NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua Sang Nyonya

Kehidupan Kedua Sang Nyonya

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Pelakor / Kelahiran kembali menjadi kuat / Rumah Tangga
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Karin mengabdikan seluruh hidupnya untuk mendukung suaminya Dimas menuju kesusksesan. Setelah berada di puncak kesuksesan, Suaminya justru mengkhianatinya dengan membawa pulang wanita muda dengan berniat untuk di jadikannya istri kedua. Lebih menyakitkan nya lagi keluarga suaminya ikut mendukung dan bahkan merendahkanya. Seolah pengorbanannya selama bertahun-tahun tidaklah berarti.

Saat nyawanya berakhir karena ulah sang pelakor. Karin terbangun kembali di masa lalu tepat saat Suaminya membawa wanita itu kerumahnya. Di beri kesempatan kedua Karin berubah menjadi wanita kuat dan bersumpah akan membalas rasa sakitnya di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15

"Ibu memang luar biasa bijaksana." Karin tersenyum tipis, tetapi sorot matanya begitu dingin. "Demi seorang wanita yang baru saja Ibu kenal, Ibu mengabaikan aku, menantu Ibu sendiri yang sudah bertahun-tahun mengabdi untuk keluarga ini."

Karin berhenti sejenak, lalu menatap Bu Ratna lurus-lurus.

"Selama ini aku tidak pernah membantah perkataan Ibu. Aku melayani Ibu, menghormati Ibu seperti Ibu kandungku sendiri. Tapi apa balasan yang aku terima?"

Ibu Ratna hendak menimpali tapi Karin kembali melanjutkan.

"Saat suami berselingkuh, Ibu bukannya menegurnya. Sebaliknya, Ibu justru malah menyalahkan aku dan membela wanita yang menjadi orang ketiga dalam rumah tanggaku."

Bu Ratna langsung mendengus kesal.

"Jangan sembarangan bicara! Dimas tidak pernah berselingkuh. Dia hanya ingin bertanggung jawab pada Vina.'

Karin terkekeh pelan.

"Aku baru sadar, selama ini aku tidak pernah benar-benar di anggap sebagai menantu oleh Ibu. Ibu hanya menganggapku alat yang bisa di manfaatkan demi kesuksesan dan kebahagian anak Ibu."

Bu Ratna membelalakan matanya.

"Karin!" bentaknya. "Berani sekali kamu bicara seperti itu pada mertuamu sendiri!"

Karin tidak bergeming sedikitpun.

"Selama bertahun-tahun aku memilih diam saja karena menghormati Ibu. Tapi diamku justru membuat Ibu berpikir bahwa aku bisa terus diinjak."

Ruangan seketika menjadi hening. Bahkan Vina pun yang  sejak tadi berpura-pura menangis diam-diam menelan ludahnya. Ia mulai menyadari bahwa Karin yang ia dengar wanita bodoh yang mudah di tindas ternyata tidak seperti rumornya.

Bu Ratna tertawa sinis.

"Jadi selama ini kamu merasa paling berjasa di rumah ini?"

Ia melangkah mendekati Karin hingga jarak mereka hanya beberapa langkah.

"Jangan terlalu membanggakan pengorbananmu, Karin. Semua yang kamu lakukan itu karena kamu mencintai Dimas. Tidak ada yang pernah memaksamu."

Di samping Bu Ratna, Bi Wati mengangguk kecil sambil melirik Karin dengan tatapan meremehkan, seolah membenarkan setiap ucapan majikannya.

Sementara itu, Arga masih berdiri tidak jauh dari pintu masuk. Kedua tangannya masih dipenuhi belasan shopping bag milik Karin. Ia hanya menundukkan kepala, memilih diam sebagai seorang sopir, meski telinganya menangkap jelas setiap perdebatan yang terjadi.

Karin tetap diam.

Bu Ratna kembali melanjutkan.

"Kalau sekarang kamu menyesal, itu urusanmu sendiri. Jangan ungkit-ungkit lagi apa yang sudah kamu berikan."

Tatapannya berubah semakin tajam.

"Dan satu hal yang harus kamu ingat. Dimas tidak pernah meminta keluargamu menyerahkan harta mereka."

