Kegiatan kemping Pramuka yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi petaka, kala seseorang dengan sengaja mengubah arah tanda panah penunjuk jalan. Daniel dan Zeya tersesat hingga terpaksa bermalam di sebuah pondok tua. Demi bertahan dari dinginnya malam yang bisa menyebabkan hipotermia, mereka pun saling menghangatkan tubuh.
Pagi harinya, warga desa menemukan mereka dalam keadaan berpelukan. Tanpa mau mendengar penjelasan, keduanya langsung dibawa ke Balai Desa dan dipaksa menikah sesuai hukum adat yang berlaku.
Daniel dan Zeya mengira semuanya akan selesai setelah pernikahan itu. Namun, mereka kembali dikejutkan oleh aturan adat yang melarang pasangan pengantin meninggalkan desa sampai waktu yang ditentukan.
Terjebak dalam pernikahan yang tak terduga, Daniel dan Zeya harus menjalani hari-hari bersama di desa, apakah Daniel dan Zeya akan terpuruk atau justru bangkit memulai hidup baru mereka di sana?
Ikuti kisah mereka hanya di sini;
"Menikah Karena Jebakan"
karya Moms TZ, buka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9.
"Astaghfirullahal'adzim..." Ayah Bastian beristighfar berulang kali, matanya tak lepas dari video yang dikirimkan putrinya. Diputarnya berulang-ulang seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Bagaimana bisa mereka membesarkan anak sejahat ini?" ucapnya parau, seketika meraup wajahnya dengan kasar, lalu mengembuskan napas panjang yang terasa berat.
"Aku nggak peduli siapa pun kamu," gumamnya pelan penuh amarah, kedua tangannya terkepal kuat di atas permukaan meja. "Akibat ulahmu, anak-anakku harus menanggung semuanya. Mereka terpaksa menikah muda karena terjebak keadaan. Dan, sekarang mereka juga harus menelan hujatan dan cemoohan dari banyak orang."
Ayah Bastian menundukkan kepala, menempelkan keningnya pada kepalan kedua tangan yang bertumpu di atas meja. Ruangan itu seketika diliputi keheningan. Setelah beberapa saat tenggelam dalam pikirannya, perlahan dirinya mengangkat kepala. Kemudian meraih ponselnya, lalu menghubungi seseorang.
"Bagaimana perkembangan pencarian saat ini?" tanyanya dengan nada serius.
"...."
"Baiklah. Segera kembali begitu semuanya selesai," perintahnya tegas.
...
Di sisi lain, tak berbeda jauh dengan Ayah Bastian, Mami Mia pun dibuat syok saat mendengar kabar itu.
"Keterlaluan sekali!" ujarnya geram seraya memukul meja dengan kuat. "Kurang ajar benar bocah itu! Apa ia nggak berpikir, akibat perbuatan isengnya bisa membawa dampak seburuk ini bagi orang lain?"
Wanita itu menatap tajam ke layar ponsel, amarahnya memuncak. "Tapi aku yakin, kalau unggahan di media sosial itu bukan iseng semata. Ia pasti sengaja melakukannya, menggunakan momen itu untuk membuat nama Kakak dan Zeya jelek serta jatuh di mata umum. Ya, pasti begitu."
"Aku nggak peduli. Mau berapa usianya atau siapa orang tuanya, yang jelas ia sudah mempermalukan anak-anakku. Dan aku nggak bisa tinggal diam. Aku harus memberinya pelajaran yang nggak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya."
"Mami ngomong sama siapa, sih? Kok, serius amat?" tanya Danish yang sejak tadi memperhatikan perubahan sikap ibunya.
Mami Mia menarik napas panjang, berusaha sedikit menenangkan diri. "Mami lagi kesal, Mas. Tadi Kak Niel menelepon, katanya Zeya sudah berhasil menemukan siapa dalang di balik semua kejadian ini."
"Hah...benaran, Mi? Siapa pelakunya?" mata Danish langsung berbinar antusias.
"Ini, lihat sendiri rekamannya," Mami Mia menyodorkan ponselnya.
Danish segera menerima ponsel itu dan memutar video yang dimaksud. Semakin lama ia menonton, ekspresinya berubah. Dari penasaran menjadi terkejut, lalu perlahan dipenuhi kemarahan.
"Gila... jadi dia pelakunya? Mas, benar-benar nggak nyangka, kalau dia bisa sejahat itu sama teman sendiri," gumamnya tak percaya, lalu mengembalikan ponsel itu kepada sang ibu.
"Terus apa yang akan Mami lakukan? Apa mau langsung lapor ke polisi, biar dia dapat hukuman yang setimpal?" tanyanya kemudian.
Mami Mia menggeleng pelan, meski sorot matanya tetap tegas. "Sebelum membawa masalah ini ke jalur hukum, Mami ingin menemui mereka lebih dulu."
"Untuk apa?" tanya Danish heran.
"Mami akan memberi kesempatan agar ia mengakui semuanya, meminta maaf, dan bertanggung jawab atas apa yang sudah dilakukannya. Tapi kalau ia masih menyangkal, atau malah mencari pembenaran..."
