NovelToon NovelToon
BAKTI BUTA SUAMIKU

BAKTI BUTA SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Bagi Bagas, surga ada di telapak kaki ibu. Namun sayang, baktinya buta. Sebagai anak keenam dari tujuh bersaudara, Bagas selalu memaksakan diri membayar iuran Bagi Rata yang dituntut kakak pertamanya demi menyenangkan sang Ibu. Ia menutup mata bahwa ekonomi mereka pas-pasan, jauh di bawah kakak-kakaknya yang sukses.

​Keuangan rumah tangga terkuras habis. Beruntung, Adinda sang istri adalah wanita tangguh. Lewat usaha katering rumahan dan kue online yang dibangunnya dari nol, Adinda berhasil membeli sebuah rumah sederhana satu kamar untuk tempat mereka berteduh bersama anak laki-laki mereka yang kini sudah SMP.

​Bukannya sadar, Bagas justru menjadikan kemandirian Adinda sebagai tameng untuk terus menyetor uang ke keluarga besarnya. Puncaknya, modal katering Adinda dikuras sepihak, dan rumah mungilnya itu mulai diincar untuk kenyamanan sang mertua.

​Saat anak laki-lakinya mulai ikut menderita dan berontak, Adinda akhirnya menyalakan mode tegas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAKTI BUTA SUAMIKU

​Adinda menggenggam ponsel tuanya dengan jemari yang sedikit bergetar, bersandar pada sandaran kursi kayu di dapur yang kini terasa begitu lapang. Nada sambung berbunyi teratur, memecah keheningan rumah kontrakan yang beberapa puluh menit lalu sempat memanas akibat amarah Bagas yang meledak-ledak. Setiap dering yang terdengar seolah menjadi hitungan mundur bagi babak baru kehidupan yang sedang ia susun di dalam kepala. Ada rasa bimbang yang sempat menyelinap, sebuah ketakutan naluriah seorang istri yang hendak membicarakan keretakan rumah tangganya, namun bayangan wajah Dimas yang kelelahan menyadarkannya kembali. Waktu untuk ragu sudah habis.

​Pada deringan kelima, suara klik terdengar menandakan panggilan telah tersambung.

"Halo, Assalamualaikum, Adek..."

​Suara berat, berwibawa, namun penuh kehangatan khas Mas Danu terdengar dari seberang ponsel. Mendengar suara kakak kandung satu-satunya itu, dada Adinda mendadak sesak. Ada kelegaan yang luar biasa besar yang tiba-tiba mendesak keluar, membuat matanya seketika berkaca-kaca. Mas Danu adalah jangkar emosionalnya semenjak orang tua mereka tiada. Kakaknya yang kini telah menjelma menjadi pengusaha sukses di luar kota itu selalu menjadi tempat bersandar paling aman bagi Adinda.

"Waalaikumsalam, Mas Danu," jawab Adinda, berusaha sekuat tenaga menahan getar di suaranya agar tidak terdengar seperti wanita yang lemah. Ia menarik napas dalam-dalam, mengusap sudut matanya yang mulai basah dengan ujung jilbab instan yang masih ia kenakan.

"Dinda? Kamu baru selesai masak buat katering? Suaramu kok agak serak begitu? Kamu sehat, kan?" Mas Danu langsung memberondong dengan pertanyaan penuh perhatian. Kepekaan seorang kakak tidak pernah bisa dibohongi, bahkan hanya lewat intonasi suara di telepon.

​Adinda tersenyum tipis, merasakan kehangatan yang sudah lama tidak ia dapatkan dari suaminya sendiri. "Sehat, Mas. Alhamdulillah, katering pagi ini sudah selesai diantar. Dimas juga sudah langsung berangkat ke sekolah tadi dari tempat pelanggan."

"Alhamdulillah kalau begitu. Dimas gimana? Ndak telat kan dia? Kamu itu jangan terlalu memikirkan katering sampai anakmu ikutan kecapekan, Din. Ingat, Dimas itu jagoan kita satu-satunya," terdengar kekeh kecil dari Mas Danu di seberang sana. Suara itu terdengar tulus, memancarkan rasa sayang yang teramat besar kepada keponakan laki-laki satu-satunya di keluarga mereka.