"Orang tuamu lah yang dengan senang hati memberikannya karena mereka percaya kepada Dimas." Bu Ratna mendengus pelan. "Jadi berhentilah bersikap seolah-olah keluargamu adalah penyelamat keluarga kami."

Bi Wati kembali mengangguk pelan. Di sudut bibirnya bahkan tersungging senyum tipis, menikmati bagaimana Bu Ratna terus menekan Karin.

Mendengar ucapan itu, senyum di bibir Karin perlahan memudar. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar melihat betapa tidak tahu berterima kasihnya wanita di hadapannya. Bu Ratna sama sekali tidak merasa berutang budi sedikitpun. Justru semua bantuan yang diterima keluarganya dianggap sebagai sesuatu yang wajar.

Arga tanpa sadar mengangkat pandangannya sesaat. Dari raut wajah Karin, ia tidak melihat kemarahan yang meledak-ledak, melainkan kekecewaan yang begitu dalam.

"Kenapa diam?" tanya Bu Ratna dengan nada meremehkan. "Tidak bisa membantah?"

Karin mengangkat wajahnya perlahan.

"Bukan."

"Lalu?"

"Aku hanya sedang kasihan."

Bu Ratna mengernyit.

"Kasihan?"

"Iya."

Karin menatap ibu mertuanya tanpa berkedip.

"Aku kasihan pada Ayah dan Ibuku. Mereka begitu tulus membantu keluarga ini. Bahkan menganggap Dimas seperti anak sendiri." Ia berhenti sejenak. "Sayangnya... ketulusan itu dibalas dengan pengkhianatan dan rasa tidak tahu diri."

Wajah Bu Ratna langsung memerah karena amarah.

"Karin! Berani sekali kamu menyebut keluarga kami tidak tahu diri!" bentaknya sambil mengangkat tangan, seolah hendak menampar Karin.

Melihat tangan Bu Ratna terangkat, Arga tanpa sadar menggenggam erat gagang shopping bag yang dibawanya. Ia tetap tidak bergerak, tapi sorot matanya kini tertuju pada Karin, bersiap jika keadaan benar-benar di luar kendali.

Sementara, Bi Wati langsung maju selangkah.

"Maaf, Nyonya Besar," katanya sambil menatap Karin sinis. "Menurut saya, Nyonya Karin memang sudah keterlaluan. Bagaimanapun juga, Nyonya Besar lebih tua. Nyonya muda seharusnya tahu diri."

Bu Ratna menarik kembali tangannya, tetapi tatapannya masih penuh amarah.

"Benar, kan?" sahut Bu Ratna.

Bi Wati mengangguk cepat.

"Selama saya bekerja di rumah ini, saya belum pernah melihat Nyonya Besar diperlakukan seperti ini. Nyonya Besar sudah menganggap Nyonya muda seperti anak sendiri, tapi sekarang malah dituduh tidak tahu berterima kasih."

Karin perlahan mengalihkan pandangannya kepada Bi Wati. dan tanpa aba-aba.

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Bi Wati. Wanita itu terhuyung satu langkah ke belakang sambil memegangi pipinya yang memanas. Matanya membelalak tak percaya.

Ruangan seketika sunyi. Bahkan Bu Ratna dan Vina ikut terkejut.

Arga yang sejak tadi berdiri di dekat pintu masuk tanpa sadar mengangkat kepalanya. Tatapannya tertuju pada Karin yang masih berdiri tegak dengan wajah tenang.

Karin menarik kembali tangannya perlahan. Tatapannya dingin menatap Bi Wati.

"Siapa yang mengizinkan seorang pelayan ikut menyela pembicaraan majikannya?"

Bi Wati menatap tak percaya sambil memegangi pipinya.

"N-Nyonya..."

Karin melangkah mendekat.

"Sejak kapan..." ucap Karin pelan. "Pelayan boleh ikut mencampuri urusan majikannya?"

Bi Wati refleks menundukkan kepala. Untuk pertama kalinya sejak bekerja di rumah itu, ia merasa ciut di hadapan Karin.

Bu Ratna langsung menghampiri Bi Wati dengan wajah penuh amarah.

