NovelToon NovelToon
Takdir Yang Tak Pernah Selesai

Takdir Yang Tak Pernah Selesai

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Idola sekolah / Cintapertama
Popularitas:917
Nilai: 5
Nama Author: Cristaal

Aletha sangat terkejut setelah papanya, Baskara memberitahu jika ia dijodohkan dengan anak sahabatnya sejak dari dalam kandungan. Dan sebelum kelulusannya ia akan melangsungkan pertunangan lebih dulu.
Aletha sedikit tergoda oleh ketampanan. Pria itu saat papanya bicara tentang ketampanan calon tunangannya itu.
Namun, saat tiba pertemuan di malam itu. Ternyata pria yang dijodohkan adalah Langit.
Musuh bebuyutannya di sekolah, apakah mereka akan melanjutkan perjodohan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cristaal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5. Tantangan Tommy

Sepulang sekolah, Aletha berdiri di belakang gedung olahraga dengan langkah ragu. Tempat itu jauh lebih sepi dibandingkan halaman depan. Dinding tinggi gedung menutupi pandangan dari jalan utama, sementara suara kendaraan yang melintas terdengar samar-samar dari balik pagar sekolah.

Tommy sudah menunggunya di sana.

Cowok itu bersandar pada motor hitamnya, masih mengenakan jaket denim yang sama dengan pagi tadi. Lebam kebiruan mulai terlihat jelas di rahangnya. Di sampingnya, berdiri Reza dan dua anak geng lainnya yang melipat tangan di dada.

Aletha berhenti beberapa langkah dari mereka.

"Gue datang sendiri," katanya, berusaha terdengar tegas.

Tommy tertawa pendek, terdengar sarkas.

"Lo kira gue bakal percaya setelah lihat lo jalan bareng Langit?"

"Gue cuma bantu bawa buku sekolah."

"Bantu?" Tommy mendorong tubuhnya menjauh dari motor, melangkah maju.

"Dia berdiri di depan lo, menantang gue, lalu lo pergi begitu saja sama dia."

"Lo yang mulai memukulnya duluan, Tom!"

Rahang Tommy mengeras.

"Jadi sekarang lo membela dia?"

Aletha mengepalkan tangan kuat-kuat.

"Gue cuma ngomong fakta."

Tommy melangkah semakin dekat.

"Apa dia sudah bilang sesuatu ke lo?"

"Apa maksud lo?"

"Soal kenapa dia merasa berhak mengatur lo di sekolah."

Aletha mendadak bungkam. Tommy memperhatikan perubahan ekspresi wajahnya yang menegang.

"Nah, bener, kan? Berarti memang ada sesuatu di antara kalian."

"Nggak ada."

"Jangan bohong, Letha."

"Gue nggak bohong!"

Tommy mengangkat tangan dan langsung mencengkeram pergelangan tangan Aletha. Tidak terlalu kuat, tetapi cukup membuat gadis itu meringis kesakitan.

"Kalau nggak ada apa-apa, kenapa lo kelihatan ketakutan?"

Aletha berusaha menyentakkan pergelangan tangannya.

"Lepas, Tom."

"Jawab dulu."

"Lepasin tangan lo!"

"Tommy."

Suara bariton Langit tiba-tiba terdengar dari arah pintu samping gedung olahraga. Semua kepala sontak menoleh ke sumber suara.

Langit berjalan mendekat dengan satu tangan berada di dalam saku celana. Sudut bibirnya masih menyisakan luka dari perkelahian pagi tadi, tetapi wajahnya tetap tenang tanpa riak. Cowok itu berhenti tepat di antara Aletha dan Tommy, membuat cengkeraman tangan Tommy terpaksa terlepas.

Tommy menatap Langit dengan amarah yang langsung menyala kembali.

"Lo ngikutin Aletha?"

"Nggak." Langit melirik Aletha sekilas, lalu beralih menatap Tommy dengan tatapan datar yang menusuk.

"Gue ngikutin tunangan gue."

Dunia Aletha seolah berhenti berputar saat itu juga.

Reza mengerutkan dahi dalam-dalam.

"Tunangan?"

Tommy menoleh patah-patah kepada Aletha. Wajahnya perlahan kehilangan warna, memucat.

"Letha..." katanya dengan suara serak yang pelan.

"Apa maksud dia?"

Aletha tidak mampu menjawab. Lidahnya mendadak kelu.

Langit menyadari kesunyian yang jatuh di antara mereka. Untuk pertama kalinya, senyum di wajah cowok itu lenyap sepenuhnya.

"Lo belum bilang?" tanyanya kepada Aletha.

Aletha menatap Langit dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Langit, jangan..."

Namun, Tommy sudah melangkah maju, memangkas jarak.

"Belum bilang apa?!" bentaknya kasar.

"Apa yang belum dia bilang ke gue, hah?!"

Langit menatap Tommy tanpa berkedip. Ia lalu melirik Aletha, seolah memberi kesempatan terakhir bagi gadis itu untuk berbicara sendiri.

Aletha membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar. Di hadapannya, Tommy menunggu jawaban dengan wajah penuh kecurigaan dan luka. Di sampingnya, Langit berdiri tenang seperti seseorang yang sudah memegang seluruh kartu permainan.

Untuk pertama kalinya, Aletha sadar.

Rahasia perjodohan mereka tidak lagi berada di tangannya. Rahasia itu kini sedang bersiap untuk menghancurkan semua hal yang selama ini ia pertahankan setengah mati.

_____________________

Tommy terdiam selama beberapa detik, sebelum akhirnya suara tawa hambar keluar dari mulutnya. Tawa itu perlahan mengeras, menggema di area sepi belakang gedung olahraga. Reza dan anak-anak gengnya ikut terkekeh, seolah baru saja mendengar lelucon paling konyol tahun ini.

