NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Di Antara Dua Kakakku.

Terjebak Cinta Di Antara Dua Kakakku.

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:227
Nilai: 5
Nama Author: Andinirhein

Aku hanya ingin memiliki keluarga. Namun, takdir justru menyeretku ke dalam cinta yang mustahil. Terjebak di antara pria yang kucintai dan kakak angkat yang diam-diam menginginkanku, aku dipaksa menghadapi rahasia kelam yang selama bertahun-tahun disembunyikan. Saat kebenaran terungkap, bukan hanya hatiku yang hancur, tetapi seluruh hidupku ikut berubah. Akankah cinta menjadi penyelamat... atau justru awal dari kehancuranku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andinirhein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harapan Yang Kembali Utuh.

Seolhwa, kamu di mana?" tanya Hwi Sol Oppa dari telepon.

"Aku lupa memberi tahu Oppa. Malam ini aku menginap di rumah sakit untuk menjaga Eun Dam," jawabku sambil memilih beberapa camilan di minimarket kecil yang berada tepat di depan rumah sakit.

Keheningan menyelimuti percakapan kami selama beberapa detik. Aku hanya bisa mendengar napas pelan dari telepon sebelum akhirnya suara Hwi Sol terdengar kembali.

"Baiklah. Hati-hati, ya."

Hanya itu yang ia katakan sebelum sambungan telepon terputus.

Malam itu udara terasa cukup dingin. Angin sepoi-sepoi berembus pelan, mengiringi langit gelap yang dihiasi beberapa bintang.

Di balkon rumahnya, Hwi Sol berdiri seorang diri sambil menatap hamparan langit malam.

Perasaannya bercampur aduk. Ada rasa lega dan bahagia karena Eun Dam, pria yang telah mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan adiknya, akhirnya berhasil melewati masa kritis dan selamat.

Namun, di balik rasa syukur itu, terselip kesedihan yang sulit ia abaikan. Hwi Sol dapat merasakannya.

Hubungan antara Seolhwa dan Eun Dam perlahan mulai terjalin kembali. Bahkan kali ini, ikatan yang tumbuh di antara mereka terasa jauh lebih kuat dan lebih dalam daripada sebelumnya.

Ia mengembuskan napas panjang.

Mungkin sejak awal, memang bukan dirinya yang berada di hati Seolhwa.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Hwi Sol mulai belajar menerima kenyataan yang selama ini berusaha ia sangkal.

"Aku hanya berusaha merelakannya untuk bahagia bersama pria lain, bukan berarti perasaanku padanya sudah benar-benar hilang, Tuhan..."

-lirih Hwi Sol sambil menatap langit malam.

Angin dingin berembus pelan menerpa wajahnya. Matanya menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit, sementara dadanya terasa sesak oleh perasaan yang selama ini berusaha ia sembunyikan.

Di sisi lain.

"Kamu mau berkemah di sini? Banyak sekali makanan yang kamu beli."

Eun Dam menatap kantong belanja yang kubawa sambil terkekeh pelan.

"Ini bukan untukku, tetapi untukmu juga. Aku tahu sejak kemarin kamu tidak berselera makan, bukan? Jadi sekarang kamu harus makan."

Aku mengeluarkan semangkuk salad lengkap dengan beberapa sumber protein di dalamnya.

"Nih, makan. Harus habis ya."

Aku menyodorkan makanan itu kepadanya.

"Aku tidak mau kalau tidak disuapi."

Eun Dam menggeleng pelan sambil memajukan bibirnya seperti anak kecil yang sedang merajuk.

Aku langsung melotot tak percaya.

"Wah! Jadi ini sifat aslimu?"

Eun Dam hanya tersenyum tanpa menjawab.

Aku mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya menyerah.

"Baiklah. Suster Seolhwa yang cantik ini akan menyuapi anak kecil nakal ini."

Aku membuka tutup wadah salad itu lalu mulai menyuapinya perlahan.

Beberapa suapan kemudian, aku menyadari bahwa Eun Dam tidak lagi fokus pada makanannya.

Pria itu justru menatapku lekat.

Tatapan yang selalu sama.

Tajam, tetapi hangat.

Seolah menyimpan begitu banyak perasaan yang tidak pernah ia ucapkan.

"Seolhwa."

Aku menghentikan gerakan tanganku.

"Hm?"

"Aku tidak ingin menjadikanmu kekasihku."

Aku langsung membeku.

"Tetapi aku ingin menjadikanmu istriku."

Jantungku seakan berhenti berdetak.

Aku menatapnya dengan mata membelalak.

Apa ia sedang melamarku?

Bukankah ini terlalu cepat?

"Aku tahu ini terdengar terburu-buru. Kita memang belum lama saling mengenal," lanjutnya. "Namun, entah mengapa aku sudah sangat yakin bahwa kamulah jodohku."

Dadaku berdebar semakin kencang.

"Aku juga tidak suka bermain-main dengan perasaan wanita. Jika aku memilih seseorang, maka aku memilihnya untuk masa depan."

Ia menatapku dengan penuh kesungguhan.

"Tetapi aku sadar bahwa sekarang aku belum pantas memintamu menikah denganku."

Pandangannya beralih pada kaki yang masih dibalut perban.

