"Kamu harus menikah dengannya Daren!" lantang suara nenek Lusi berkata pada cucunya itu.
"Aku tidak mau nek, Aku punya pilihan sendiri dan nenek tidak bisa semaunya mengatur hidupku!" suara Daren pun tak kalah lantangnya dari suara nenek Lusi.
"Baiklah kalau kamu tetap menolak menikah dengan Nadia. Sekarang nenek kasih kamu pilihan, Menikah dengan Nadia atau kamu tidak akan pernah mendapatkan warisan apapun dari nenek," suara nenek Lusi merendah tapi penuh penekanan membuat kuping Daren memerah mendengarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.12 Hari pernikahan megah yang dingin
Hari pernikahan akhirnya tiba. Sesuai rencana rahasia Elsa dan Bu Siska, pernikahan digelar di sebuah aula hotel terpencil dengan dekorasi yang seadanya, sangat minimalis untuk ukuran keluarga konglomerat Wijaya. Tamu yang diundang sangat sedikit dan media dilarang meliput alasannya agar tidak memancing gosip, padahal untuk merendahkan Nadia.
"Nadia, kamu cantik sekali nak," puji Nenek Lusi yang tak henti menatap Nadia dengan kagum meski gaun yang dia kenakan bukan termasuk gaun yang mahal sesuai permintaan Daren dan Nenek Lusi terpaksa menurutinya demi bisa menikah dengan Nadia gadis yang sangat di sayangi oleh Nenek Lusi.
"Ah Nenek terlalu memuji," Nadia tersipu dia teringat pada Nenek nya sendiri yang sudah meninggal setahun yang lalu yang selalu menghibur Nadia dengan memberikan kata-kata pujian setiap hari pada Nadia.
Aula hotel yang kecil itu sudah di penuhi para tamu undangan yang hadir begitu juga dengan Elsa dia sudah duduk di salah satu kursi tamu tersebut, matanya tak lepas menatap ke arah Nadia "Hm rasakan kamu Nadia dengan pesta yang tidak gemerlap ini apakah kamu masih merasa kalau Daren akan meratukan kamu, hahahaha," Elsa tertawa puas dalam hatinya.
Acara inti pun akan segera tiba di mana pasangan pengantin di arak berjalan di atas karpet merah menuju ke sebuah podium kecil untuk saling mengucapkan janji suci mereka.
Nadia mengenakan gaun pengantin putih sederhana tanpa Payet mewah dan di sampingnya berdiri Daren, namun Daren menolak untuk memegang tangan Nadia saat berjalan menuju ke arah podium.
Terdengar bisik-bisik dari beberapa tamu saat melihat sikap dingin Daren pada Nadia "Lihat sikap Daren itu, dia tidak mau menggandeng tangan pengantin wanitanya, sepetinya dia tidak suka dengan pengantinnya itu," ucap salah seorang nyonya tamu undangan.
"Iya. Sangat kelihatan sekali kalau Daren tidak senang dengan pernikahan ini, jangan-jangan karena gadis itu hanyalah gadis kampung yang tidak jelas asal usulnya," timpal nyonya yang lain.
"Ya benar itu, mungkin pernikahan ini hanya iseng saja buat dia demi menuruti permintaan Nenek Lusi karena kabarnya kalau dia tidak mau menikah dengan gadis kampung pilihan Neneknya itu dia tidak akan menerima warisan sepeserpun dari Neneknya.
Nadia yang mendengar bisik-bisik dari para nyonya itu merasa sangat sedih tapi dia harus menuruti keinginan Nenek Lusi yang sudah banyak menolong dirinya selama ini dan akhirnya Nadia harus mengabaikan ucapan para nyonya kalangan elit itu meski hatinya sakit dan terhina.
Tiba di acara inti ketika Daren dan Nadia mengucapakan janji suci pasangan dan setelah janji suci terucap waktunya sesi foto bersama kedua pengantin. Senyum Daren terlihat sangat di paksakan dan dingin Daren hanya berdiri seperti patung es di samping Nadia tanpa ekspresi.
Nadia menyadari, janji suci yang baru mereka ucapkan hanyalah awal dari sebuah hukuman.
Begitu acara selesai malam itu, Daren tidak membawa Nadia ke rumah utama keluarga Wijaya. Tanpa memedulikan Nadia yang masih kelelahan dengan gaun pengantinnya, Daren langsung menyuruh Nadia masuk ke mobilnya.
"Nek aku akan bawa Nadia ke rumahku sendiri malam ini," ucap Daren pada Nenek Lusi setelah acara pernikahan selesai.
"Kenapa tidak tinggal di rumah utama saja, Daren?" tanya Nenek Lusi pada Daren.
"Nadia sekarang sudah menjadi istriku dan kewajiban Dia harus ikut kemanapun aku pergi membawanya," ucap Daren sok jadi suami yang bertanggung jawab di hadapan Nenek Lusi.
"Baiklah kalau begitu, Tapi kamu harus perlakukan Nadia dengan baik, Kalau sampai Nenek mendengar kamu membuatnya menderita, Nenek tidak segan-segan mengambil alih aset keluarga Wijaya lagi dari tanganmu, paham Daren," tajam dan menusuk ucapan Nenek Lusi ke hati Daren.
