengatakan kalau arwah tidak akan bisa menyakiti manusia. Aku yakin sekarang ia pasti menyadari kalau pikirannya selama ini, salah.

Ia tak lagi percaya kalau hantu tidak bisa menyakiti manusia.

“Masa iya kita harus lewat tangga darurat.. lagi?” kata Hendra setelah menyerah berharap pada lift di depan.

Kami masih terhenti di depan pintu lift yang tidak bergerak. Kalau sebelumnya terdapat notifikasi error, kali ini hanya angka digital menunjukkan lift tak berpindah dari lantai satu.

Jefry merebahkan tubuh Shinta ke bawah. “Gas, pegangin sebentar.”

Aku melihat wajah Shinta benar-benar pucat, memutih. Bagian leher menyentuh kulit lenganku, rasanya dingin seperti minuman dari kulkas.

Setelah aku menggantikan posisi, Jefry menekan tombol lift berulang. Memukul dinding hingga menimbulkan suara menggema seisi lorong.

Ia bahkan menendang dengan telapak sepatu dengan histeris, putus asa. “Ayolah!” teriaknya.

Ketika sedang setengah memeluk Shinta, aku tak sengaja melihat ke arah gelang di tanganku. Aku mulai berpikir, apakah bisa minta bantuan kekuatan gelang ini.

Hendra berusaha untuk mengucapkan doa, namun sepertinya kali ini tidak berhasil.

Dengan posisi tangan melingkar di tubuh Shinta, sedikit menekan. Aku menggenggam gelang, lalu memejamkan mata.

Bermodalkan keyakinan, genggaman semakin erat. Dalam pikiranku saat ini hanya tentang keselamatan Shinta. Jika tidak segera membawa ke rumah sakit, aku takut nyawanya tak tertolong.

Aku mulai merasakan gelang bergerak.

Menyempit.

Perlahan, aku membuka mata. Berharap sebuah keajaiban terjadi. Tapi bukan mendapat yang diinginkan, aku justru melihat sosok wanita, muncul di ujung lorong.

Ratna?

Walau dari kejauhan, aku tetap bisa mengetahui kalau ia melihat dengan sorot mata tajam, seakan sedang marah padaku.

Kali ini aku lebih berani untuk menatapnya. Meski dengan ketakutan luar biasa. Penasaran dengan apa yang akan ia lakukan.

Untung saja momen itu tak berlangsung lama. Dengan perlahan  tubuhnya bergeser, menghilang bersembunyi dari balik dinding.

“Ding..!”

Suara lift berbunyi.

Kami tidak ada yang menyadari sejak kapan lift itu mulai bergerak.

Pintu terbuka, Jefry langsung mengambil alih tubuh Shinta. Lalu menggendongnya lagi.

“Ayo, cepat!” kata Hendra.

Tanpa menunggu, kami pun masuk ke dalam lift.

Namun ternyata teror masih belum berhenti. Arwah Ratna belum puas.

Saat Hendra menekan tombol, pintu tidak mau tertutup. Saat hampir menutup sempurna, entah kenapa selalu bergeser kembali, terbuka. Lampu temaram di dalam lift dan lorong berkedip tanpa henti.

Angin mulai berhembus, padahal kami tahu pasti, lorong ini tempat tertutup.

“Cepat, bro! Tutup!” teriak Jefry panik.

Hendra menjelaskan bahwa pintunya tidak bisa ditutup. “Ini udah gua pencet terus, Bang.”

Aku melangkah ke luar, pelan-pelan, melihat ke arah lorong.

Rupanya di sana ada Ratna sedang berdiri di depan lift, menekan tombol lift. Wajahnya menoleh ke arahku, tersenyum manis. Rasanya seperti melihat kehangatan seorang ibu.

Tapi sekali lagi aku tekankan, ekspresi itu sama sekali tidak menenangkan.

Jefry dan Hendra hanya melihatku dengan pandangan heran.

“Ada apaan, Gas?” tanya Jefry.

Aku tidak menjawab karena bingung juga harus mengatakan apa.

Beberapa saat kemudian, gelang di tanganku kembali memberi perlindungan. Hembusan angin muncul secara tiba-tiba, menghempas tubuh Ratna hingga ke ujung lorong. Lalu menghilang.

Dengan cepat aku kembali masuk ke dalam lift. Mendekat ke posisi Hendra yang berada di depan tombol.

“Bismillahirrahmanirrahim.”

Seketika itu juga, aku merinding. Bukan karena ada sosok makhluk halus, tapi karena aku sudah tidak ingat kapan terakhir mengucapkannya.

Jari telunjukku menekan tombol, pintu lift mulai menutup.

Sempurna.

Aku langsung menekan tombol lantai satu. Lift akhirnya turun dengan lancar.

“Tadi kenapa, Gas?” Hendra tak bisa menutupi rasa penasaran.

Namun aku merespon dengan menggelengkan kepala. Ia juga tak melanjutkan pertanyaan, begitu juga Jefry, hanya diam karena sadar bahwa yang terpenting saat ini, membawa Shinta ke rumah sakit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!