"Kamu tahu sendiri kondisiku. Aku sudah tidak bisa menjadi atlet lagi. Cedera kakiku terlalu parah. Bahkan mungkin aku tidak akan bisa berjalan normal untuk beberapa waktu."

Aku terdiam mendengarkannya.

"Tetapi aku tidak akan menyerah."

Tatapan matanya kembali menyala penuh keyakinan.

"Setelah keluar dari rumah sakit ini, aku akan bekerja keras dari awal. Aku akan menghasilkan banyak uang lagi, tetapi kali ini dengan cara yang benar dan tidak menyakiti siapa pun."

Ia menarik napas pelan.

"Aku juga ingin menjadi relawan. Aku ingin menebus kesalahanku di masa lalu dengan membantu banyak orang."

Perlahan, ia menggenggam tanganku.

Hangat.

Dan tulus.

"Aku ingin menjadi pria yang bisa membuatmu bahagia."

Mata kami saling bertemu.

"Jadi..."

Senyum tipis terukir di bibirnya.

"Maukah kamu menungguku, Seolhwa?"

Aku melihat ketulusan dan penyesalan yang terpancar dari tatapan mata Eun Dam yang dalam.

Tanpa ragu, aku menjawab pertanyaannya.

"Iya. Aku bersedia. Aku akan menunggumu, Eun Dam."

Senyum tipis langsung terukir di wajahnya.

"Namun, yang terpenting untuk saat ini adalah kamu harus sembuh terlebih dahulu."

Aku menatapnya lembut.

"Kamu bilang ingin membuatku bahagia, kan?"

Eun Dam mengangguk pelan.

"Nah, hal yang paling membuatku bahagia saat ini adalah melihatmu sehat kembali."

Aku tersenyum sambil menunjuk semangkuk salad yang masih berada di hadapannya.

"Dan kalau kamu ingin cepat sembuh, kamu tidak boleh memikirkan hal-hal buruk yang bisa membuatmu stres. Kamu juga harus makan makanan yang sehat."

Aku kembali mengambil sendok dan menyodorkannya ke arah pria itu.

"Jadi... cepat habiskan makananmu."

Aku kembali menyuapinya perlahan.

Mendengar jawabanku, semangat Eun Dam seolah kembali pulih sepenuhnya.

Pria itu bahkan merebut mangkuk salad dari tanganku dan mulai melahap isinya dengan penuh antusias.

Aku hanya bisa tertawa melihat tingkahnya.

Beberapa detik kemudian, mangkuk itu sudah kosong tanpa sisa.

Eun Dam mengangkat mangkuk tersebut dengan ekspresi bangga.

"Selesai. Sudah habis, Suster."

Ia terkekeh kecil.

Melihat senyum cerah yang akhirnya kembali menghiasi wajahnya, tanpa sadar aku ikut tersenyum.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa bahwa masa depan yang selama ini tampak gelap perlahan mulai menunjukkan secercah cahaya.

Hanya suara tawa dan keceriaan yang memenuhi ruang perawatan Eun Dam.

Untuk sesaat, aku bahkan hampir melupakan semua hal buruk yang pernah terjadi.

Namun, suasana hangat itu tiba-tiba terhenti ketika dering ponsel Eun Dam terdengar dari dalam tasku.

Aku baru teringat bahwa kemarin aku lupa mengembalikan ponselnya.

"Ah, ya. Ponselmu."

Aku segera mengeluarkan ponsel tersebut dan menyerahkannya kepada Eun Dam.

Pria itu menerimanya lalu mengangkat panggilan video yang masuk.

"Halo, Eomma."

Wajah seorang wanita paruh baya langsung muncul di layar. Sorot matanya dipenuhi kekhawatiran.

"Bagaimana keadaanmu, Nak? Eomma ke sana, ya? Biar Eomma menemanimu."

Eun Dam tersenyum kecil.

"Tidak perlu, Eomma. Aku sudah baik-baik saja sekarang."

Kemudian, tanpa peringatan, ia mengarahkan kamera ponselnya ke arahku.

"Karena aku dirawat oleh suster cantik yang sekarang ada di sebelahku."

Aku langsung menoleh ke arahnya dengan mata membelalak.

Sementara itu, Eun Dam justru terkekeh puas karena berhasil menggodaku.

"Yah! Kenapa kameranya diarahkan ke aku?" protesku pelan.

Tawa kecil terdengar dari seberang layar.

"Nak Seolhwa?"

Aku segera menatap kamera dan membungkukkan kepala sedikit sebagai bentuk hormat.

"Iya, Eomoni."

"Terima kasih, ya, karena sudah menjaga putraku."

Senyum hangat menghiasi wajah wanita itu.

Dadaku terasa menghangat melihat tatapan tulusnya.

"Iya, Eomoni. Dengan senang hati."

Senyum di wajah wanita itu semakin lebar.

Percakapan sederhana tersebut ternyata mampu membuat suasana menjadi semakin hangat.

Tawa dan candaan terus mengisi ruang perawatan sepanjang malam itu.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ruangan rumah sakit yang biasanya terasa dingin dan sunyi itu dipenuhi oleh kebahagiaan yang begitu sederhana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!