NovelToon NovelToon
Cinta Lama, Dendam Baru

Cinta Lama, Dendam Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / CEO
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cilia

Tujuh tahun lalu, Kirana Ayu Pradipta ditinggalkan tanpa penjelasan oleh kekasihnya, Raditya Alamsyah Wibowo. Kirana pergi tanpa tahu kebenaran, membangun hidup dan kariernya dari nol, tumbuh jadi perempuan tegar yang tak lagi percaya cinta. Tujuh tahun kemudian, mereka bertemu kembali. Bukan sebagai sepasang kekasih, tapi sebagai rival bisnis dalam tender proyek properti terbesar di Jakarta. Radit yang dingin berusaha merebut kembali hati Kirana, sementara Kirana harus memilih antara membalas dendam, melindungi perusahaannya, atau membuka hatinya lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

X - Jarak yang Dipilih

Kirana tidak tahu berapa lama ia duduk di lantai dengan punggung menempel ke pintu, tapi ketika ia akhirnya bangkit, matanya sudah kering dan kakinya kesemutan.

Ia memaksa dirinya berdiri, berjalan ke kamar mandi, menyalakan air panas. Bukan karena ingin bersih-bersih, tapi karena butuh sesuatu yang bisa menenggelamkan pikirannya barang sepuluh menit. Tapi triknya tidak berhasil. Bayangan tangan Radit di wajahnya, suaranya yang berbisik semalam, tetap menempel di kulitnya seperti sesuatu yang tidak bisa dibilas.

Layar ponselnya menyala di atas ranjang tanpa notifikasi yang berbunyi mengiringi. Nadia.

Lu di mana? Gua telepon dari semalem nggak diangkat-angkat.

Kirana menatap layar itu lama sebelum mengetik balasan singkat, tidak sanggup menjelaskan semuanya lewat pesan teks.

Gua ada di apart. Ceritanya panjang. Nanti gua telepon.

Ia meletakkan ponsel, duduk di kasur, menyandarkan kepala ke headboard kasurnya, kemudian memejamkan matanya sebentar. Ini nggak boleh kejadian lagi, ia berjanji pada diri sendiri.

Radit akan menikah sama Valerie, dan fakta itu nggak akan berubah cuma karena satu malam panas di antara mereka.

...****************...

Ia tetap masuk kantor hari itu, meski tubuhnya menjerit meminta istirahat. Duduk di balik meja lebih terasa aman daripada duduk sendirian di apartemen, dikelilingi dinding yang hanya akan mengingatkannya pada kejadian semalam.

Nadia menyambutnya di lorong kantor, wajahnya campuran lega dan waswas. "Lu beneran masuk? Gua kira lu bakal istirahat."

"Kalau di rumah, gua cuma bakal ngelamun," Kirana menjawab, berusaha membuat suaranya terdengar biasa saja. "Mendingan gua sibukin diri sendiri."

Nadia tidak mendesak lebih jauh, meski matanya masih menyimpan seribu pertanyaan yang belum berani ia tanyakan. Ia menyodorkan secangkir kopi, mengikuti Kirana masuk ke ruang kerja, membiarkan sahabatnya menenggelamkan diri dalam *briefing* pagi yang sebenarnya bisa ditunda.

Ponsel Kirana menyala lagi. Kali ini dari Radit.

Aku tau kamu butuh waktu. Aku bakal nunggu selama yang kamu perlu. Tapi tolong, jangan ngilang dari aku lagi.

Kirana membaca pesan itu berulang kali, jarinya melayang di atas layar tanpa mengetik apa-apa. Ada begitu banyak yang ingin ia sampaikan kepada Radit. Rasa marah, takut, dan di bawah semua itu, ada sesuatu yang lebih ia inginkan di dalam lubuk hatinya — bisikan bahwa ia sebenarnya tidak ingin Radit berhenti mencoba untuk memperbaiki hubungan mereka.

Tapi ia memutuskan untuk mendunda membalas pesan itu.

Ia segera menghampiri Nadia begitu jam kantor usai. Ia menceritakan semuanya — basement yang gelap, tangan yang bertaut, mobil yang kacanya berembun, dan pesan mengenai lamaran yang muncul di layar ponsel Radit keesokan paginya.

Nadia diam cukup lama sebelum akhirnya bicara. "Kir, gua nggak akan nge-judge lu. Tapi lu harus jujur sama diri lu sendiri. Ini bukan cuma soal semalam, kan?"

"Iya," Kirana menjawab, suaranya lirih. "Gua cuma nggak tahu harus ngapain sama perasaan ini."

"Lu nggak harus tahu sekarang," Nadia berkata, lebih lembut. "Tapi jangan biarin diri lu kejebak lagi di posisi yang sama kayak dulu, Kir. Lu udah kerja keras buat jadi kuat."

Kirana tidak menjawab, hanya membiarkan kata-kata sahabatnya menggantung, kalimat yang dilontarkan sahabatnya benar, tapi tidak cukup untuk meredakan kekacauan di dadanya.

...****************...

Radit duduk di ruang kerjanya sepanjang pagi tanpa menyelesaikan satu pun pekerjaan, matanya terus tertuju pada ponsel yang tidak kunjung berbunyi.

"Lu kelihatan berantakan," Farrel berkata, masuk tanpa mengetuk seperti biasa. "Rapat evaluasi tender sepuluh menit lagi. Lu siap?"

"Siap," Radit menjawab pendek, meski pikirannya sama sekali tidak ada di ruangan ini.

Farrel memperhatikannya lebih lama dari biasanya. "Ada apa semalem?"

Radit tidak menjawab, hanya berdiri dan meraih jasnya.

Di lift menuju ruang rapat, Farrel mencoba lagi, nadanya lebih santai. "Lu tau? Belakangan ini lu digosipin sama staf. Perkara lu minta CSR bantu pasien tanpa nama perusahaan, terus lu sendiri yang nengok ke lantai tiga. Itu bukan kebiasaan lu, Dit."

"Gua cuma mastiin prosesnya bener. Lagian, ngapain mereka peduli dengan semua kegiatan gua, sih?"

"Sejak kapan CEO mastiin sendiri prosedur administrasi rumah sakit? Itu hal yang aneh buat staf yang udah tau lu gimana," Farrel menyipitkan mata.

Pintu lift terbuka sebelum Radit sempat menjawab. Ia melangkah keluar tanpa berkomentar, meninggalkan pertanyaan itu menggantung di udara.

Rapat berjalan panjang, dan sepanjang waktu itu Radit berulang kali kehilangan fokus, pikirannya melayang kembali ke *basement* malam itu.

"Pak Wibowo?" salah satu anggota tim memanggil, membuat Radit tersadar ia sudah melamun cukup lama. "Bagaimana pendapat Anda soal revisi anggaran ini?"

"Maaf. Bisa diulang pertanyaannya?"

Farrel melirik dari seberang meja, alisnya terangkat sedikit.

Radit baru benar-benar kembali ke kenyataan saat ponselnya menyala dan bergetar di atas meja rapat. Bukan pesan dari Kirana, melainkan panggilan dari Valerie.

"Maaf, saya harus angkat telepon ini," katanya, melangkah keluar ruangan.

"Radit," suara Valerie lebih tajam dari biasanya, "kamu di mana semalem? Aku telepon berkali-kali, nggak diangkat."

"Ada urusan di kantor. Listrik gedung padam karena hujan, aku kejebak sampai pagi."

Hening sejenak, terlalu lama untuk sekadar jeda biasa.

"Aneh," Valerie akhirnya berkata, nadanya berubah dingin. "Satpam bilang mobilmu masih di basement sampai jam enam pagi. Tapi kenapa nomor kantormu nggak bisa dihubungi sepanjang malem?"

Sesuatu yang dingin merayap di tengkuk Radit. "Kamu sampai nanya ke satpam gedung?"

"Aku cuma khawatir, Radit." Suaranya melunak, tapi Radit sudah cukup lama kenal Valerie untuk tahu bahwa kelembutan yang ia tunjukkan itu tidak tulus. "Kita mau nikah sebentar lagi. Aku berhak tahu kalau ada yang ganggu kamu."

"Nggak ada yang perlu kamu khawatirin."

"Kalau gitu kenapa kamu kedengeran kayak lagi nyembunyiin sesuatu?" Nada Valerie kehilangan seluruh kelembutan yang tadi ia coba tunjukkan. "Aku bukan orang bodoh. Aku udah merhatiin perubahan sikap kamu sejak minggu lalu. Sejak perempuan dari Cipta Prada Land itu mulai muncul di hidup kamu."

Nama itu, meski tidak disebut langsung, membuat Radit membeku sejenak di koridor yang sepi. "Ini nggak ada hubungannya sama Kirana."

Kesalahan itu keluar begitu saja, dan Radit menyadarinya sedetik setelah nama itu meluncur dari mulutnya — bahwa ia baru saja membenarkan sesuatu yang bahkan belum sempat Valerie tuduhkan.

Hening di ujung telepon terasa jauh lebih berbahaya kali ini.

"Aku nggak pernah nyebut namanya," Valerie berkata pelan. Radit bisa mendengar sesuatu berubah dalam suaranya, bukan lagi marah, tapi sesuatu yang jauh lebih menyeramkan.

"Aku harus balik rapat," Radit berkata cepat, berusaha menutup celah yang baru saja ia buka sendiri. "Nanti aku telepon lagi."

Ia mengakhiri panggilan tanpa menunggu jawaban, menyandarkan punggung ke dinding koridor, menghela napas panjang. Satu kalimat yang keluar tanpa sengaja tadi terus berputar di kepalanya. Ini nggak ada hubungannya sama Kirana. Kalimat yang seharusnya jadi bantahan, tapi malah terdengar seperti pengakuan bagi siapa pun yang mendengarnya.

Farrel menemukannya masih berdiri di koridor beberapa menit kemudian, rapat sudah bubar tanpa Radit sadari. "Lu nggak balik ke ruangan rapat. Semua orang nanyain."

"Maaf. Ada telepon penting." Radit merapikan jasnya, mencoba tampak biasa saja.

"Dari Valerie?" Farrel menebak, melihat raut wajah sahabatnya. Ketika Radit tidak membantah, ia menghela napas. "Dit, lu harus mikirin ini baik-baik. Sebelum semuanya jadi berantakan buat semua orang, termasuk Kirana."

Radit tidak menjawab. Ia cuma berjalan melewati Farrel menuju ruang kerjanya, meninggalkan sahabatnya menatap punggungnya dengan raut wajah yang campur aduk antara khawatir dan lelah.

...****************...

Di ujung telepon yang baru saja ditutup, Valerie duduk diam di mobilnya, menatap layar ponsel dengan ekspresi jauh lebih tenang daripada yang seharusnya dimiliki oleh seorang tunangan yang baru saja dibohongi.

Ia sudah mengetik satu nama di aplikasi pesannya, kenalan lama yang bekerja di biro investigasi swasta, nomor yang selama ini ia simpan untuk keadaan darurat semacam ini.

Gua butuh seseorang buat diawasin. Mulai hari ini.

Ia menekan kirim, menyandarkan kepala ke jok mobil, matanya menatap gedung Wibowo Group yang menjulang di depannya. Tatapannya tidak menunjukkan tanda-tanda kepanikan, melainkan perhitungan dingin dari seseorang yang sudah lama belajar bahwa kepercayaan adalah kemewahan yang tidak pernah benar-benar bisa ia berikan pada siapa pun, termasuk pria yang sebentar lagi jadi suaminya.

Balasan datang lebih cepat dari yang ia duga.

Siap, Bu Valerie. Mau mulai jam berapa?

Sekarang juga. Gua mau laporan harian. Ke mana dia pergi, siapa yang dia temuin, terutama kalau ada hubungannya dengan wanita bernama Kirana Ayu Pradipta.

Ia mengunci ponselnya, menyelipkannya kembali ke dalam tas tangan miliknya. Valerie bukan tipe perempuan yang menangis di sudut ruangan. Ia lebih suka mengumpulkan bukti dulu, baru bertindak. Dan kalau dugaannya benar, ia sudah tahu persis siapa yang akan ia hadapi lebih dulu.

Bukan Radit.

Tapi Kirana Ayu Pradipta.

1
m.marsela
kalau masih sayang, kenapa melepaskan sih duit, kepo banget sama alasannya ninggalin kirana
Ade Chubi
Radit hebat 👍
Ade Chubi
selalu nyerang pihak perempuan nya ,kalo menyerang Radit , Valerie tau akan konsekuensinya 😂😂
Cilia: Radit punya kuasa ka😂
total 1 replies
m.marsela
padahal ada orang baru yang siap untuk selalu ada
tapi orang yang pernah memberi luka justru masih selalu memenangkan ruang di hati.
Cilia: Terlsdang masa lalu selalu menang ka… huhu
total 3 replies
Raudhatul Zannah
buat penasaran kak ceritanya, semangat ya kak
Ery Sithi Badriyyah
seru bgt ceritanya
Ery Sithi Badriyyah
seru ceritanya lanjut yuk
white star ⭐
bikin ketagihan membacanya
mary dice
Nah gitu dong Kirana 🔥🔥 ditunggu gebrakan-gebrakanya melawan m
para musuh 💪💪
Arni Arlinawati pratiwi
semangat anak ku sayang..
helena
lanjut thoor
m.marsela
Fix lanjut baca, penasaran banget
Putri Ayu/PqxxyZ
Sangat merekomendasi ceritanya... Yang belum baca wajib baca sih ini
Cilia
Penjelasannya bisa dibaca di bab-bab selanjutnya! Makin seru loh😆
Putri Ayu/PqxxyZ
terjadi salah paham ya...tapi kenapaa gak dijelasin sih malah ilang 😊
Putri Ayu/PqxxyZ
yuk bisa yuk cari cowok selain Raditya...💪💪 🤭
Cilia
Terimakasih atas dukungannya kak❤️
Raudhatul Zannah
semangat kak
Wawan
Satu iklan dan mawar buat mu Thor 💪
Wawan
Clue nya menarik 👍
Cilia: Terimakasih, kak! Bab-bab berikutnya akan lebih menarik! Ditunggu, ya😆
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!