NovelToon NovelToon
Milik Bos Mafia: Benci Tapi Harus Jadi Istrinya

Milik Bos Mafia: Benci Tapi Harus Jadi Istrinya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jumling

Rayya, seorang perawat yang terperangkap dalam permainan cinta dan kekuasaan Marsel, seorang ketua Mafia yang sangat di takuti.
Marsel tidak mau melepaskan nya, Rayya sudah memiliki pacar dan akan segera menikah, akan tetapi Marsel menyatakan kepemilikan terhadap Rayya.

Marsel membuat Rayya tidak bisa menikah selain dengan nya. Ciuman di pertemuan pertama mereka membuat Marsel tidak bisa tenang memikirkan Rayya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumling, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Apa Yang Harus Ku Lakukan

"Heh! Jangan sok jadi pahlawan kesiangan. Kalian cepat habisi mereka."

Botak memberi perintah pada anak buahnya dan Riko bersama teman-temannya kini melawan mereka, namun ternyata Riko dan orang-orangnya kalah telak dengan cepat.

Karena bawahan botak lebih banyak dan lebih terpilih.

"Lagaknya sok mau jadi pahlawan. Habisi mereka!"

"Tunggu," cegah Rayya saat Riko dan teman-temannya hampir saja dihabisi.

"Lepaskan saja mereka. Riko, kalian pergi saja, tidak usah kehilangan nyawa karena ku di sini," kata Rayya.

Ia tidak mau kembali mencari masalah yang bisa membuat nya berhubungan lagi dengan pria itu. Semua ini juga karena Riko, jika saja Mama Riko tidak berada di balik semua ini, Rayya juga tidak akan semakin terjerumus dalam masalah yang tidak seharusnya menimpa dirinya.

"Tapi Rayya, bagaimana kalau mereka sampai macam-macam sama kamu," kata Riko tidak mau Rayya sampai celaka jika Ia pergi begitu saja.

"Apa gunanya kamu bilang begitu, Riko? Memang nya aku begini karena siapa, hah?!" 

Nada bicara Rayya mulai kesal, Ia jelas tahu dirinya dalam bahaya sekarang, tapi Riko dan orang-orangnya juga tidak ada gunanya mereka berada di sana. Para bawahan botak bahkan mengalahkan mereka dengan cepat.

"Maafkan aku Rayya, semua ini karena Mama. Gara-gara Mama kamu  sampai diperlakukan seperti ini. Maka dari itu aku ingin menebusnya."

'Jelas semua ini karena mamanya yang tidak tahu diri itu' batin Rayya tidak suka dengan tanggapan Riko yang udah tahu semua salah Carla, tapi kenapa masih membiarkan Carla kembali mencelakai nya lagi dengan perbuatan yang hampir sama. Dijual, dan dijual lagi oleh Carla.

Riko juga sudah memperingati Carla, tapi sepertinya wanita itu tetap nekad kembali berbuat jahat pada Rayya. Riko juga terkejut saat mengetahui rencana Carla, Riko juga diam-diam mengikuti Ibunya itu dan setelah Carla pergi,  dan Riko berhasil mengetahui di mana Rayya di bawa, pria itu mencoba mencari bantuan.

"Menebusnya dengan cara apa?" tanya Rayya karena saat ini bahkan Riko sudah tidak berkutik, dari pada mati sia-sia di sana dan Rayya merasa bersalah pada Riko dan orang-orangnya, lebih baik mereka pergi saja dari sana. Itu akan lebih baik dan tidak memberatkan hati Rayya.

"Tapi bagaimana kalau_"

"Pergi!"

Belum sempat Riko mengutarakan rasa khawatirnya, Rayya sudah memotong perkataan pria tersebut.

Rayya sudah bertekad tidak mau lagi mencari masalah dengan Riko ataupun keluarga nya. Jika nanti Ia bisa membebaskan diri dari sini, Rayya akan mencari cara untuk membalas apa yang sudah Clara lakukan padanya.

"Rayya, aku peduli padamu. Kenapa malah mengusirku. Apa kamu tahu? Kamu bisa saja dijadikan alat bergilir para lelaki kalau tetap ada di sini."

Tangan Rayya mengepal mendengar perkataan Riko yang seakan menyinggung dan mengatai Rayya dengan ucapan kotor. Apa Riko pikir Rayya akan mau-mau saja menyerahkan diri?

"Terserah kalau kalian ingin mati di sini. Aku tidak mau tau," kata Rayya setelah mengatur pernafasannya yang sempat memburu marah.

"Bos, aku tidak mau mati di sini. Tolong lepaskan saya, saya menyerah" ucap salah seorang sewaan Riko yang sudah babak belur dan masih dalam ancang-ancang siap dibunuh oleh anak buah botak.

Bawahan itu melirik Bos gendut nya. Meminta pertanyaan apakah di lepaskan atau tidak.

"Lepaskan saja, kalau mereka ingin hidup," kata botak sambil mengibaskan tangannya. Toh mereka tidak ada urusan dengan orang-orang itu. Kecuali mereka bersikeras untuk membawa pergi Rayya, barulah hal tersebut tidak bisa dibiarkan begitu saja.

Akhirnya orang sewaan Riko yang ingin bebas itu pun di lepaskan dan lari terbirit-birit keluar dari sana.

"Bos, saya juga tidak mau mati sia-sia di sini."

