Jeslyn tidak percaya jika dirinya masuk kedalam cerita novel dan parahnya menjadi istri kedua yang tidak diceritakan dalam novel, ibu tiri dari pria yang diceritakan akan meninggal karena memperebutkan seorang wanita.
Jeslyn istri tidak diinginkan suaminya serta anak tirinya berniat mengubah takdir Lucian anak tirinya, siapa sangka niatnya hanya ingin menyelamatkan tokoh Lucian saja malah mendapatkan bonus jika suaminya malah jatuh cinta padanya dan juga Lucian yang bucin pada ibu tirinya.
Mampukah Jeslyn menyelamatkan Lucian dan mengubah takdir Lucian? Selamat Membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Jijik Padamu!
Pukul sebelas malam. Mansion megah itu tampak seperti bangunan mati yang ditinggalkan penghuninya. Lampu-lampu utama telah dipadamkan, hanya menyisakan lampu pilar yang temaram di setiap sudut ruangan. Tidak ada pelayan, tidak ada aktivitas, hanya bayang-bayang penjaga yang berdiri kaku di titik-titik strategis.
Lucian melangkah masuk dengan bahu yang terasa berat. Kebiasaan lama, pulang ke rumah besar yang terasa seperti kuburan. Ia sudah terbiasa diabaikan, terbiasa tidak ditanya "bagaimana harimu?", dan sejujurnya, ia sudah tidak peduli. Namun, malam ini berbeda. Otaknya terasa penuh, dihantui oleh ocehan konyol Daniel di kantin tadi.
“Mungkin dia jatuh cinta sama lo.”
Lucian mendengus sinis. Ia menatap tempat sampah di dekat pintu masuk tadi. Kotak makan siang berwarna pink itu sudah berada di sana, terkubur bersama sampah lainnya. Ia tidak menyentuhnya, apalagi memakannya. Baginya, itu hanyalah umpan dari wanita yang haus harta.
Saat ia hendak melangkah menuju tangga menuju lantai dua, sebuah suara menyimpang dari keheningan. Suara televisi menyala, diselingi isak tangis yang tertahan dan umpatan samar.
"Sial... kenapa sih tokohnya harus mati? Penulisnya bener-bener nggak punya hati! Hiks... kasihan banget..."
Lucian mengernyit. Ia mendekati ruang santai dengan langkah tanpa suara. Di sana, di atas sofa beludru mewah, sosok wanita itu meringkuk dengan mata sembab. Jeslyn. Wanita itu sedang menonton drama di televisi sambil mengunyah keripik dengan brutal, tangannya yang lain memegang sepotong kue cokelat.
"Apa yang dia lakukan jam segini?" batin Lucian.
"Biasanya dia sibuk menyusun rencana buat menguras harta Daddy, atau sibuk bertelepon dengan kekasih gelapnya."
Lucian baru saja ingin berbalik dan pergi, tak ingin urusannya dengan wanita ini bertambah panjang. Namun, keberuntungan tampaknya tidak berpihak padanya.
"Eh? Lucian?"
Suara itu terdengar ceria, nyaris melompat kegirangan. Jeslyn menoleh, matanya yang basah oleh air mata drama seketika melebar. Ia melempar bungkusan keripik ke samping dan berdiri dengan antusias, meski langkahnya agak tertatih karena perut buncitnya.
"Lucian! Kamu baru pulang? Ya ampun, ini udah jam sebelas malam, tahu!" seru Jeslyn sambil berjalan cepat mendekatinya.
Lucian membeku. Ia tidak menjawab, hanya menatap wanita itu dengan tatapan datar yang menusuk.
"Kamu dari mana aja? Kok telat banget? Aku dari tadi nungguin kamu, lho!" Jeslyn berdiri tepat di depan Lucian, menatapnya dengan senyum manis yang membuat perut Lucian mendadak mual.
"Kamu sudah makan? Aku tadi bikin kue, tapi karena kamu nggak pulang-pulang, akhirnya aku makan sendiri sambil nonton drama yang bikin emosi!"
Lucian tidak menjawab. Rahangnya mengeras. Ucapan Daniel kembali terngiang, membuat rasa jijik yang luar biasa merayap di dadanya. Lihat tatapan itu. Dia pasti sedang berakting lagi.
