Selama 5 tahun Maya mengorbankan seluruh hidup dan cita-citanya demi merawat bagas, Suaminya yang koma dan lumpuh akibat akibat kecelakaan.
Maya harus bekerja keras banting tulang untuk biaya ruah sakit dan selalu setia menemani sang suami dengan air mata dan doa.
Akhirnya membuahkan hasil, Bagas perlahan-lahan sembuh.
Tapi apa yang Maya dapat, Setelah sembuh, Bagas mendapatan pekerjaan bagus dan ia malah menjalin hubungan dengan teman kantornya yang bernama Rania, Karena ia malu memiliki istri seperti Maya yang terlibat kusam akibat penderitaan selama bertahun-tahun.
Perceraian itu akhirnya terungkap saat Maya menemukan surat cerai di saat hari pernikahan mereka yang ke-7 tahun.
Maya pun harus bangkit dari kehidupan, pengorbanannya selama ini ternyata sia-sia, iya akan menunjukkan ketulusannya akan menjadi penyesalan terbesar Bagas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab16
Sinar matahari pagi menyinari gedung pencakar langit berarsitektur modern di kawasan bisnis Jakarta.
Di depan cermin kamar mandi kontrakan yang retak, Bagas merapikan kerah kemeja putihnya.
Kemeja itu agak melonggar di tubuhnya yang belum sepenuhnya berisi, namun potongan wajahnya yang tegas dan rambutnya yang disisir rapi memancarkan aura pria yang siap kembali menaklukkan dunia.
Maya berdiri di belakangnya, memegang dasi hitam polos milik suaminya.
Tangannya yang kasar dengan lembut memasangkan dasi itu di leher Bagas.
"Mas Bagas deg-degan?" tanya Maya lembut sembari menatap wajah suaminya dari pantulan cermin.
Bagas menarik napas panjang, memegang tangan Maya yang berada di dadanya. "Sedikit, May.
Tiga tahun aku absen dari dunia kerja. Teknologi dan tren periklanan pasti sudah berubah drastis. Tapi begitu ingat kamu, rasa takut itu hilang."
Maya tersenyum manis, mengusap bahu Bagas dengan penuh kasih sayang. "Mas Bagas itu pintar dari dulu.
Maya yakin Mas pasti bisa melewatinya. Jangan lupa berdoa ya, Mas."
"Pasti, May. Doakan aku ya," bisik Bagas seraya mengecup kening Maya dengan lembut.
Gedung Nusantara Media Creative berdiri megah di pusat kota. Lantai marmer yang mengkilap dan interior bernuansa industrial modern membuat Bagas sempat terpana sejenak saat melangkahkan kaki melewati pintu kaca utama.
Suasana kantor terasa sangat sibuk; para karyawan muda berbusana modis lalu-lalang membawa laptop dan berkas.
"Bagas!" panggilan akrab menyapa pendengarannya.
Seorang pria berkacamata dengan pakaian kasual rapi melangkah cepat menghampirinya. Dia adalah Arya, teman kuliah Bagas yang kini menjabat sebagai Creative Director.
"Arya!" Bagas tersenyum lebar, menyambut uluran tangan dan pelukan hangat temannya. "Terima kasih banyak ya, Ar, udah kasih gue kesempatan hari ini."
"Santai aja, Bro! Lu kaya sama siapa aja," balas Arya menepuk bahu Bagas mantap. "Ayo ikut gue ke lantai empat.
Pak Pakusadewo—Direktur Utama kita—udah menunggu di ruangannya."
Di dalam ruang kerja bernuansa kayu jati yang mewah, seorang pria paruh baya berambut perak menatap tajam ke arah berkas portofolio lama milik Bagas. Di sampingnya, Arya berdiri sembari sesekali memberikan masukan.
"Pria di foto portofolio ini punya karya-karya kampanye iklan yang sangat tajam lima tahun lalu," ujar Pak Pakusadewo, suaranya berat dan berwibawa. "Tapi Bagas, tiga tahun koma bukan waktu yang singkat.
Dunia periklanan sekarang bergerak secepat kilat. Bagaimana kamu bisa meyakinkan saya kalau kamu tidak ketinggalan zaman?"
Bagas menegakkan posisinya, menatap Pak Pakusadewo tanpa ada rasa gentar.
"Saya paham kekhawatiran Bapak," tutur Bagas dengan nada tenang dan mantap.
"Selama tiga tahun tubuh saya tertidur, tapi haus saya akan analisis cerita dan psikologi manusia tidak pernah mati.
Tren media sosial bisa berubah setiap minggu, Pak, tapi prinsip dasar periklanan—yaitu menyentuh emosi manusia—tetap sama.
Beri saya satu kesempatan, dan saya akan buktikan bahwa ide-ide saya jauh lebih berjiwa daripada sekadar tren sesaat."
Pak Pakusadewo menyandarkan punggungnya di kursi kulit mewah, mengamati binar mata Bagas yang penuh ambisi dan keyakinan. Hening sejenak menguasai ruangan itu.
Tiba-tiba, Pak Pakusadewo mengetuk mejanya pelan sembari mengulas senyum tipis. "Jawaban yang sangat berani, Bagas.
Saya suka rasa percaya diri kamu."
"Jadi bagaimana, Pak?" tanya Arya penasaran.
"Arya, buatkan surat pengangkatan kerja untuk Bagas," pangkas Pak Pakusadewo tegas. "Dia diterima sebagai Senior Copywriter di tim kamu. Masa percobaan tiga bulan.
Jika hasil kerjamu memuaskan, Bagas, saya tidak akan ragu menaikkan posisimu menjadi Creative Lead."
Bagas terperanjat, matanya berbinar gembira. Ia segera berdiri dan menjabat tangan direktur tersebut dengan erat.
"Terima kasih banyak, Pak Pakusadewo! Saya janji tidak akan mengecewakan Bapak dan perusahaan ini!"
"Selamat bergabung di keluarga besar Nusantara Media, Bagas," sahut Pak Pakusadewo ramah.
Sore harinya, Bagas berlari kecil menyusuri gang kontrakan dengan senyum yang mengembang lebar di wajahnya.
Begitu membuka pintu rumah, ia langsung menyambar tubuh Maya dan memutarnya riang di udara.
"Aplikasi aku diterima, May! Aku diterima kerja!" jerit Bagas gembira.
"Aduh, Mas! Lepas dulu, nanti jatuh!" seru Maya tertawa senang bercampur terkejut.
Bagas menurunkan Maya, lalu memegang kedua bahu istrinya dengan mata berbinar-binar.
"May, aku diterima jadi Senior Copywriter di Nusantara Media Creative! Gaji pokoknya besar banget, May! Cukup buat bayar sewa rumah yang lebih layak dan beli semua kebutuhan kamu!"
Air mata haru menetes di pipi Maya. "Alhamdulillah, Ya Allah... Mas Bagas hebat banget! Maya bangga banget sama Mas!"
"Ini semua berkat doa kamu, May," tutur Bagas mengusap air mata di pipi istrinya, lalu membawanya ke dalam pelukan hangat.
"Mulai besok, kehidupan baru kita resmi dimulai. Aku bakal kerja keras buat membahagiakan kamu."
Maya menyandarkan kepalanya di dada Bagas yang hangat, merasa bersyukur atas pencapaian suaminya, tanpa menyadari bahwa langkah kaki Bagas memasuki gedung megah itu justru menjadi awal dari terbukanya pintu pengkhianatan yang akan meremukkan hatinya.