Kembali yang lain ingin bebas dan diikuti oleh tujuh orang lain nya yang memilih untuk pergi, tinggalkan Riko seorang di rumah pelacuran itu dan tidak bisa berbuat apa-apa untuk membawa serta Rayya bersamanya.

"Heh! Kalau memang ingin mati di sini aku akan mengabulkan mau mu," kata Botak.

Riko memilih terlepas dari tahanan anak buah Botak. Tampaknya Ia tidak siap berkorban demi Rayya.

"Rayya, aku akan kembali membawa mu bersamaku," katanya sebelum benar-benar pergi dengan kaki sedikit pincang. 

Rayya kini kembali di landa gelisah, sejujurnya Ia takut di apa-apakan, akan tetapi membiarkan Riko dan orang-orangnya di tahan atau pun di bunuh di sana juga semakin tidak baik.

"Jangan pikir karena mereka ku biarkan lolos, kau juga berencana untuk kabur," peringkat Botak pada Rayya sambil kembali memperlihatkan gambar keluarga Rayya. 

Wanita itu hanya diam tidak menyahut, ia hanya bisa patuh saat ini sambil memikirkan cara untuk kabur dari sana.

"Jalan cepat!" perintah nya lagi agar mereka segera menemui orang yang telah memesan Rayya.

'Apa yang harus ku lakukan?' batin Rayya gelisah dalam langkahnya yang terasa berat.

"Masuk."

Rayya didorong masuk dalam sebuah ruangan karena wanita itu berhenti di depan pintu dan enggan untuk masuk.

"Kenapa lama sekali," gerutu pelanggan tersebut.

"Hehehehe. Maaf Tuan. Tapi tenang saja, kali ini Tuan mendapatkan pendatang baru. Di jamin puas dengan hasilnya," ujar Botak menenangkan pelanggan tersebut agar tidak marah lagi karena telah menunggu lama.

Pelanggan itu langsung terkesima melihat kecantikan Rayya. Ia memandangi Rayya tanpa berkedip bahkan sampai menjilat bibirnya sendiri seperti melihat santapan lezat di depan mata.

"Bagaimana, Tuan?" tanya Botak sambil tersenyum jahat. 

"Kau memang selalu yang terbaik," kata pelanggan itu bersemangat.

"Cepat keluar. Aku sudah tidak sabar ingin mencicipi," lanjutnya mengusir membuat bulu kuduk Rayya berdiri ngeri.

Membayangkan saja bersentuhan dengan pria tua itu Rayya sudah merinding apalagi sampai melakukan hal lain.

"Tapi yang ini mahal Tuan. Soalnya baru," kata Botak mencoba mendapatkan untung lebih karena pelanggan itu sudah sangat tertarik pada Rayya.

"Tenang saja, aku bayar dua kali lipat," balas pelanggan tanpa melepaskan pandangan untuk Rayya.

"Ahahaha, oke-oke. Kalian bersenang-senanglah."

Botak sangat senang mendengar perkataan tersebut. Ia segera memerintahkan yang ikut masuk bersama nya untuk segera keluar dan mendekat membisiki Rayya.

"Jangan coba macam-macam. Kalau sampai pelanggan ku tidak puas. Kamu tahu akibatnya."

Botak memperlihatkan foto keluarga Rayya dan memperagakan leher di penggal. Itu artinya jika Rayya tidak menurut maka keluar Rayya akan habis.

Rayya hanya menatap sinis kepergian Botak setelah membisikkan perkataan tersebut padanya.

'Bagaimana aku menghadapi pria tua cabul ini' batin Rayya tidak tahu harus berbuat apa.

Kalau sampai Ia berbuat salah maka keluarga nya akan berada dalam bahaya. Tapi Rayya juga tidak mau dilecehkan oleh pria tua jelek itu.

"Ayo sayangku, jangan takut."

Rayya menepis tangan keriput yang mencoba meraih tangan nya, Ia tidak sudi di pegang-pegang oleh pria tua bau tanah seperti orang itu, apalagi cabul. Sudah tua masih juga mau coba-coba daun muda.

"Ehehehe. Jangan menolak Kakak dong. Kakak akan berlaku lembut, tidak akan kasar."

Mungkin pria tua itu sudah biasa mendapatkan perlakuan tidak mengenakan seperti sikap Rayya tadi, sehingga Ia masih juga berbicara halus.

'Kakak? Bahkan dia lebih cocok menjadi Kakek buyut ku. Masih mau di panggil Kakak oleh ku' batin Rayya ingin muntah.

Bahkan terlihat pria tua itu gusinya sudah di penuhi gigi palsu, kenapa masih birahi juga, harus nya sudah pergi tinggal ke panti jompo.

"Maaf Kek. Kakek sudah tua. Aku tidak mau di pegang oleh kakek," kata Rayya.

"Kau sebut aku apa?!" 

Wajah keriput itu terlihat marah mendengar sebutan Rayya untuk nya. Beraninya Rayya memanggil nya Kakek.

BRAK!

Tiba-tiba pintu yang tadinya di tutup oleh botak dari luar terbuka oleh kekuatan besar.

1
Ruth Berliana
bagus ceritanya tp msh sepi yg baca nya
Jumli: Terimakasih sudah mampir, kak. Saya sangat senang jika cerita nya kakak suka🥰

mungkin sepi karena tidak ada yang tahu kalau ceritanya bagus😁😁😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!