"Karin! Berani-beraninya kamu menampar pelayanku!"

Karin mengalihkan pandangannya kepada Bu Ratna.

"Aku hanya mengajari pelayan Ibu tata krama. Kalau seorang pelayan tidak tahu batasannya, sebagai nyonya rumah aku berhak mengingatkannya."

Ucapan itu membuat suasana ruang tamu semakin tegang. Vina berdiri mematung, sementara Arga tetap diam di tempatnya, tetapi dalam hati ia mulai menyadari bahwa majikannya benar-benar telah berubah.

Bu Ratna segera merangkul Bi Wati yang masih memegangi pipinya.

"Bi Wati, kamu tidak apa-apa?"

Bi Wati menggeleng pelan. Matanya mulai berkaca-kaca.

"Nyonya Besar... saya hanya membela Nyonya."

Mendengar itu, amarah Bu Ratna semakin memuncak.

"Karin! Sudah cukup! Berani-beraninya kamu menampar orang kepercayaanku!"

Karin tetap berdiri tegak. Wajahnya tenang, sama sekali tidak menunjukkan penyesalan.

"Aku menamparnya karena dia lupa posisinya."

"Lupa posisi?" bentak Bu Ratna. "Dia hanya menyampaikan pendapatnya!"

Karin tersenyum tipis.

"Ibu, sejak kapan seorang pelayan berhak ikut campur dalam urusan keluarga majikannya?"

Bu Ratna terdiam sesaat.

Karin melanjutkan dengan suara tenang, tetapi setiap katanya terdengar tegas.

"Kalau hari ini aku membiarkan Bi Wati berbicara sesukanya kepadaku, besok pelayan lain akan menganggap mereka juga berhak melakukan hal yang sama."

Tatapannya beralih kepada Bi Wati.

"Ingat baik-baik. Selama aku masih menjadi istri sah Dimas, aku tetap nyonya di rumah ini. Jadi, ketahuilah batasmu."

Bi Wati langsung menundukkan kepala. Pipinya masih terasa perih, tetapi kali ini ia tidak berani membalas sepatah kata pun.

Vina yang sejak tadi memilih diam akhirnya maju selangkah.

"Nyonya... jangan marah pada Bi Wati. Kalau memang ada yang salah, kan bisa di tegur baik-baik."

Karin menoleh pelan.

"Kamu tidak perlu berpura-pura baik di depanku, Vina."

Vina mengernyit bingung.

"Maksud Nyonya?"

"Kalian semua terlalu terbiasa melihatku diam." Karin menyapu pandangannya ke seluruh ruangan, mulai dari Bu Ratna, Vina, hingga Bi Wati.

"Itu sebabnya kalian mengira bisa memperlakukanku sesuka hati."

Suasana mendadak hening. Tak seorang pun berani menyela.

Karin kemudian menoleh kepada Arga.

"Arga."

"Ya, Nyonya."

"Tolong bawa semua barang belanjaanku ke kamar."

"Baik, Nyonya."

Arga mengangguk hormat, lalu membawa semua shopping bag menuju lantai atas tanpa berkata apa pun.

Karin kembali mengalihkan pandangannya kepada Bu Ratna.

"Ibu boleh membenci aku. Ibu juga boleh terus membela Vina." lanjut Karin. "Tapi mulai hari ini, jangan pernah berharap aku akan diam setiap kali diperlakukan tidak adil."

Tanpa menunggu jawaban, Karin berbalik dan melangkah menaiki tangga dengan tenang.

Bu Ratna menatap punggung menantunya yang semakin menjauh. Dadanya naik turun menahan amarah.

"Kurang ajar..." desisnya. "Sejak kapan dia berubah menjadi perempuan seperti itu?"

Vina mengepalkan tangannya pelan. Tatapannya mengikuti langkah Karin hingga menghilang di lantai dua. Rasa kesal mulai memenuhi dadanya.

1
Thewie
sikarin kayak jadi bodoh. keluar dr rmh itu kenapa. bawa smua berkas2 penting. ini pake acara belanja belanja . bodoh bodoh
Irma
puas banget 🤣🤣🤣 lanjut Thor semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!