​Adinda terdiam sejenak. Kalimat terakhir Mas Danu bagaikan pembuka pintu bendungan yang selama ini menahan keluh kesahnya. Ia menghela napas panjang, bersiap untuk mengutarakan maksud utamanya menelepon pagi ini. Ia tahu, Mas Danu dan Mbak Anik sebenarnya sudah sangat paham bagaimana tidak sehatnya roda rumah tangga yang ia jalani bersama Bagas selama bertahun-tahun ini. Kakaknya sudah sering memberikan masukan, namun selama ini Adinda selalu memilih untuk bertahan demi status dan masa depan anak. Tapi hari ini, situasinya sudah berbeda.

"Mas Danu... sedang sibuk ndak? Ada yang mau Dinda bicarakan. Penting sekali, Mas," ucap Adinda dengan nada yang berubah serius dan mendalam.

​Suasana di seberang telepon mendadak hening sejenak. Terdengar suara lembaran kertas yang ditutup dan langkah kaki Mas Danu yang menjauh dari hiruk-pikuk pekerjaannya, mencari tempat yang lebih privat untuk berbicara dengan adik perempuan satu-satunya.

"Ndak, Din. Mas ndak sibuk kalau buat kamu. Bicara saja, ada apa? Masalah Bagas lagi?" tebak Mas Danu langsung, nadanya kini berubah menjadi lebih tajam dan fokus. Sebagai kakak, Mas Danu sudah lama memendam rasa geram terhadap sikap adik iparnya yang tidak tahu diri itu.

​Adinda meremas ujung bajunya. "Iya, Mas. Ini soal Mas Bagas, dan... soal Dimas." Adinda menjeda kalimatnya sejenak, menata hatinya yang bergemuruh.

"Semalam terjadi keributan besar lagi di rumah, Mas. Dan pagi ini, Mas Bagas pergi ke kantor dengan kemarahan besar karena Dinda mogok menyiapkan sarapan dan tidak membangunkan dia tidur."

"Mogok?" Mas Danu terdengar agak terkejut, namun ada nada kepuasan tersembunyi dalam suaranya. "Akhirnya kamu berani mengambil sikap, Din. Lalu, apa yang terjadi sampai kamu menelepon Mas pagi-pagi begini?"

"Bukan cuma soal Dinda yang mogok urus dia, Mas,."Adinda mulai membuka inti persoalan, air matanya kini benar-benar luruh membasahi pipi. "Yang membuat Dinda gemetar sampai sekarang adalah... ucapan Dimas. Kemarin malam, setelah melihat bagaimana Abahnya memperlakukan Dinda setelah pulang dari hotel, Dimas menangis di dapur. Anak itu... anak itu meminta Dinda untuk berpisah dari Mas Bagas, Mas."

​Hening yang amat panjang langsung tercipta di seberang telepon. Adinda bisa mendengar helaan napas Mas Danu yang terasa berat dan sarat akan emosi yang tertahan.

"Dimas bilang, dia sudah tidak sanggup lagi melihat Dinda diperas tenaganya, dihina, dan tidak dihargai sebagai istri," lanjut Adinda dengan suara yang mulai terisak pelan. "Dimas bilang dia rela hidup susah berdua saja dengan Dinda, asalkan Dinda tidak perlu menangis diam-diam lagi setiap malam. Mendengar anak seusia dia meminta ibunya cerai... hati Dinda hancur, Mas. Dinda merasa gagal menjadi orang tua yang memberikan rumah tangga yang hangat buat dia."

"Din, dengarkan Mas," potong Mas Danu dengan suara yang sangat tegas namun menenangkan. "Kamu tidak gagal. Kamu adalah ibu yang luar biasa. Dan fakta bahwa Dimas sampai mengatakan hal itu, artinya anak itu sudah cukup dewasa untuk melihat kebenaran. Dia tidak buta, Din. Dia melihat ibunya bekerja dari jam dua pagi, memikul kardus, mencari nafkah, sementara ayahnya cuma bisa menuntut, bergaya hidup mewah di luar rumah dengan uang hasil keringat istrinya, dan tidak punya rasa hormat sedikit pun."

​Mas Danu menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan. "Mas dan Mbak Anik sebenarnya sudah lama sekali gemas dengan caramu bertahan, Din. Kami diam selama ini karena kami menghormati keputusanmu sebagai istri yang ingin menjaga keutuhan rumah tangga. Tapi kalau anakmu sendiri, darah dagingmu sendiri yang selama ini kamu jadikan alasan untuk bertahan, sudah meminta kamu untuk lepas... lalu apa lagi yang kamu pertahankan?"

​Adinda menyeka air matanya, dadanya terasa sesak mendengarkan penuturan kakaknya. "Dinda tahu, Mas. Rumah tangga Dinda memang sudah tidak sehat sejak bertahun-tahun lalu. Selama ini Dinda selalu menutup mata, berpikir kalau Dinda mengalah, Mas Bagas akan sadar. Tapi pagi ini, saat dia bangun kesiangan dan kelimpungan karena sisa waktu tiga puluh menit untuk bersiap ke kantor, dia malah ngamuk-ngamuk. Dia pergi tanpa sarapan dengan wajah penuh dendam dan menyalahkan Dinda sepenuhnya. Dia sama sekali ndak sadar kalau sikapnya semalam yang keterlaluan yang membuat Dinda begini. Dia tetap merasa dirinya paling benar dan paling tersakiti."

"Manusia egois dan bebal seperti Bagas tidak akan pernah sadar, Din. Mau kamu sujud di kakinya atau kamu kasih seluruh uang kateringmu sampai habis pun, dia akan tetap merasa kurang dan merasa kamu tidak becus melayaninya," kata Mas Danu, suaranya terdengar dingin dan penuh dengan penilaian objektif seorang pria mapan yang tahu bagaimana cara menghargai seorang wanita.

"Lalu sekarang, Mas mau tanya. Pendapatmu sendiri bagaimana? Kamu menelepon Mas, artinya kamu sudah punya satu keputusan di dalam hatimu, kan?."

​Adinda terdiam sejenak, memandangi ruangan kontrakan yang sempit dan pengap itu. Keputusannya sudah bulat, terkunci rapat sejak ia melihat ketulusan di mata Dimas semalam.

"Dinda mau pisah, Mas. Dinda ingin bertanya pendapat Mas Danu sebagai kakak kandung Dinda satu-satunya. Dinda butuh persetujuan dan restu dari Mas Danu dan Mbak Anik. Dinda ndak mau melangkah sendiri tanpa back-up dari keluarga Dinda. Dinda ingin keluar dari rumah ini bersama Dimas," jawab Adinda dengan kelantangan yang belum pernah ia miliki sebelumnya sepanjang belasan tahun usia pernikahannya.

​Mendengar jawaban tegas dari adiknya, Mas Danu terdengar mengembuskan napas lega di seberang sana. Suaranya kembali melembut, memancarkan wibawa seorang kakak yang siap melindungi adiknya habis-habisan.

"Alhamdulillah. Akhirnya pikiranmu terbuka, Din. Mas dan Mbak Anik seratus persen, bahkan seribu persen, menyetujui dan merestui keputusanmu. Tidak ada gunanya kamu mempertahankan laki-laki yang cuma menjadi benalu dalam hidupmu dan merusak mental anakmu," ucap Mas Danu mantap.

​Kata-kata Mas Danu mengalir bagaikan air sejuk yang membasuh seluruh luka di hati Adinda. Restu yang ia cari kini telah ia dapatkan secara mutlak dari otoritas tertinggi di keluarganya.

"Kamu ndak usah takut soal hari esok, Din," lanjut Mas Danu lagi, nadanya penuh dengan kepastian yang menenangkan. "Masalah hukum, pengadilan, atau kalau nanti keluarga Bagas mencoba mengintimidasi atau menuntut macam-macam, biar Mas yang urus semuanya dari sini. Mas akan siapkan pengacara terbaik buat kamu kalau memang diperlukan. Kamu jangan merasa sendiri. Kamu punya Mas, punya Mbak Anik dan anak-anak di sini yang selalu mendukungmu."

​Adinda tidak bisa lagi menahan air mata harunya. Rasa syukur yang amat besar membuncah di dadanya. Di saat suaminya sendiri memperlakukannya seperti pembantu tanpa upah dan tidak berharga, kakak kandungnya justru menempatkannya di posisi yang begitu terhormat dan dilindungi.