Daren hanya bisa mengepalkan tangannya di balik saku celana, menahan geram.
Daren membawa Nadia ke sebuah rumah minimalis berlantai dua yang terletak agak jauh dari pusat kota. Rumah itu adalah aset pribadi Daren yang jarang dia tinggali. Suasananya sepi, sunyi, dan terasa asing. Daren menghempaskan koper Nadia ke lantai ruang tamu dengan kasar.
Sebelum Nadia sempat menarik napas, Daren mengeluarkan selembar kertas dari saku jasnya dan melemparnya ke atas meja kopi di depan Nadia. Itu adalah Peraturan Rumah yang dibuat sepihak oleh Daren.
Dengan suara bariton yang dingin dan menusuk, Daren membacakan poin-poin kejamnya pada Nadia.
Pertama.Kamar terpisah,Nadia menempati kamar pembantu atau kamar tamu di lantai bawah, sedangkan kamar utama di lantai atas adalah area terlarang bagi Nadia.
Kedua, Larangan Menyentuh, Nadia dilarang keras menyentuh barang-barang pribadi Daren, termasuk masuk ke ruang kerja atau membersihkan kamarnya tanpa izin.
Ketiga, Jangan Mencampuri Urusan Pribadi, Daren menegaskan bahwa dia bebas pulang jam berapa saja, atau bahkan tidak pulang berhari-hari, dan Nadia tidak berhak bertanya atau meneleponnya.
Ke empat ,Sembunyikan Status, Di luar rumah ini, Nadia dilarang bertingkah seperti nyonya Wijaya. Dia tetap harus tahu diri dengan asal-usulnya.
Daren menatap Nadia dengan seringai sombong, berharap melihat mata gadis itu berkaca-kaca atau memohon belas kasihan. "Paham, Nadia? Pernikahan ini hanya di atas kertas. Di rumah ini, kamu bukan istriku, kamu cuma pajangan yang dibayar dengan status," ucap Daren dingin.
Nadia menatap lembaran kertas itu, lalu mengangkat kepalanya. Matanya tidak menangis. Dengan ketenangan yang luar biasa, dia menjawab, "Saya mengerti, Tuan Daren. Saya di sini untuk memenuhi janji pada Nenek Lusi, bukan untuk mengemis cinta Anda."
Jawaban telak Nadia membuat Daren meradang karena merasa egonya ditantang. Karena kesal, Daren langsung menyambar kunci mobilnya, berbalik, dan pergi dari rumah itu di malam pertama pernikahan mereka memilih untuk menghabiskan malam di apartemen Elsa, meninggalkan Nadia sendirian di rumah asing yang dingin itu.
Nadia mengambil kopernya yang tadi di lempar begitu saja oleh Daren, dengan langkah perlahan Nadia berjalan menuju ke kamar tamu seperti perintah Daren pada poin pertama dalam peraturan tegas yang di buat oleh Daren.
Nadia membuka pintu kamar itu, kamarnya terlihat bersih dan rapi, Kemudian Nadia mulai membuka gaun pengantinnya dan membersihkan riasan pengantin di wajahnya dan setelah itu Nadia melanjutkan menata baju-bajunya yang ada di dalam koper memindahkannya ke dalam lemari pakaian yang tersedia di dalam kamar itu.
Mungkin karena kelelahan setelah menjalani prosesi pernikahan siang tadi akhirnya Nadia tertidur diatas kasur di kamar tamu.
...----------------...
Sementara itu Daren yang masih asyik berlama-lama di apartemen Elsa sampai lupa waktu kalau jam sudah menunjukkan pukul dua malam ini.
"Elsa, Aku pulang dulu," ucap Daren sambil mengangkat kepala Elsa yang bersandar di dadanya.
"Kenapa harus pulang sih Daren....aku masih mau berlama-lama sama kamu sayang...." ucap Elsa dengan manjanya.
"Jangan sekarang, aku takut kalau Nenek menelpon Nadia dan menanyakan keberadaan aku dan kalau Nenek tahu aku tidak ada di rumah malam ini, Nenek tidak akan segan untuk mencabut semua warisannya yang ada di tanganku."
"Huh! Licik banget sih Nenek kamu itu, ada aja caranya agar kamu tidak kabur dari Nadia kampungan itu!" ucap Elsa dengan emosi yang membuncah.
"Sabar Elsa karena ini tidak akan lama, Aku pastikan Nadia akan secepatnya aku depak dari keluarga Wijaya."
"Ya, aku percaya sama kamu sayang," Elsa memeluk Daren dengan erat seperti tidak ingin melepaskannya padahal jauh di dalam hatinya dia tidak perduli apapun yang terjadi pada Daren karena yang Elsa pedulikan hanyalah harta Daren dan Kevin selingkuhannya.
ayo berfikir Darren istri mu sayang banget sama nenekmu harusnya kamu lebih pintar mengunakan nenekmu untuk mendekati istri mu
jadi bar" dikit nad jangn lembek yg bisanya cuma mewek doang