"Kamu dengar Mami nggak sih, Lucian?" Jeje cemberut, bibirnya mengerucut lucu.
"Aku tanya, kenapa kamu lama sekali pulangnya? Kamu nggak mampir ke mana-mana, kan?"
Melihat wajah Jeslyn yang cemberut, Lucian merasakan emosi yang meledak-ledak. Ia merasa seperti sedang menonton komedi murahan yang menjijikkan.
"Jangan pasang wajah itu di depanku!" ucap Lucian dingin, suaranya sedatar es.
Jeslyn tertegun. "Wajah apa? Aku cuma nanya, Lucian. Aku khawatir sama kamu."
"Khawatir?" Lucian tertawa pendek, tawa tanpa humor.
"Jangan berpura-pura, Jeslyn. Kamu pikir aku tidak tahu apa motifmu?"
Jeslyn mengerjapkan matanya bingung. "Motif? Maksud kamu? Aku cuma mau jadi ibu tiri yang baik buat kamu, Lucian. Itu aja."
"Ibu tiri yang baik?" Lucian melangkah maju, memaksa Jeslyn mundur hingga punggung wanita itu membentur dinding ruang santai. Lucian menatap tajam, matanya yang biru seolah ingin menguliti jiwa Jeslyn.
"Aku tahu apa yang kamu inginkan. Aku tahu apa yang ada di pikiran busukmu itu. Dan biar aku tegaskan satu hal..."
"Lucian, kamu kenapa sih? Ada yang salah dengan bekal tadi pagi? Apa rasanya aneh?" tanya Jeslyn, nada suaranya berubah menjadi panik dan khawatir.
"Aku membencimu!" desis Lucian, mengabaikan pertanyaan soal bekal.
"Aku sangat membencimu, Jeslyn. Kehadiranmu di rumah ini saja sudah membuatku muak. Dan soal perhatian palsumu itu... simpan saja untuk orang lain."
Jeslyn terdiam, matanya yang tadi penuh binar kini tampak terluka. "Lucian, aku..."
"Dan satu lagi," Lucian menatap Jeslyn dengan pandangan jijik yang sangat nyata, membuat Jeslyn bergidik.
"Jangan pernah berani menatapku seperti itu lagi. Aku jijik melihat kamu. Kamu hanyalah wanita pelakor yang kotor, dan jangan pernah berharap aku akan menganggapmu sebagai bagian dari keluargaku. Jangan pernah berani mendekatiku lagi, atau aku sendiri yang akan memastikan kamu pergi dari rumah ini!"
Setelah mengatakan itu, Lucian berbalik dan berjalan menaiki tangga dengan langkah lebar, meninggalkan Jeslyn yang terpaku di sana.
"Lucian! Tunggu!" teriak Jeslyn, mencoba mengejarnya, tapi langkahnya terhenti karena perutnya yang berat dan hatinya yang mendadak terasa perih.
"Jijik? Dia bilang dia jijik sama aku?" gumam Jeslyn pelan. Ia menatap ruang santai yang kini terasa sangat sunyi. Keripik yang tadi ia makan terasa hambar di lidahnya.
"Tapi... kenapa tatapannya tadi benar-benar terluka?"
Di lantai atas, Lucian membanting pintu kamarnya. Ia menyandarkan punggungnya di balik pintu, napasnya tersengal. Ia mencengkeram dadanya yang terasa berdegup kencang karena emosi yang meluap.
"Menjijikkan," gumamnya lagi pada diri sendiri.
Namun, saat ia menoleh ke arah jendela, ia teringat wajah Jeslyn yang kebingungan dan kecewa. Mengapa wanita itu terlihat begitu tulus saat bertanya soal bekal?.
"Jangan tertipu, Lucian. Dia hanya seorang aktris yang handal," bisiknya pada kegelapan kamar, mencoba mengusir bayangan wajah sedih Jeslyn dari pikirannya. Namun, untuk pertama kalinya, kebencian yang ia rasakan tidak terasa semurni biasanya. Ada keraguan yang mengusik, yang membuatnya semakin membenci dirinya sendiri.
Bersambung...
Semoga kalian suka ya, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian.