NovelToon NovelToon
SANTET PRING SEDAPUR: Kaurebut Suamiku, Kurenggut Nyawamu

SANTET PRING SEDAPUR: Kaurebut Suamiku, Kurenggut Nyawamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

Aryo Pradana adalah seorang pengusaha sukses, namun sayang berada di puncak pencapaian dengan bergelimang harta tak lantas membuatnya jadi suami bersyukur. Ia memilih mengkhianati Sekar—istri setianya yang berasal dari garis keturunan dukun terkuat di sebuah desa terpencil asal Banyuwangi.

Demi ambisi dan gairah, Aryo menikah siri dengan Maya, gadis kota, muda, namun ambisius. Alih-alih meratap dan menangisi nasibnya, Sekar yang mengetahui pengkhianatan ini justru memilih mundur dengan keheningan yang mematikan.

​Ketika Maya mulai mengandung anak Aryo dan menuntut posisi sebagai istri sah satu-satunya, teror gaib yang legendaris, Santet Pring Sedapur, mulai dikirimkan.

Di balik keputusasaan Aryo untuk menyelamatkan istri mudanya, ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa satu-satunya cara menghentikan teror ini adalah menyerahkan kembali jiwanya pada Sekar—atau mati bersama seluruh keturunannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 - Wanita Berkonde

​Klinik privat di pinggiran Jakarta Selatan itu tak ubahnya sebuah rumah transit bagi jiwa-jiwa yang sedang sekarat. Setelah insiden perpindahan gundukan kaku ke hulu hati Maya, Aryo menolak membiarkan satu pun perawat atau dokter mendekati istrinya.

Ia menyewa seluruh paviliun kecil di bagian paling belakang klinik, membayar lunas ketakutan para staf medis dengan tumpukan uang tunai agar mereka tidak melempar kasus ini ke rumah sakit jiwa atau kantor polisi.

​Di dalam kamar yang temaram, bau karbol tidak lagi mampu bersaing dengan bau apak tanah makam yang menguar dari pori-pori kulit Maya.

Di sudut ruangan, sebuah cermin rias tua berbingkai kayu jati—satu-satunya perabot yang tersisa dari fasilitas paviliun—berdiri kaku memantulkan kegelapan malam.

​Maya duduk di tepi ranjang besi. Sepasang kakinya yang kini dipenuhi guratan memar membiru menggantung, hampir menyentuh lantai ubin yang sedingin es.

Gaun tidurnya tersingkap sedikit, memperlihatkan kulit dadanya yang kini mengeras, menyisakan tekstur berserat kelabu menyerupai kelopak pelepah bambu kering.

Di bawah lapisan pelindung gaun itu, jantung asing itu masih berdetak dengan ritme yang lambat dan berat. Dug ... dug ... dug ....

​"Mas ... ambilkan aku cermin kecil," bisik Maya. Suaranya bukan lagi lengkingan manja seorang sosialita Jakarta; suaranya kini terdengar tipis, kering, dan berdesis seperti gesekan daun-daun tua di tengah hutan.

​Aryo yang sedang duduk di kursi sudut ruangan dengan kepala bersandar pada dinding, tersentak bangun. Mata merahnya menatap Maya dengan rasa ngeri yang kian berakar.

"Untuk apa, Maya? Kamu harus istirahat. Jangan banyak bergerak dulu."

​"Aku hanya ingin melihat wajahku, Mas," lirih Maya, kepalanya perlahan menoleh ke arah Aryo.

​Gerakan leher Maya terasa kaku, mengeluarkan bunyi berderit halus yang mengerikan dari dalam persendian tulang lehernya.

Sepasang matanya yang kuyu kini dikelilingi oleh lingkaran hitam yang pekat, membuat kornea matanya tampak tenggelam dalam cekungan tengkorak yang hidup.

"Aku merasa ... wajahku bukan milikku lagi. Seperti ... ada yang sedang menempel di kulitku."

​"Jangan bicara yang aneh-aneh, Sayang. Itu hanya pengaruh obat," bohong Aryo, mencoba menekan getar di suaranya sendiri.

​Namun, Maya tidak mendengarkan. Dengan sisa-sisa energi yang tersisa di dalam otot-ototnya yang kian menyusut, ia menurunkan kakinya ke lantai. Bertelanjang kaki, ia melangkah terseret menuju meja rias tua di sudut kamar.

Setiap kali telapak kakinya menginjak ubin, ia meninggalkan bekas bercak cairan bening yang berbau anyir bunga kantil.

​Aryo tidak berani mencegah. Ia hanya bisa berdiri, memaku pandangannya pada punggung kurus Maya yang kini sudah berdiri tepat di depan cermin rias besar tersebut.

​Cahaya lampu dinding yang kuning redup menciptakan atmosfer yang kaku di atas permukaan kaca cermin yang sedikit berdebu. Maya mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah pantulan dirinya sendiri.

​Awalnya, kaca itu hanya memantulkan sosok wanita muda yang malang—seorang perempuan berusia 26 tahun yang penampilannya telah hancur lebur oleh kutukan. Rambutnya kusam dan rontok di beberapa bagian, menyisakan kulit kepala yang memerah.

​Namun, begitu jam dinding di lorong klinik berdentang tiga kali menandakan tibanya sepertiga malam, permukaan kaca cermin itu mendadak berombak pelan, seolah-olah lapisan air tipis baru saja menyapu permukaannya dari dalam.

​Srekk ... srekk ....

​Suara gesekan dedaunan bambu yang familiar kembali terdengar, kali ini suaranya bergema sangat dekat, tepat dari balik kaca cermin.

​Maya terpaku. Sepasang matanya membelalak lebar hingga urat-urat merah di sekitar kornea matanya mencuat.

Di dalam pantulan kaca, sosok dirinya perlahan-lahan mulai mengabur, digantikan oleh gumpalan kabut putih tipis yang beraroma kemenyan madu.

​Dari balik kabut di dalam cermin, sesosok wanita lain perlahan melangkah maju, mendekati permukaan kaca dari sisi yang berbeda.

​Wanita itu mengenakan kebaya beludru hitam pekat yang dihiasi sulaman benang emas di bagian kerahnya. Kain jarik motif Gajah Oling membungkus pinggangnya yang ramping dengan sangat anggun.

Rambut hitamnya yang panjang dan lebat tidak lagi terurai kotor seperti dalam mimpi buruk mereka, melainkan tersanggul rapi dalam bentuk konde Jawa kuno yang besar—sebuah gelung konde tradisional Blambangan yang dihiasi oleh sebatang tusuk konde kuningan berbentuk bilah bambu kecil.

​Itu Sekar.

​Namun, itu bukan Sekar yang biasa Aryo lihat menjahit kain batik di rumah Kemiren. Wajah Sekar di dalam cermin tampak begitu halus, begitu putih bersih bak porselen, tanpa ada satu pun kerutan.

Bibirnya yang merah darah melengkung membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat manis, namun memancarkan aura dingin maut yang sanggup menghentikan detak jantung siapa pun yang menatapnya.

​"Cantik sekali wajahmu sekarang, Cah Ayu."

Sebuah suara berbisik dari dalam cermin. Suara itu bukan terdengar di telinga Maya, melainkan bergema langsung di dalam rongga kepalanya, memantul di sela-sela kesadarannya yang kian menipis.

​"Pergi ... pergi kamu dari sini!" jerit Maya, tangannya bergerak cepat mencakar permukaan kaca cermin, mencoba menghapus bayangan wanita berkonde itu.

​Namun, bayangan Sekar di dalam cermin tidak menghilang. Ketika tangan Maya menyentuh kaca, di dalam pantulan tersebut, tangan Sekar yang mengenakan gelang emas kuno juga ikut terangkat, menempelkan telapak tangannya tepat di posisi yang sama dengan tangan Maya.

​Secara perlahan, wajah Sekar di dalam cermin mulai bergeser maju, menyatu dengan garis wajah Maya. Di bawah pandangan mata Maya yang histeris, bayangan konde besar di kepala Sekar tampak ikut tercetak di atas kepala pantulan dirinya sendiri.

Seolah-olah sosok Sekar sedang berdiri tepat di belakang punggung Maya, mendekap tubuhnya erat-erat, dan perlahan-lahan merayap masuk untuk mengenakan kulit tubuhnya sebagai jubah baru.

​"Mas Aryo!!! Dia di belakangku! Dia ada di dalam cermin!!!" raung Maya, tubuhnya berbalik dengan sentakan liar, menjatuhkan vas bunga plastik di atas meja rias hingga pecah berantakan.

"Mas, tolong, Mas!!"

​Aryo menerjang maju, menangkap tubuh Maya yang hampir ambruk ke lantai. Ia menoleh ke arah cermin rias besar itu dengan mata liar.

Namun, begitu matanya menatap permukaan kaca, bayangan Sekar berkonde sudah lenyap. Kaca itu kini hanya memantulkan dirinya yang sedang memeluk tubuh Maya yang kurus kering di bawah pendar lampu kuning yang kaku.

​"Tidak ada siapa-siapa di sana, Maya! Tidak ada!" teriak Aryo, mencoba meyakinkan dirinya sendiri yang kini juga sedang dirayapi oleh rasa takut yang luar biasa.

​"Ada, Mas! Dia tersenyum padaku! Dia bilang ... dia sudah mengambil alih rumah ini ... dia sudah mengambil alih badanku!" Maya menjerit, kedua tangannya bergerak menjambak rambutnya sendiri hingga beberapa kepalan rambut rontok terlepas, jatuh di atas lantai ubin yang dingin.

"Konde itu... aku bisa merasakan konde itu ada di kepalaku, Mas! Kepalaku berat sekali!"

​Maya terus merancau, jarinya menunjuk-nunjuk ke arah cermin dengan tubuh yang bergetar hebat. Dari sela-sela pori-pori kulit di bawah telinganya, perlahan-lahan muncul garis-garis halus berwarna hitam, membentuk guratan yang menyerupai serat-serat halus kayu jati tua yang mati.

"Tolong lepas kondenya, Maaas, beraaat." Maya terus merintih.

"Sudah, Maya, sudah. Kumohon. Aku lelah, May. Hentikan ...." Aryo kian fristasi.

​Aryo memeluk erat kepala Maya, menyembunyikan wajah istri mudanya itu di dadanya agar tidak lagi menatap kaca jahanam tersebut.

Di dalam keheningan paviliun klinik yang terisolasi itu, bau bunga kantil yang layu mendadak turun kembali, memenuhi setiap sudut ruangan dengan kepekatan yang luar biasa.

​Dari arah bawah meja rias, suara derit halus kembali terdengar.

​Aryo melirik ke bawah dengan sudut matanya yang gemetar. Di sana, di sela-sela pecahan vas bunga plastik di atas ubin klinik, beberapa helai daun bambu berukuran kecil dan kering tampak tergeletak berserakan—padahal di sekitar paviliun klinik ini tidak ada satu pun pohon bambu yang tumbuh.

1
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Sebelum paham soal Pring sedapur ini sempat berpikir, kenapa Sekar tidak langsung membalas sakit hatinya ke Aryo?

Yaa.... karena Pring sedapur ini memang tujuannya menghabiskan keturunan Aryo.

Jadi .... ibaratnya Aryo adalah target pamungkas dari pembalasan sakit hati Sekar.
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Danu menyuruh Sekar membalas Aryo secara langsung di tanah wetan. Apa Danu lupa kalau santett Pring Sedapur ini berlaku untuk seluruh keturunan Aryo? menghabisi keturunan Aryo sampai akar akarnya.
Jadi ... Maya tidak mungkin dilepaskan oleh Sekar kan?

Bahkan siapapun yang terlibat dalam penghianatan Aryo sudah menuai akibatnya.
Cha Libra
mampus kau Aryo ..jngan kira perempuan klo udh sakit hati bkal diem inget perempuan klo udh sakit hati bkal lbih mengerikan
kinoy
ngeri BNR..angel temen ni santet. Yo Aryo. .km sih ah biang kerok
Cha Libra
syukurin ..emang 3nak makanya jngan suka selingkuh d ksih Istri yg baik mlah nyeleweng nikmatin ja buah dri penghianatan mu yo yo
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Siapa sebenarnya yang di gunung salak ini?
Seseorang yang bisa memutus santett Pring sedapur Ki demangkah ??
shafira 🥰
bagus banged... ceritanya sungguh menarik.seruuuuu.. karna aq juga tinggal di banyuwangi....
Buna: woah, ada tetangganya Sekar. 😄
terima kasih penilainnya, yaaaa. ❤
total 1 replies
shafira 🥰
lanjuttttttt.... thorrrr
shafira 🥰
lanjutttttt thorrrrrr.... seruuuuuu.... l
Buna: siap, kak. hari ini sudah 3 bab. insyaallah besok lanjut lagi. terima kasih sudah mampir, ya. ♥︎
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Aryo terlalu egois !!
Dia tidak mau "menjatuhkan" dirinya di hadapan Sekar.
tapi ....
pada akhirnya azab yang akan memaksa dia untuk "jatuh" ..... sejatuh jatuhnya
Shusand MaiTtimu
habis kan saja Thor,, si Aryo nya juga
dasar laki laki tidak tau diri
kinoy
ttp y mnt tanggungjwb Aryo sbg pelaku utama y
kinoy
Bnr2 DAh..keren ni crt
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Emang kemana tujuanmu sekarang, Aryo??

Rumah Sekar? atau
alas Purwo?
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻: Ngadi Ngadi authornya 😄
total 2 replies
kinoy
egois si Aryo..BKN y sadar
Mifta Afandi
orang kayak Aryo ma Maya moga GK ada yq nolongin
kinoy
ngeri y..adakah yg BS nolongin Aryo..ato EMG kudu metong
Inna Mirna AR
suka sama karyamu thor, serasa lagi nonton film horror
Buna: terima kasih, kak. selamat membaca. ♥︎
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
ibaratnya ....
Aryo yang berbuat
tapi Maya yang menanggung siksa jiwa dan raga atas ulah Aryo.

Aryo menderita dan hampir gila dengan menyaksikan semua penderitaan Maya yang terkena santett Pring Sedapurr
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Meski jangkar sudah diputus oleh Danu, tapi tetap saja tidak bisa menolong Maya .
Maya sudah hampir menjadi Pring/bambu yang kering dan mati .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!