"Tunangan? Lo berdua?" Tommy menggelengkan kepala, menatap Langit dengan pandangan mencemooh.

"Hahaha! Dagelan macam apa ini, Letha? Satu sekolah juga tahu lo berdua itu kayak Tom and Jerry! Tiap hari kerjaannya berantem di koridor, sekarang lo mau bikin drama kalau lo berdua tunangan?"

Aletha meremas ujung roknya. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga rasanya mau copot. Ia ingin membantah ucapan Langit, tapi jika ia membantahnya sekarang, posisi Langit yang sudah terlanjur basah membongkar rahasia ini akan membuat situasi makin kacau.

Tommy melangkah maju, memangkas jarak hingga wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari Langit. Ia menunjuk dada Langit dengan telunjuknya yang terbalut cincin perak.

"Gue tahu lo cuma mau belaga jadi pahlawan kesiangan buat cewek gue, anak mami," desis Tommy dengan nada meremehkan.

“Oke. Kalau lo emang ngerasa punya hak atas Aletha, buktiin malam ini di tempat gue."

Langit tidak mundur setapak pun. Ia bahkan tidak berkedip saat telunjuk Tommy menyentuh dadanya. Wajahnya tetap sedingin es.

“Tempat lo?"

"Jalan Baru. Jam sebelas malam," tantang Tommy telak.

"Kita balapan. Lo bawa motor lo, lawan Ninja hitam gue. Kalau lo menang, gue bakal percaya omongan lo dan gue lepasin Aletha. Tapi kalau lo kalah..." Tommy tersenyum sinis, melirik lebam di rahangnya sendiri. "...lo harus sujud di kaki gue di depan semua anak-anak geng, dan lo harus menjauh dari hidup Aletha selamanya."

"Tommy, jangan gila! Langit nggak tahu apa-apa soal balapan!" potong Aletha panik. Ia langsung menyambar lengan Tommy, berusaha menghentikan taruhan maut ini.

Di otaknya, Langit adalah cowok perfeksionis spek dewa yang cuma tahu belajar dan foto model. Mana mungkin cowok borjuis seperti Langit bisa mengendarai motor balap di jalanan liar?

Tommy menyentak tangan Aletha, matanya tetap mengunci Langit.

"Kenapa? Takut? Kalau takut, mending cabut omongan lo yang sok jagoan tadi."

Suasana mendadak hening. Aletha menahan napas, menatap Langit penuh harap agar cowok itu menolak tantangan bodoh ini. Namun, harapan Aletha pupus dalam sekejap.

Langit perlahan menarik sudut bibirnya, membentuk seringai tipis yang terlihat sangat meremehkan. Ia mengulurkan tangan, menepis jari Tommy dari dadanya dengan gerakan santai.

"Jam sebelas malam. Jangan telat, karena gue nggak suka nunggu," jawab Langit santai. Suaranya terdengar begitu tenang, seolah ia baru saja menyetujui ajakan untuk minum teh sore, bukan taruhan nyawa di atas aspal hitam.

Tommy tertegun sesaat, tidak menyangka anak baru ini akan menerima tantangannya begitu mudah. Namun dengan cepat ia menguasai diri dan memakai kembali jaket denimnya.

"Bagus. Siapin mental lo, anak manja."

Dengan isyarat tangan, Tommy membalikkan badan dan berjalan menuju motornya diikuti oleh Reza dan yang lain. Deru mesin motor Ninja hitamnya meraung keras, membelah keheningan sore itu sebelum akhirnya melesat pergi meninggalkan area sekolah.

Begitu gerombolan motor itu hilang dari pandangan, Aletha langsung berbalik menatap Langit dengan mata melotot sempurna. Semua kepanikan yang ia tahan sejak di kelas akhirnya meledak.

"Langit! Lo beneran udah kehilangan akal sehat, ya?!" teriak Aletha frustrasi.

"Tommy itu ketua geng motor! Dia udah biasa balapan liar sejak SMP! Sedangkan lo? Lo itu cuma cowok yang dunianya muter di sekitar buku pelajaran! Lo mau mati konyol di jalanan, hah?!"

Langit mengabaikan omelan berisik Aletha. Ia berjalan santai ke arah pintu samping gedung olahraga, mengambil tas ransel hitamnya yang tadi sempat diletakkan di lantai.

"Berisik, Kurcaci," sahut Langit datar setelah menyampirkan tasnya di bahu.

"Gue serius, Langit! Batalin aja! Biar gue yang ngomong sama Tommy kalau lo cuma bercanda tadi!" Aletha berlari kecil, menghadang langkah Langit hingga cowok itu terpaksa berhenti.

Langit menundukkan kepalanya sedikit, menatap langsung ke manik mata Aletha yang dipenuhi rasa cemas yang tulus. Untuk beberapa detik, hawa dingin di sekitar Langit melunak.

"Gue nggak pernah bercanda soal apa yang udah jadi milik gue," ucap Langit dengan suara rendah yang mendadak membuat tenggorokan Aletha kering. Langit melangkah melewati Aletha, namun langkahnya kembali terhenti tanpa berbalik.

"Nanti malam gue jemput jam sepuluh belas. Lo harus ikut nonton."

"Gue nggak mau!"

"Gak ada penolakan, Babu. Tugas lo malam ini adalah jadi saksi gimana calon suami lo ini ngebuat mantan pacar lo itu berlutut," tutur Langit dingin sebelum melangkah pergi, meninggalkan Aletha yang mematung di halaman belakang sekolah dengan jantung yang berdegup tidak karuan.

1
Fiya
🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!