"Sekarang, tugasmu adalah persiapkan semuanya dengan rapi. Jangan gegabah dan jangan tunjukkan perubahan sikap yang terlalu mencolok di depan Bagas agar dia tidak curiga sebelum waktunya," saran Mas Danu secara strategis. "Kumpulkan semua bukti potong pembukuan yang kamu ceritakan semalam, amankan dokumen-dokumen penting milikmu dan Dimas. Surat nikah, kartu keluarga, akta kelahiran Dimas, simpan di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh Bagas. Nanti malam, Mas akan bicara juga dengan Mbak Anik untuk membahas langkah selanjutnya. Pokoknya, kamu fokus saja jaga kesehatanmu dan Dimas. Paham, Dek?"

"Paham, Mas. Paham sekali. Terima kasih banyak ya, Mas Danu. Dinda rasanya plong sekali setelah mendengar suara Mas," bisik Adinda di sela-sela sisa tangisnya yang mulai mereda.

"Sama-sama, Dek. Ingat, kamu itu adikku satu-satunya. Mas ndak akan biarkan siapapun menginjak-injak harga dirimu lagi. Titip salam buat jagoan kita, Dimas. Bilang sama dia, Pakde bangga sama sikap beraninya semalam. Nanti sore Mas telepon lagi ya. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam, Mas," jawab Adinda pelan sebelum sambungan telepon akhirnya terputus.

​Adinda menurunkan ponsel dari telinganya. Ia menatap layar yang kini sudah menggelap. Beban berat yang selama belasan tahun ini menggelayuti pundaknya seolah terangkat sebagian besar hanya dalam satu kali percakapan telepon. Restu dari Mas Danu bukan sekadar persetujuan lisan, melainkan sebuah benteng kokoh yang memberikannya keberanian penuh untuk menghadapi badai yang pasti akan datang saat Bagas mengetahui rencana ini.

​Dengan senyuman yang kini benar-benar terukir tulus di wajahnya, Adinda bangkit dari kursi kayu. Ia berjalan menuju kamar sekat tripleks, berniat untuk mulai memilah dan mengamankan dokumen-dokumen penting seperti yang disarankan oleh kakaknya. Langkah kaki Adinda kini terasa jauh lebih ringan dan pasti, siap menyambut masa depan baru bersama Dimas, bebas dari bayang-bayang keegoisan Bagas yang tidak pernah berujung.

1
Zhafran Althaf
mantap dindaaaa
Heni Setiyaningsih
bagus adinda 👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Zhafran Althaf
🤣🤣🤣🤣🤣
Heni Setiyaningsih
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Jetva
keren ceritax...semoga keren hingga akhir..aq suka perempuan yg mandiri dan tak takut suami dgn alasan surga ada pada suami....semangat Thor...
Jetva
istri Danu, Anik apa Anita, Thor..??🤔
blcak areng: iya kak aku keder sendiri 😄😄
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Anonim
BAGAS HALAL DARAH NYA... AYO BUNUH DIA
blcak areng: kak😁🤣🤣
total 1 replies
stela aza
q pingin nya si Bagas itu habis naik jabatan sebentar langsung khilaf trs di pecat jadi gembel biar g belagu trs sombong 🤭 ok Thor ❤️❤️❤️
Zhafran Althaf
hai kak aku mampirrrr😍😍😍
blcak areng: Hay juga kak Terima kasih 🙏
total 1 replies
stela aza
Thor ceritamu hampir mirip kaya kisahnya si abdi dan Disa ,,, yg lakinya manipulatif ,,, bodoh ,, belagu sombong trs so kaya kenyataan nya kere ,,, bergaya yg terlalu di paksakan 🤭
stela aza
rasain,,, syukurin ,,, bergaya tapi g mampu ,,, tinggal nunggu di pecat dr kantor biar jadi gembel ,,,, coba ibunya mau Nerima dia g ,,, kalau udh g kerja pasti bakalan di buang sama ibunya sendiri 🤦
Heni Setiyaningsih
💪💪💪 adinda
Lee Mba Young
bagus lanjutt
Lee Mba Young
bagus lah jng mau jd budak. anak sdh besar.
Heni Setiyaningsih
lbh baik lepaskan suami kyk gitu, hdup berdua dgn anak mu sj drpd dirong-rong terus sama suami pecundang
Heni Setiyaningsih
👍👍👍👍👍👍👍👍👍😍😍
Heni Setiyaningsih
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!