Nada suaranya berubah semakin dingin. "...mami sendiri yang akan menyerahkan bukti itu kepada pihak berwajib. Setelah itu, nggak akan ada lagi ruang untuk negosiasi!"
...
Sementara itu, di rumah panggung tempat Daniel dan Zeya tinggal.
Daniel duduk di beranda sambil menatap layar ponselnya. Rekaman itu dia diputar berulang kali. Meski sudah berkali-kali ditonton, tetap saja sulit baginya menerima kenyataan bahwa semua kekacauan yang mereka alami ternyata bersumber dari satu orang.
Tak lama kemudian, Zeya keluar dari dalam rumah sambil membawa dua gelas teh hangat. "Masih nonton rekaman itu lagi?" tanyanya lembut seraya menyodorkan salah satu gelas kepada suaminya.
Daniel menerima gelas itu dengan senyum tipis. "Iya, semakin dipikir, semakin sulit aku percaya," jawabnya lirih.
"Kita sibuk menduga-duga, Ternyata pelakunya justru orang yang dekat dengan kita."
Zeya ikut duduk di samping suaminya. Ia menyesap sedikit teh hangat kemudian mengembuskan napas perlahan.
"Aku juga merasakan hal yang sama," ucapnya pelan. "Waktu namanya muncul di layar, aku bahkan sampai beberapa kali memastikan kalau yang aku lihat itu memang benar."
Daniel mematikan layar ponselnya, lalu meletakkannya di atas meja kayu kecil di samping kursi.
"Menurutmu... kenapa dia melakukan semua ini?" tanyanya sambil menoleh ke arah Zeya. "Apa benar hanya karena iseng?"
Zeya menggeleng pelan. Tatapannya menerawang ke arah pekarangan yang mulai diselimuti gelap.
"Aku rasa bukan," jawabnya mantap. "Kalau cuma iseng, rasanya nggak mungkin sampai sejauh ini."
"Maksudmu?" Daniel menatap Zeya serius.
"Dia bukan cuma membuat kita tersesat," ujar Zeya sembari merapatkan kedua telapak tangannya untuk mengusir hawa dingin. "Tapi dia juga menyebarkan video itu ke media sosial disertai caption provokatif. Semua itu dilakukan dengan sadar. Jadi menurutku... pasti ada alasan yang mendorongnya."
Daniel menganggukkan kepala pelan. Ia sebenarnya memiliki pemikiran yang sama, hanya saja belum sempat mengungkapkannya.
"Lalu, apa yang ingin kamu lakukan?" tanyanya kemudian.
Zeya terdiam beberapa saat. Seolah sedang mempertimbangkan kata-kata yang tepat.
"Aku ingin menemuinya," jawabnya akhirnya.
Daniel spontan menoleh karena terkejut dengan jawaban Zeya. "Apa, menemuinya?"
Zeya mengangguk yakin. "Iya, aku ingin mendengar langsung alasan dari mulutnya sendiri."
"Untuk apa?" Daniel mengernyit tipis. "Bukankah buktinya sudah cukup jelas?"
"Justru karena buktinya sudah jelas," balas Zeya tenang. "Sekarang yang belum kita tahu adalah alasannya. Aku ingin mengerti... sebenarnya apa yang dia inginkan sampai tega melakukan semua ini."
Daniel terdiam. Ia membiarkan ucapan istrinya meresap dalam pikirannya.
"Aku ingin menatap matanya saat dia menjawab," lanjut Zeya lirih. "Aku ingin tahu apakah dia benar-benar menyesal, atau justru merasa apa yang dilakukannya itu benar."
"Kalau ternyata dia tetap menyangkal?" tanya Daniel setelah beberapa saat.
Zeya mengembuskan napas panjang. "Kalau memang begitu, berarti dia sudah memilih jalannya sendiri," jawabnya dengan sorot mata yang tegas. "Aku nggak akan lagi menghalangi Ayah atau Mami membawa masalah ini ke jalur hukum."
Daniel menatap wajah istrinya beberapa detik lalu tersenyum lebar. "Kamu memang selalu seperti ini," ujarnya pelan.
"Seperti apa?" Zeya menoleh heran.
"Selalu ingin mengetahui akar masalahnya lebih dulu sebelum mengambil keputusan," jawab Daniel seraya merangkul Zeya dari samping.
Zeya tersenyum kecil. "Aku hanya nggak ingin ada penyesalan nanti," ucapnya jujur. "Kalau memang dia punya alasan, biarkan dia mengatakannya. Tapi kalau setelah diberi kesempatan dia tetap nggak mau mengakui kesalahannya, berarti semua konsekuensi yang datang setelah itu memang harus dia tanggung sendiri."
Daniel kembali menatap wajah Zeya dengan pandangan penuh kekaguman. "Baiklah, besok kita hubungi Ayah dan Mami. Semoga mereka berdua memiliki pemikiran yang sama dengan kita."
"Aku juga berharap begitu," balas Zeya pelan. "Setelah semuanya jelas... baru lah kita serahkan persoalan ini kepada mereka untuk diputuskan."
.emaknya datang😁